Chapter: Bab 66 Pangeran Adhelard terlukaPintu kamar Alice terbuka pelan.Daniel melangkah masuk tanpa banyak suara.Di dalam, suasana terasa hangat. Alice baru saja selesai mandi. Rambut panjangnya masih basah, terurai hingga punggung. Reina berdiri di belakangnya, mengeringkan rambut itu dengan kain lembut, gerakannya hati-hati dan penuh perhatian.Dari cermin besar di depan, Alice melihat sosok kakaknya berdiri di ambang ruangan.Diam.Menatapnya.Agak lama.Alis Alice terangkat.“Ada apa?” tanyanya, sedikit heran melihat ekspresi Daniel yang tidak biasa.Daniel tidak langsung menjawab.Ia melangkah mendekat, tetap menatap Alice melalui pantulan cermin.“Benarkah,” katanya akhirnya, suaranya datar namun tertahan, “kau memanah Teon di kuil?”Alice tidak kaget.Sedikit pun.Ia hanya mengangguk sekali.Jawaban singkat itu justru membuat Daniel membeku.“Alice…” nafasnya tertahan. “Apa kau sudah tidak waras?”Reina refleks berhenti sejenak.Suasana mendadak menegang.“Dia keluarga kekaisaran,” lanjut Daniel, suaranya mulai na
最終更新日: 2026-04-26
Chapter: Bab 65 Kelembutan AdhelardKabar itu menyebar seperti api.Cepat.Tak terbendung.Kebenaran tentang keluarga Jerome—tentang Dirgo, tentang Rose, tentang darah yang bukan miliknya—mengalir ke seluruh penjuru kekaisaran. Dari istana hingga sudut-sudut kota, semua orang membicarakannya.Dan seperti yang diharapkan—Ayah asli Rose akhirnya muncul.Seorang pelukis tua.Hidup sederhana di pinggiran kota.Namun kini… menjadi pusat perhatian.Di lantai dua kedai rotinya, Alice duduk santai.Secangkir teh hangat di tangannya.Tatapannya tenang, menikmati setiap bisikan yang naik dari bawah.“Katanya dia bukan anak Jerome…”“Putri bangsawan ternyata anak pelukis?”“Memalukan sekali…”Alice menyesap tehnya perlahan.Senyum tipis muncul di bibirnya.Sementara itu, keluarga Jerome mulai panik.Mereka mengadakan rapat darurat.Berusaha mempertahankan sisa kehormatan… sisa gelar… sisa pengaruh yang masih bisa diselamatkan.Namun Alice tahu—Itu sudah terlambat.Langkah kaki terdengar mendekat.Louis.Ia duduk di hadapan Alice
最終更新日: 2026-04-20
Chapter: Bab 64Kediaman Adhelard kembali dipenuhi ketegangan. Langkahnya tegas saat memasuki ruang utama. Wajahnya sudah kembali seperti biasa—tenang, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Lebih tajam. Lebih dingin. Di belakangnya, Louis dan Maxime mengikuti tanpa banyak bicara. Sesuai permintaan Alice— Mereka kini berdiri di sisi Adhelard. Membantu agar semua berjalan lancar. Di dalam ruangan, Arthur sudah menunggu. Ia berdiri tegak, bersama Louis dan Maxime, menatap sosok pangeran yang kini berdiri membelakangi mereka. Adhelard berdiri di dekat jendela. Menatap keluar. Diam. Terlihat… gundah. Namun bukan keraguan yang takut akan sesuatu. Lebih seperti seseorang yang sedang menyusun langkah besar. Hening memenuhi ruangan. Hingga akhirnya— Adhelard menghela napas panjang. Ia berbalik. Dan saat itu— Semua yang ada di ruangan itu langsung menegang. Wajah ramah yang biasanya ia tunjukkan… menghilang. Digantikan oleh ekspresi serius. Dingin. Berwibawa.
