author-banner
Sigi Allegra
Author

Novels by Sigi Allegra

Cintaku, Berhenti di Kamu

Cintaku, Berhenti di Kamu

Sepuluh tahun lalu, Binar dan Fady berpisah tanpa sempat menutup cerita. Kini takdir mempertemukan mereka kembali, di saat Binar baru saja kehilangan keluarga kecilnya, dan Fady hidup dengan bayang-bayang trauma setelah dua kali ditinggal oleh orang yang ia cintai. Rasa yang dulu terpendam perlahan tumbuh lagi, tapi keduanya kini membawa luka yang berbeda bentuk, sama dalamnya. Di tengah perjuangan keduanya menyusun masa depan baru, hadirlah Danar, sosok yang diam-diam menyimpan rasa dan harapan pada Binar. Sementara Binar hanya menganggapnya kesalahan masa lalu yang tak ingin diulang. Rahasia masa lalu, luka yang belum sembuh dan restu yang tak kunjung datang. Membuat perjalanan cinta Binar tak mudah. Untuk siapakah akhirnya Cinta Binar berlabuh, Fady? Danar? Atau berhenti untuk dirinya sendiri.
Read
Chapter: Rumah yang Tak Terasa Seperti Rumah
Pagi menyapa, cahaya tipis menyelinap dari sela tirai, jatuh tepat di sisi tempat tidur yang masih hangat. Binar terbangun tanpa alarm, karena hari ini ia mengambil libur setelah bussiness trip kemarin. Refleks, tangannya meraba sisi bantal, mencari handphone. Layar menyala, notifikasi terakhir masih dari Fady. Di perjalanan pulang kemarin, Binar sempat membalas pesan Fady untuk memastikan keadannya setelah sampai di rumah. Namun, sampai pagi ini Fady belum membalas lagi. Tidak biasanya begitu. Apalagi hari ini hari kerja, harusnya Fady sudah bangun dan berangkat kerja. Binar berniat menelepon Fady. Belum sempat ia memijit tombol panggil, muncullah nama Fady di layar handphonenya. Fady menelepon. Binar sedikit lega melihatnya, lalu dengan segera ia menggeser tombol untuk mengangkat panggilan tersebut. "Pagi sayang." Suara Fady terdengar berat di ujung telepon. "Pagi juga sayang. Suara kamu kok berat gitu? Masih sakit sayang?" Tanya Binar dengan nada khawatir. "Hmm. Aku masih dem
Last Updated: 2026-02-22
Chapter: Lelaaah
Penutupan acara perusahaan Binar dimulai pukul sembilan pagi. Saat itu, Fady masih berada di kamar hotel, berusaha tidur setelah Binar menyuruhnya istirahat. Tapi istirahatnya tidak benar-benar membuatnya pulih. Kepalanya berat. Kulitnya masih terasa panas, namun sekaligus menggigil. Bekas alergi dingin di leher dan tangannya memang mulai mereda, tapi tubuhnya belum kembali normal. Efek dari tidur semalaman di mobil dan sempat kehujanan kemarin. Fady mencoba bangun dan duduk di pinggir ranjang, bernapas pelan sambil memegangi pelipis. Ia melihat jam, sudah jam 12 siang. Binar pasti masih sibuk di ballroom, dan dia tidak mungkin mengganggu. Ia sempat ingin mengetik pesan: “Sayang, aku pulang dulu ya.” Tapi jempolnya berhenti, lalu ia menghapus semuanya. Fady tahu Binar sedang acara penting. Ia tidak ingin terlihat lemah, tidak ingin Binar repot lagi, dan tidak ingin membuat kesan buruk setelah mereka baru saja berdamai. “Pulang aja, Dy,” gumamnya pada diri sendiri. Ia mengambil
Last Updated: 2025-11-20
Chapter: Sebelum Badai Datang
Pagi masuk perlahan lewat tirai tipis kamar hotel, membentuk semburat keemasan di dinding. Binar terbangun pertama, seperti biasa. Tubuhnya masih berada dalam pelukan Fady, lengannya melingkar di pinggangnya seakan takut kehilangan. Ia diam sejenak, menatap wajah Fady yang masih tertidur nyenyak. Mengingat apa yang terjadi semalam antara keduanya, wajahnya memanas karena campuran rasa bahagia sekaligus malu. Binar menghembuskan napas pelan, seolah tak ingin membangunkannya, lalu mencoba bangkit perlahan. Tapi lengan Fady otomatis menahan. “Lima menit lagi…” gumamnya setengah sadar, suaranya berat dan serak. “Kamu tidur lagi aja gapapa,” jawab Binar, berbisik. “Aku yang harus siap-siap. Ada acara penutupan jam sembilan.” Fady akhirnya membuka mata, pelan, menatap Binar dari jarak yang terlalu dekat. “Pagi, Sayang.” katanya sambil tersenyum tipis lalu mengecup kening Binar. Hati Binar menghangat, juga ada sesuatu yang terasa menggelitik di perutnya. “Pagi,” jawabnya, mencoba menj
