The Blue Moon Mate (Werewolf Indonesia)
The Blue Moon Mate (Werewolf Indonesia)
Author: Lailimanosa

Bab 1

Suasana pagi yang cukup ramai di sebuah rumah sakit merupakan pemandangan yang biasa dihadapi oleh Ashlyn, seorang dokter muda yang baru pindah ke rumah sakit ini tiga bulan yang lalu. Ashlyn Jaidden adalah seorang wanita dewasa berumur 27 tahun yang berkerja di rumah sakit milik salah satu orang terkaya di kota ini.

Ashlyn berjalan dengan tenang menuju ruangannya yang berada di rumah sakit karena ia mendapatkan shif pagi pada hari ini. Saat memasuki lift Ashlyn bertemu dokter senior bernama Galvin yang yang menjabat sebagai kepala bagian di rumah sakit, Dr. Galvin adalah orang yang ramah, begitulah menurut Ashlyn.

Good Morning Ashlyn.” Sapa dokter Galvin.

Good Morning doctor, anda datang pagi hari ini.” Ujar Ashlyn dengan tersenyum kepada salah satu dokter senior itu.

“Ya. Akan ada operasi pagi ini.” Jawab dokter Galvin.

“Ah...semoga berhasil dokter.” Sahut Ashlyn mendoakan operasi yang akan dilakukan berhasil.

“Terimakasih Ashlyn, dan bagaimana dengan jadwalmu hari ini?” tanya dokter Galvin.

“Saya tidak mempunyai jadwal yang berat untuk hari ini dokter, hanya pemeriksaan dan chek up rutin pasien.” Jelas Ashlyn.

“Hahaha itu terdengar baik Ashlyn, mungkin kau bisa menikmati makan siang yang nikmat dan santai siang ini.” Canda dokter Galvin, mengingat kesibukan seorang dokter yang padat, bisa dikatakan makan dengan tenang adalah salah satu hal yang sangat di syukuri pekerja kesehatan seperti mereka.

                                                            ***

Ashlyn berjalan dengan langkah cepat menuju sebuah ruang gawat darurat di rumah sakit, wanita yang berprofesi sebagai dokter itu baru saja mendapatkan kabar bahwa ada seseorang yang terluka parah dan harus mendapatkan penanganan dengan segera. Ashlyn memasuki ruangan pasien dan melihat dua orang perawat yang telah membantu menagani pasien.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Ashlyn kepada perawat.

“Pasien kehilangan banyak darah dok.” Jawab perawat itu.

“Siapkan ruang operasi dan darah!” perintah Ashlyn.

“Baik dok.”

Ashlyn melangkah keluar dari ruang operasi setelah hampir tiga jam melakukan operasi terhadap pasien yang terluka. Pasien yang tidak Ashlyn ketahui namanya tersebut menderita luka serius pada bagian dada kiri karena ditusuk besi dan beberapa luka yang menganga di tubuhnya dan tulang yang patah.

Dimana jika hal itu dialami manusia dapat dipastikan tidak akan mampu bertahan. Namun setelah melihat lelaki itu Ashlyn tahu bahwa dia bukan manusia biasa, lelaki itu sama dengannya seorang werewolf yang masih dapat bertahan dengan luka-luka itu.

Dia benar-benar beruntung dan tuhan sangat menyayanginya, bukan begitu dokter Ashlyn.” Ujar perawat yang berjalan disampingnya.

“Ya, dia sangat beruntung.Balas Ashlyn menjawab pernyataan yang dilontarkan perawat yang melakukan operasi bersamnya tadi.

Ashlyn tahu para dokter dan perawat yang melakukan operasi bersamanya merasa sangat kagum dan terkesima dengan keberuntungan hidup lelaki itu. Manusia biasa tidak akan mampu untuk bertahan dengan luka-luka seperti itu, kaki yang patah,luka-luka pada seluruh tubuh, organ dalam yang remuk dan sebuah besi yang menancap didada dan hampir mengenai hati lelaki itu.

Sungguh luar biasa lelaki itu bisa bertahan hidup, jika manusia biasa pasti sudah mati. Dan sepertinya lelaki itu sedang tidak baik-baik saja sehingga penyembuhan dirinya sendiri berlangsung lama dan membutuhkan tenaga medis pikir Ashlyn.

Ashlyn masih sedikit binggung kenapa lelaki itu tidak dibawa ke packnya yang pasti  mempunyai dokter sendiri. Apakah lelaki itu rogue sama sepertinya seorang werewolf yang tidak mempunyai pack dan memilih hidup didunia manusia.

Ashlyn yang masih penasaran namun tidak ingin ikut campur dalam masalah lelaki itu, berhenti untuk

memikirkannya karena itu bukan urusannya. Sekarang

yang hendak Ashlyn lakukan hanyalah pulang dan istirahat dikasurnya yang empuk dan tidur dengan nyenyak.

Memikirkan kasurnya membuat Ashlyn semakin mempercepat langkah kakinya ke basemant rumah sakit menuju mobilnya terparkir. Rumah Ashlyn berada sedikit jauh dari pusat kota sehingga membutuhkan waktu satu jam perjalanan menuju rumahnya.

