MasukHening adalah gadis serampangan dan sembrono yang hanya bisa menerima nasib karena perbuatan Ayahnya sebagai preman. Pada akhirnya ia hanya akan mengikuti ke mana takdir akan membawa jalan hidupnya.Genta, pria yang sangat mencintai keluarga terutama Mamanya itu, tidak pernah menyangka akan jatuh cinta kepada gadis preman yang akan membawa kepahitan pada masa lalu keluarganya. Kalau dulu, Genta dengan ikhlas melepaskan cinta pertamanya karena ikatan darah diantara mereka. Namun bagaimana untuk kali ini? Akankah Genta melepaskan lagi cintanya karena sebuah alasan klise yang disebut keluarga? -Saat mata harus dibalas mata, begitupun nyawa harus dibalas dengan nyawa. Dan, bagian terberat ketika aku mencintaimu adalah melepasmu serta kehilangan bagian terbesar dari diriku.--Hidup ini warna warni, tidak mungkin hanya hitam putih saja. Jangan berharap selalu bahagia, jangan juga berpikir kesedihan akan selamanya-
Lihat lebih banyakYou never get a second chance to make a first impression.
-Andrew Grant
But thereās always a chance to make a better perception after all.
-Kanietha
Genta baru saja keluar dari sebuah butik khusus anak, dengan menenteng satu paper bag besar, berisi pakaian dan mainan anak perempuan tentunya. Buat siapa lagi kalau bukan untuk keponakan kesayangannya, Giana, anak Zio dan Lastra. Bibirnya selalu membentuk lengkungan sempurna saat Genta kembali mengingat tingkah lucu dari Giana yang saat ini sudah berusia 20 bulan, apalagi Giana saat ini sudah bisa memanggilnya dengan Ayah. Hati Genta menghangat seketika bila memikirkan itu semua.
Namun senyumnya tiba-tiba memudar saat ia melihat punggung seorang gadis memakai seragam putih, rok abu-abu dengan gaya rambut boyish model faux hawk berwarna kecoklatan, sedang mengendap-endap di samping jeep wrangler rubicon-nya. Genta segera menggebrak badan mobilnya hinga membuat gadis tersebut berjengit melompat kaget dan berbalik seraya mengusap dadanya.
āMau maling lo, bocah!ā sergap Genta dengan tatapan mengintimidasi.
Bukannya takut, tapi gadis itu malah tertegun melihat sosok Genta yang terlihat dewasa namun penampilannya masih fresh layaknya ABG, dengan memakai jaket denim dan jeans warna senada. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali, memandang takjub ke arah Genta.
āWoi! Lo mau gue laporin satpam!ā Genta lalu berjalan berniat untuk mendatangi satpam di salah satu toko namun tubuh gadis itu dengan sigap menghalanginya.
āOm! Jangan Om, gue bukan maling, sumpah!ā
āAm, Om, Am, Om, emang kapan gue nikah sama Tantel lo!ā
Gadis itu nyengir lalu menoleh sekilas ke sebuah pertokoan yang memang sejak tadi ia intai. āGue cuma lagi ngikuti Bapak gue ke sini, dia sama cewek barunya Om! Noh tadi masuk ke dalam sana, gue lagi nunggu mereka keluar!ā Ujar gadis itu sambil mengarahkan telunjuknya pada salah satu ruko.
Genta memasukkan telunjuknya ke dalam lubang telinga dan menggoyangkannya sebentar. āHah? Apa lo bilang tadi? Bokap lo sama cewek barunya?ā
Gadis mengangguk tanpa ragu. Maniknya kini kembali mengawasi ruko tadi.
Genta menghela nafas, melihat arloji pada pergelangan tangannya, lalu berdecak. āMinggir lo, gue mau cabut!ā
āEhh!ā Gadis itu menggaruk kepalanya, lalu merapikan rambut bagian tengahnya dengan menariknya ke atas untuk mempertegas model mowhaknya.
āLo itu cewek apa cowok sih sebenernya?ā tanya Genta yang sudah membuka pintu mobilnya dan meletakkan paper bag pada kursi penumpang di sampingnya.
āAndrogini Om, kan lagi ngetrend,ā jawab gadis itu asal tanpa menoleh ke Genta. āOm, gue juga mau cabut, tuh Bapak gue dah keluar.ā Ia lalu berlari dengan cepat menghampiri kedua manusia yang baru saja keluar dari sebuah ruko.
Genta baru saja hendak menstarter mobilnya, saat ia melihat gadis itu menarik kasar bahu wanita yang ia katakan sebagai kekasih baru Ayahnya lalu menamparnya saat itu juga. Genta bahkan bisa mendengar teriakan minta tolong dari wanita yang kini sudah berada di bawah tubuh gadis SMA yang tadi bersamanya.