Last Updated: 2025-11-19
Chapter: Memilikimu Seutuhnya
Udara Bandung malam itu dingin seperti biasanya. Tetesan embun sisa-sisa hujan menempel di kaca hotel. Suasa kamar dengan lampu yang temaram seolah menjadi latar pendukung untuk dua manusia yang sedang dimabuk rindu. "Sayang.. ahh" Desahan demi desahan lolos dari mulut Binar tanpa bisa ditahan. Melihat wanitanya sudah setengah "mabuk", Fady secara tiba-tiba berhenti yang membuat Binar menatapnya dengan tatapan sayu seolah berkata, "Ayo lanjutkan, sayang. Kenapa berhenti?" "Kalau kamu mau berhenti, berhenti sekarang. Selanjutnya, kamu gak akan bisa nahan aku lagi. Kita harus menyelesaikan apa yang sudah dimulai." Ucap Fady sambil menelusuri tubuh polos Binar dari bibir turun ke bawah sampai perutnya. Binar sudah tak mampu berkata apapun. Kepalanya sudah tak mampu berpikir jernih, jangankan untuk menolak, bahkan kata "iya" pun sudah tak sanggup lagi dia katakan. Matanya memejam dan tubuhnya merinding hebat seolah terkena sengatan listrik yang disalurkan Fady lewat sentuhan, kec
Last Updated: 2025-11-12
Chapter: Rindu yang Tak Terbendung
"Sayang, serius kamu mau ngelakuin itu sekarang?" Tanya Fady memastikan kembali. "Hmm. Kamu bawa pengaman?" Tanya Binar dengan tatapan yang sulit diartikan. Fady mengernyitkan dahinya, ia pikir Binar sudah ingin berhenti tadi, tapi kemudian menggodanya lagi, sekarang? "Ahh kamu ngerjain aku ya?" Sambil merebahkan tubuhnya yang tadi setengah menindih Binar. Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba meredam gairahnya yang sudah sepenuhnya terpancing. "Gak enak kan ditarik ulur?" Ucap Binar sambil melirik Fady, seolah puas sudah berhasil mengerjainya. "Bin.." Panggil Fady dengan nada sedikit merengek tak terima. Sementara Binar hanya tertawa kecil melihat tingkah manja kekasihnya. "Ya udah ah, aku mau berendam air dingin aja." Ujar Fady sambil bangkit dari kasur dan berjalan ke kamar mandi menuju ke bath up. --- Untuk meredam hawa panas di tubuhnya akibat pergulatan yang tak tuntas, Fady berendam dalam air dingin di bath up, tentunya tanpa mengenakan baju. Ketika dia menc
Last Updated: 2025-11-07
Chapter: Bunga Lily dan Cokelat
Langit Bandung sore itu kembali menangis. Rintik hujan turun deras, membasahi jalanan dan kaca mobil Fady yang berhenti di area parkir hotel. Di jok sebelahnya, sebuket lily putih terbungkus kertas cokelat muda. Di sampingnya, sekotak kecil cokelat premium dan secarik kertas yang ditulis terburu-buru namun penuh perasaan: "Tak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan betapa beruntungnya aku bisa menjadi bagian dari hidup kamu. Terimakasih, Binar sayang." Fady menghela napas pelan. Ia tahu tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari alergi, tapi entah kenapa, langkahnya terasa ringan. Setelah merasa agak baikan, tadi ia segera pergi dari hotel untuk mencari apa yang pantas dihadiahkan pada Binar. Ia tak ingin menunggu. Ia ingin segera melihat senyum Binar, senyum yang selalu membuat hari-harinya terasa hangat. Tanpa payung, ia keluar dari mobil, membiarkan hujan membasahi rambut dan bahunya. Napasnya tampak mengepul di udara dingin, namun langkahnya terus menapak cepat menuju lobi.
Last Updated: 2025-10-27
You may also like
Gadis Imut Kesayangan Sugar Daddy
Gadis Imut Kesayangan Sugar Daddy
Young Adult · agneslovely2014
20.1K views
Zee 'n Zeino
Zee 'n Zeino
Young Adult · ayyona
19.4K views
Ketua OSIS
Ketua OSIS
Young Adult · QurratiAini_
18.9K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status