LOGIN“Mbak ... aku hamil anak suamimu.” Tes pack di tangannya seperti belati yang menusuk tepat ke jantungku ... garis dua yang kuimpikan selama lima tahun pernikahan. Dadaku sesak, air mata mengaburkan pandanganku. Aku menatap Mas Alvin yang kini masih menunduk, berharap ia akan membantahnya. “Mas … aku mau cerai,” ucapku terbata, suaraku bergetar. Perlahan, ia mengangkat wajahnya. Senyum tipis terukir di bibirnya—bukan senyum dari orang yang pernah kucintai. “Aku nggak bakal ngelepasin kamu, kecuali ... kamu mati.”
View More“Ah ... Mas! Lebih cepet ... iya, gitu. En-ak bang-ah, Mas!”
Langkahku terhenti seketika, sementara jantungku mendadak mencelos. Pandanganku menyapu ke sisi kanan dan kiri, rumah masih sepi, dan aku yakin ibu serta adik iparku masih terlelap di lantai dua. “Suara apa, sih?” gumanku menyampirkan anak rambut ke belakang telinga. “Padahal nggak ada orang, kok.”
“Aku nggak kuat lagi, Mas! Eungh ... pelan,” desahan yang kudengar seperti ... suara yang tak asing bagiku.
Aku menelan ludah dengan susah payah, nafasku tercekat, pikiranku entah kemana, sementara jantungku berdetak lebih kencang. Sumbernya dari kamar tamu. Kamar yang—sialnya—ditempati Nesya, sepupu jauh suamiku. Perempuan yang selalu berkata manis, yang pura-pura polos, yang dengan lugu mengambil perhatian ibu mertuaku.
Aku mengerutkan dahi tak yakin, “Nesya?” tanyaku.pada diri sendiri.
Aku bejalan dengan perlahan, tak ingin menimbulkan bunyi apapun, lalu menempelkan telingaku pada daun pintu, dan berusaha mendengar apa yang tengah terjadi di dalam sana.
"Ma-sh ...." panggil Nesya terengah, parau, tercekik antara desahan dan tawa kecil yang terdengar menggoda. "Pelan dikit ... punyaku- aduh nggak ku-ath!"
Aku mengerutkan dahiku tak paham, di sisi lain, pikiran liar mulai berputar cepat. Mas? Siapa yang dipanggil mas sama dia? Suamiku, atau ... adik iparku? Atau malah dia bawa pria lain masuk ke rumah ini?
"Nesya ... kamu, eungh ... jangan gigit ...," gumam suara yang kukenal, terbata. “Kamu gila ya …” Suara yang... sangat aku kenal. Terlalu aku kenal.
Deg.
“Mas Alvin?” lirihku tak kuasa. Tapi itu lebih seperti doaku—permohonan agar bukan dia yang berada di dalam sana.
Napasku berhenti. Lututku lemas. Tubuhku mendadak dingin, sementara jantungku berdebar seperti genderang perang. Aku berharap aku salah dengar. Tapi... suara itu tak berbohong, aku tak tahu apakah ini hanya mimpi di pagi buta atau ... kenyataan yang begitu menyakitkan? Aku menggigit bibir bawahku sekuat mungkin, menahan isakan yang hampir lolos begitu saja.
"Aku suka lihat kamu nahan kayak gitu, Mas ... ah ... jangan, Mas. Mentok! Uh!" balas Nesya genit, diselingi desahan berat.
“Kamu yang min-ah mentok banget, Nes!”
“Hmmh … Mas ah! Ini en-ak! Kamu suka, Mas? Kamu suka aku kayak gini?” ujarnya terdengar begitu menjijikan.
Aku memejamkan mataku erat, tapi percuma. Air mataku tetap jatuh dan mengalir begitu saja. Pipiku terasa dingin oleh air mata, tetapi api telah menyala di dalam dadaku.
“Suka banget … jangan berhenti … jangan sekarang, Nesya … Aku mau- ah! Kamu ... Nesya jangan bikin aku ... ah geli, Nesya!” desah suamiku seakan tak bisa menahannya.
Aku menggelengkan kepala, tak percaya. Tidak. Itu bukan suaranya Mas Alvin. Itu bukan dia. Itu suara orang lain yang mirip suamiku. Bukan dia. Suamiku tidak mungkin…
Tapi setiap helaan napas yang mereka keluarkan, setiap lirih yang tertahan, setiap nama yang meluncur dari bibir mereka, menghancurkan satu-satunya keyakinanku saat ini.
