Chapter: Bab 134 - Kakek EdwardSandy bangkit dari kursinya, napasnya memburu dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipis. "Papa, ayo pergi... jangan biarkan mereka membeberkan ini lebih jauh!" bisiknya panik, mencengkeram lengan Robert yang masih mematung.Bibirnya gemetar menahan malu dan amarah yang meluap, Robert meninggalkan ruang perjamuan tanpa sepatah kata pun lagi, disusul langkah tergesa-gesa putranya.Tok. Tok.Bunyi ketukan tongkat berkepala elang di atas marmer memecah keheningan dari ujung kepala meja perjamuan.Sosok pria tua bertubuh tegap dengan rambut perak rapi yang sedari tadi duduk diam memperhatikan jalannya jamuan perlahan menegakkan punggungnya. Tuan Besar Edward Vaneric meletakkan serbet makannya dengan tenang.Seluruh kerabat yang tersisa di meja makan langsung menahan napas, tak ada satu pun yang berani bersuara di hadapan sang kepala keluarga."Leonardo," panggil Kakek Edward, suaranya berat dan menggelegar tenang, menyapu seluruh penjuru ruangan.Leo segera bangkit berdiri
Last Updated: 2026-10-22
Chapter: Bab 143 - Om Roberts!Robert mendengus, tawa sinisnya memecah keheningan. Pria itu menolak mundur, kedua tangannya mencengkeram tepi meja marmer hingga urat-uratnya menonjol."Bicara soal integritas? Omong kosong!" sergah Robert, tatapan kebencian pada Leo dan Raia bergantian. "Keluarga ini butuh penerus yang pasti, bukan eksperimen emosional seorang pewaris manja! Tempo lalu, Sandy dan Evelyn sudah resmi mengikat pertunangan. Putri konglomerat yang menjadi mitra bisnis perusahaan Vaneric! Itu yang namanya menyatukan darah terhormat demi martabat dan kejayaan empat generasi Vaneric!"Robert menepuk dadanya sendiri dengan dagu terangkat angkuh, melirik putranya, Sandy, yang duduk di ujung meja dengan senyum pongah yang tertahan.Leo mendengarkan ocehan itu dengan wajah tanpa ekspresi. Alis tebalnya hanya terangkat, memperlihatkan kebosanan terhadap manuver murahan pamannya."Lalu?" suara bariton Leo terdengar begitu dingin dan datar. "Apa hubungannya pertunangan anakmu dengan keputusanku malam ini, Om Rober
Last Updated: 2026-10-21
Chapter: Bab 142 - Pertemuan Mendebarkan "Leonardo, sejak kapan sekretaris kantor diizinkan memakai kalung sakral keluarga kita?"Suara berat dan dingin milik Om Robert membelah keheningan ruang pertemuan utama kediaman Vaneric. Puluhan pasang mata langsung menghunus tajam pada dua sosok yang baru saja melangkah masuk. Leo yang tampak gagah dalam setelan tuksedo gelap, dan Raia yang berdiri tenang di sampingnya dengan gaun beludru biru dongker—serta liontin safir yang berkilau di leher jenjangnya.Om Robert berdiri tegak, memandang Raia dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan senyum sinis yang merendahkan."Kami mengira panggilan malam ini untuk membahas restrukturisasi aset keluarga, bukan menyaksikan drama romansa rendahan," lanjut Robert, menoleh ke arah Ibu Rica yang duduk kaku di ujung meja. "Sejak kapan standar keluarga Vaneric jatuh sampai membiarkan orang lain menyentuh perhiasan peninggalan Ibu, Rica?"Ibu Rica hendak membuka mulut, namun Leo melangkah maju, menempatkan tubuh tegapnya sebagai perisai di ha
Last Updated: 2026-10-19
