Adnan, Sang Pemilik Sistem Medis Terhebat

Adnan, Sang Pemilik Sistem Medis Terhebat

last updateLast Updated : 2026-02-06
By:  Less22Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
7views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sinopsis Adnan, seorang pria sukses dan menjadi kebanggaan keluarga, dan bahkan berhasil menikahi wanita cantik di kotanya, tapi kesempurnaan itu terenggut oleh penyakit yang mematikan. Di hari operasinya, tidak ada yang mau datang menemuinya, orangnya membencinya, istrinya menceraikannya. Lantas, apa lagi yang ia punya. Ya, ia hanya punya semangat Hidup, hingga akhirnya operasi pun di laksanakan. Tapi itu tidak berjalan seperti yang dia harapkan, ia meninggal di meja operasi. Tapi hal tak terduga terjadi, sistem datang dan memberikan kehidupan untuknya, dan bahkan menjadikan dirinya dokter terhebat. Istrinya menyesal karena mendapatkan pria tak bertanggung jawab, usaha ayahnya bangkrut, restoran hanya tinggal kenangan. Tapi Aldan telah menjadi dokter terhebat, orangtuanya menyesal begitu juga mantan istrinya. Akhirnya, ia pun mendapatkan seorang istri yang cantik yang menemani sisa hidupnya.

View More

Chapter 1

1. Mati Di Meja Operasi

Sudah 2 tahun Adnan mengidap tumor otak bahkan sudah mencapai stadium 4, rambutnya botak, wajahnya berubah menjadi mengerut, tubuhnya kurus dan menghitam seperti terbakar, karena ia juga mengidap penyakit diabetes kering akut.

Hari ini adalah hari operasinya, dan Adnan telah bersiap-siap untuk operasi.

“Pak Arka, Pak Adnan hari ini harus segera dioperasi, karena kanker otaknya telah menjalar di bagian tubuhnya yang lain,” Kata dokter Rani.

Seketika Arka naik darah. “Apa? Di operasi?” Tanya Arka menatap Adnan yang ada di sampingnya itu dengan mata membulat.

"Untuk apa dia operasi? Hah! Buang-buang uang saja!” Kata Arka ketus langsung mendorong kepala Adnan membuat Adnan mundur beberapa langkah.

“Kau pikir biaya operasi murah hah? Mau minta uang? Lebih baik menunggu mati saja, dasar tidak berguna!" Maki Arka lagi Kata-kata itu sungguh menusuk jantung hatinya tanpa menunggu aba-aba.

Adnan diam memegang kepalanya yang terasa sedikit sakit, matanya menatap ke arah papanya yang terlihat kesal.

"Eh satu lagi, restoran sudah Aku ambil dan aku berikan kepada kakak laki-lakimu, dia lebih berguna dari mu, dasar beban! Aku tidak punya anak berpenyakitan sepertimu! Memalukan keluarga saja!" katanya dengan ketus tanpa mempertimbangkan perasaan Adnan.

Adnan hanya berdiri diam menatap Papanya dengan tatapan dingin. Wajahnya tenang, tidak ada nada kemarahan di matanya, hanya terdengar suara nafas yang berhembus pelan.

“Kalau kau mau operasi, operasi saja sendiri, tidak ada urusan denganku!” Kata Arka yang langsung berbalik badan meninggal Adnan dan kedua dokter tersebut.

Adnan menatap punggung Arka yang menjauh tanpa ekspresi.

“Pak Adnan, apa Anda tidak apa-apa?” Tanya Dokter Rani.

"Tidak apa-apa dokter saya baik-baik saja," Kata Adnan mengangguk.

Tiba-tiba saja ponsel Adnan berbunyi. Ia meraih dan mengambil ponsel itu, ternyata dari istrinya, Gina.

“Adnan, mari kita berpisah. Aku sudah mengirim surat cerai di pengadilan, aku sudah menemukan pria yang lebih baik darimu, mulai sekarang dan selamanya, kita tidak punya hubungan apa-apa lagi.”

Adnan hanya menatap tulisan itu sebentar lalu menyimpan ponselnya kembali.

Keluarganya mencampakkannya, mantan istrinya menceraikannya, teman-teman menjauh sejak tahu ia sakit, tapi kini ia menyadari, ia tidak perlu bergantung pada orang lain untuk bertahan hidup.

"Dokter, sekarang aku siap untuk operasi," kata Adnan dengan suara mantap.

"Baiklah Pak Adnan, jika Anda siap, mari kita operasi sekarang," kata dokter Adi tak ingin membuat Adnan menjadi sedih.

Mereka pun masuk ke dalam ruangan dan Adnan duduk di atas brankar.

