Chapter: Bab 60 - Leo, Saya Pusing Sekali"Ngh... ... Leo..." desah Raia , tubuhnya melengkung tatkala sentuhan dan gairah di antara keduanya semakin menghimpit. Jemari Raia meremas kencang otot bahu Leo yang basah oleh peluh. "Saya... tidak tahan... sudah tidak kuat..."Desahan da rintihan pada tubuh Raia justru semakin membakar sisa akal sehat dari Leo. Erangan yang meluncur dari tenggorokan Leo saat pergerakannya melaju dalam ritme yang begitu dalam dan menuntut membuat dirinya kehilangan akal. Ia menunduk, menyapu leher Raia dengan napasnya yang berhembus panas dan liar.Namun, di tengah pusaran sensasi yang membuat kesadarannya melayang, Raia merasakan ketegangan tubuh Leo sudah berada tepat di ambang batas pelepasan."Leo... ah! Di luar...!" jerit Raia tertahan di antara desah napasnya yang tersengal. "Di luar... tolong, jangan di dalam...!"Tubuh Leo bergetar hebat di atas tubuh Raia. Otot-otot badannya menegang kaku bagaikan batu, sementara dorongan hebat di dalam dadanya mendesak kuat untuk ditumpahkan saat itu juga.
Terakhir Diperbarui: 2026-09-04
Chapter: Bab 59 - Malam PanjangCiuman yang saling menuntut itu membakar habis seluruh sisa udara dan keraguan yang sempat hinggap di antara mereka. Suara desahan Raia meluncur dari celah bibirnya yang ttengah terpagut, memecah keheningan kamar yang kini mulai terasa panas."Ah... Pak... Leo..." desah Raia patah-patah saat bibir Leo perlahan menyusuri garis rahangnya, bergerak turun bermuara di ceruk lehernya.Jemari Raia makin erat meremas rambut dan bahu tegap Leo, melengkungkan tubuhnya tatkala sentuhan hangat telapak tangan sang CEO menyusup di lekuk pinggangnya. Setiap kecupan yang diberikan Leo mengirimkan gelombang yang membuat seluruh tubuh Raia meremang dalam gairah.Leo menggeram, membiarkan naluri dan gejolak yang bertahun-tahun ia pendam mengambil alih kendali. Pria yang biasanya dipenuhi kalkulasi dingin itu kini begitu terpesona, bertindak posesif di atas tubuh wanita di bawahnya. Ibu jarinya menangkup rahang Raia, sementara telapak tangannya menekan pinggul wanita itu tanpa membiarkan ada jarak tersi
Terakhir Diperbarui: 2026-09-04
Chapter: Bab 58 - Peraduan yang MengesankanTubuh Leo seketika membeku.Sentuhan tangannya terhenti di udara. Seluruh darah di tubuh Leo seolah menyusut dalam sekejap mata. Napas pria itu tertahan, menyisakan keheningan yang mendadak mencekam di dalam kamar hotel yang luas itu.Leo merenggangkan jarak dengan perlahan, menumpukan kedua tangannya di sisi kepala Raia. Matanya menatap penuh rasa penasaran, memandangi wajah Raia yang terkulai lelah dengan benak yang dihantam kebingungan luar biasa.Seperti waktu itu?Jantung Leo berdegup kencang, kali ini bukan karena gairah, melainkan oleh guncangan rasa terkejut yang teramat sangat. Selama tujuh tahun ini, ia tidak pernah menyentuh Raia lebih dari batas seorang atasannya. Mereka tidak pernah melewati batas ini. Sama sekali tidak pernah.Atau... adakah sebuah malam di masa lalu yang terhapus dari ingatannya? Ataukah Raia sedang membayangkan pria lain di dalam ingatan kelamnya?"Raia..." bisik Leo dengan suara bergetar , menatap ke dalam manik mata Raia yang semakin sayu oleh rasa p
