Blind Date

When the date to meet you had come, My heart suddenly feeling blind about everything.

-Kanietha

Genta yang sudah memakai celana dan jaket jeans berwarna senada dan juga kaos hitam di dalamnya, masih asik duduk di meja makan dengan santai sambil menikmati kentang goreng, dan belum berniat untuk pergi ke showroomnya.

Mama Ruby yang mengetahui hal itu segera menghampirinya, dan duduk di sampingnya. “Gen!” mengusap pelan punggung tangan putranya itu.

“Yes Mam?” Genta menoleh sekilas lalu kembali berkonsentrasi dengan kentang gorengnya.

Mama Ruby mengotak atik ponselnya sebentar lalu menyerahkannya kepada Genta. “Coba lihat. Cantik kan?” Tanya Mama Ruby memperlihatkan foto seorang gadis cantik pada benda pipih itu.

Genta hanya melirik sekilas. “Yang namanya cewek semua ya cantik kali Mam, kalau cowok baru ganteng, terutama anak Mama yang satu ini, gak ketulungan gantengnya.” Ucap Genta dengan percaya diri.

“Percuma ganteng, umur sudah hampir 32 tapi belum laku-laku!” Sindir Mama Ruby yang langsung membuat Genta terbatuk. “Anak Zio udah mau dua, Istrinya Hans lagi hamil, Zaid bentar lagi nikah, nah—”

“Mam, aku lupa ada janji sama orang.” Sela Genta dengan cepat lalu berdiri, namun Mama Ruby segera menarik jaket putranya itu dan mendudukkannya kembali ke tempatnya.

Mama Ruby kembali menyodorkan ponselnya. “Namanya Kiara, anaknya Tante Lusi, dia lulusan terbaik jurusan Fashion Design di Universitas…” Mama Ruby berfikir sebentar untuk mengingat-ingat, lalu berdecak pelan. “Di London lah pokoknya London Fashion College atau apa ya, masih bagian dari UAL* lah pokoknya, Mama lupa!”

“Intinya aja Mam.” Padahal Genta sudah tau arah pembicaraan Mamanya itu.

“Sabtu malam, Mama udah bikin janji sama Kiara, Mama juga udah pesenin kalian tempat di Zoom Resto.”

Genta menghela nafas. “Mam begini ya—”

“Coba dulu Gen, anaknya cantik, baik, sopan, pintar masak pula, perfect!” Sela Mama Ruby yang kini menunjukkan wajah memelasnya kepada Genta.

“Tapi Mam—”

“Ayolah Genta, sampai kapan mau begini terus, kamu itu harus move on!” Seru Mama Ruby bersemangat.

Genta mengernyit tidak mengerti. “Move on? Dari siapa?”

“Dari Lastra!” Genta membeliak, tidak jadi memasukkan kentang goreng ke mulutnya. “Udahlah Gen, Lastra itu adek kamu, istri dari sahabat kamu, Bundanya Giana. Gak usah ngelak! Mama itu yang melahirkan kamu dan ngerawat kamu sampai segede ini.” Menepuk pelan punggung anaknya. “Jadi sedikit banyak, Mama ngerti perasaan kamu.”

“Apa? Papa gak salah dengar kan? Genta belum move on dari Lastra.” Kata Ayah Abhi yang tiba-tiba sudah duduk di depan Genta sambil tertawa renyah. “Gimana? gimana ceritanya?” Tanyanya kepada Mama Ruby.

Mama Ruby pun ikut tertawa. “Jadi begini Pah …blabla …” menjelaskan dengan panjang lebar tentang kejadian di Singapura dan di supermarket kala itu.

Genta akhirnya berdiri dengan menggelengkan kepalanya. “Kayaknya, aku pergi aja deh.” Ia pun berpamitan pada Papa dan Mamanya untuk segera pergi ke showroomnya.

“Jangan lupa, sabtu malam ya Gen, sekalian malam mingguan.” Teriak Mama Ruby masih dengan semangatnya yang menggebu, lalu kembali tertawa lepas dengan suaminya.

Akhirnya, Genta dengan terpaksa menuruti permintaan Mamanya, karena tidak tahan setiap harinya selalu perihal pertemuan itu saja yang di celotehkan oleh wanita paruh baya itu. Namun Genta memajukan jam pertemuannya menjadi sore hari, karena beralasan lelah, ini dan itu kepada Mamanya.

Kiara Larasati, biasa dipanggil Ara, usia 25 tahun. Gadis berkulit kuning langsat dengan lesung pipi yang hanya terdapat di satu sisi wajahnya itu semakin betambah menarik jika ia tersenyum. Ara sekarang sudah duduk dengan elegan di hadapan Genta dengan rambut lurus terurai jatuh sepanjang dada.

Genta tersenyum tipis menopang dagu dengan kedua tangannya memandang Ara yang sedang memotong steaknya dengan perlahan. Sejenak pikirannya menerawang, jika saja Ara saat ini berhadapan dengan sosok Genta yang dulu, maka gadis itu sudah pasti akan berakhir dengan dirinya di kamar sebuah hotel, saling memasuki dan berbagi kehangatan.