Manik Genta lalu melebar saat melihat gadis itu, di tarik paksa oleh seorang pria paruh baya dan menghempaskan tubuhnya ke sudut dinding. Lalu ia melihat sebuah tamparan berhasil didaratkan oleh pria itu pada pipi gadis tersebut.
Genta spontan keluar dari mobil, berlari mendatangi gadis berseragan SMA yang sudah dikerumuni oleh beberapa orang. Ia sudah berfikiran yang tidak-tidak, khawatir pada kondisi gadis tersebut namun ia terkesiap saat melihatnya masih berdiri dengan tegar hanya mengusap pelan pipinya yang hampir membiru dengan mulut yang tak henti mengumpat. Genta melihat sekeliling dan tidak mendapati pria paruh baya ataupun wanita yang tadi berurusan dengan gadis SMA itu.
Genta mendekat. āLo gak papa?ā
Lagi, gadis itu terkesiap dengan mata melebar lalu sedikit meringis memegang pipinya. āEh Om, kirain udah pergi.ā
āCk, ikut gue!ā Genta menarik tangan gadis itu dan menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya. āTadi beneran bokap lo? Sama pacar barunya? Yang nampar elo?ā
āIya Om. Bapak gue.ā Masih sambil meringis memegangi pipinya, lalu memandang ke dalam paper bag yang berada di sampingnya. āHabis belanja ya Om, buat anaknya?ā
Genta tidak menjawab, namun rahangnya mengetat seketika, ia langsung melajukan mobilnya untuk mencari apotik terdekat.
āMau kemana Om?ā tanya gadis itu lagi.
Genta lagi-lagi tidak menjawab, tapi menghentikan mobilnya di depan apotik, keluar sebentar lalu kembali dengan membawa salep untuk meredakan rasa sakit dan memarnya.āPake nih, buat pipi lo, nanti sampai rumah langsung di kompres.ā
Gadis itu hanya diam sambil membolak-balik salep yang di beri oleh Genta.
Genta memasang sabuk pengamannya dan kembali melajukan mobilnya. āSeharusnya tadi lo bisa bicara baik-baik, jangan main hajar aja kayak preman, lo itu cewek!ā
āEmang kenapa kalau cewek? Gak boleh gitu hajar orang, apalagi tu orang dah bikin Emak gue sakit hati!ā ucap gadis itu berapi-api.
Genta menggelengkan kepalanya, ia berfikir sebaiknya tidak ikut campur dalam urusan orang lain. āNama lo siapa?ā tanya Genta mengalihkan pembicaraan.
āNama gue Hening, nama Om siapa?ā
āHening? Hening siapa?ā
āYa Hening, Hening aja, Hening doang!ā Hening memutar tubuhnya memperlihatkan badge nama yang terjahit pada dada kanannya. āNih Om, bisa baca sendiri kan, HENING! Kalau Nama Om siapa?ā Hening bertanya sekali lagi
āGenta,ā jawabnya singkat, melirik sekilas pada badge nama di dada Hening, lalu kembali berkonsentrasi dengan kemudinya.
āGenta! Genta siapa Om? Genta aja? Genta doang?ā
Genta menarik telinga Hening sehingga membuat tubuh gadis itu mendekat ke arahnya. āDengerin dan inget baek-baek, jangan sampek salah, nama gue Genta Aria Abhiraja!ā Lalu melepaskan telinga Hening begitu saja hingga membuat gadis itu mengaduh. Dan benar saja telinganya kini terlihat memerah saat ia mengeceknya lewat kaca di spion samping.
āNama lo, serius Hening doang? Gak pake embel-embel apa gitu?ā
āGak ada! kalau versi emak gue, katanya waktu lahir gue gak oek-oek Om, terus lahirnya pas tengah malam pula, jadi heniiing gitu suasananya. Nah, kalau versi Bapak gue yang gesrek itu, katanya pas mereka bedua bikin gue, Emak gak ada suaranya sama sekali! diem aja kayaā gedebog pisang. Iya kali pas emak gue dikasi obat tidur sama dia, emang gue gak tau apa kalau gue sudah tanya emak, gimana dulu waktu bikin gue. Bapak gue mabok katanya,ā tutur Hening dengan polosnya.
Mulut Genta antara hendak tertawa, sekaligus mengumpat mendengarnya. Namun ia tahan karena kalau sudah menyangkut orang tua, hal itu bukanlah lelucon yang lucu baginya. āMulut lo, kalau ngomong disaring dulu. Gitu-gitu dia juga Bokap elo. Gak ada dia lo gak jadi.ā
Hening hanya mendengkus malas mendengar ocehan Genta, membuka salep yang ada di tangannya dan mengoleskannya pada pipi kirinya.