最終更新日: 2026-03-28
Chapter: Bab 63 🔞Malam semakin larut. Angin masih berhembus dingin saat sosok Adhelard muncul di balik jendela kamar Alice. Seperti biasa—tanpa suara, tanpa izin—ia masuk dengan langkah ringan. Entah kenapa… Sejak sore tadi, perasaannya tidak tenang. Seolah ada sesuatu yang memanggilnya untuk kembali. “Alice?” panggilnya pelan. Sunyi. Tidak ada jawaban. Keningnya berkerut. Kamar itu kosong. Tirai terbuka, jendela menganga… dan udara dingin masuk tanpa penghalang. Sesuatu tidak beres. Adhelard melangkah mendekat ke jendela. Dan saat itulah— Matanya menangkap pergerakan di kejauhan. Dekat sungai. Bayangan samar… tubuh seseorang… yang perlahan tenggelam. Napasnya tercekat. “Alice…!” Tanpa berpikir— Adhelard melompat keluar. Langkahnya cepat, nyaris berlari tanpa suara. Jantungnya berdetak keras saat ia mendekati tepi sungai. Dan benar. Alice. Tubuhnya sudah hampir sepenuhnya tertelan air. Tanpa ragu, Adhelard langsung terjun. Air dingin menusuk kulitnya,
最終更新日: 2026-03-23
Chapter: Bab 62Langit kelabu menggantung rendah.Tanah pemakaman masih basah, aroma tanah dan bunga bercampur menjadi satu. Batu nisan baru berdiri tegak… dengan nama yang terlalu cepat harus diabadikan.Anne.Semua orang telah pergi.Satu per satu meninggalkan tempat itu dengan duka yang masih terasa.Ayah Alice berdiri paling akhir, menatap nisan putrinya cukup lama sebelum akhirnya berbalik tanpa kata.Kakaknya mengikuti.Ibunya…Wanita itu mendekat, lalu membelai bahu Alice dengan lembut.Tanpa berkata apa-apa.Karena tidak ada kata yang cukup.Lalu ia pun pergi.Meninggalkan Alice.Dan Adhelard.Hanya mereka berdua yang tersisa di sana.Gerimis mulai turun.Butiran air kecil jatuh perlahan, membasahi tanah… membasahi rambut… membasahi luka yang tak terlihat.Di kejauhan, Louis, Maxime, dan Reina berdiri menjaga jarak.Mereka tidak mendekat.Memberi ruang.Namun tetap berjaga.Karena mereka tahu… Alice tidak benar-benar sendirian.Alice berdiri diam di depan makam Anne.Air matanya sudah tidak m
最終更新日: 2026-03-23
Chapter: Bab 61Ruangan itu terasa semakin sempit.Udara seakan hilang dari paru-paru Alice.Matanya terpaku pada Teon.Sementara satu kalimat Maxime masih bergema di kepalanya—*Anne… kritis… muntah darah…*“Kalau kita berangkat sekarang,” suara Teon terdengar tenang, terlalu tenang, “bahkan dengan kuda tercepat… kita tetap akan terlambat.”Alice membeku.“Apa…?”Tatapannya bergetar.Teon tidak mengalihkan pandangannya.“Lebih baik kau menyiapkan pemakamannya,” lanjutnya datar. “Daripada membuang tenaga untuk sesuatu yang tidak akan bisa kau ubah.”Hening.Sepersekian detik.Lalu—Air mata jatuh.Satu… dua… lalu tak terbendung.Alice melangkah mendekat.Tangannya gemetar saat meraih tangan Teon.“Tidak…” suaranya pecah. “Tolong…”Genggamannya semakin kuat.“Tolong dia… kau bisa, kan? Kau selalu bisa!” napasnya tersengal. “Aku mohon… Teon… aku mohon…”Matanya memohon.Hatinya hancur.Namun Teon tetap diam.Hanya menatapnya.“Aku tidak bisa.”Tiga kata itu jatuh seperti pisau.Alice menggeleng keras.
最終更新日: 2026-03-22