He Is My Husband (INDONESIA)
He Is My Husband (INDONESIA)
Author: helloimironman
Prolog

Ada sebuah keharusan yang tidak bisa di tunda. Meninggalkan seorang istri yang baru di pinangnya dua bulan lalu demi mengejar cita-cita. Membuatnya terpaksa membuka celah pada keharmonisan yang selalu mereka jaga. Sebuah jarak akan menguji kekuatan kedua cinta mereka. 

Memilih bertahan atau meninggalkan? 

Arsya dengan keras bersumpah tidak akan ada yang bisa merusak rumah tangga mereka dengan cara apapun, jarak, komunikasi dan rindu yang mungkin akan menjadi masalah baru. Namun, Arsya bersumpah semua hal kecil itu tidak akan menggoyahkan bentang rumah tangga mereka. Itu janji yang Arsya berikan pada Anjani -istrinya. Memberi bekal kepercayaan selama mereka berpisah. 

Sebagai seorang istri yang perngertian dan bijaksana, Anjani berusaha untuk turut percaya. Ikut menjaga dan merawat hubungan jarak jauh mereka. Seperti yang suaminya katakan; jarak, komunikasi dan rindu. Itu hanya setitik masalah yang mungkin ada menerpa mereka. Tapi, mereka melupakan masalah terbesarnya.

Orang ketiga. 

Tidak ada yang tahu siapa yang akan goyah hatinya lebih dulu, sebab, satu sisi yang kosong akan menjadi incaran orang ketiga yang datang mencari ruang.

"Mas... Jangan pergi," Maka dari itu Anjani khawatir sekarang. Ketika ia sudah menyiapkan mentalnya untuk menyambut hari ini tiba, keikhlasan itu runtuh semua. Anjani merasa belum siap melepas Arsya pergi meninggalkannya di kota besar ini seorang diri.

Apapun yang Anjani inginkan, Arsya turuti meski nyawa menjadi taruhannya. Tetapi, untuk keinginan wanitnya yang satu itu, membuat Arsya merasa sangat bersalah karena tak bisa mengabulkannya.

"Sayang, lihat Mas," telapak tangan Asrya terangkat, mengangkup wajah Anjani dengan lembut dan perlahan mengangkatnya, meminta Anjani untuk menatap manik legamnya.

"Ini hanya sementara, nanti setelah kamu lulus kuliah, kita sama-sama lagi, ya. Mas akan sering-sering pulang ke Jakarta, jenguk kamu dan bayi kita," ujar Arsya dengan tutur kata yang lembut, satu tangannya bergerak mengusap perut Anjani yang masih rata namun ada kehidupan di dalam sana. Anak mereka yang baru berumur dua minggu. 

Takdir senakal itu memisahkan Arsya dari Anjani yang sedang mengandung anak pertama mereka. 

"Ingat pesan mas, kamu gak boleh kelelahan, jangan telat makan, dan harus istirahat yang cukup. Kamu gak boleh stress, ya, kasihan nanti dedeknya. Walaupun mas gak ada di samping kamu, tapi kamu harus selalu cerita kalau ada masalah. Satu lagi, sholatnya gak boleh ketinggalan." Pesan yang cukup panjang, dan itu berhasil menyentuh hati sang istri. Semua amanat dari Arsya semakin membuat Anjani takut memulai harinya tanpa Arsya. Meski hanya sementara. 

"Mas juga." Anjani hanya mampu mencicit kecil.

"Juga apa?"

"Jangan kelelahan, ingat makan, ingat istirahat, sholat harus di nomor satukan." jeda, tatapan Anjani berubah galak, "Gak boleh lirik dan genit sama cewek-cewek di sana!" peringatnya galak. 

Arsya terkekeh pelan, lalu menenggelamkan wajah Anjani ke dalam dada bidangnya. Anjani melingkarkan tangannya di pinggang Arsya, mendusel manja di dada Arsya yang memberinya kehangatan. 

"Kamu harus tau, hal tersulit yang nggak bisa Mas lakuin di dunia ini adalah berpaling dari kamu."

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Bee Kwon
Izin baca Kapal ArJan lagi. kangenn. 😊😊😊😊
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status