"Baiklah, ayo tim kita mulai operasi," kata dokter Adi kepada para tim operasi yang sudah siap siaga.

Adnan merebahkan tubuhnya di brangkar operasi dengan mata terpejam, air matanya mengalir dari ujung mata, menandakan betapa pedih hatinya.

Tiga tahun lalu, ia menjadi orang sukses, restoran menjadi restoran terkemuka di kota bahkan menjadi Ceo restoran nomor 1, ia menikah dengan gadis cantik dan ia hidup dalam kesempurnaan, menjadi anak kebanggaan oleh ayahnya karena berhasil menjadi anak yang sukses.

Tapi, kebahagiaan itu hancur setelah penyakit yang telah menggerogotinya, wajahnya menjadi pucat, badannya mengurus, ia tidak setampan dulu, kulitnya mengerutkan dan berubah menjadi orang buruk rupa, hingga sampai di titik saat ini, dan berakhir di meja operasi.

Dokter pun menyuntikkan obat bius, perlahan-lahan kesadaran Adnan memudar dan ia hilang kesadaran.

Dokter mulai melakukan operasi otak kepala Adnan atas permintaan Adnan. Andai pun gagal, Adnan tidak menyalahkan dokter dan sudah menandatangani surat perjanjian, karena kondisinya saat ini memang tidak memungkinkan untuk operasi, tapi bagi Adnan yang ingin bertahan hidup, lebih baik berusaha daripada tidak sama sekali.

Lampu sorot terang menyinari kepala Adnan yang terbaring tak bergerak di meja operasi. Dokter Rina mengangkat tangan, jari-jari yang gemetar sedikit ditahan oleh sarung tangan steril.

"Stadium 4, tumor sudah menjalar ke sumsum tulang belakang. Kita cuma punya satu kesempatan," katanya dengan napas pendek.

Tim operasi bekerja dengan kecepatan yang terkontrol. Suara monitor jantung beep... beep... beep... membunuh keheningan ruangan.

Satu per satu alat dimasukkan, skalpell, forseps, laser bedah yang memancarkan cahaya merah tipis untuk memisahkan jaringan sehat dari tumor yang busuk.

"Jangan sentuh saraf optik!" teriak Dokter Adi, ahli neuro yang berdiri di sisi kiri. Satu kesalahan kecil bisa membuat pasien buta selamanya. Laser sedikit menyimpang, dan monitor tiba-tiba menunjukkan denyut jantung yang melambat.

beep... beep...

jeda semakin lama.

"Pemberian obat penstabil!" Dokter Rina memerintahkan.

Perawat segera menyuntikkan cairan ke dalam saluran darah pasien. Denyut jantung kembali normal, tapi ketegangan di ruangan makin membanjiri. Mereka sudah beroperasi selama 7 jam; tenaga mulai menipis, tapi tumor masih belum selesai diangkat.

"Tumor menyatu dengan saraf syaraf pusat!" teriak salah satu perawat yang memeriksa layar pemindaian.

Dokter Rina melihat dengan mata membelalak, ia tahu apa artinya itu. Jika mereka terus memisahkan, saraf akan putus dan Adnan akan lumpuh sepenuhnya. Jika berhenti, tumor akan terus tumbuh dan mematikan dalam waktu seminggu.

Ia mengambil napas dalam-dalam. "Kita lanjut. Hati-hati sebaiknya."

Laser mulai bekerja lagi, tapi dalam sekejap, layar monitor menjadi merah. Denyut jantung pasien menjadi cepat sekali, lalu tiba-tiba... flatline. Suara beep yang terus-menerus menggema di ruangan.

"CPR sekarang!"

Tim bergerak cepat, menekan dada pasien, memberinya napas buatan. Tapi setelah 30 menit perjuangan, Dokter Rina mengangkat tangan. Matanya berkaca-kaca. "Berhenti," katanya dengan suara yang hancur. "Kita sudah kalah."

Ruangan menjadi sunyi, hanya terdengar napas pendek dari semua orang. Meja operasi yang semula menjadi tempat harapan, kini menjadi tempat kehilangan.

Adnan pun di nyatakan meninggal dunia di meja operasi.

Dokter Rina menarik nafas, sekali pun ia dokter dan biasa melihat hal ini, tapi ia tetap merasa kalah.

Dokter Rina mereka air matanya karena kesedihan yang mendalam. Pasien bukan hanya kehilangan kehidupan, tapi juga kehilangan keluarga, ini adalah pasien yang sangat menyedihkan yang pernah ia temui.

"Pindahkan pasien ke kamar jenazah," kata Dokter Rina terduduk lemas dan lelah, 7 jam operasi yang mereka lakukan ternyata tidak ada artinya.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status