Terakhir Diperbarui: 2026-09-04
Chapter: Bab 57 - Seperti Waktu ItuLeo makin mempererat pelukannya, merasakan tubuh Raia yang gemetar dan diliputi rasa cemas. "Jangan dipikirkan lagi. Istirahatlah, biar saya yang selesaikan semuanya."Raia merenggangkan dekapannya dengan pelan, mendongakkan kepala dengan jemari yang masih tertaut di kerah kemeja Leo. Manik matanya yang basah dan sedikit sayu menatap ke dalam iris mata hitam milik atasannya—sebuah tatapan yang menyiratkan campuran antara kerapuhan yang mendalam dan keputusasaan yang siap membakar batas."Ayo, Pak Leo..,." bisik Raia dengan nada mengayun , terkesan bagai bisikan magis di tengah heningnya suite privat tersebut. "Bermainlah dengank saya Kalau malam ini mereka sengaja melabeli kita dengan kebohongan yang kotor... kenapa kita tidak membuat kebohongan itu menjadi? Buat saya lupa dengan apa yang mereka katakan ... hanya malam ini."Rahang Leo mengeras hingga otot di sepanjang lehernya menegang. Tatapan matanya berubah tajam, terpenjara antara tanggung jawab moral untuk menjaga wanita yang sed
Terakhir Diperbarui: 2026-09-04
Chapter: Bab 56 - Raia Tak Sadar"Karena saya tidak akan pernah membiarkan mereka menyentuhmu demi menghancurkan hidup saya," bisik Leo dengan ketegasan yang terpancar di dalamnya. "Biarkan saya yang menanggung semua dosa yang mereka lakukan padamu, Raia. Kamu hanya perlu tetap di samping saya agar tetap aman.""Tapi saya tidak ingin terus berlindung di balik bayangan Bapak," balas Raia tegas, menantang tatapan penuh proteksi milik Leo.Leo terdiam.Namun, tiba-tiba Raia memegangi kepalanya. "Kepala saya... mendadak makin pusing, Pak," keluh Raia pelan. Jemarinya memijat pelipis yang berdenyut hebat, sementara bobot tubuhnya mulai limbung bersandar pada pagar pualam.Tanpa membuang waktu lebih lama, Leo merengkuh pinggang Raia, menyangga tubuh wanita itu dengan tangan kekarnya. Pria itu tidak membawa Raia kembali ke aula, melainkan menyusuri lorong privat khusus menuju presidential suite pribadi milik sang CEO yang berada di lantai paling atas hotel tersebut.Pintu kamar mewah itu terbuka dengan perlahan ketika Leo me
Terakhir Diperbarui: 2026-09-04
Chapter: Bab 55 - Kesalahan Saya ... Atau?Suasana jamuan yang semula damai, perlahan berubah menjadi helatan mewah yang bising oleh denting gelas kristal dan gelak tawa saling memamerkan kekuasaan. Botol-botol wine langka dan whisky bernilai ratusan juta mengalir tanpa henti, membasahi tenggorokan para tetua dan kerabat Vaneric yang mulai terbuai oleh euforia malam itu. Sandy dan Pak Roberts beberapa kali memimpin toast, sengaja meminum alkohol dengan dosis tinggi demi merayakan aliansi baru mereka bersama keluarga Evelyn. Di tengah kerumunan yang kian tak terkendali dan aroma minuman beralkohol yang begitu menyengat, hanya Leo dan Raia yang memilih tetap menguasai diri. Leo menolak tegas setiap tuangan spirits dari para pelayan, memilih mempertahankan kesadaran demi melindungi wanita di sisinya. Namun, demi menjaga etika baik saat Pak Roberts sengaja mengangkat gelas ke arah mereka untuk mencoba memprovokasi, Raia terpaksa menyesap sedikit champagne yang disodorkan. Seteguk cairan emas itu membasahi tenggorokan Raia. Efek
