Bab 3 Flashback

Bab 3 Flashback

Flashback On

Setelah melakukan pendaftaran ulang yang dilakukan oleh staf tata usaha, aku dan beberapa kawan baruku pun bisa pulang.

Kami bertiga berjalan bersama melewati koridor. Aku berjalan di tengah dua teman baruku. Di sebelah kanan, ada gadis cantik dengan tinggi semampai hingga 165cm. Namanya Bella Farasya, lulusan SMA 2 Cirebon. Ia sudah mulai tinggal di Kost Putri Adinda yang letaknya di belakang kampus dan hanya perlu menggunakan 1 kali jalur angkutan kota.

Berbeda dengan Bella, di samping kirinya ada Fatiya Hanum, gadis kalem yang terlihat menawan saat memakai kerudung lebar berwarna olive. Tinggi Fatiya sama sepertiku, tidak terlalu tinggi, sekitar 154cm. Meskipun begitu, kami tetap percaya diri.

Berbeda denganku dan Bella, rumah Fatiya masih terjangkau dari kampus. Hanya 2 kali jalur angkutan kota, atau sekali naik bus.

"Habis ini mau pada ngapain?" tanya Bella memulai pembicaraan kami sambil berjalan santai.

"Aku habis ini mau ikut kajian ke Masjid Nurul Ilmu." Fatiya memberitahukan agendanya hari ini. "Ada yang mau ikut?"

Aku dan Bella langsung menggeleng. Kami sadar diri tidak pantas pergi ke kajian dengan pakaian terbuka. Benar sekali, aku dan Bella tidak mengenakan hijab. Bahkan hijab sederhana sekalipun tidak kami pakai.

"Ya udah deh. Kapan-kapan ikut ya," ujar Fatiya tanpa beban. Ia tersenyum lembut membuat hatiku merasa dugun-dugun. Maksudku, perasaan nyaman dan tentram.

"Insyaa Allah," jawabku dan Bella berbarengan.

Saat kami melewati ruang pendaftaran ulang untuk jurusan Bisnis dan Manajemen, aku pun dengan sengaja menengok ke dalam melalui pintu yang terbuka. Aku melihat beberapa calon mahasiswa, tapi bukan Reino.

"Nyari siapa?" tanya Bella setelah memperhatikanku beberapa saat.

Aku mendongak menatap Bella yang lebih tinggi dariku lalu menggeleng sambil tersenyum lebar. "Bukan siapa-siapa kok."

"Oh," balas Bella lagi sambil lalu. "Kalau kamu habis ini ada acara juga, Tita?"

Aku berpikir sejenak dan mengingat belum membuka kardus berisi beberapa novel yang kubawa dari rumah ke tempat kost. "Aku belum selesai beres-beres, Bel."

"Ya udah deh kalau pada enggak bisa diajak jalan," Bella terdengar kecewa. "Oh ya nanti kalau ada info dari kampus jangan lupa bagi-bagi ya."

"Oke sip."

Setelah itu, kami pun berjalan menuju pintu gerbang kampus yang sangat megah. Keadaan kampus masih sangat ramai dipenuhi mahasiswa baru dan tentunya mahasiswa senior yang lebih dulu kuliah di sana.

"Aku nyebrang dulu ya," ujar Fatiya buru-buru lalu menyebrangi jalan raya di depannya. Ia pun segera masuk ke dalam angkutan kota tujuannya.

Aku memperhatikan Fatiya hingga gadis itu hanya terlihat punggungnya saja. Tak berapa lama, angkutan kota itu berjalan.

"Fatiya tuh cantik banget ya," ujar Bella mendadak hingga membuatku menoleh. Ucapan Bella memang ada benarnya.

"Kamu juga cantik, Bel." Aku memuji Bella sepenuh hatiku. "Udah cantik, tinggi lagi kayak model."

"Ah kamu bisa aja," balas Bella malu. Ia menoleh dengan gusar ke kanan dan ke kiri mencari angkutan kota yang akan ditumpanginya kemudian tersenyum lebar saat melihat angkot yang dicarinya maju perlahan melewati beberapa kendaraan yang diam di tempat. Jika tidak salah, itu juga angkot yang bisa membawanya ke tempat kost. Astaga, ia masih belum hapal saja.

