Chapter: 32Glena menghela napas panjang, lalu perlahan mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk di tepi kasur empuknya. Tubuhnya terasa lelah setelah melewati rangkaian aktivitas yang menguras energi hari ini. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut. Di rumah ini, meski statusnya jelas, ia tahu bagaimana cara membuat orang lain bergerak sesuai keinginannya.Tidak berselang lama, terdengar suara pintu depan terbuka. Rania melangkah masuk ke dalam rumah. Di kedua tangannya, ia menjinjing beberapa kantong belanjaan berisi pakaian-pakaian bermerek yang tadi siang dipesan oleh Glena."Melelahkan sekali," gumam Rania sambil membenarkan letak tas tangannya. "Kalau bukan karena di paksa, aku tidak akan sudi berputar-putar di mall jam segini."Tiba-tiba saja telinga Rania menangkap suara gemercik minyak panas dan dentingan spatula yang beradu dengan wajan dari arah dapur. Bau gosong samar-samar mulai tercium, bercampur dengan aroma bumbu yang tumisannya kurang matang.Rania menghentikan langkahn
Last Updated: 2026-05-19
Chapter: 31Setelah merapikan sprei baru dengan sisa-sisa tenaga dan kesabaran yang makin menipis, Anton melangkah keluar kamar. Langkah kakinya sengaja dihentak-hentakkan ke lantai marmer, berharap Glena mendengar dan tahu betapa ia sedang menahan amarah.Namun, sesampainya di dapur, pemandangan yang tersaji justru membuat dadanya semakin bergemuruh. Glena sudah duduk di kursi roda dekat kursi bar yang menghadap ke kitchen island, sementara Bibi Resti sedang sibuk mencuci tangan di wastafel."Lama sekali, Anton," sindir Glena tanpa menoleh, matanya sibuk memeriksa kuku-kuku jarinya yang bersih. "Mengganti sprei dan gorden saja butuh waktu seperti membangun rumah baru."Anton menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gejolak di dadanya. "Semua sudah selesai. Kamarmu sudah rapi," jawabnya dengan suara yang diusahakan tetap datar. "Sekarang kamu mau makan apa?"Glena menoleh lambat-lambat, menatap Anton dengan senyum yang sulit diartikan. "Aku mau sup ayam buatanmu. Dan ingat, potong wortelnya j
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: 30Di luar kamar, Glena mendengarkan sayup-sayup suara bantingan pintu dan gemerincing pengait gorden yang ditarik paksa. Senyum di wajahnya memudar, digantikan oleh tatapan dingin dan tajam. Ia tahu betul apa yang ada di dalam kepala Anton. Lelaki itu tidak mungkin mengalah begitu saja jika tidak ada udang di balik batu."Nyonya Glena," panggil Bibi Resti pelan, melangkah mendekat setelah memastikan seluruh pakaian di dalam tong pembakaran sudah menjadi abu. Tangannya menyeka keringat di dahi menggunakan ujung daster. "Apa tidak apa-apa memperlakukan Tuan Anton seperti itu? Bibi takut... dia makin nekat."Glena menoleh, lalu mengembuskan napas panjang. "Bi, kalau aku lemah sedikit saja, mereka yang akan menggilas aku sampai habis. Biarkan saja dia kesal. Biar dia tahu rasanya jadi orang yang tidak punya kuasa di rumah sendiri.""Tapi Tuan Anton itu licik, Nyonya. Bibi khawatir dia merencanakan sesuatu yang buruk," bisik Bibi Resti penuh kecemasan."Memang itu yang sedang dia lakukan,
