Share

Pengantin Tuan Haidar
Pengantin Tuan Haidar
Author: Nyi Ratu

Bab 1. Kabur Di Hari Pernikahan

“Dek, kamu mau nggak bantuin Kakak?” tanya Aisyah yang terlihat cemas setelah membaca pesan dari kekasihnya.

Andin menghampiri sang kakak yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur. Kemudian ia menaruh gaun pengantin itu di tempat tidur kakaknya.

“Ih … Kakak dari tadi nggak dengerin aku?” tanya Andin pada Kakak sepupu yang sudah ia anggap sebagai Kakak kandungnya sendiri sambil mengerucutkan bibir.

Andin, gadis berusia 21 tahun, kulit kuning langsat, hidung mancung, bulu mata yang lentik, manik mata coklat gelap, rambut lurus dan body yang aduhai dari tadi sibuk mencoba gaun pengantin sang kakak.

Aisyah sangat baik terhadap Andin. Ia sangat menyayangi adik sepupunya. Bahkan Aisyah selalu mengakui kesalahan yang diperbuat Andin supaya sang adik tidak kena marah Ayah dan bundanya. 

“Bantu Kakak untuk kabur dari sini!” ucap Aisyah dengan serius.

“Hah! Kakak yang benar aja! Satu jam lagi Kakak bakal nikah.” Andin tersentak saat sang kakak ingin kabur dari pernikahannya.

Sebelumnya Aisyah setuju dengan perjodohan ini karena ia ingin membalas budi kepada Mama dan papanya yang sudah memberikan kasih sayang yang berlimpah. Walaupun ia bukan anak kandung mereka.

“Mas Fadil mau bunuh diri, kalo Kakak nggak datang. Tolong Kakak ya!” ucap sang kakak sambil mengatupkan kedua tangannya. Ia memohon pada adiknya. 

“What?!” teriak Andin. 

Aisyah menutup mulut sang adik dengan telapak tangannya. “Jangan berisik!” 

“Ya udah, Kakak cepetan pergi! Tapi, lewat mana? Nggak mungkin ‘kan lewat pintu depan,” pikir Andin.

Ia tampak berpikir bagaiman caranya membantu sang kakak. “Kakak ganti baju dulu sana! Pake celana ya biar gampang manjatnya!” titah Andin yang membuat kakaknya tersentak. 

“Yang bener aja? Kakak bukan kamu yang suka manjat pohon,” protes Aisyah. Ia tidak bisa membayangkan jika harus loncat dari balkon. 

“Ya udah, kalo gitu lewat depan aja, sekalian pamit sama Papa, Ayah dan juga Papi yang sedang berbahagia karena putri kebanggaan mereka mau menikah.”

Aisyah tampak berpikir. Ia merasa bersalah kalau harus kabur dari pernikahannya, tapi ia juga akan sangat merasa bersalah kalo sang kekasih sampai membuktikan ucapannya untuk bunuh diri. 

“Cepetan putusin! Mau melihat keluarga Kakak bahagia, tapi Kak Fadil mati. Atau mengecewakan keluarga untuk menyelamatkan nyawa Kak Fadil?” tanya Andin pada sang kakak.

“Kenapa nggak ada pilihan yang bagus?” tanya Aisyah. 

“Kak, jangan kelamaan mikirnya! Keburu Kak Fadil modar.” Andin tampak kesal dengan kakaknya. 

“Kamu kasar banget si, Dek.” Aisyah tampak kesal dengan ucapan kasar sang adik, padahal ia sudah terbiasa dengan ucapan Andin yang ceplas-ceplos, tapi kali ini ia kesal karena sang adik berbicara kasar tentang orang yang dicintainya. 

“Iya, iya, maaf. Aku gemes sama Kakak,” ucap Andin, “Cepetan ganti baju Kakak!Aku siapin tali dulu,” titah Andin. Aisyah pun menuruti perintah sang adik. 