“Mas ... lebih dalam ... aku udah nggak tahan ...,” teriak Nesya seperti tak punya malu.
“Sstt ... pelan ... jangan sampe kedengeran ...”
Sayangnya, aku bahkan udah denger dari tadi, Mas.
Aku tak bisa lagi menahan tubuhku yang menggigil, aku menatap tanganku yang sudah bergetar, tetapi hatiku seolah menolak kenyataan ini, aku berharap ini hanya mimpi yang buruk. Siapapun ... tolong bangunkan aku dari tidurku.
“Kamu lebih liar dari yang aku kira,” suara suamiku—lelaki yang kuberikan seluruh hidupku—terdengar bangga.
“Karena kamu yang ngajarin, aku, Mas …” Lalu desahan kembali terdengar lebih jelas, dan lebih dalam. Bergantian, saling bersahutan. Menyerupai nyanyian pengkhianatan yang tak berdawai. “Mas ... jangan berhenti … aku udah gila sama kamu …”
“Nggak bakal, Nes. Gerakan kamu lebih panas dari istriku sendiri …”
Itu. Kalimat itu. Pukulan terakhir yang mematikan. Lebih tajam dari belati mana pun yang pernah kutemui.
Menelan ludah dengan susah payah. “Kamu, Mas?” lirihku tertahan. Tanganku terangkat, gemetar, hal yang tak pernah bisa aku bayangkan sebelumnya. Dua orang yang sangat aku percaya, kini ... mereka?
“Ma-sh ... emmh ... geli.”
Pandanganku tertuju pada pintu yang tak tertutup sempurna, bahkan, mereka tak menyadarinya? Tanganku bergerak mendorong daun pintu, perlahan. Badanku membeku saat melihat pemandangan di depan sana dengan mata terbelalak. Duniaku berhenti berputar, kakiku tak mampu bepijak, rasanya seperti jiwaku terlempar keluar dari tubuhku sendiri. Aku ada di sini, tapi tak mampu bergerak meski untuk menyelamatkan diriku sendiri. Aku bisa berteriak, menuruh mereka menyudahinya, tapi bibirku kelu tanpa bisa mengeluarkan satu kalimat pun.
Di atas ranjang itu, suamiku, laki-laki yang kuberi seluruh cinta yang kumiliki, tengah menggoyangkan tubuhnya di atas tubuh wanita lain, tenggelam dalam pelukan Nesya yang mendesahkan namanya, seolah dunia luar tak pernah ada dan aku tak pernah hadir di dalam hidupnya. Rambut mereka berantakan, kulit saling menempel, dan napas saling memburu, semua menyatu dalam irama permainan yang begitu menggairahkan.
“Mas?” lirihku tercekat.
Aku tersenyum kaku, berusaha menenangkan detak jantungku. "Aku baik, Pak Adrian. Dan ... suamiku tidak ikut. Sebenarnya, aku di sini bekerja, Pak Adrian," jelasku singkat.Adrian mengernyitkan dahinya. "Bekerja? Kamu kembali bekerja? Di perusahaan mana?"Aku menelan ludah, melirik ke arah Raynard yang menatapku dengan penuh tanda tanya. "Aku bekerja di rumah Tuan Raynard ... sebagai pengasuh Kenzo."Adrian terdiam. Matanya membelalak, lalu ia menoleh ke arah Raynard dengan ekspresi tidak percaya. "Apa? Pengasuh?" ulangnya, terkejut. "Ray! Apa-apaan ini? Kamu mempekerjakan Safira sebagai pengasuh?" lanjutnya."Adrian, apa maksudmu?""Maksudku, kamu keterlaluan!" Adrian menunjukku dengan nada kesal pada Raynard. "Safira ini salah satu aset terbaik yang pernah aku miliki di kantor! Dia cerdas, taktis, dan punya kemampuan manajerial yang luar biasa. Bagaimana bisa kamu menyia-nyiakan bakatnya hanya untuk mengurus anak kecil?"Raynard kembali menatapku, alisnya terangkat, seolah ia tengah
“Kita akan berkunjung ke rumah orang tua saya," ujar Raynard di tengah perjalanan pulang."Ke rumah orang tua Tuan?" tanyaku kaget. "Tapi, bukankah Sus Rini biasanya yang mendampingi Kenzo dalam acara keluarga?"Raynard menatapku sekilas, lalu kembali menatap jalana di depannya. "Sus Rini sudah tahu tugasnya seperti apa, tapi kali ini orang tua saya meminta secara khusus agar orang yang paling dekat dengan keseharian Kenzo selama saya pergi kemarin, ikut berkunjung juga. Itu kamu, Safira." Perjalanan menuju kediaman keluarga Raynard terasa sangat panjang. Begitu kami sampai di sebuah rumah besar bergaya klasik yang megah, aku merasa seolah sedang melangkah ke dalam dunia yang benar-benar asing bagiku.“Oma! Opa!" seru Kenzo dengan suara lantang. Ia menghambur ke pelukan neneknya—wanita paruh baya yang terlihat sangat berwibawa—menatapku dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan yang sulit diartikan.Setelah melepas pelukannya, ia tidak langsung duduk, melainkan berbalik ke arahku