Chapter: Bab 141 - Sudah lebih Ringan?"Apa yang sedang kamu hukum di dalam kepalamu itu, Rai?" tanya Leo menyadari Raia yang tengah termenung, suaranya yang lembut memecah lamunan wanita.Raia tersentak. Tangannya menegang hingga buku-buku kukunya memutih. "Bukan apa-apa, Leo. Aku cuma... sedikit lelah karena urusan kantor tadi.""Bohong," sela Leo tanpa ragu. Pria itu mengulurkan tangannya melintasi meja makan, membiarkan telapak tangannya terbuka. "Jemarimu memutar cincin itu sejak sepuluh menit yang lalu. Matamu melihat ke arahku, tapi pikiranmu sedang berada di tempat lain yang sangat jauh entah dimana."Senyum palsu di bibir Raia perlahan luruh. Bahunya merosot, pertahanannya runtuh di hadapan Leo yang selalu mampu membaca dirinya luar dalam.Raia menatap permukaan meja dengan tatapan kosongnya, sementara suaranya tercekat di tenggorokan."Kadang... ada bagian dari diriku yang menyangkal kalau semuanya sudah berakhir, Leo," bisik Raia parau. "Tiga tahun aku meyakinkan diriku kalau aku sudah baik-baik saja, kalau aku
Last Updated: 2026-10-18
Chapter: Bab 140 - Keputusan Raia"Aku cuma panik," bisik Leo parau. Pria itu mengangkat wajahnya perlahan, menatap Raia dengan dengan tatapan haru. "Aku takut kamu berpikir semua yang kulakukan belakangan ini cuma bagian dari skenario tiga bulan sialan itu."Raia memperhatikan guratan cemas di wajah pria di hadapannya."Waktu membaca judul itu, aku emang sempat merasa bodoh," tutur Raia pelan. "Aku sempat berpikir kalau aku cuma pion yang kamu bayar mahal demi mengamankan takhta dari keluarga besarmu." "Rai—""Dengarkan aku dulu," potong Raia, mengusap punggung tangan pria itu dengan ibu jarinya agar Leo tidak memotong. "Tapi aku ingat malam di vila itu, Leo. Aku ingat bagaimana kamu berlutut di lantai supaya aku tidak merasa terancam. Aku ingat kamu terjaga semalaman demi memastikan tanganku tidak kedinginan, dan bagaimana kamu menyiapkan sarapanku pagi-pagi tanpa meminta apa pun sebagai gantinya."Sudut bibir Raia terangkat, membentuk senyuman tipis yang begitu tulus."Orang yang cuma menjalankan kontrak bi
Last Updated: 2026-10-17
Chapter: Bab 139 - Potongan PerjanjianRaia merapikan tumpukan berkas yang ada di meja kerjanya, jemarinya menyenggol amplop cokelat tebal berlabel Strictly Confidential. Kertas di dalamnya sedikit menyembul keluar, memperlihatkan judul berhuruf tebal dengan cap meterai.DRAF PERJANJIAN PRA-NIKAH & KONTRAK PERTUNANGANPihak Pertama: Leonardo VanericPihak Kedua: Raia Sophie Jantung Raia mencelos. Matanya terpaku membaca klausul di hadapannya, durasi kontrak tiga bulan kalender, kompensasi pengalihan aset seharga puluhan miliar rupiah, terpampang jelas di hadapannya."Rai?" Suara barinton yang begitu familiar tiba-tiba mengejutkannya.Raia tersentak, ia menatap pria di dekatnya dengan tatapan terkejut. Tangannya bergerak menarik map untuk menyembunyikan lembaran kontrak tersebut.Namun gerakannya kalah cepat.Leo terlebih dahulu mengenali kertas itu.Tanpa membuang waktu lebih lama, tangannya terulur merenggut kertas itu dari bawah lengan Raia.Sreeek!Bunyi kertas yang terkoyak paksa menejadi alunan yang terdeng
Last Updated: 2026-10-16