Terakhir Diperbarui: 2026-09-04
Chapter: End“Kau tak apa?” tanya Alea kembali memastikan. Tangannya kini mulai melingkari lengan Damian, dan mengusapnya perlahan, seakan ingin menghapus sisa amarah yang masih berdiam pada tubuh pria itu.Damian menarik napasnya dalam, lalu menghembuskannya perlahan, seolah membuang beban yang sudah terlalu lama menghuni dadanya. “Sudah saatnya,” ucapnya dengan lirih. “Aku akan menyerahkan proses penyelidikan ini sepenuhnya pada pihak kepolisian. Jika benar Tuan Lagrand terlibat dalam pembunuhan ibuku, biarlah hukum yang akan berbicara, dan aku tak akan mengintervensi apapun.”Alea menatapnya dengan mata yang sedikit panas. “Kalau begitu … berarti ayahku mungkin saja tak bersalah?” ujarnya dengan penuh harap.Damian tak langsung menjawab. Hanya saja tatapannya yang berbicara, sebelum akhirnya ia menganggukkan kepala, sekali. “Kita akan tahu kebenarannya ... dan mungkin saja ayahmu adalah korban dari konspirasi mereka di masa lalu ... karena, aku pun tak berada di tempat ketika kejadian itu tenga
Terakhir Diperbarui: 2025-08-15
Chapter: Sara AlaricDamian baru saja merebahkan kepala di atas bantal dan ingin memejamkan matanya ketika suara bip-bip dari interkom di dinding terdengar sedikit nyaring, dan berhasil memecah keheningan di dalam kamar. Ia mengerjapkan matanya pelan, sedikit terganggu dengan suara itu, lalu meraih remote kecil di atas nakas untuk menyambungkannya.“Tuan Damian,” panggil Carden dengan suara yang terdengar berat, “Anda harus ke ruang keamanan sekarang.”Alea, yang semula hampir terlelap dalam pelukannya, kini ikut membuka mata. Ia mendengar percakapan itu dengan jelas, lalu berbalik menatap pada Damian. “Apa yang terjadi?” tanyanya setengah berbisik.Damian menatapnya sebentar, lalu menggelengkan kepalanya. “Carden jarang memanggilku pagi-pagi begini jika tak ada berita yang tidak penting.”Alea menarik selimutnya lebih jauh, lalu duduk sambil menyibakkan rambut dari sisi wajahnya. “Kalau begitu aku akan ikut denganmu.”“Alea—” desis Damian mulai menolak.“Aku ikut,” potongnya dengan tegas, ia menatap Dami
Terakhir Diperbarui: 2025-08-11
Chapter: Tidur Lagi?Alea mengerjapkan matanya pelan, mencoba menahan debaran yang merambat dari jantung hingga ke seluruh tubuhnya. Damian masih memeluknya erat, masih membungkus mereka dengan satu handuk besar seperti sepasang kekasih yang enggan beranjak dari keintiman yang mereka rasakan bersama.“Kalau kau baru mulai …” gumam Alea pelan, “aku harus segera menabung energi mulai dari sekarang.”Damian tertawa kecil mendengarnya. “Tenang saja, Alea. Aku bisa menjadi pelatih sekaligus pelindung bagimu. Kau hanya perlu … menyerahkan sepenuhnya padaku.”Alea menggigit bibir bawahnya seraya tertawa pelan. “Bahaya sekali kalimat itu.”“Bahaya yang menyenangkan,” balas Damian, lalu mengecup pelan sisi pelipis Alea dan membuat badan Alea sedikit terasa hangat. Detik berikutnya, ia membawa tubuh Alea ke dalam pelukannya, lalu kembali ke dalam kamar, Damian perlahan menarik selimut sambil meraih remote kecil di sisi tempat tidur, lalu menekan tombol pada panel interkom yang terpasang di dinding.“Bawakan sarapa
Terakhir Diperbarui: 2025-08-07