"Aku juga naik angkot itu, Bel."

"Wah jadi kita searah," balas Bella senang karena tidak jadi pulang sendirian. "Yuk langsung naik aja, biar bisa cepet pulang buat istirahat. Bentar lagi Ospek. Semoga aja enggak ada kejadian buruk kayak jaman aku SMP ya."

"Aamiin, aku juga males banget sebenernya kalo ikut Ospek. Sering enggak kuat. Aku gampang mimisan orangnya," beritahuku.

"Kapan-kapan main lah ke tempat kostku," kata Bella mengubah topik pembicaraan. 

"Kapan-kapan aja, Bell. Kan masih ada banyak waktu. Aku juga harus beres-beres kostan. Deg-degan juga karena ini kali pertama jauh dari orangtua."

"Aku juga baru pertama ngekost tapi ya biasa aja. Lagian di tempat kost kan banyak temennya."

"Gitu ya?" Aku berpikir sejenak dan ingat banyaknya teman kost yang lain. Semuanya remaja putri. Kebanyakan mahasiswi dan anak SMA. Sekitar ada 7 orang.

"Semoga kamu betah ya," ujar Bella sambil memperhatikan laju mobil. "bentar lagi aku mau turun nih," sambungnya.

Benar saja, Bella turun beberapa saat kemudian. Ia pamit lalu turun dari mobil. Setelahnya aku pun kembali melanjutkan perjalananku.

***

Tiba saat Ospek Mahasiswa Baru (Maba), kami hanya diberi penjelasan bahwa dunia mahasiswa bukan seperti dunia anak SMA. Inti dari Ospek di Kampus Adidharma itu sendiri hanya untuk bimbingan mental yang lebih baik bagi seluruh Maba. Sama sekali tidak ada panitia yang bersikap senioritas, berbicara dengan nada tinggi, atau main tangan. Semua terkendali. Ibarat Ospek yang dilakukan adalah seminar kesiapan diri dengan identitas baru sebagai mahasiswa.

Hingga 5 hari dilalui, kami pun berhasil melewati masa Ospek yang santai dan penuh wawasan. Dan mulai awal minggu depan, kami akan mulai sesi perkuliahan.

Baru saja hendak pulang bersama Bella, kami mendengar seseorang memanggilku beberapa kali. Dari suaranya sudah jelas laki-laki. Saat kami menoleh, kulihat sosok laki-laki tidak asing itu. Reino. Ia menghampiriku dengan wajah sumringahnya.

"Tit, untung kita ketemu lagi," kata Reino setelah berada di hadapanku dan Bella.

"Kenapa, Rei?" tanyaku balik sok akrab. Padahal kami hanya selintas pernah jumpa dan mengobrol bersama.

Reino merogoh saku celana panjangnya lalu menyodorkannya padaku. "Aku minta nomer whatsapp kamu ya, Tit."

Aku pun mengambil ponsel Reino lalu mengetik nomer ponselku. "Ini, Rei."

Reino melihat nomer ponselku sebentar lalu menyimpannya. Tak berapa lama ia pun menatapku dengan senyum penuhnya. "Nanti aku chat. Aku pergi dulu ya, masih ada urusan sama temen-temen." Sebelum meninggalkanku dan Bella, kulihat Reino sedikit mengerlingkan matanya kepadaku.

Lengan Bella langsung menyenggolku dengan kuat. Aku nyaris terjungkal namun kembali berdiri dengan tegap. "Siapa tadi? Ciee...."

"Cie cie apaan sih, Bel. Tadi itu namanya Reino anak Jurusan Bisnis dan Manajemen, kita ketemu pas pendaftaran ulang kemaren."

"Kok kayaknya udah deket banget."

"Ah perasaan kamu saja," kataku, menahan.

"Iya deh, nanti aku tunggu pajak jadian kalian ya." Bella masih saja menggodaku. "Tapi bukannya dia mahasiswa yang terus diomongin anak cewek di kelas kita ya, cowok ganteng dari jurusan Bisnis."

"Bukan," elakku.

Bella menyenggol bahuku lagi dengan kuat, tapi tidak mengatakan apapun. Hanya wajahnya yang terlihat penuh makna ke arahku. Kami pun kembali melangkah bersama, untuk pulang.

Flashback Off

****

Bersambung....

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status