Chapter: Bab 25 - TerpojokkanAku tersenyum kaku, berusaha menenangkan detak jantungku. "Aku baik, Pak Adrian. Dan ... suamiku tidak ikut. Sebenarnya, aku di sini bekerja, Pak Adrian," jelasku singkat.Adrian mengernyitkan dahinya. "Bekerja? Kamu kembali bekerja? Di perusahaan mana?"Aku menelan ludah, melirik ke arah Raynard yang menatapku dengan penuh tanda tanya. "Aku bekerja di rumah Tuan Raynard ... sebagai pengasuh Kenzo."Adrian terdiam. Matanya membelalak, lalu ia menoleh ke arah Raynard dengan ekspresi tidak percaya. "Apa? Pengasuh?" ulangnya, terkejut. "Ray! Apa-apaan ini? Kamu mempekerjakan Safira sebagai pengasuh?" lanjutnya."Adrian, apa maksudmu?""Maksudku, kamu keterlaluan!" Adrian menunjukku dengan nada kesal pada Raynard. "Safira ini salah satu aset terbaik yang pernah aku miliki di kantor! Dia cerdas, taktis, dan punya kemampuan manajerial yang luar biasa. Bagaimana bisa kamu menyia-nyiakan bakatnya hanya untuk mengurus anak kecil?"Raynard kembali menatapku, alisnya terangkat, seolah ia tengah
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: Bab 24 - Masa Lalu Safira“Kita akan berkunjung ke rumah orang tua saya," ujar Raynard di tengah perjalanan pulang."Ke rumah orang tua Tuan?" tanyaku kaget. "Tapi, bukankah Sus Rini biasanya yang mendampingi Kenzo dalam acara keluarga?"Raynard menatapku sekilas, lalu kembali menatap jalana di depannya. "Sus Rini sudah tahu tugasnya seperti apa, tapi kali ini orang tua saya meminta secara khusus agar orang yang paling dekat dengan keseharian Kenzo selama saya pergi kemarin, ikut berkunjung juga. Itu kamu, Safira." Perjalanan menuju kediaman keluarga Raynard terasa sangat panjang. Begitu kami sampai di sebuah rumah besar bergaya klasik yang megah, aku merasa seolah sedang melangkah ke dalam dunia yang benar-benar asing bagiku.“Oma! Opa!" seru Kenzo dengan suara lantang. Ia menghambur ke pelukan neneknya—wanita paruh baya yang terlihat sangat berwibawa—menatapku dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan yang sulit diartikan.Setelah melepas pelukannya, ia tidak langsung duduk, melainkan berbalik ke arahku
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: Bab 23 - Permintaan RaynardHari demi hari kulalui dengan berat, sekarang, sudah sepuluh hari lamanya Tuan Raynard berada di luar negeri. Pagi ini, rumah terasa lebih sepi dari biasanya. Kenzo sudah diantar Sus Rini ke kelas renang, dan aku duduk di meja makan sambil menikmati roti tawar dan teh hangat.Begitu aku bangkit untuk merapikan meja, suara pintu depan terbuka dengan pelan. Suara langkah kaki cepat terdengar—bukan langkah kecil Kenzo, bukan langkah Sus Rini yang lembut.Hatiku terlonjak.Seseorang baru saja masuk ke dalam rumah ini. Aku berjalan ke ruang tamu dengan waspada. Dan di sana dia berdiri.Raynard.Pria itu masih memakai coat hitam panjang, rambut yang sedikit berantakan, dan wajahnya menunjukkan kelelahan perjalanan panjang ... tapi matanya langsung tertuju padaku begitu aku muncul di hadapannya.“Pagi, Safira.”Aku terpaku sejenak. “Tuan...? Bukannya jadwal pulang Anda masih tiga hari lagi?”Raynard melepas coat-nya, dan menyangkutkannya di sandaran sofa. “Dimajukan.” Ia menatapku lebih lama
