Heart, please don't be broken (Bahasa Indonesia)
Heart, please don't be broken (Bahasa Indonesia)
Author: Rasa
01 | Hari yang sangat 'baik'

Naya buru-buru menghampiri alat pembuat kopi, mematikannya secepat yang ia bisa, lalu memeriksa air di dalam sana. Ia merasa cukup lega karena datang diwaktu yang tepat.

"Untuk apa kau berlarian seperti itu? Bikin kaget saja!" semprot Sandra yang keluar dari kamar karena mendengar derap langkah yang memburu.

Naya tertawa. Ia melepaskan handuk di kepala dan mengusap rambutnya berulang kali. "Mengulang dari awal itu sangat merepotkan, San. Jadi, sebelum terlambat aku harus mematikannya. Kau mau kubuatkan kopi?"

Sandra mengangguk. "Ya ya, kau selalu mempunyai alasan. Tidak seperti dulu."

"Memangnya dulu, aku kenapa?" Naya mengedipkan kedua matanya, berusaha terlihat polos.

Sandra memutar kedua bola matanya malas. "Kau ingin aku mengingatkanmu seperti apa dirimu dulu? Aku tak masalah. Coba kita ingat apa yang kau ucapkan ketika--"

"Berhenti!" Naya nyengir. "Aku bersalah. Aku tak akan berlari seperti itu lagi, kalau tidak kepepet," katanya menghentikan Sandra.

Dia mengerti maksud dari perkataan Sandra. Ini semua tentang sikapnya yang bodoh. Ketika putus dengan seseorang yang namanya tak ingin ia sebutkan, sikapnya seperti zombie. Semua hal Naya kerjakan dengan setengah hati, kalau gagal, ya sudah. Padahal sebelum kegagalan itu terjadi, masih bisa ia hentikan. Sayangnya, Naya terlalu malas.

Namun, semuanya sudah berubah. Ia sudah menghapus kebiasaan itu, tentu setelah mendengar deretan omelan Sandra.

Sandra, temannya selama lima tahun terkahir. Wanita yang mandiri dan hidup seperti apa yang dia mau. Meski begitu, Sandra baik. Banyak hal yang sudah dilakukan wanita itu untuk menolongnya. 

"Ku dengar, penulis kesayanganmu hari ini akan melakukan perilisan buku barunya. Dan akan datang ke toko Narana, benar?"

"Kau tahu dari mana?" tanya Naya kaget. Sandra bukan seseorang yang menyukai buku, baginya, buku itu membosankan.

Sandra berdecak, ia mengambil ponselnya yang ada di atas meja. "Kau tahu, penulis itu cukup terkenal, beritanya sudah tersebar ke mana-mana."

"Ah." Naya mengangguk, mengerti. "Kupikir kau mendadak suka dengan buku."

"Itu tidak mungkin." Sandra menuangkan air putih ke gelas yang sudah tersedia di atas meja. "Jam berapa acaranya?"

"Sembilan."

Kening Sandra mengerut. "Pagi sekali. Orang-orang itu tak ada kerjaan atau apa?"

"Menurutmu, kau punya kerjaan?"

Sandra mengangguk. "Tidur. Ngomong-ngomong, bukankah akan menakjubkan jika kau dan mantanmu bertemu di sana? Seperti drama yang kutonton."

"Itu tidak mungkin," sanggah Naya tegas. "Kalau pun mungkin aku tak akan merasa apa-apa. Berhenti berbicara tentang dia, mood-ku hancur."

Naya menyeduh kopi sambil menggerutu. Aroma kopi pagi hari itu memang sangat enak, menenangkan pikirannya sebelum menyapa dunia yang sangat kejam.

"Kalau jam sembilan, berarti, sudah lewat semenit."

"Apa?" Naya menoleh cepat, tatapannya langsung mengarah ke jam yang tak jauh dari mereka. "Sial! Kenapa kau tak mengatakannya sejak tadi!"

"Kalau kau bertemu dengan mantanmu, kabari aku!"

                                                                  * 

Pengunjung sudah memadati toko buku hingga hampir masuk ke jalan raya. Naya harus berjalan berhati-hati selagi masuk ke dalam antre-an.

"Ini semua gara-gara aku telat bangun dan Sandra," gerutunya lagi. 

Sudah cukup lama, Naya tidak melakukan hal ini, mengantre untuk menjadi orang yang terlebih dulu membeli novel sekaligus bertemu dengan penulis secara langsung.

"Hei! Pelan-pelan dong!" Naya bergegas memeriksa tasnya. Keramaian adalah peluang untuk pencopet melakukan aksi. Dia merasa lega ketika barang-barangnya tak kurang sedikit pun. Meski ia sudah menaruh tas kecilnya di depan, dia harus tetap waspada.

Ia berjinjit, pintu belum dibuka sama sekali. Padahal ini sudah lewat jam sembilan. 

"Ini orangnya ketiduran atau bagaimana?"