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: 29Asap hitam yang tebal dan berbau menyengat mulai mengepul ke udara, membawa abu-abu kecil yang beterbangan di sekitar halaman depan. Bibi Resti terus mengorek tumpukan kain dengan sebilah kayu, memastikan setiap jengkal pakaian milik Mara hangus tak tersisa.Di ambang pintu lipat yang membatasi area pintu utama, Glena duduk bersedekap dada. Sudut bibirnya terangkat, menciptakan seulas senyum sinis yang penuh kemenangan. Setiap jilatan api pada kain-kain itu seolah menjadi penawar dahaga atas rasa sakit pemilik tubuh selama ini.Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat. Anton muncul dari arah dapur sambil membawa segelas air. Wajah pria itu tampak tegang, matanya sempat melirik ke arah kobaran api sebelum akhirnya menyodorkan gelas tersebut kepada Glena."Ini minummu," kata Anton pendek, suaranya terdengar datar, menahan gejolak di dalam dada.Glena menerima gelas itu tanpa mengucap terima kasih. Ia menyesapnya sedikit, menikmati sensasi dingin yang kontras dengan kehangat
Last Updated: 2026-05-18
Chapter: 28"Ka-kau... kenapa cepat sekali kau pulangnya?" tanya Anton terbata-bata.Tanpa sadar langsung meraih dan membawa koper besar milik Glena, seolah-olah dengan bersikap rajin ia bisa menyembunyikan kepanikan."Lho? Emangnya aku nggak boleh pulang ke rumahku sendiri? Kamu ini lupa ingatan kah, Anton?" tanya Glena. Sepasang matanya yang tajam menatap lurus ke arah suaminya, menguliti setiap jengkal ekspresi ketakutan di wajah pria itu dari balik kaca matanya."Maksudku... apa urusanmu di luar kota telah selesai? Bukankah katamu perlu waktu lama?" tanya Anton gagap, mencoba mencari pembenaran atas keterkejutannya."Tentu saja sudah selesai. Dan aku mendapatkan uang yang sangat banyak selama aku pergi lho," kata Glena tersenyum miring."Ya, uang dari kalian," batin Glena. Di belakangnya, kursi roda Glena terus didorong oleh Bibi Resti.Saat mereka sampai di kamar utama, Bibi Resti mendadak menghentikan langkahnya. Matanya membelalak terkejut melihat pemandangan di dalam ruangan. Kamar yang
Last Updated: 2026-05-17
Chapter: 27"Pak Deni... Kau bilang jika ada uang kau bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat. Tapi ini sudah tiga bulan lho! Sampai sekarang urusan itu belum juga selesai!" kata Anton setengah berteriak. Suaranya bergema di ruang tamu yang sepi. Dari seberang telepon, suara Pak Deni terdengar helaan napas berat, mencoba tetap tenang meski ditekan. "Tapi masalahnya Pak Anton, uang yang Anda klaim sudah dikirim itu sama sekali tidak ada yang masuk ke akun saya. Saya tidak tahu nyangkut di mana uang itu. Logikanya, bagaimana saya bisa mengeksekusi rencana kita jika modalnya saja tidak ada?" tanya pak Deni "Bicara apa kau ini?!" Anton mulai tersulut emosi, wajahnya memerah. "Kan sudah saya kirimkan bukti transfernya padamu! Ke nomor rekening atas namamu, lengkap dengan hari, tanggal, dan jamnya. Semua tertera jelas di sana. Jangan coba-coba menipu ku, Pak Deni!""Iya, saya paham bukti itu ada," sahut Pak Deni, nadanya mulai meninggi. "Tapi kenyataannya uang itu tidak sampai ke tangan saya! Saya
Last Updated: 2026-05-17
ADNAN, Sang Pemilik Sistem Medis Terhebat
Sinopsis
Adnan, seorang pria sukses dan menjadi kebanggaan keluarga, dan bahkan berhasil menikahi wanita cantik di kotanya, tapi kesempurnaan itu terenggut oleh penyakit yang mematikan.
Di hari operasinya, tidak ada yang mau datang menemuinya, orangnya membencinya, istrinya menceraikannya. Lantas, apa lagi yang ia punya.
Ya, ia hanya punya semangat Hidup, hingga akhirnya operasi pun di laksanakan.
Tapi itu tidak berjalan seperti yang dia harapkan, ia meninggal di meja operasi.