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: Bab 22 - Perhatian RaynardMalam hari berjalan dengan begitu cepat, Sus Rini sedang merapikan mainan di sudut ruangan. Aku duduk di sebelah Kenzo, mencoba fokus pada TV yang menyala, tapi jauh di dalam hati, aku masih terbayang kejadian di mall tadi siang.Notifikasi video call berbunyi di ponselku, sontak mengalihkan perhatian kami. Aku dengan cepat mengangkat ponsel dan menerima panggilan itu.“Hallo.”Kenzo langsung berdiri di sofa begitu mendengar suara dari ponselku. “Daddy! Daddy!” teriaknya girang, lalu duduk tepat di pangkuanku.Wajah Raynard muncul di layar—tengah berdiri di sebuah ruangan hotel dengan lampu kuning temaram, ia mengenakan kemeja putih dan dasi yang sudah sedikit longgar, wajahnya mengisyaratkan rasa lelah yang begitu kentara.Tapi begitu melihat Kenzo ... wajahnya kembali melunak.“Kenzo,” sapanya pelan.“Daddy!! Aku kangen! Monty juga!” ujar Kenzo sembari mengangkat bonekanya tepat ke kamera, membuat Raynard mengangkat alisnya.“Oh begitu?” jawab Raynard menatapku sekilas di layar. Tata
Last Updated: 2025-11-15
Chapter: Bab 21 - Mereka JahatSus Rini yang berjalan di sampingku tampak menatapku sekilas, lalu menunduk, mungkin menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari raut wajahku. “Safira, kamu nggak apa-apa?” tanyanya hati-hati.Aku menggeleng pelan, memaksakan senyum. Tapi senyum itu langsung pudar ketika pandanganku tanpa sengaja bertemu pantulan kaca di etalase toko — menampilkan wajahku sendiri yang terlihat pucat dan tegang.Melihat perubahanku, berdeham. “Tadi ... mereka itu siapa?” tanyanya pelan, seolah takut salah bicara.Aku menarik napas panjang, mencoba mengatur nada suaraku agar tetap tenang. “Itu ... mantan suami,” jawabku lirih. “Dan perempuan yang bersamanya ... sepupunya.”Sus menatapku kaget tapi cepat-cepat menundukkan kepala, merasa bersaah. “Oh ... maaf, saya nggak tahu.”Aku tersenyum tipis, menganggukkan kepala sekali. “Nggak apa-apa, Sus. Saya juga nggak nyangka bisa ketemu mereka di sini,” jawabku diiringi tawa getir.“Monty kenapa?” tanya Kenzo polos, ketika menunggu antrean di depan kasir..Ak
Last Updated: 2025-11-14
Chapter: Bab 20 - Sombongnya NesyaMereka berjalan beriringan, tangannya menggenggam lengan Alvin dengan manja, sementara pria itu hanya tersenyum tipis seperti biasa—senyum yang dulu begitu kukenal.Tubuhku terasa dingin. Aku ingin berbalik, berpura-pura tidak melihat, tapi suara mereka sudah terlalu dekat.“Oh, aku nggak salah lihat ternyata,” suara Nesya terdengar lembut tapi penuh nada sinis. “Safira?” ulangnya memastikan.Aku menatapnya perlahan, mencoba mempertahankan sisa ketenangan di wajahku. “Nesya,” sapaku singkat.Matanya menelusuri tubuhku dari atas ke bawah, dari baju sederhana dan rambut yang diikat seadanya, lalu berhenti pada tangan kecil Kenzo yang menggenggam jariku erat. Senyum miring terbit di bibirnya. “Sekarang kamu kerja jadi babysitter, ya?”Aku menelan ludah, tak tahu harus menjawab apa. Suaranya bukan sekadar bertanya—tapi penghinaan halus yang menusuk lebih dalam daripada rasa sakit yang ia berikan sebelumnya.Sementara Alvin, mantan suamiku, hanya berdiri diam di sebelahnya. Wajahnya datar,