Chapter: Mandi Bersama “Kalau kita begini terus,” gumam Alea pelan, “aku bisa-bisa tak sanggup bangun selama seminggu.”Damian terkekeh pelan mendengar celotehan Alea. “Itu risiko yang menyenangkan.”“Risiko untuk siapa?” balas Alea malas membuka mata.“Untukmu. Aku masih bisa menggendong jika kau tak bisa jalan,” ujar Damian sambil mencium lembut bahu Alea. “Seperti tadi malam.”Alea menahan senyumnya, sementara wajahnya kembali menghangat. “Kau benar-benar tak punya rasa bersalah ya…”“Kenapa harus merasa bersalah kalau sedang mencintai seseorang dengan sepenuhnya?”Alea menoleh sedikit dan menatap Damian dari bawah. “Mencintai?”Damian menatapnya sebentar, lalu mengangguk dengan lembut. “Ya. Aku mencintaimu, Alea.”Alea terdiam, matanya membulat sedikit, tak menyangka pernyataan itu keluar begitu langsung. Tapi bibirnya perlahan melengkung membentuk senyum kecil yang tulus.“Aku juga…” bisiknya. “Meski awalnya kupikir aku cuma tertarik… ternyata… perasaanku lebih dalam dari itu.”Damian mempererat peluk
Terakhir Diperbarui: 2025-08-04
Chapter: Pagi yang IndahSinar matahari pagi menyusup perlahan melalui celah tirai, menyinari kamar dengan cahaya keemasan yang lembut. Udara masih hangat, aroma kasur, dan jejak semalam masih terasa menyelimuti setiap inci ruangan.Alea mengerjapkan matanya perlahan. Tubuhnya terasa berat… tapi nyaman. Namun, yang membuat jantung Alea tiba-tiba berdetak lebih cepat … adalah kenyataan bahwa tubuhnya masih berada di atas Damian. Lebih tepatnya… miliknya masih menyatu dengan milik Damian.Wajah Alea langsung merona hebat. Ia refleks menggigit bibir, menahan napas dan tidak berani bergerak. Tapi perasaan penuh di dalam dirinya itu terlalu nyata untuk diabaikan—seolah tubuh mereka belum sempat benar-benar berpisah sejak semalam.“Hh…” gumamnya lirih, hampir seperti desahan tercekik oleh malu dan bingung sendiri.Ia mengangkat kepalanya pelan, menatap wajah Damian yang masih tertidur dengan tenang di bawahnya. Namun ketika tubuh Alea bergeser sedikit saja…Damian mengerang pelan dalam tidurnya. “Hmm…”Mata pria i
Terakhir Diperbarui: 2025-08-04
Chapter: Bayangan PatriciaMalam hari di pusat kota yang mulai padat menjelang jam pulang kantor, layar videotron raksasa yang berada di persimpangan jalan tiba-tiba berubah. Tayangan berita darurat mulai diputar, dan berhasil menarik perhatian orang-orang yang tengah berlalu lalang.“Breaking News: Polisi berhasil melumpuhkan dan menangkap Leopold Lagrand dalam penggerebekan berdarah di mansion pribadinya.”Wajah Patricia muncul beberapa detik kemudian, disandingkan dengan tulisan berwarna merah yang berjudul,“BURONAN: Patricia Lagrand. Dicurigai mengetahui dan terlibat dalam sabotase sistem hukum dan upaya pembunuhan.”Patricia yang sedang berjalan cepat di antara keramaian, berhenti secara mendadak. Ia berdiri mematung, wajahnya menegang saat melihat dirinya di layar raksasa. Ia segera memperbaiki masker yang melekat di wajahnya, lalu membenamkan rambuutnya di dalam topi yang dikenakannya.“TIDAK...” desisnya pelan.Beberapa orang mulai tertarik dan melihat ke arah layar, lalu saling berbisik satu sama lai
Terakhir Diperbarui: 2025-08-04