Sementara sang kakak berganti pakaian, Andin tampak berpikir bagaimana caranya ia mendapatkan tali. 

“Mbak eh Mas, bantuin dong! Gimana caranya Kakak bisa turun dari balkon.” Andin meminta bantuan kepada sang perias pengantin yang merupakan pria setengah mateng. 

“Panggil eike Inul!” ucap sang perias pengantin dengan manjanya. Ia berbicara sambil melipat tangan kirinya di perut dan tangan kanannya melambai. 

“Ok. Inul tolong bantu aku mencari tali untuk kakakku agar bisa turun dari balkon ini,” pinta Andin pada Inul, sang perias pengantin. 

“Pakarena indang anjas,” kata Inul sambil menujuk tempat tidur. 

“Aduh, kamu ngomong apa sih? Jangan pake bahasa planet! Aku nggak ngerti,” geram Andin pada Inul yang berbicara menggunakan bahasa bangsa pria setengah mateng. 

“Artinya, pake ini aja!” Inul menarik sprei berwarna merah muda yang berumbai. 

“Oke juga ide kamu,” puji Andin pada Inul. Kemudian ia dan Inul mengikat ujung sprei pada pagar balkon. 

“Kurang panjang, Nul. Masih jauh ke tanah, kasian Kakak kalo jatuh,” ujar Andin setelah ia selesai mengikat sprei ke pagar balkon. 

“Adindang lenggang indang, tinta?” ( Ada lagi ini, nggak? ) tanya Inul sambil menunjuk sprei yang udah terikat. 

“Busyet dah, apalagi tuh? Tambah migrain pala gue kalo denger nih cowok setengah mateng ngomong,” ujar Andin sambil memijat pelipisnya. 

Inul tertawa terbahak-bahak dengan suara laki-lakinya. 

“Busyet dah. Mateng bener tuh suara.” Andin terperanjat saat mendengar Inul tertawa dengan suara laki-lakinya. 

Aisyah menghampiri Andin dan Inul di balkon sambil membawa gaun pengantin berwarna putih. Ia sudah berganti pakaian, memakai celana jeans dan kaos oblong berwarna putih. 

“Gimana, Dek, udah siap belum?” tanya Aisyah yang membuat Anin menoleh ke belakang. Sebentar lagi, Kak. Kayaknya kurang deh,” jawab Andin sambil menjatuhkan ujung sprei yang sudah ia ikat. 

“Di lemari Kakak ada sprei satu lagi,” ucap sang kakak. Lalu ia bergegas untuk mengambilnya. 

Ia pun segera memberikan sprei yang ia ambil dari lemari kepada sang perias pengantin. “Ini spreinya, Mbak.” Aisyah menyodorkan sprei pada Inul. 

“Panggil eike Inul,” sahut Inul sambil tersenyum. Kemudian mengambil sprei dari tangan Aisyah dan menyambungnya dengan sprei yang sudah diikat di pagar. 

“Ok,” jawab Aisyah sambil tersenyum. 

“Sutra!” ( sudah )seru Inul sambil tersenyum puas. 

“Aman nggak nih?” tanya Aisyah sambil melihat ke bawah. Lalu ia memberikan gaun pengantin itu pada Andin. 

“Kenapa dikasihin ke aku?” tanya Andin sambil membolak-balikan gaun pengantin sang kakak. 

“Pake aja! Itukan gaun pilihan kamu, yang keteknya ke mana-mana,” sahut Aisyah 

sambil terus melihat ke bawah. 

“Yiuk, sis!” ajak Inul. 

“Ngomong apaan sih, Mbak?” tanya Aisyah yang kebingungan. 

“Ayo, Mbak,” jawab Inul sambil tersenyum.  "Maaf, Mbak, udah permanen soalnya," lanjutnya sambil tertawa manja ala banci. Ia sudah terbiasa berbicara bahasa banci kalau berbicara dengan sesama banci.