Last Updated: 2025-11-14
Chapter: End“Kau tak apa?” tanya Alea kembali memastikan. Tangannya kini mulai melingkari lengan Damian, dan mengusapnya perlahan, seakan ingin menghapus sisa amarah yang masih berdiam pada tubuh pria itu.Damian menarik napasnya dalam, lalu menghembuskannya perlahan, seolah membuang beban yang sudah terlalu lama menghuni dadanya. “Sudah saatnya,” ucapnya dengan lirih. “Aku akan menyerahkan proses penyelidikan ini sepenuhnya pada pihak kepolisian. Jika benar Tuan Lagrand terlibat dalam pembunuhan ibuku, biarlah hukum yang akan berbicara, dan aku tak akan mengintervensi apapun.”Alea menatapnya dengan mata yang sedikit panas. “Kalau begitu … berarti ayahku mungkin saja tak bersalah?” ujarnya dengan penuh harap.Damian tak langsung menjawab. Hanya saja tatapannya yang berbicara, sebelum akhirnya ia menganggukkan kepala, sekali. “Kita akan tahu kebenarannya ... dan mungkin saja ayahmu adalah korban dari konspirasi mereka di masa lalu ... karena, aku pun tak berada di tempat ketika kejadian itu tenga
Last Updated: 2025-08-15
Chapter: Sara AlaricDamian baru saja merebahkan kepala di atas bantal dan ingin memejamkan matanya ketika suara bip-bip dari interkom di dinding terdengar sedikit nyaring, dan berhasil memecah keheningan di dalam kamar. Ia mengerjapkan matanya pelan, sedikit terganggu dengan suara itu, lalu meraih remote kecil di atas nakas untuk menyambungkannya.“Tuan Damian,” panggil Carden dengan suara yang terdengar berat, “Anda harus ke ruang keamanan sekarang.”Alea, yang semula hampir terlelap dalam pelukannya, kini ikut membuka mata. Ia mendengar percakapan itu dengan jelas, lalu berbalik menatap pada Damian. “Apa yang terjadi?” tanyanya setengah berbisik.Damian menatapnya sebentar, lalu menggelengkan kepalanya. “Carden jarang memanggilku pagi-pagi begini jika tak ada berita yang tidak penting.”Alea menarik selimutnya lebih jauh, lalu duduk sambil menyibakkan rambut dari sisi wajahnya. “Kalau begitu aku akan ikut denganmu.”“Alea—” desis Damian mulai menolak.“Aku ikut,” potongnya dengan tegas, ia menatap Dami
Last Updated: 2025-08-11
Chapter: Tidur Lagi?Alea mengerjapkan matanya pelan, mencoba menahan debaran yang merambat dari jantung hingga ke seluruh tubuhnya. Damian masih memeluknya erat, masih membungkus mereka dengan satu handuk besar seperti sepasang kekasih yang enggan beranjak dari keintiman yang mereka rasakan bersama.“Kalau kau baru mulai …” gumam Alea pelan, “aku harus segera menabung energi mulai dari sekarang.”Damian tertawa kecil mendengarnya. “Tenang saja, Alea. Aku bisa menjadi pelatih sekaligus pelindung bagimu. Kau hanya perlu … menyerahkan sepenuhnya padaku.”Alea menggigit bibir bawahnya seraya tertawa pelan. “Bahaya sekali kalimat itu.”“Bahaya yang menyenangkan,” balas Damian, lalu mengecup pelan sisi pelipis Alea dan membuat badan Alea sedikit terasa hangat. Detik berikutnya, ia membawa tubuh Alea ke dalam pelukannya, lalu kembali ke dalam kamar, Damian perlahan menarik selimut sambil meraih remote kecil di sisi tempat tidur, lalu menekan tombol pada panel interkom yang terpasang di dinding.“Bawakan sarapa
