Part 2

Aku update

Ada yang kangen Kia Nando gak?

Selamat membaca

--------------

Kegugupan menyelimuti Hanif, Kia, berserta istrinya Isma,yang kini saling berhadapan dengan Rasyid dan Nella, kedua orang tua Nando.

Nando sendiri jauh lebih besar gugupnya, ada sedikit keraguan jika lamarannya bakal di terima Kia dan keluarganya.

"Pak Rasyid dan bu Nella, ada apa ya kemari?" tanya Hanif bertanya maksud dan tujuan Nando beserta orang tuanya bertamu ke rumahnya.

Rasyid dan Nella saling menatap sebelum mengutarakan niat tujuan mereka datang.

"Jadi begini pak Hanif dan bu Isma, niat kedatangan kami ke rumah kalian...." Rasyid menjeda ucapannya seraya melirik ke arah Nando.

Rasyid mengkode Nando lewat gerakkan matanya, ia ingin jika putranya sendiri yang mengutarakan niatnya ke rumah Kia.

Nando berdeham untuk menetralkan suaranya yang tiba-tiba saja tercekat, mungkin efek gugup yang menyerangnya secara mendadak.

"Om, tante, tujuan saya dan orang tua saya kemari. karena saya ingin melamar putri om dan tante, Kia. saya ingin melamar Kia untuk menjadi istri saya." ucap Nando mantap dan penuh keyakinan, tangannya terulur menunjuk ke arah Kia.

Tampak raut keterkejutan dari wajah Hanif dan Isma, mereka tidak menyangka jika Nando berniat melamar putrinya.

Tubuh Kia menegang kaku mendengar ucapan Nando, ia menundukkan kepalanya saat kepergok Nando yang melihat ke arahnya.

"Bagaimana om, tante?" tanya Nando tak sabar menunggu jawaban Isma dan Hanif.

"Ehmm, kalau itu saya serahkan sepenuhnya pada Kia. biar putri saya yang memberi keputusannya, kami sebagai orang tua selalu mendukung apa pun keputusan anak kami. karena bagi kami, kebahagiaan Kia jauh lebih penting dari apapun." ungkap Hanif seraya mengelus kepala Kia lembut yang tertutup hijabnya.

Posisinya Kia duduk tepat di sebelah ayahnya, Kia menatap Hanif. tatapan matanya seakan menyiratkan pertanyaan untuk jawaban apa yang akan ia berikan. Hanif menganggukkan kepalanya, kode jika ia mempercayakan semuanya pada Kia, apapun keputusan Kia, maka ia dan Isma tidak akan marah. tapi justru sebaliknya, mereka berdua malah bangga dengan putrinya.

Kia mengalihkan tatapannya dari Hanif. kini ia memandang ke arah Rasyid, Nella, dan Nando.

"Se--sebelum saya menjawab, bolehkah saya bicara dengan mas Nando?" tanya Kia gugup.

"Tentu boleh sayang." suara Nella berseru mengizinkan.

Kia bangkit dan berjalan ke arah depan rumah, Nando ikut bangkit dan mengikuti langkah Kia dari belakang.

Nando dan Kia saling berdiam diri duduk di kursi teras rumah Kia, sudah hampir 10 menitan mereka saling terdiam.

"Apa mas yakin dengan keputusan ini?" tanya Kia membuka suara.

Nando melirik ke arahnya, yang di lihat begitu asyik menatap ke arah depan. dalam pandangan Kia yang menatap lurus ke depan, namun pikirannya berkecamuk melayang-layang entah kemana.

"Apakah kamu meragukan keyakinan ku Kia?" balas Nando memberikan pertanyaan balik.

"Bukan meragukan mas, hanya saja ini terlalu sulit untuk kita berdua nantinya, bukan?"

"Sulit? sulit bagaimana maksudmu?"

Kia terdiam, ia bingung ingin menjelaskannya bagaimana.

"Aku mengenal mas, karena mas itu adalah kekasih almarhum Eva. kalian bahkan sudah bertunangan dan hampir nyaris menikah, nam--"

"Cukup Kia!" ucap Nando memotong perkataan Kia.

"Apakah kau ingin membuka luka lama itu?" tanya Nando tajam.

Entah kenapa ucapan Kia seakan mengingatkannya kembali pada Eva, padahal susah payah ia bangkit dari keterpurukkan yang selama ini hanya terfokus pada dunia seorang Eva.

"Tidak mas, aku hanya berpikir, apakah mungkin kita bisa menjalani pernikahan seperti pernikahan pada umumnya?"

"Aku tidak memaksa mu untuk menerima lamaran ku Kia. ingatlah hal itu! tujuan ku kesini memang murni karena aku ingin melamar mu, dan jika kamu meragukan menerima lamaran ku, maka kamu harus mengatakannya jujur. aku tidak ingin ada unsur keterpaksaan, meski pun kita sudah berjanji pada mendiang Eva, apa kamu masih mengingatnya?"

Kia mengangguk mengiyakan jika ia masih mengingat janji itu, karenanya itulah Kia jadi sedikit merasa ragu jika ia dan Nando bisa melewatinya, ragu jika mereka bisa menjalani kehidupan pernikahan sebagai suami dan istri nantinya.

"Kia...."

"Beri aku waktu mas, beri aku waktu untuk memikirkan semuanya ini lagi." pinta Kia pada Nando.

"Baiklah, berapa lama aku harus menunggu jawaban mu Kia?"

"Satu minggu, berikan aku waktu seminggu mas." Nando mengangguk.

Pria itu bangkit dari duduknya seraya merapikan pakaiannya, ia tatap Kia yang senantiasa menatap ke arah lain.

"Kalau begitu aku pamit pulang Kia, akan aku beritahu orang tua ku mengenai jawaban mu."

"Terima kasih mas."

"Terima kasih untuk?" tanya Nando heran.

"Terima kasih karena mas sudah mau memberikan Kia waktu." 

"Seperti yang ku bilang Kia, aku tidak ingin memaksa mu. aku ingin memulai suatu hubungan ini dengan mu tanpa adanya unsur keterpaksaan."

Nando menunggu reaksi Kia, tapi wanita itu diam kembali.

"Kalau begitu, ayo kita masuk kembali ke dalam." ajak Nando yang di angguki Kia.

Nando jalan terlebih dulu, di susul Kia yang mengekornya dari belakang.

Tbc

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status