ログインSepuluh tahun lalu, Binar dan Fady berpisah tanpa sempat menutup cerita. Kini takdir mempertemukan mereka kembali, di saat Binar baru saja kehilangan keluarga kecilnya, dan Fady hidup dengan bayang-bayang trauma setelah dua kali ditinggal oleh orang yang ia cintai. Rasa yang dulu terpendam perlahan tumbuh lagi, tapi keduanya kini membawa luka yang berbeda bentuk, sama dalamnya. Di tengah perjuangan keduanya menyusun masa depan baru, hadirlah Danar, sosok yang diam-diam menyimpan rasa dan harapan pada Binar. Sementara Binar hanya menganggapnya kesalahan masa lalu yang tak ingin diulang. Rahasia masa lalu, luka yang belum sembuh dan restu yang tak kunjung datang. Membuat perjalanan cinta Binar tak mudah. Untuk siapakah akhirnya Cinta Binar berlabuh, Fady? Danar? Atau berhenti untuk dirinya sendiri.
もっと見るPagi menyapa, cahaya tipis menyelinap dari sela tirai, jatuh tepat di sisi tempat tidur yang masih hangat. Binar terbangun tanpa alarm, karena hari ini ia mengambil libur setelah bussiness trip kemarin. Refleks, tangannya meraba sisi bantal, mencari handphone. Layar menyala, notifikasi terakhir masih dari Fady. Di perjalanan pulang kemarin, Binar sempat membalas pesan Fady untuk memastikan keadannya setelah sampai di rumah. Namun, sampai pagi ini Fady belum membalas lagi. Tidak biasanya begitu. Apalagi hari ini hari kerja, harusnya Fady sudah bangun dan berangkat kerja. Binar berniat menelepon Fady. Belum sempat ia memijit tombol panggil, muncullah nama Fady di layar handphonenya. Fady menelepon. Binar sedikit lega melihatnya, lalu dengan segera ia menggeser tombol untuk mengangkat panggilan tersebut. "Pagi sayang." Suara Fady terdengar berat di ujung telepon. "Pagi juga sayang. Suara kamu kok berat gitu? Masih sakit sayang?" Tanya Binar dengan nada khawatir. "Hmm. Aku masih dem
Penutupan acara perusahaan Binar dimulai pukul sembilan pagi. Saat itu, Fady masih berada di kamar hotel, berusaha tidur setelah Binar menyuruhnya istirahat. Tapi istirahatnya tidak benar-benar membuatnya pulih. Kepalanya berat. Kulitnya masih terasa panas, namun sekaligus menggigil. Bekas alergi dingin di leher dan tangannya memang mulai mereda, tapi tubuhnya belum kembali normal. Efek dari tidur semalaman di mobil dan sempat kehujanan kemarin. Fady mencoba bangun dan duduk di pinggir ranjang, bernapas pelan sambil memegangi pelipis. Ia melihat jam, sudah jam 12 siang. Binar pasti masih sibuk di ballroom, dan dia tidak mungkin mengganggu. Ia sempat ingin mengetik pesan: “Sayang, aku pulang dulu ya.” Tapi jempolnya berhenti, lalu ia menghapus semuanya. Fady tahu Binar sedang acara penting. Ia tidak ingin terlihat lemah, tidak ingin Binar repot lagi, dan tidak ingin membuat kesan buruk setelah mereka baru saja berdamai. “Pulang aja, Dy,” gumamnya pada diri sendiri. Ia mengambil
Pagi masuk perlahan lewat tirai tipis kamar hotel, membentuk semburat keemasan di dinding. Binar terbangun pertama, seperti biasa. Tubuhnya masih berada dalam pelukan Fady, lengannya melingkar di pinggangnya seakan takut kehilangan. Ia diam sejenak, menatap wajah Fady yang masih tertidur nyenyak. Mengingat apa yang terjadi semalam antara keduanya, wajahnya memanas karena campuran rasa bahagia sekaligus malu. Binar menghembuskan napas pelan, seolah tak ingin membangunkannya, lalu mencoba bangkit perlahan. Tapi lengan Fady otomatis menahan. “Lima menit lagi…” gumamnya setengah sadar, suaranya berat dan serak. “Kamu tidur lagi aja gapapa,” jawab Binar, berbisik. “Aku yang harus siap-siap. Ada acara penutupan jam sembilan.” Fady akhirnya membuka mata, pelan, menatap Binar dari jarak yang terlalu dekat. “Pagi, Sayang.” katanya sambil tersenyum tipis lalu mengecup kening Binar. Hati Binar menghangat, juga ada sesuatu yang terasa menggelitik di perutnya. “Pagi,” jawabnya, mencoba menj
Udara Bandung malam itu dingin seperti biasanya. Tetesan embun sisa-sisa hujan menempel di kaca hotel. Suasa kamar dengan lampu yang temaram seolah menjadi latar pendukung untuk dua manusia yang sedang dimabuk rindu. "Sayang.. ahh" Desahan demi desahan lolos dari mulut Binar tanpa bisa ditahan. Melihat wanitanya sudah setengah "mabuk", Fady secara tiba-tiba berhenti yang membuat Binar menatapnya dengan tatapan sayu seolah berkata, "Ayo lanjutkan, sayang. Kenapa berhenti?" "Kalau kamu mau berhenti, berhenti sekarang. Selanjutnya, kamu gak akan bisa nahan aku lagi. Kita harus menyelesaikan apa yang sudah dimulai." Ucap Fady sambil menelusuri tubuh polos Binar dari bibir turun ke bawah sampai perutnya. Binar sudah tak mampu berkata apapun. Kepalanya sudah tak mampu berpikir jernih, jangankan untuk menolak, bahkan kata "iya" pun sudah tak sanggup lagi dia katakan. Matanya memejam dan tubuhnya merinding hebat seolah terkena sengatan listrik yang disalurkan Fady lewat sentuhan, kec
"Sayang, serius kamu mau ngelakuin itu sekarang?" Tanya Fady memastikan kembali. "Hmm. Kamu bawa pengaman?" Tanya Binar dengan tatapan yang sulit diartikan. Fady mengernyitkan dahinya, ia pikir Binar sudah ingin berhenti tadi, tapi kemudian menggodanya lagi, sekarang? "Ahh kamu ngerjain aku y
Langit Bandung sore itu kembali menangis. Rintik hujan turun deras, membasahi jalanan dan kaca mobil Fady yang berhenti di area parkir hotel. Di jok sebelahnya, sebuket lily putih terbungkus kertas cokelat muda. Di sampingnya, sekotak kecil cokelat premium dan secarik kertas yang ditulis terburu-bur
Setelah percakapan panjang di sofa itu, suasana kamar menjadi hening. Hanya suara detik jam dinding yang terdengar samar. Fady bersandar ke belakang, matanya menatap langit-langit. Rasanya berat bukan karena kelelahan fisik, tapi karena emosi yang baru saja tumpah. Binar menatapnya sekilas. Ada s
Sudah hampir dua minggu. Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Tidak ada suara yang menenangkan lewat telepon seperti biasanya. Sebetulnya ini bukan kali pertama Fady tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Sebelumnya seringkali dia begitu karena alasan sibuk atau sedang banyak masalah. Tapi kali ini rekor
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.