Chapter: Bab 25 - TerpojokkanAku tersenyum kaku, berusaha menenangkan detak jantungku. "Aku baik, Pak Adrian. Dan ... suamiku tidak ikut. Sebenarnya, aku di sini bekerja, Pak Adrian," jelasku singkat.Adrian mengernyitkan dahinya. "Bekerja? Kamu kembali bekerja? Di perusahaan mana?"Aku menelan ludah, melirik ke arah Raynard yang menatapku dengan penuh tanda tanya. "Aku bekerja di rumah Tuan Raynard ... sebagai pengasuh Kenzo."Adrian terdiam. Matanya membelalak, lalu ia menoleh ke arah Raynard dengan ekspresi tidak percaya. "Apa? Pengasuh?" ulangnya, terkejut. "Ray! Apa-apaan ini? Kamu mempekerjakan Safira sebagai pengasuh?" lanjutnya."Adrian, apa maksudmu?""Maksudku, kamu keterlaluan!" Adrian menunjukku dengan nada kesal pada Raynard. "Safira ini salah satu aset terbaik yang pernah aku miliki di kantor! Dia cerdas, taktis, dan punya kemampuan manajerial yang luar biasa. Bagaimana bisa kamu menyia-nyiakan bakatnya hanya untuk mengurus anak kecil?"Raynard kembali menatapku, alisnya terangkat, seolah ia tengah
Terakhir Diperbarui: 2026-06-03
Chapter: Bab 24 - Masa Lalu Safira“Kita akan berkunjung ke rumah orang tua saya," ujar Raynard di tengah perjalanan pulang."Ke rumah orang tua Tuan?" tanyaku kaget. "Tapi, bukankah Sus Rini biasanya yang mendampingi Kenzo dalam acara keluarga?"Raynard menatapku sekilas, lalu kembali menatap jalana di depannya. "Sus Rini sudah tahu tugasnya seperti apa, tapi kali ini orang tua saya meminta secara khusus agar orang yang paling dekat dengan keseharian Kenzo selama saya pergi kemarin, ikut berkunjung juga. Itu kamu, Safira." Perjalanan menuju kediaman keluarga Raynard terasa sangat panjang. Begitu kami sampai di sebuah rumah besar bergaya klasik yang megah, aku merasa seolah sedang melangkah ke dalam dunia yang benar-benar asing bagiku.“Oma! Opa!" seru Kenzo dengan suara lantang. Ia menghambur ke pelukan neneknya—wanita paruh baya yang terlihat sangat berwibawa—menatapku dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan yang sulit diartikan.Setelah melepas pelukannya, ia tidak langsung duduk, melainkan berbalik ke arahku
Terakhir Diperbarui: 2026-06-03
Chapter: Bab 23 - Permintaan RaynardHari demi hari kulalui dengan berat, sekarang, sudah sepuluh hari lamanya Tuan Raynard berada di luar negeri. Pagi ini, rumah terasa lebih sepi dari biasanya. Kenzo sudah diantar Sus Rini ke kelas renang, dan aku duduk di meja makan sambil menikmati roti tawar dan teh hangat.Begitu aku bangkit untuk merapikan meja, suara pintu depan terbuka dengan pelan. Suara langkah kaki cepat terdengar—bukan langkah kecil Kenzo, bukan langkah Sus Rini yang lembut.Hatiku terlonjak.Seseorang baru saja masuk ke dalam rumah ini. Aku berjalan ke ruang tamu dengan waspada. Dan di sana dia berdiri.Raynard.Pria itu masih memakai coat hitam panjang, rambut yang sedikit berantakan, dan wajahnya menunjukkan kelelahan perjalanan panjang ... tapi matanya langsung tertuju padaku begitu aku muncul di hadapannya.“Pagi, Safira.”Aku terpaku sejenak. “Tuan...? Bukannya jadwal pulang Anda masih tiga hari lagi?”Raynard melepas coat-nya, dan menyangkutkannya di sandaran sofa. “Dimajukan.” Ia menatapku lebih lama
Terakhir Diperbarui: 2026-06-02