“Papa, maafin Kakak,” kata Aisyah sambil menyeka air mata yang menetes di pipinya. 

“Dek, doain Kakak, semoga Kak Fadil nggak kenapa-kenapa!” 

“Iya udah, makanya Kakak cepetan,” suruh Andin pada Kakaknya, “Roy, udah nungguin Kakak di gerbang belakang,” ujar Andin pada sang kakak. 

“Roy? Si berandal itu? Kamu masih pacaran sama dia” tanya Aisyah. Ia tidak suka kalau Andin pacaran dengan Roy. Ia merasa kalau Roy bukan laki-laki yang baik. 

“Iya, tadi aku minta tolong buat nganterin Kakak ke rumah Kak Fadi,” jawab Andin. Ia tahu kalau keluarganya nggak ada yang suka dengan pacarnya, termasuk Aisyah yang selalu membelanya. 

“Aku nggak suka sama Roy,” ujar sang kakak sambil merapatkan giginya. 

“Emangnya siapa yang nyuruh Kakak pacaran sama Roy? Anggap aja dia Bang ojol,” sahut Andin dengan santainya.

“Kakak gimana turunnya?” tanya Aisyah yang kebingungan sambil celingak-celinguk mencari jalan untuk ia turun. 

“Yaelah, lama bener dah,” gerutu Andin, “Kakak, naik ke sini!” geram Andin melihat sang kakak.

“Kalo Kakak jatuh gimana?” Aisyah terlihat sangat gugup sambil meremas-remas jemarinya. 

“Ya mati bareng Kak Fadil,” sahut Andin sewot. Ia gemas dengan sang kakak.

Aisyah memukul tangan adiknya. “Kamu nyumpahin Kakak?!” 

“Bercanda, Kak. Gitu aja sewot,” kilah Andin sambil menyeringai. 

“Kakak gimana naiknya?” Aisyah mencoba menaikkan kakinya ke pagar, tapi diturunkan lagi karena Ia takut jatuh. 

“Kenapa nggak jadi?” tanya Andin yang sudah semakin gemas dengan kakaknya. 

“Kakak takut jatoh,” sahut Aisyah sambil menengok ke bawah. “Kalo jatuh lumayan juga,” ucapnya. 

“Tenang, saya pegangin,” ujar Inul dengan suara laki-lakinya. 

Aisyah yang berada di depan Inul terperanjat mendengar suara tegas seorang laki-laki. Kemudian ia menoleh ke arah belakang. “Astaga! Kaget aku.” Aisyah mengelus dadanya. 

Andin tertawa melihat kakaknya yang terkejut gara-gara suara asli Inul. 

“Maaf, Sis,” ucap Inul, kembali ke suara bencongnya. 

“Iya, nggak apa-apa,” jawab Aisyah sembari tersnyum. 

Aisyah nekat turun dibantu Andin dan Inul. Walaupun takut, tapi ia memberanikan diri demi sang kekasih. 

Akhirnya, berhasil juga,” ucap Andin, setelah Aisyah berhasil turun dari balkon. Gadis seksi itu melangkahkan kaki menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di kasur sambil memegangi gaun pengantin sang kakak. 

“Kak, udah siap belum?” teriak sang mama sambil mengetuk pintu kamar pengantin. 

***

Selamat datang di novel terbaruku. Salam kenal semuanya! Ini merupakan sekuel dari My Absurd Wife. Follow Instagramku nyi.ratu_gesrek jika kalian kepo dengan My Absurd wife. My Readers! Mana nih suaranya? Andin si pewaris kegesrekkan telah kembali.

Comments (8)
goodnovel comment avatar
Mistah Mistahbiin
ngakakk hahahhaa
goodnovel comment avatar
Fadlan Anggita
kont0l kau bab1 anj1nk
goodnovel comment avatar
Sarman
bagus buanget
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status