āRumah lo di mana ini, cepetan, gue masih ada urusan!ā
āAntar ke sekolah aja Om, tas gue masih di sekolah soalnya, entar gue pulangnya jalan kaki, rumah gue deket sekolah kok.ā
āCk, sekolah lo, dimana?ā
āSMA Negeri Taruna 1 Om, Tau gak?ā
Genta berfikir sejenak. āIya, tau-tau, Lo bolos?ā
āEh gak ya, hari ini kan pengumuman kelulusan Om, baru tadi gue mau coret-coret ikut konvoi, ehh tau-tau lihat bapak gue lewat sama ceweknya, ya udah gue kejar naik ojek!ā sungut Hening.
āTerus apa yang lo dapat? Gak dapat apa-apa kan? Malah pipi lo jadi bengeb.ā
āCuma di gampar doank, biasa kali Om, gak kaget gue sih.ā Bibir hening lalu melengkung membentuk senyum licik. āTapi gue puas, tadi udah ngegampar tuh cewek, mukanya udah gue cakar,ā lanjutnya sembari terkekeh puas.
āMau jadi preman lo?ā
āTadinya sih gitu. Tapi emak gue ngelarang! Om.ā Hening mengangkat kakinya lalu bersila dengan cueknya. āKatanya, jangan sampe ikutin jejak bapak gue, emak gak bakal ridho dunia akherat.ā
Manik Genta membulat mendengarnya. Ia tak mempedulikan sikap Hening yang sembrono, karena rok abu-abunya kini sudah terangkat tinggi, memperlihatkan hampir separuh dari paha putihnya. āApa! Bokap lo, preman?!ā
āYoi Om, kenapa? Takut?ā Hening tertawa mengejek.
āNgapain takut, selama gue bener,ā ucap Genta lalu menoyor kepala Hening karena gemas merasa diremehkan.
āJangan sok akrab Om, otak gue berharga, kalau geser dikit gara-gara lo toyor, mau tanggung jawab?ā kata Hening yang kini kembali sibuk merapikan rambutnya meskipun tidak terlihat berantakan sama sekali.
āOtak lo emang udah geser dari sononya, coba aja lihat penampilan lo, kayak cewek jadi-jadian!ā Genta kembali melirik sekilas tubuh Hening.
Hening tertawa renyah. Sambil menahan perih dipipinya. āCasingnya boleh jadi-jadian Om, tapi gue jamin dalamnya masih ori! Masih segelā
āSegel ato gaknya, gue mana tau, kan gue belum nyoba, belum juga ngerasain,ā jawab Genta asal lalu ikut tertawa bersama Hening.
āOm mau nyoba? Di gorok bapak gue baru tau rasa!ā kekeh Hening.
Genta terdiam, wajahnya berubah serius. āEmang Bokap lo, masih peduli sama lo?ā
āCk, gitu-gitu dia masih peduli sama anaknya, gue gak pernah tuh kekurangan apapun. Cuma yaitu, gue gak sukanya dia maen cewek mulu, Om. Gerah gue lihatnya!ā Wajah Hening terlihat kesal. Kedua tangannya mengepal sempurna. āLah, giliran gue yang pacaran nih ya, bapak gue langsung marah-marah gak jelas, dia aja bisa seenaknya gonta ganti cewek, nah kalau gue? udah pasti kena gampar!ā
āBokap lo bener! Kalau elo gak boleh gonta ganti pacar sembarangan, tapi, lo ⦠sering di gampar?ā Entah kenapa yang tadinya Genta tidak mau tau sekarang malah penasaran.
āDi bilang sering, yaa gak juga sih, tapi Bapak gue emang gak segan main tangan kalau dia marah. Dan, gue juga dah kebal lah, sakit sih Om, tapi bentar juga sembuh. Namanya juga preman, Om,ā kekehnya garing tapi maniknya tidak bisa menyembunyikan rasa sakit yang terpendam di lubuk hatinya. Dan, Ini kali pertamanya Hening menceritakan sedikit hal tentang kehidupan pribadinya kepada orang yang baru saja ditemuinya. Entah mengapa, ia juga tidak mengerti, semua tercurah begitu saja.