"Menyebalkan bukan, Mbak? Aku sudah di sini dari jam delapan, sampai sekarang belum buka sama sekali," timpal seseorang yang ada di sampingnya.

Naya mengangguk menyetujui. Bisa dibayangkan bagaimana membosankan sekaligus tak sabarnya orang-orang yang menunggu.

"Benar." Ia mengintip pintu toko. Tidak boleh lengah sedikit pun karena peperangan bisa terjadi kapan saja.

Orang itu terus mengajaknya berbicara. Naya membalas seadanya, bersikap sopan. Padahal dalam hatinya sudah ingin meminta orang itu tidak lagi mengajaknya bicara. Karena ingin fokus pada pintu toko itu.

Pundaknya ditepuk berulang kali. Akhirnya aku terbebas. Dia menoleh dengan senyuman lebar, lalu senyuman itu luntur.

"Naya? Kau Naya bukan? Astaga, aku tidak menyangka kalau kau di sini."

Naya masih ingat dengan jelas siapa orang di depannya saat ini. Ah ini sangat menyebalkan. Lebih baik dia harus mendengar pertanyaan yang membosankan dibandingkan bertemu dengan manusia seperti ini.

"Kalau kau bertemu dengan mantanmu, kabari aku!"

Naya menggeram ketika mengingat kata-kata Sandra. Bagaimana bisa ucapan Sandra terkabul? Meski orang di hadapannya ini bukan mantannya. 

"Iya, aku Naya," balas Naya dengan sangat terpaksa. 

Tak seperti sebelumnya, Naya tak menyembunyikan keengganan berhadapan dengan orang itu. Ia secara terang-terangan melihat ke arah pintu, menghadap ke arahnya cukup lama, dan berusaha melupakan orang itu.

"Kau masih mengingatku, kan? Aku,"

"Aku tahu kau siapa, jangan lanjutkan ucapanmu." Naya menghela napas. Dia sudah berushaa sedemikian rupa untuk melupakan segala hal tentang orang itu, semua yang berkaitan dengannya ia harap terhapus dari otaknya. Namun, sepertinya tidak semudah itu.

"Kau masih membencinya?"

Naya sudah kehilangan ketenangan. Ia tertawa, sumbang. 

"Menurutmu?" tanyanya balik. "Kau benar-benar merusak suasana hatiku."

"Aku tak bermaksud merusak suasana hatimu. Aku hanya senang bisa melihatmu lagi, setelah em ... lima tahun kita tidak bertemu. Kau dulu pindah ke mana?"

"Kau tak perlu basa-basi, Aska." Naya menyelipkan rambutnya di belakang telinga, menatap tajam Aska, salah satu sahabat orang yang tidak ingin ia sebut. "Kau tahu alasan kenapa aku menghilang? Kenapa aku sangat membenci dia dan itu termasuk kamu? Kau tahu alasanya. Tak perlu kusebutkan lagi, kan?" Ia mengeluarkan senyum sinis. "Senang? Kau pasti bercanda. Kau yang menyembunyikan kebenaran lima tahun lalu, tak pantas senang untuk melihatku. Jadi, jangan membual. Semua ucapanmu omong kosong."

Aska terlihat sedih. Dia menyadari apa yang sudah dia lakukan. "Aku tahu, dan aku menyesal. Termasuk dia."

"Menyesal? Jangan semakin membuatku ingin tertawa. Dia tidak akan pernah menyesal."

"Dia menunggumu."

"Menungguku?" Naya menelengkan kepala. "Untuk apa? Untuk menjadikanku sebuah lelucon lagi? Apa kau pikir aku masih sebodoh itu?"

Aska menggeleng. "Tidak. Kau sudah berubah. Dulu kau tidak seperti ini."

"Iya." Naya mengakui cepat. "Sudah cukup selama lima tahun, aku menjadi orang bodoh yang mudah untuk kalian permainkan. Aku tak mungkin pengalaman itu terbuang sia-sia."

"Tidak. Bukan itu maksudku, Naya."

"Tak perlu kau jelaskan, aku tak mau mendengarnya. Karena semua tentangnya bukan urusanku." Nia membalikkan tubuhnya. Jalanan yang padat oleh kerumunan penggemar, membuatnya tak punya pilihan berada di tempat ini. 

Keinginannya untuk mendapatkan novel yang bertanda tangan langsung menyusut, dan digantikan keinginan untuk pulang sekarang juga.

"Setelah kau pergi, dia tidak mempunyai pacar. Dia masih menunggumu untuk kembali, dan dia ingin menebus kesalahannya."

Naya memilih untuk membungkam mulutnya, dan memilih untuk mengumpat di dalam hatinya.

"Nay,"

"Aku bilang berhenti memanggil namaku, Aska!"

Bertepatan itu, pintu toko tersebut terbuka.

Naya melangkah maju. 

"Aku tak akan pernah peduli dengannya, bahkan kalau dia mati sekali pun," ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan Aska.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status