Namun itu semua sebanding dengan kenyamanan yang didapatnya karena rumah yang ditempatinya mempunyai suasana yang damai dan tidak terlalu ramai, sehingga dia tidak perlu merasa terganggu dengan aktivitas tetangganya yang terkadang sangat berisik dan menganngu waktu istirahatnya yang sangat berharga.

Sebagai seorang dokter yang sudah diakui kemampuannya Ashlyin mempunyai jadwal yang padat, oleh sebab itu dia ingin menikmati waktu istirahatnya dengan tenang. Selama ini Ashlyn memilih tinggal di apartemen yang dekat dengan tempat kerjanya dan berada dilingkungan sibuk sehingga bukanlah hal yang mudah untuk mendapatkan ketenangan jika tetangga apartemen mu selalu melakukan kegiatan di apartemen yang tidak kedap suara.

Untuk itu sejak delapan bulan yang lalu, Ashlyn memutuskan mencari rumah di daerah yang cukup sepi penduduk dan mempunyai jarak dari rumah ke rumah tidak begitu dekat, sehingga apa yang dilakukan tetangganya tidak akan mengganggu istirahatnya.

***

            Ashlyn berjalan menuju ruang rawat pasien satu persatu untuk melakukan pemeriksaan bersama seorang perawat.

“Kemana kita selanjutnya Mary?” tanya Ashlyn kepada perawat yang bertugas bersamanya.

“Selanjutnya kita akan memeriksa pasien dikamar VIP 168 yang anda operasi dua hari yang lalu Dr. Ashlyn.” Jawab Mary.

“Baiklah mari pergi,” ujar Ashlyn.

Ashlyn dan Mary berjalan menuju lantai atas tempat ruangan VIP disediakan bagi pasien di rumah sakit. Ashlyn sebenarnya sedikit ragu, dalam hatinya karena harus bertanggung jawab kepada pasien tersebut. Tapi mengingat tugasnya yang seorang dokter yang tidak akan membeda-bedakan pasien Ashlyn akan berkerja dengan profesional.

Ashlyn!” Panggil Bekca dipikiranku membuatku berhenti berjalan dan terhenyak, suara Bekca mengema dipikiranku karena aroma yang kami cium. tampa

bisa dicegah seluruh bulu yang ada di tubuhku menjadi berdiri. Aroma

ini,... aku
dan Bekca sangat mengenalnya dan tidak mungkin kami melupakannya.

“Ya Bekca. Aku merasakannya.” Ujarku meremang, wangi yang sudah sangat lama tidak pernah tercium, wangi yang bahkan hanya sekali pernah tercium olehku dan meninggalkan kenangan yang buruk.

Harum yang tercium membuatku sedikit kehilangan fokus sehingga perawat yang ada di sampingku menjadi binggung dan memanggil namaku.

“Dokter, are you okay?” tanya Mary binggung melihatku berhenti berjalan.

Ashlyn tersadar dari keterjutannya dan berusaha tersenyum kepada Mary. “Yes i’m okay Mary, ayo!” jawab Ashlyn.

Ashlyn kembali berjalan bersama dengan Mary menuju ruangan pasien. Ashlyn berharap bahwa ia dan Bekca tidak bertemu dengan orang yang memiliki aroma ini. “Berhati-hatilah Ashlyn.” Ujar Bekca di pikiranku.

Aku mengerti Bekca, bersembunyilah.” Ujar Ashlyn di pikirannya yang saling berkomunikasi dengan Becka.

hm...baiklah.” jawab Bekca.

Semakin dekat ruangan yang kutuju semakin kuat aroma yang tercium dari arah ruangan pasien yang Ashlyn ketahui adalah seorang werewolf sepertinya, membuat Bekca semakin gelisah dan mengeram dengan keras di pikiranku.

Kami tidak ingin bertemu dengan lelaki itu tapi bagaimana kami menghindari kejadian ini, jika aku dan Bekca melarikan diri itu akan sangat membuatku di anggap tidak bisa berkerja dengan baik. Selain itu aku dan Bekca bukanlah penjahat yang harus melarikan diri.

Aku mengumpulkan semua keberanianku dan mencoba bersikap biasa saja, sepuluh tahun yang kujalani dikehidupan manusia mengajariku banyak hal dan membuatku tidak akan mudah di tindas. Langkah kakiku semakin dekat menuju ke pintu perawatan. Saat perawat yang bersamaku membuka pintu perawatan aroma yang tercium semakin kuat dan membuat kepala ku pusing karena Bekca mulai mengeram gelisah dipikiranku.

Bekca tenanglah!” ujarku berusaha agar Bekca menjadi lebih tenang. Aku mengunci Bekca agar tidak kehilangan kendali dan mengganggu pikiranku. Saat Mary membuka pintu terlihat seorang lelaki yang duduk di sofa yang menghadap ke pintu dengan menyandarkan punggungnya di sofa. Kedua matanya memandang lurus ke depan dan membuat kami langsung bertatapan.

Deg! Langkahku terhenti. Jantungku berpacu dengan cepat saat melihatnya yang juga menatapku, kami bertatapan cukup lama.“Mood Godness takdir seperti apa yang kau rencanakan kepadaku sekarang.” Batin Ashlyn.

Related chapters

DMCA.com Protection Status