Tapi hal tak terduga terjadi, sistem datang dan memberikan kehidupan untuknya, dan bahkan menjadikan dirinya dokter terhebat.
Istrinya menyesal karena mendapatkan pria tak bertanggung jawab, usaha ayahnya bangkrut, restoran hanya tinggal kenangan.
Tapi Aldan telah menjadi dokter terhebat, orangtuanya menyesal begitu juga mantan istrinya.
Akhirnya, ia pun mendapatkan seorang istri yang cantik yang menemani sisa hidupnya.
Read
Chapter: 130 TAMATAdnan terkejut. "Eh, apa maksudnya?" tanya Adnan tak mengerti.[Masa uji coba sistem pada Anda telah selesai, sekarang Anda telah mendapatkan apa yang Anda butuhkan. Rumah sakit, uang dan tempat usaha lainnya, jadi misi sistem telah selesai, selamat Tuan Adnan, Anda telah menjadi orang berhasil sekarang. Jadi sistem akan pamit dan selamat menjalani hidup Anda]Adnan terpaku melihat sistem yang berangsur-angsur menghilang. Rasanya sangat sedih, karena sistem menghilang begitu saja"Tunggu! Jangan pergi!" teriak Adnan membuat orang-orang yang ada di sana melihat ke arahnya."Ah maaf menganggu kalian," kata Adnan, Ia pun melangkahkan kakinya ke tempat yang sepi dan berdiri di sana.Ia benar tidak pernah menduga jika sistem menghilang, tapi apa boleh buat. "Terima kasih sistem karena telah mengubah hidupku, mulai hari ini aku akan menjalani hidupku menjadi lebih baik, " kata Adnan bertekadBaru mengucapkan kata tersebut, diam diam mendapatkan sebuah kabar bahwa ayahnya yang sedang terkena
Last Updated: 2026-04-02
Chapter: 129Berita tentang Rido pun tersebar, dan ternyata ada beberapa wanita yang ternyata menjadi korban dari Rido.Ada sekitar 5 wanita yang hamil, tapi masih banyak wanita yang jadi simpanannya dan itu memancing kemarahan Gina yang di mana mereka baru menikah beberapa hari."Rido! Apa-apaan ini! Kamu bahkan sudah menghamili 5 orang perempuan dan masih banyak wanita yang kau simpan. Itu artinya anakmu sudah ada 5 orang. Lalu untuk apa kau menikahi ku?!" teriak Gina dengan bersimbah air mata.Dadanya terasa sesak setelah tau suaminya yang baru beberapa hari telah punya 5 calon bayi yang membuat Gina stres."Terus kau mau apa? Mau kita cerai?" tanya Rido dengan entengnya."Dasar pria gila! Kau suah punya banyak wanita kenapa kah malah menikah ku! Apa masalah mu!" teriak Gina dengan penuh air mata"Gina, aku menikahi mu karena aku memang cinta sama kamu, dan saat kau pacaran degan Adnan, aku sudah suka pada mu. Kau yang telah membuat aku seperti ini! Aku depresi dan akhirnya gonta ganti wanita,
Last Updated: 2026-04-01
Chapter: 128Hari persidangan tiba dengan suasana yang sangat ketat. Ruang pengadilan penuh sesak dengan wartawan, masyarakat yang mengikuti perkembangan kasus, dan keluarga korban yang menantikan keadilan.Pengacara tim hukum Norman yang terkenal dengan kemampuannya untuk membela kasus sulit mencoba berbagai strategi, mulai dari mengklaim bahwa bukti telah dimanipulasi, menyatakan bahwa Grisna memiliki motif balas dendam pribadi. Tapi setiap argumen mereka langsung terbalik oleh bukti-bukti yang diajukan Grisna dan tim kejaksaan. Setiap dokumen yang dipaparkan, setiap saksi yang bersuara, semakin memperkuat kasus terhadap Norman.Bukti tersebut telah tersebar luas di berbagai platform media sosial.Mulai dari rekaman transaksi keuangan ilegal, surat-surat perjanjian kolusi dengan pejabat daerah, hingga bukti pencucian uang melalui yayasan yang diklaim sebagai lembaga amal, semuanya sudah berada di tangan publik dan pihak berwenang.Grisna tahu bahwa langkah ini sangat berisiko. Norman bukan han