“Ra.” Panggi Genta menyela kesibukan Ara.”Kok mau sih, di atur-atur kayak gini? Lo kan cantik, pintar, pasti banyak cowok di luar sana yang ngejar-ngejar, tapi lo malah berakhir duduk di sini sama gue.” Ucapnya sembari terkekeh lalu bersandar pada kursinya.

Ara tersenyum, manis sekali. “Mas Genta gak suka steak? Dari tadi kok belum di sentuh?” Ia bertanya balik tanpa menghiraukan pertanyaan Genta.

“Habisnya, lo cantik banget. Gue sampe gak bisa lihat apapun selain elo di sini.” Detik itu juga Genta langsung merutuki dirinya dalam hati. Ini pasti gara-gara kebiasaan mulutnya yang tidak bisa di atur kalau sudah bertemu dengan wanita cantik. Insting play boy nya itu, memang sudah mandarah daging. Padahal, sejak kejadian panas bersama Lastra di klub, malam kala itu, Genta sudah mengurangi kebiasaanya dekat dengan wanita manapun. Bahkan, ia sudah tidak pernah melakukan one night stand lagi bersama wanita cantik yang secara random ia temui di klub malam.

Ara meletakkan garpu serta pisaunya. “Kamu itu ganteng lho Mas, materi juga gak usahlah ya diragukan lagi, terus kamu juga dari keluarga  yang sangat sangat berada. Tapi kenapa masih sendiri aja?” Ara melipat tangannya di atas meja. Sedikit mencondongkan tubuhnya lalu memelankan suaranya. “Sorry kalau aku to the point, orientasi seks mu masih normal kan? no offense ya, aku cuma gak mau buang-buang waktu kalau memang kamu gak tertarik sama perempuan.”

Genta terkekeh, akhirnya ia mengambil pisau serta garpu untuk memotong steak yang sedari tadi tidak ia hiraukan. “Jangan khawatir, barang gue masih bisa berdiri tegak kok kalau lihat cewek, apalagi cakep kayak elo.” Jawabnya enteng.

“Great!”

“That’s all?”

Ara mengangguk sembari tersenyum. “Ehem.” Lalu kembali memotong steaknya.

“Gue kira lo mau nyobain, yaah paling gak kan lo butuh bukti kalau yang gue omongin itu bener apa enggak.” Pancing Genta. Terbukti kan kalau mulut pria yang satu ini memang tidak bisa di rem.

Ara melihat Genta sebentar, “I will, but not now.” Kembali memasukkan satu potong steak ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan pelan.

Entahlah! batin Genta. Ia berfikir untuk mencoba menjalaninya dengan Ara, toh kalau tidak cocok mereka nanti bisa saja berpisah. Lantas obrolan mengalir begitu saja, lebih banyak ingin mengetahui apa kegiatan dan minat masing-masing untuk lebih mendekatkan diri.

Masih di restoran yang sama namun di ruangan yang berbeda, tepatnya di ruang manajer Zoom Resto. Ada seorang gadis yang sedang memohon dengan sangat untuk kelanjutan nasib masa depannya.

Gadis itu adalah Hening, ia sedang menemui kakak kandungnya yang merupakan manajer dari Zoom Resto yang bernama Esa Putra Prasetyo.

“Mau apa datang ke sini?” Tanya Esa dingin.

Hening pun mengingat kembali kejadian yang di alaminya sebelum akhirnya ia memutuskan meminta bantuan pada Esa, kakaknya itu.

Seorang wanita paruh baya dengan tergesa menghampiri Hening di ujung jalan menyuruhnya turun dari motor, dan menarik lengannya bersembunyi di sebuah gang sempit. “Ning, aduh untung kan Umi ketemu lo duluan, sengaja Umi tungguin elo dari tadi, sini lo ikut gue.”

“Tapi Um, aku mau ketemu Bapak, disuruh pulang katanya.” Wanita paruh baya yang sebenarnya bernama Ziah itu adalah tante Hening -adik Ayahnya- dan Hening memanggilnya dengan sebutan Umi karena Ziah sudah mengasuh Hening sejak bayi. Bisa di bilang Umi adalah ibu kedua bagi Hening.

“Ck, jangan balik ke rumah! Lo gak ingat pesan mendiang Emak lo, jangan pernah balik lagi ke sini!” Kata Umi Ziah dengan nafas terengah.

“Tapi katanya, Bapak sakit, Um, masa’ tega aku gak jenguk.” Jawab Hening.

“Bapak lo sehat Ning, sehat wal afiat dah, kaga ada sakit sama sekali!” Hening bengong entah harus percaya dengan siapa, tapi ia tau kalau Umi tidak pernah berbohong kepadanya. “Lo itu, mau di kawinin sama … itu .. anaknya Pak Abraham, pejabat yang kadang datang ke rumah lo, Eh, di kawinin sama Bapaknya apa anaknya ya. Pokoknya gitu deh Ning, intinya lo mau di jodohin! Dikawinin! Sama Bapak lo.”