Hari demi hari kulalui dengan berat, sekarang, sudah sepuluh hari lamanya Tuan Raynard berada di luar negeri. Pagi ini, rumah terasa lebih sepi dari biasanya. Kenzo sudah diantar Sus Rini ke kelas renang, dan aku duduk di meja makan sambil menikmati roti tawar dan teh hangat.Begitu aku bangkit untuk merapikan meja, suara pintu depan terbuka dengan pelan. Suara langkah kaki cepat terdengar—bukan langkah kecil Kenzo, bukan langkah Sus Rini yang lembut.Hatiku terlonjak.Seseorang baru saja masuk ke dalam rumah ini. Aku berjalan ke ruang tamu dengan waspada. Dan di sana dia berdiri.Raynard.Pria itu masih memakai coat hitam panjang, rambut yang sedikit berantakan, dan wajahnya menunjukkan kelelahan perjalanan panjang ... tapi matanya langsung tertuju padaku begitu aku muncul di hadapannya.“Pagi, Safira.”Aku terpaku sejenak. “Tuan...? Bukannya jadwal pulang Anda masih tiga hari lagi?”Raynard melepas coat-nya, dan menyangkutkannya di sandaran sofa. “Dimajukan.” Ia menatapku lebih lama
Malam hari berjalan dengan begitu cepat, Sus Rini sedang merapikan mainan di sudut ruangan. Aku duduk di sebelah Kenzo, mencoba fokus pada TV yang menyala, tapi jauh di dalam hati, aku masih terbayang kejadian di mall tadi siang.Notifikasi video call berbunyi di ponselku, sontak mengalihkan perhatian kami. Aku dengan cepat mengangkat ponsel dan menerima panggilan itu.“Hallo.”Kenzo langsung berdiri di sofa begitu mendengar suara dari ponselku. “Daddy! Daddy!” teriaknya girang, lalu duduk tepat di pangkuanku.Wajah Raynard muncul di layar—tengah berdiri di sebuah ruangan hotel dengan lampu kuning temaram, ia mengenakan kemeja putih dan dasi yang sudah sedikit longgar, wajahnya mengisyaratkan rasa lelah yang begitu kentara.Tapi begitu melihat Kenzo ... wajahnya kembali melunak.“Kenzo,” sapanya pelan.“Daddy!! Aku kangen! Monty juga!” ujar Kenzo sembari mengangkat bonekanya tepat ke kamera, membuat Raynard mengangkat alisnya.“Oh begitu?” jawab Raynard menatapku sekilas di layar. Tata
“Mbak ... aku boleh masak nggak?” tanyaku hati-hati, aku memutuskan melangkah ke dapur ketika bosan berada di kamar, sementara aku sudah membersikan diriku dan mengganti baju dengan baju yang disiapkan oleh Sus Rini.Seisi dapur sontak menoleh ke arahku dan menghentikan akivitas mereka. Tatapan mer
“Aruna …” aku kembali menyebut nama itu pelan, hampir seperti bisikan doa untuknya.Suster Rini mengangguk kecil. Matanya menatapku lama, lalu menggeleng tipis seolah tengah menimbang sesuatu. “Saya, boleh nanya sesuatu?”Aku menoleh dengan alis yang berkerut. “Iya, Sus … apa ya?”“Kalau boleh tahu
Mobil ini akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang terbuka perlahan setelah sensor otomatis mengirimkan signal. Begitu melewati pintu gerbang, mataku langsung terbelalak, mulutku sedikit terbuka, takjub. Rumah? Tidak. Itu lebih mirip istana modern dengan halaman luas, lampu-lampu
Pria itu menatapku data. “Perlu. Dan saya akan menanggung semua kerugian yang timbul selama kamu tidak bekerja di sini. Anggap saja sebagai kompensasi,” ucapnya tegas tanpa memberi ruang untukku melakukan penolakan.“Kalau begitu, saya rasa solusi terbaik sementara memang begitu, Safira. Untuk meng






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.