Last Updated: 2025-08-07
Chapter: Mandi Bersama “Kalau kita begini terus,” gumam Alea pelan, “aku bisa-bisa tak sanggup bangun selama seminggu.”Damian terkekeh pelan mendengar celotehan Alea. “Itu risiko yang menyenangkan.”“Risiko untuk siapa?” balas Alea malas membuka mata.“Untukmu. Aku masih bisa menggendong jika kau tak bisa jalan,” ujar Damian sambil mencium lembut bahu Alea. “Seperti tadi malam.”Alea menahan senyumnya, sementara wajahnya kembali menghangat. “Kau benar-benar tak punya rasa bersalah ya…”“Kenapa harus merasa bersalah kalau sedang mencintai seseorang dengan sepenuhnya?”Alea menoleh sedikit dan menatap Damian dari bawah. “Mencintai?”Damian menatapnya sebentar, lalu mengangguk dengan lembut. “Ya. Aku mencintaimu, Alea.”Alea terdiam, matanya membulat sedikit, tak menyangka pernyataan itu keluar begitu langsung. Tapi bibirnya perlahan melengkung membentuk senyum kecil yang tulus.“Aku juga…” bisiknya. “Meski awalnya kupikir aku cuma tertarik… ternyata… perasaanku lebih dalam dari itu.”Damian mempererat peluk
Last Updated: 2025-08-04
Chapter: Pagi yang IndahSinar matahari pagi menyusup perlahan melalui celah tirai, menyinari kamar dengan cahaya keemasan yang lembut. Udara masih hangat, aroma kasur, dan jejak semalam masih terasa menyelimuti setiap inci ruangan.Alea mengerjapkan matanya perlahan. Tubuhnya terasa berat… tapi nyaman. Namun, yang membuat jantung Alea tiba-tiba berdetak lebih cepat … adalah kenyataan bahwa tubuhnya masih berada di atas Damian. Lebih tepatnya… miliknya masih menyatu dengan milik Damian.Wajah Alea langsung merona hebat. Ia refleks menggigit bibir, menahan napas dan tidak berani bergerak. Tapi perasaan penuh di dalam dirinya itu terlalu nyata untuk diabaikan—seolah tubuh mereka belum sempat benar-benar berpisah sejak semalam.“Hh…” gumamnya lirih, hampir seperti desahan tercekik oleh malu dan bingung sendiri.Ia mengangkat kepalanya pelan, menatap wajah Damian yang masih tertidur dengan tenang di bawahnya. Namun ketika tubuh Alea bergeser sedikit saja…Damian mengerang pelan dalam tidurnya. “Hmm…”Mata pria i
Last Updated: 2025-08-04
Chapter: Bayangan PatriciaMalam hari di pusat kota yang mulai padat menjelang jam pulang kantor, layar videotron raksasa yang berada di persimpangan jalan tiba-tiba berubah. Tayangan berita darurat mulai diputar, dan berhasil menarik perhatian orang-orang yang tengah berlalu lalang.“Breaking News: Polisi berhasil melumpuhkan dan menangkap Leopold Lagrand dalam penggerebekan berdarah di mansion pribadinya.”Wajah Patricia muncul beberapa detik kemudian, disandingkan dengan tulisan berwarna merah yang berjudul,“BURONAN: Patricia Lagrand. Dicurigai mengetahui dan terlibat dalam sabotase sistem hukum dan upaya pembunuhan.”Patricia yang sedang berjalan cepat di antara keramaian, berhenti secara mendadak. Ia berdiri mematung, wajahnya menegang saat melihat dirinya di layar raksasa. Ia segera memperbaiki masker yang melekat di wajahnya, lalu membenamkan rambuutnya di dalam topi yang dikenakannya.“TIDAK...” desisnya pelan.Beberapa orang mulai tertarik dan melihat ke arah layar, lalu saling berbisik satu sama lai
Last Updated: 2025-08-04