Chapter: Bab 22 - Perhatian RaynardMalam hari berjalan dengan begitu cepat, Sus Rini sedang merapikan mainan di sudut ruangan. Aku duduk di sebelah Kenzo, mencoba fokus pada TV yang menyala, tapi jauh di dalam hati, aku masih terbayang kejadian di mall tadi siang.Notifikasi video call berbunyi di ponselku, sontak mengalihkan perhatian kami. Aku dengan cepat mengangkat ponsel dan menerima panggilan itu.“Hallo.”Kenzo langsung berdiri di sofa begitu mendengar suara dari ponselku. “Daddy! Daddy!” teriaknya girang, lalu duduk tepat di pangkuanku.Wajah Raynard muncul di layar—tengah berdiri di sebuah ruangan hotel dengan lampu kuning temaram, ia mengenakan kemeja putih dan dasi yang sudah sedikit longgar, wajahnya mengisyaratkan rasa lelah yang begitu kentara.Tapi begitu melihat Kenzo ... wajahnya kembali melunak.“Kenzo,” sapanya pelan.“Daddy!! Aku kangen! Monty juga!” ujar Kenzo sembari mengangkat bonekanya tepat ke kamera, membuat Raynard mengangkat alisnya.“Oh begitu?” jawab Raynard menatapku sekilas di layar. Tata
Terakhir Diperbarui: 2025-11-15
Chapter: Bab 21 - Mereka JahatSus Rini yang berjalan di sampingku tampak menatapku sekilas, lalu menunduk, mungkin menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari raut wajahku. “Safira, kamu nggak apa-apa?” tanyanya hati-hati.Aku menggeleng pelan, memaksakan senyum. Tapi senyum itu langsung pudar ketika pandanganku tanpa sengaja bertemu pantulan kaca di etalase toko — menampilkan wajahku sendiri yang terlihat pucat dan tegang.Melihat perubahanku, berdeham. “Tadi ... mereka itu siapa?” tanyanya pelan, seolah takut salah bicara.Aku menarik napas panjang, mencoba mengatur nada suaraku agar tetap tenang. “Itu ... mantan suami,” jawabku lirih. “Dan perempuan yang bersamanya ... sepupunya.”Sus menatapku kaget tapi cepat-cepat menundukkan kepala, merasa bersaah. “Oh ... maaf, saya nggak tahu.”Aku tersenyum tipis, menganggukkan kepala sekali. “Nggak apa-apa, Sus. Saya juga nggak nyangka bisa ketemu mereka di sini,” jawabku diiringi tawa getir.“Monty kenapa?” tanya Kenzo polos, ketika menunggu antrean di depan kasir..Ak
Terakhir Diperbarui: 2025-11-14
Chapter: Bab 20 - Sombongnya NesyaMereka berjalan beriringan, tangannya menggenggam lengan Alvin dengan manja, sementara pria itu hanya tersenyum tipis seperti biasa—senyum yang dulu begitu kukenal.Tubuhku terasa dingin. Aku ingin berbalik, berpura-pura tidak melihat, tapi suara mereka sudah terlalu dekat.“Oh, aku nggak salah lihat ternyata,” suara Nesya terdengar lembut tapi penuh nada sinis. “Safira?” ulangnya memastikan.Aku menatapnya perlahan, mencoba mempertahankan sisa ketenangan di wajahku. “Nesya,” sapaku singkat.Matanya menelusuri tubuhku dari atas ke bawah, dari baju sederhana dan rambut yang diikat seadanya, lalu berhenti pada tangan kecil Kenzo yang menggenggam jariku erat. Senyum miring terbit di bibirnya. “Sekarang kamu kerja jadi babysitter, ya?”Aku menelan ludah, tak tahu harus menjawab apa. Suaranya bukan sekadar bertanya—tapi penghinaan halus yang menusuk lebih dalam daripada rasa sakit yang ia berikan sebelumnya.Sementara Alvin, mantan suamiku, hanya berdiri diam di sebelahnya. Wajahnya datar,
Terakhir Diperbarui: 2025-11-14