Last Updated: 2026-04-01
Chapter: 127 Poin untun Mencari Bukti Kejahatan Nyoman🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂🍂 🍁"Iya, ada restoran di samping klinik ku," kata Adnan sambil mengangguk perlahan, matanya sesekali melirik ke arah jendela kafe yang mereka datangi. Restoran miliknya sendiri memang terletak tidak jauh dari praktik klinik yang ia kelola. "Oh benarkah? Kalau kamu ada restoran kenapa nggak bilang, kita kan bisa ke restoran mu aja!" kata Grisna dengan wajah yang bersinar antusias. Wanita muda itu baru saja mengenal Adnan beberapa hari yang lalu. Sejak itu, mereka sering membahas kasus yang belum terpecahkan itu."Sudahlah, sudah terlanjur juga ke sini," jawab Adnan dengan senyuman lembut. Ting!Sebuah notifikasi mendadak muncul di layar ponsel yang terletak di atas meja. Cahaya biru tipis menyala sekejap, menarik perhatian Adnan. Ia membuka pesan masuk di akun media sosialnya, dan wajahnya langsung berubah warna saat melihat pengirimnya, Arka, ayahnya yang sudah lama tidak berselisih suara dengannya."Adnan, kamu lihat berita pernikahan Gina dan Rid
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: 126Zeta memasuki mobil dengan gerakan yang halus dan presisi, sesuai dengan desainnya sebagai android canggih. Di belakangnya, Grisna melangkah dengan langkah masuk bersama Adnan. "Mau ke mana kita?" tanya Adnan sambil menyesuaikan layar kontrol di dasbor. Grisna menghela napas perlahan, mata memandang ke luar jendela mobil yang belum bergerak. "Hm... kemana ya? Sudah lama aku tidak keluar jalan-jalan. Bagaimana kalau ke restoran seafood? Aku tahu satu tempat yang berada di tepi pantai, katanya makanan mereka segar langsung dari nelayan pagi ini."Adnan mengangguk dengan senyum tipis. "Boleh juga tuh. Pasalnya, aku juga merasa perlu sedikit jeda dari rutinitas klinik."Dia menyentuhkan jemari pada layar sentuh, dan mobil langsung melaju dengan lancar, tanpa ada kemudi yang dipegang. Mobil Adnan adalah salah satu inovasi terbaru dari sistem teknologi, dilengkapi dengan fitur pengemudi otomatis tingkat 5 yang mampu menavigasi jalan raya maupun jalanan kecil dengan aman.Saat mobil mel
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: 125Perlahan-lahan mobil sedan warna gelap milik Adnan melaju di atas aspal jalanan. Ia mengemudi dengan hati-hati, menuju rumah sakit Umum Daerah yang terletak tak lebih dari lima kilometer dari hotel. Tujuan satu-satunya, menjemput robot medisnya. Saat mobilnya berhenti di depan halaman rumah sakit, pandangannya langsung tertuju pada satu titik di halaman terbuka. Robotnya, Zeta, sedang dikelilingi oleh sekelompok orang, di antaranya dokter berpakaian jas putih, perawat dengan baju seragam biru muda, dan beberapa pengunjung yang tampak terpesona dengan bentuk serta gerakan robot yang tampak sangat canggih.Tanpa berlama-lama, Adnan turun dari mobil dan menapaki lorong menuju lokasi kerumunan. Saat ia mendekat, lampu indikator di dahi Zeta berkedip berwarna biru muda, tanda robot tersebut telah menyadari keberadaannya."Maafkan saya, semuanya," ujar Adnan dengan suara yang jelas dan sopan, menyela diskusi yang tengah berlangsung. "Robot medis ini adalah milik saya. Saya datang untuk m
Last Updated: 2026-03-30