Dynamite (Indonesia)
Dynamite (Indonesia)
Author: Sixthly
Prolog

Seorang gadis sedang tergantung di sebuah ruangan sempit yang minim ventilasi udara. Gadis itu dalam keadaan sadar tetapi dalam keadaan yang sangat lemah, ia sudah di gantung

selama dua hari tanpa di beri makan. Ia bernapas dengan susah payah karena ruangan yang pengap.

Gadis itu hanya memakai bra dan celana pendek setengah paha. Pakaiannya sudah di lepaskan sejak ia masuk ke sini, bajunya robek saat ia melawan agar tidak di masukkan di dalam tempat ini, semenara celananya di gunting oleh seorang pria hingga setngah paha. Sangat pendek menurutnya tetapi masih beruntung di bandingkan hanya menggunakan celana dalam.

“Ana, tetaplah sadar.” Ucap seseorang yang terikat oleh rantai di lantai.

Gadis yang di panggil Ana itu langsung membuka matanya. Pergelangannya mati rasa akibat di gantung.  Napasnya memburu akibat ruangan yang sangat pengap. Ana sejak dua hari lalu berjuang untuk tetap sadar tetapi hari ini ia tidak bisa lagi menahannya.

Ana baru satu kali di berikan air dan itu sudah berjam-jam yang lalu. Sekarang, tenggorokannya sangat kering dan ingin sekali minum, ia berharap seseroang datang lagi dan membawakannya air. Tetapi, waktu berjalan sangat lama, tidak lama kemudian kesadarannya hilang karena terlalu lelah.

Ana terkisap dan menjerit sekuat tenaga, ia berontak dan mengakibatkan rantai besi yang mengantungnya berbunyi karena saling bergesekan. Air matanya keluar dari kedua matanya akiba rasa menyengat dan sakit yang berasal dari punggungnya.

“Kau beruntung, Burke memutuskan untuk menyelamatkanmu dan sekarang kau bagian dari anggota organisasi ini.” ucap seseorang dari arah belakang Ana.

Ana masih menjerit kesakitan, matanya melebar ketika melihat sebuah besi yang ujungnya membara sedang di bawa oleh seorang pria yang baru saja lewat di sampingnya. Air mata masih mengalir di pipinya ketika melihat benda itu.

“Itu cap organinasi, semua yang bergbung dengan Burke harus memilikinya. Itu akan sembuh dalam seminggu, tenang saja.” ucap Pria itu sembari tersenyum miring.

Ana tidak bereaksi apa-apa, punggungnya masih sangat sakit dan suaranya sudah serak karena berteriak kesakitan. Ia merasakan punggungnya seperti di bakar ketika besi panas itu menempel di kulitnya.

“Kemana temanku?” tanya Ana, itu kata yang pertama kali keluar dari mulutnya.

Pria itu berhenti melangkah, “Oh, dia. Entahlah, sepertinya di bawa oleh orang lain. Tenang saja, dia tidak mati.”

Ana menghela napas lega, ia tidak akan bisa melihat temannya mati. Mereka telah bersama sejak sama-sama di jual ke sini, hanya mereka yang selamat dari puluhan orang yang mengarungi laut dengan kapal kecil menuju Washington untuk di jual.

Pria itu berjalan mendekati Ana dengan tatapan sulit di artikan, Ana menghindar ketika pria itu berusaha meraih tengkuknya dan sukses membuat pria itu berdecak.

“Andai saja pimpinan tidak menyelamatkanmu, sekarang kau pasti sudah menjadi pemuas ranjangku.” Ucap pria itu sensual sembari membelai payudara Ana.

Ana mengetatkan rahang dan menghantam kepala pria itu dengan kepalanya membuat pria itu meringis kesakitan dan menyumpahinya sebelum keluar dari ruangan tempatnya di sekap. Tidak lama kemudian, seseorang perempuan datang untuk melepaskannya.

Setelah berhasil bebas, Ana tidak tinggal diam. Ia mencari pria tadi dan memukulnya dengan sekali pukulan dan membuat pria itu langsung meraung kesakitan dengan mulut berdarah dan gigi lepas.

Related chapters

DMCA.com Protection Status