Hening dan Genta baru saja pulang dari restoran untuk merayakan ulang tahun keempat putra sulung mereka. Hal yang pertama dirindukan oleh Hening adalah ranjang empuknya. Ia hanya ingin merebahkan diri dan meluruskan pinggang untuk mengusir penat. Lalu ke mana Gani saat ini? bocah kecil nan tengil dengan sifat tidak jauh dari papanya itu lebih memilih pulang ke kediaman Andreas. Kenapa ke sana? Karena Gani merupakan fans garis keras Giana, pria kecil itu layaknya stalker yang selalu ada di manapun putri sulung Zio dan Lastra itu berada. āCapek?ā Tanya Genta dengan suara pelan, masuk ke kamar menyusul istrinya dengan menggendong pria kecil berusia 2 tahun yang sedang terlelap di pundaknya. Hening mengangguk dengan mengerucutkan bibirnya. Ia menghidupkan AC lalu merebahkan diri kemudian menarik selimut menutupi perut yang sudah membuncit. Genta meletakkan Heiga, putra kedua mereka pada box bayi dengan perlahan , lalu menghampiri istrinya. āDedeknya gak rewel kan?ā ucapnya memberi kecu
When life gives you a hundred reason to cry, show life that you have a thousand reasons to smile-Unknown--Genta keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk yang terselip di pinggang, Ia melewati Hening yang masih meringkuk berbalut bedcover menutupi seluruh tubuhnya. Berhenti sekilas, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju walk ini closet untuk mengenakan pakaianya.Setelah semua beres, ia keluar duduk di tepi ranjang, mengusap kepala Hening dengan lembut. “Ning, bangun dulu, sarapan.”Tidak kunjung mendapat respon, Genta menjepit hidung istrinya hingga gadis itu terengah, kehabisan nafas. Dan mau tak mau Hening terjaga saat itu juga, segera duduk dan melihat Genta sudah tergelak dengan puasnya.Namun, tawany segera berhenti karena tidak ada sedikit pun senyum yang tersemat di wajah istrinya itu.“Mama Ning, udah gak bisa di ajak becanda, entar cepat tua loh.”“Keluar gak!” Us
You make a new life by making new choices-Sean Stephenson--Sesampainya di rumah sakit, dokter menyarankan agar Hening berjalan-jalan kecil terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan gadis itu masih dalam tahap bukaan 2.“Kalau begini, besok-besok Mas Genta aja yang ngelahirin!” Dengan menahah nyeri Hening masih sempat-sempatnya bergalak ria dengan suaminya.Mereka sedang berjalan bergandengan tangan menyusuri taman yang ada di area rumah sakit. Keduanya berhenti sejenak untuk mengambil nafas saat Hening mengalami kontraksi. Setelahnya kembali berjalan lagi.“Iya, entar anak kedua dan seterusnya aku yang ngelahirin.”Manik Hening semakin terbuka dengan lebar mendengarnya. Giginya sudah mengatup rapat dengan kesal yang memuncak.“MANA BISA!” Hardik Hening kemudian berhenti lagi untuk menarik nafas.Sebenarnya Genta ingin sekali tertawa melihat istrinya yang sudah mengoceh tidak jelas itu, n
Happiness visits those who are able to wait-unknown--“Caesar aja ya, Mas …” Rengek Hening tiada henti kepada suaminya saat Genta baru saja pulang kerja.“Coba tunggu seminggu lagi ya … baru kita konsultasi lagi ke dokter.” Genta juga tidak henti membujuk.Usia kandungan Hening sudah hampir memasuki usia 41 minggu. Dan, masih belum ada tanda-tanda menuju persalinan.Hening sudah meminta agar dapat melakukakn operasi caesar dengan alasan khawatir bayinya akan kenapa-kenapa. Sedangkan Genta, selalu saja minta istrinya untuk menunggu, siapa tahu, bisa lahir secara normal. Genta beralasan, kalau Hening melahirkan secara caesar, istrinya itu harus menunggu lama jika akan hamil lagi.Di usia Genta yang hampir menginjak ke angka 34 itu, ia ingin memiliki anak banyak secepat mungkin. Karenanya Genta kurang setuju jika istrinya meminta untuk operasi.“Emang siapa yang mau, tiap tahun lahiran
One kiss could bind two souls in a second. -Unknown -- Hampir lima menit, Dewa hanya diam memandang Hening yang duduk berseberangan dengannya. Keduanya kini berada di VIP room sebuah restoran, yang memang dipesan khusus oleh Dewa, untuk makan siang bersama gadis itu. Insting Dewa memang tidak sa
When youāre curious you find lots of interesting things to do. -Walt Disney -- āCepetan ke KANTOR!ā Hening menghela kecil saat membaca pesan yang dikirim manajernya. Baru saja ia hendak membalas, muncul satu lagi pesan di bawahnya. Mau tidak mau, Hening membacanya sebentar, dan menunda membalas
Each of us just needed someone to talk to, and share everything that we had in mind. ~Kanietha Setelah terjadi sedikit keributan di Green Resto, Esa dengan terpaksa menjelaskan pokok permasalahannya pada Zaid secara singkat. Kemudian, ia segera berpamitan dan tidak lupa berterima kasih atas bantu
It begins with curiosity ~ Kanietha āMampus di tangan gue, lo habis ini!ā Hening kembali mengancam Beni dengan suara pelan, tetapi begitu menghunus tajam. āJanganlah Non, gue cuma disuruh buat nganterin lo doang. Entar urusan kelar, gue balikin lagi lo ke kantor tadi,ā ucap Beni memelas. Hening












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak