Mag-log in“Mbak ... aku hamil anak suamimu.” Tes pack di tangannya seperti belati yang menusuk tepat ke jantungku ... garis dua yang kuimpikan selama lima tahun pernikahan. Dadaku sesak, air mata mengaburkan pandanganku. Aku menatap Mas Alvin yang kini masih menunduk, berharap ia akan membantahnya. “Mas … aku mau cerai,” ucapku terbata, suaraku bergetar. Perlahan, ia mengangkat wajahnya. Senyum tipis terukir di bibirnya—bukan senyum dari orang yang pernah kucintai. “Aku nggak bakal ngelepasin kamu, kecuali ... kamu mati.”
view more"Bersiaplah, hari ini kamu harus menikah dengan Bian Sagara."
Luna membelalakan matanya, tidak dapat menyembunyikan rasa terkejut setelah mendengar ucapan sang Ayah dengan nada tenang dan santai. Seakan-akan hal yang pria ucapkan itu bukanlah masalah besar. Luna merasa ulang tahunnya yang ke 23, hari ini begitu menyedihkan. Bukan mendapat surprise spesial, dirinya justru malah mendapatkan kejutan berupa kekecewaan dan penghianatan. Luna memergoki kekasihnya, Juan, sedang bercumbu mesra dengan Ana, saudari tirinya sendiri. Dan kini Luna diminta menikah dengan pria yang tidak pernah ia kenal. “Kenapa aku harus menikah dengannya?” ujar Luna merasa heran. "Aku menggelapkan uang perusahaan sebesar lima Millyar." Satu kalimat yang meluncur dari mulut ayahnya sudah cukup menjelaskan situasi mendadak ini. Dan Luna bukan wanita bodoh. Dia tahu artinya dirinya dijual. Hubungannya dengan sang ayah memang tidak baik, terutama sejak perselingkuhan ayahnya dengan ibu tiri yang mengakibatkan ibu Luna memutuskan untuk bunuh diri. Namun, Luna tidak menyangka bahwa ayahnya tega menjualnya. Luna mengernyitkan keningnya mencoba mengingat nama Bian Sagara. Sepertinya ia cukup sering mendengar nama itu di berita maupun majalah bisnis. Pria yang selama ini tinggal di Italia, mengikuti jejak ibunya. Dikenal memiliki kekuasaan sebagai pemilik perusahaan raksasa juga memiliki koneksi politik yang kuat baik di dalam negeri maupun internasional. Seperti apa rupanya, tidak penah terpampang di media. Keberhasilannya dalam memimpin perusahaan membuat Bian Sagara menjadi salah satu individu paling berpengaruh di dunia bisnis dan politik. Hanya saja, kesuksesannya sangat berbanding terbalik dengan rumor kepribadiannya yang terkenal buruk. "Ana akan segera bertunangan dengan Juan, dan kita tidak punya pilihan. Bian Sagara membutuhkan istri. Dan kamu harus menanggung hutang dengan menjadi istrinya! Jika kamu menolak, jangan salahkan aku yang akan membakar semua peninggalan ibumu dan memindahkan makamnya ke tempat yang tidak akan kamu ketahui" Sikap arogansi dan ancaman dari Gunawan, ayahnya semakin membuat Luna tidak berdaya. Dan di sinilah Luna akhirnya berada, di sebuah restaurant menunggu Bian Sagara yang akan menikahinya. Di meja lain, ada Juan dan Ana yang menertawakan nasib Luna yang miris. Keduanya bahkan tidak terlihat bersalah sama sekali pada Luna. Dua puluh menit berlalu, namun Bian belum datang juga. Keterlambatan pria itu menambah alasan bagi Luna untuk mempercayai rumor yang mengatakan bahwa Bian Sagara memiliki kepribadian yang begitu buruk. Tidak lama kemudian beberapa pria berpakaian serba hitam dengan postur tubuh tinggi tegap, masing-masing mengambil posisi dengan wajah tanpa ekspresi. Luna langsung bisa menebak jika para pria itu adalah para pengawal. "Dia sudah datang," Gunawan mengumumkan seraya berdiri untuk menyambut. Luna menolehkan kepalanya ke arah pintu, dalam hati dirinya berharap bahwa Bian bukan seorang pria tua mesum dengan kepala botak dan berperut buncit. Luna terperangah begitu melihat seorang pria yang duduk di kursi roda. Pria itu memiliki wajah tegas dengan garis-garis maskulin yang jelas. Aura yang menawan dan berkarisma memancar dari tubuhnya, mampu membuat semua orang merasa terintimidasi dengan kehadirannya. Mendadak Luna merasa merinding saat matanya bertatapan dengan mata Bian. Dengan susah payah Luna menarik napas. Ia khawatir bahwa ia akan dijadikan budak oleh Bian yang terlihat kejam. "Jadi, inikah calon pengantin tebusan yang dijual oleh ayahnya sendiri?" Suara Bian terdengar sinis, dingin, dan angkuh, menyatu dalam satu nada yang membuat Luna semakin merinding. Detik itu, Luna tahu bahwa dirinya memang tidak lebih berharga dari segepok uang. Hidupnya sedang berada di puncak komedi tertinggi. Luna mengepalkan kedua tangannya, berusaha untuk tetap terlihat tenang. Dirinya tidak boleh terlihat sebagai mangsa yang mudah ditindas. Melirik sekilas ke arah Luna, Bian berkata kepada asistennya, Nathan. "Aku ingin pengantinku di dandan dengan secantik mungkin," titahnya. "Aku belum mengatakan aku bersedia, Tuan. Jika aku menikah denganmu, apa keuntungan yang akan aku dapatkan?"Aku tersenyum kaku, berusaha menenangkan detak jantungku. "Aku baik, Pak Adrian. Dan ... suamiku tidak ikut. Sebenarnya, aku di sini bekerja, Pak Adrian," jelasku singkat.Adrian mengernyitkan dahinya. "Bekerja? Kamu kembali bekerja? Di perusahaan mana?"Aku menelan ludah, melirik ke arah Raynard yang menatapku dengan penuh tanda tanya. "Aku bekerja di rumah Tuan Raynard ... sebagai pengasuh Kenzo."Adrian terdiam. Matanya membelalak, lalu ia menoleh ke arah Raynard dengan ekspresi tidak percaya. "Apa? Pengasuh?" ulangnya, terkejut. "Ray! Apa-apaan ini? Kamu mempekerjakan Safira sebagai pengasuh?" lanjutnya."Adrian, apa maksudmu?""Maksudku, kamu keterlaluan!" Adrian menunjukku dengan nada kesal pada Raynard. "Safira ini salah satu aset terbaik yang pernah aku miliki di kantor! Dia cerdas, taktis, dan punya kemampuan manajerial yang luar biasa. Bagaimana bisa kamu menyia-nyiakan bakatnya hanya untuk mengurus anak kecil?"Raynard kembali menatapku, alisnya terangkat, seolah ia tengah
“Kita akan berkunjung ke rumah orang tua saya," ujar Raynard di tengah perjalanan pulang."Ke rumah orang tua Tuan?" tanyaku kaget. "Tapi, bukankah Sus Rini biasanya yang mendampingi Kenzo dalam acara keluarga?"Raynard menatapku sekilas, lalu kembali menatap jalana di depannya. "Sus Rini sudah tahu tugasnya seperti apa, tapi kali ini orang tua saya meminta secara khusus agar orang yang paling dekat dengan keseharian Kenzo selama saya pergi kemarin, ikut berkunjung juga. Itu kamu, Safira." Perjalanan menuju kediaman keluarga Raynard terasa sangat panjang. Begitu kami sampai di sebuah rumah besar bergaya klasik yang megah, aku merasa seolah sedang melangkah ke dalam dunia yang benar-benar asing bagiku.“Oma! Opa!" seru Kenzo dengan suara lantang. Ia menghambur ke pelukan neneknya—wanita paruh baya yang terlihat sangat berwibawa—menatapku dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan yang sulit diartikan.Setelah melepas pelukannya, ia tidak langsung duduk, melainkan berbalik ke arahku
Hari demi hari kulalui dengan berat, sekarang, sudah sepuluh hari lamanya Tuan Raynard berada di luar negeri. Pagi ini, rumah terasa lebih sepi dari biasanya. Kenzo sudah diantar Sus Rini ke kelas renang, dan aku duduk di meja makan sambil menikmati roti tawar dan teh hangat.Begitu aku bangkit untuk merapikan meja, suara pintu depan terbuka dengan pelan. Suara langkah kaki cepat terdengar—bukan langkah kecil Kenzo, bukan langkah Sus Rini yang lembut.Hatiku terlonjak.Seseorang baru saja masuk ke dalam rumah ini. Aku berjalan ke ruang tamu dengan waspada. Dan di sana dia berdiri.Raynard.Pria itu masih memakai coat hitam panjang, rambut yang sedikit berantakan, dan wajahnya menunjukkan kelelahan perjalanan panjang ... tapi matanya langsung tertuju padaku begitu aku muncul di hadapannya.“Pagi, Safira.”Aku terpaku sejenak. “Tuan...? Bukannya jadwal pulang Anda masih tiga hari lagi?”Raynard melepas coat-nya, dan menyangkutkannya di sandaran sofa. “Dimajukan.” Ia menatapku lebih lama
Malam hari berjalan dengan begitu cepat, Sus Rini sedang merapikan mainan di sudut ruangan. Aku duduk di sebelah Kenzo, mencoba fokus pada TV yang menyala, tapi jauh di dalam hati, aku masih terbayang kejadian di mall tadi siang.Notifikasi video call berbunyi di ponselku, sontak mengalihkan perhatian kami. Aku dengan cepat mengangkat ponsel dan menerima panggilan itu.“Hallo.”Kenzo langsung berdiri di sofa begitu mendengar suara dari ponselku. “Daddy! Daddy!” teriaknya girang, lalu duduk tepat di pangkuanku.Wajah Raynard muncul di layar—tengah berdiri di sebuah ruangan hotel dengan lampu kuning temaram, ia mengenakan kemeja putih dan dasi yang sudah sedikit longgar, wajahnya mengisyaratkan rasa lelah yang begitu kentara.Tapi begitu melihat Kenzo ... wajahnya kembali melunak.“Kenzo,” sapanya pelan.“Daddy!! Aku kangen! Monty juga!” ujar Kenzo sembari mengangkat bonekanya tepat ke kamera, membuat Raynard mengangkat alisnya.“Oh begitu?” jawab Raynard menatapku sekilas di layar. Tata
“Mbak ... aku boleh masak nggak?” tanyaku hati-hati, aku memutuskan melangkah ke dapur ketika bosan berada di kamar, sementara aku sudah membersikan diriku dan mengganti baju dengan baju yang disiapkan oleh Sus Rini.Seisi dapur sontak menoleh ke arahku dan menghentikan akivitas mereka. Tatapan mer
“Aruna …” aku kembali menyebut nama itu pelan, hampir seperti bisikan doa untuknya.Suster Rini mengangguk kecil. Matanya menatapku lama, lalu menggeleng tipis seolah tengah menimbang sesuatu. “Saya, boleh nanya sesuatu?”Aku menoleh dengan alis yang berkerut. “Iya, Sus … apa ya?”“Kalau boleh tahu
Mobil ini akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang terbuka perlahan setelah sensor otomatis mengirimkan signal. Begitu melewati pintu gerbang, mataku langsung terbelalak, mulutku sedikit terbuka, takjub. Rumah? Tidak. Itu lebih mirip istana modern dengan halaman luas, lampu-lampu
Pria itu menatapku data. “Perlu. Dan saya akan menanggung semua kerugian yang timbul selama kamu tidak bekerja di sini. Anggap saja sebagai kompensasi,” ucapnya tegas tanpa memberi ruang untukku melakukan penolakan.“Kalau begitu, saya rasa solusi terbaik sementara memang begitu, Safira. Untuk meng






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.