“Eh, tambah gesrek aja otaknya tuh orang tua.”

“Hening!!” Bentak Umi Ziah memukul pelan bibir Hening. “Gini nih mulut kalau kebanyakan bergaul sama preman, kaga bisa di atur kalau ngomong! Gitu-gitu si Bagus itu Bapak elo, yang sopan kalau ngomong!” Lanjutnya berceramah.

Hening hanya nyengir.” Tapi kenapa Um? Kenapa kok aku mau di kawinin? Tiba-tiba pula, terus pake bohong gini juga?”

“Ini ada kaitannya dengan masalah perluasan sama perebutan lahan basah di wilayah barat, nah di situ kan juga ada proyeknya Pak Abraham tuh ya, jadi biar saling menguntungkan gitu katanya, Umi juga kaga ngerti detailnya deh Ning, Tapi intinya kalau lo balik ke sini, kehidupan lo kaga bakal lepas dari Bapak elo, surem lah Ning! Lo gak mau kan keturunan lo entar muter-muter aja di lingkungan gak bener kayak gini! Kalau gak ingat, Umi ada utang nyawa sama lo Ning ya, Umi gak bakal deh repot-repot gini!” Tutur Umi Ziah kembali mengingat kejadian saat anak perempuannya kecelakaan dan kehabisan stok darah di PMI. Kalau tidak ada Hening yang mendonorkan darahnya mungkin putrinya sudah tidak tertolong.

Hening berjongkok.”Otak Bapak itu isinya cuma dua! Kalau gak cewek ya duit! Tapi gak nyangka, kalau aku sampe di jual juga sama dia!”

“Mending lo datangin Esa deh Ning, Bapak elo itu kan takutnya cuma sama Kakak lo itu, atau lo sekalian tinggal sama dia aja, jadi kaga ada lagi yang gangguin elo!

Maka di sinilah Hening, memberanikan diri untuk menemui Esa.

“Itu urusan lo sama Bapak elo, gue udah gak mau urusan sama keluarga lo lagi!” Ucap Esa kasar

“Kan Bapak elo juga Kak, emang gue bukan keluarga lo apa? gue ini adek lo Kak!” Seru Hening.

“Gue gak pernah nganggap lo itu keluarga! Lo denger itu! gue benci sama lo juga ibu lo!”

“Kak Esa! Jangan bawa-bawa Emak gue ya! Emak itu nikah sama Bapak setelah Bunda Kak Esa meninggal, jadi Emak gak ngerebut siapa-siapa!” Teriak Hening yang memang sudah tau dari awal alasan kenapa Esa tidak menyukainya.

Esa menganggap kehadiran Ibunya Hening saat itu, telah merebut semua perhatian Ayahnya, darinya, apalagi sejak Hening lahir, Ayahnya semakin menjauh dari Esa.

“Tetep aja gue benci sama kalian berdua! Keluar lo, jangan lagi temui gue, anggap aja lo gak tau dan gak pernah kenal sama gue!” Usir Esa yang sudah membukakan pintu untuk Hening.

Hening bingung, tanpa pikir panjang ia merendahkan egonya berlutut di depan Esa seraya mengatupkan tangannya. Dari dulu Hening memang selalu mencoba mendekati Esa meskipun Esa tidak pernah mempedulikannya sama sekali. Tapi Hening tau, kalau sebenarnya Esa juga menyayanginya meskipun rasa benci Kakaknya itu melebihi rasa sayangnya. “Kak Esa, tolongin gue sekali ini aja Kak, gue mohon temui Bapak dan bilang sama dia jangan ngawinin gue demi duit dan kekuasaan, Kak. Please Kak? Gue udah gak mau balik ke rumah itu lagi, gue juga mau hidup normal kayak lo, jadi orang biasa!” Ucap Hening dengan manik yang mulai mengembun, memohon dengan sangat. “Gue janji, habis ini gue bakal pergi jauh dari sini, lo gak bakal lihat gue lagi, gue cuma butuh waktu sedikit lagi Kak, ngumpulin du—"

Esa bergeming. “Keluar gue bilang!” Bentaknya.

Hening menggeleng, mati-matian menahan bendungan air matanya agar tidak jatuh, ia tidak boleh menangis

Lo kuat Ning, kata Bapak, jadi orang gak boleh cengeng! Gak boleh nangis! Gak boleh lemah! Hening membatin menyemangati dirinya sendiri, itulah kalimat yang sering dilontarkan oleh Bapaknya tiap kali ia kena omel ataupun pukul.

“Kak gu—”

“Esa! Apa ini?!” Seorang pria tiba-tiba sudah berdiri di tengah pintu memandang heran, bergantian kepada Esa dan Hening yang masih dengan posisi berlutut.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status