Satu Rou Musnah

The Magic of Friddenlux

Episode 5

"Hasablaha hasabalassaba habsakam," ucapan yang terdengar dari seorang pengusir hantu yang dipanggil oleh Andrew.

Pengusir hantu itu pengucapi kalimat aneh di dekat jendela ruang tamu, tempat zombie itu muncul. Setelah membacakan kalimat aneh, pengusir hantu itu menyiprati jendela dengan air dan dedaunan.

Setelah itu si pengusir hantu menyiprati sekeliling lorong dari ruang tamu menuju kamar Audrey. Dengan pakaian aneh yang dilengkapi dengan kalung tasbih dengan mata kalungnya adalah bawang putih.

Audrey dan Andrew mengikutinya dari belakang. Tapi mereka mengeluarkan ekspresi aneh. Serasa mereka setengah hati percaya dengan pengusir hantu itu.

Sekarang mereka berada di kamar Audrey. Hal yang sama masih dilakukan oleh pengusir hantu itu. Andrew mengatakan bahwa ia sudah menghubungi pengusir hantu yang bersertifikat. Tapi yang bersertifikat saja tidak meyakinkan, bagaimana yang amatiran.

Setelah meyiprati kamar Audrey, pengusir hantu itu pergi ke halaman. Lalu ia menyiprati sekeliling dinding rumah. Setelah puas menyiprati rumah dan sekelilingnya. Kini pengusir hantu itu menyiprati Audrey dan Andrew dari atas sampai bawah.

Pekerjaan pengusir hantu itu pun selesai. Ia meminta bayaran dua kali lipat. Dengan alasannya bahwa rumah mereka terlalu besar, sehingga energi yang ia keluarkan untuk mengusir hantu itu juga besar.

Tapi Audrey dan Andrew langsung membayarnya. Mereka ingin pengusir hantu itu cepat pergi dari rumah mereka. Jadi itu seperti pengusir hantu yang terusir.

"Tidak kusangka pengundang pengusir hantu itu ide yang buruk," kata Audrey sambil menutup matanya dengan telapak tangannya.

"Aku juga. Rasanya sangat menyesal, ditambah dia meminta bayaran 2 kali lipat lagi," sambung Andrew.

"Tapi masih untung dia hanya menyiprati rumah kita. Aku lihat di internet, ada yang sampai melempari rumahnya dengan telur busuk," ujar Audrey.

Jarum jam telah menunjukkan waktu 10.00am. Waktunya bagi Audrey untuk melakukan wawancara kerja. Walaupun itu hanya kerja paruh waktu. Tapi tetap saja ia harus melakukannya secara professional.

"Andrew aku akan pergi wawancara kerja. Jika aku berhasil, aku akan pulang jam 11.00pm. Doakan aku ya," kata Audrey sambil memakai sepatunya.

"Audrey, aku rasa, aku akan kembali latihan kick boxing. Aku merasa kesal pada zombie itu yang berusaha melukai kita 2 kali," ujar Andrew yang terlihat kesal.

"Lakukanlah, jika itu hal yang positif maka lakukan lah," kata Audrey sambil melambaikan tangan.

Kini Audrey telah pergi meninggalkan rumah. Ini pertama kalinya Audrey bekerja paruh waktu. Karena dari dulu Audrey dan Andrew selalu mendapatkan apapun dengan mudah.

Walaupun mereka dibesarkan dengan nenek mereka. Tapi kebutuhan mereka selalu terpenuh. Hal itu dikarenakan nenek mereka adalah orang kaya dan juga orang penting di Remeny.

Setibanya di Nail's Cafe and Coffe. Audrey langsung melakukan wawancara kerja. Karena hanya menjadi kasir di kafe, kandidat yang melamar hanya sedikit. Sehingga saingan Audrey pun juga tidak banyak.

Hasil dari wawancaranya adalah Audrey yang terpilih sebagai kasir di Nail's Cafe and  Coffe. Alasannya karena Audrey pandai dalam hitungan. Ia juga memiliki wajah yang menarik, rambut biru gelap yang berkilau dan tatapan yang tajam.

Menurut owner dari Nail's Cafe and Coffe, Audrey memiliki daya tariknya tersendiri sehingga membuat orang lain tidak berpaling darinya. Hal ini bisa jadi pengait untuk mendatangkan pengunjung yang banyak.

Karena sudah di terima, Audrey pun langsung berganti kostum. Ia memakai seragam dan topi khas Nail's Cafe and Coffe. Dan mulai hari ini ia akan bekerja disini.

Audrey mengawali hari bekerja dengan penuh semangat. Banyak pelanggan yang berdatangan menjadi terhibur oleh senyuman Audrey. 

"Wah wah. Lihat siapa ini. Audrey Jo, setelah neneknya meninggal, ia jadi jatuh miskin sampai harus menjadi kasir kafe haha," tawa seorang wanita yang kenal dengan Audrey.

"Owh hai Rachel, ku harap kau suka dengan penampilan baruku," kata Audrey dengan tatapan datar dan hampa.

"Iya kuharap juga begitu. Tunggu sampai Rebecca tau, pasti dia akan jauh lebih suka," ujar Rachel.

"Oke bisa ku tulis pesananmu sekarang juga."

Rachel adalah sahabat Rebecca. Mereka selalu bersama disetiap waktu. Mereka selalu mendukung satu sama lain dalam hal pembullyan kepada Audrey.

Hingga kafe tutup, Rachel tidak mengganggu Audrey. Entah apa alasannya tapi jika Rachel mengganggu Audrey. Maka ia akan melawan, karena kafe bukan termasuk kawasan sekolah.

Jika di kawasan sekolah, berita pembullyan kepada Audrey bisa sampai terdengar ke telinga Bu Urshey, bisa-bisa uang bulanan Audrey dan Andrew tidak akan diberikan.

Walaupun Audrey tidak tahu, apakah Bu Urshey akan membelanya atau tidak jika ia mengadu. Tapi Audrey menganggapnya Bu Urshey tidak akan membela. Hal itu dikarenakan Rebecca adalah putri dari kepala departemen sosial Remeny sekarang. 

Karena itu yang membuat Rebecca hanya melakukan pembullyan pada Audrey. Ia merasa bahwa Audrey itu hanya orang yang tak berguna. Ia hanya beruntung karena merupakan cucu dari Nyonya Ashley, ketua departemen sosial terbaik sepanjang masa.

"Audrey terimakasih telah bekerja baik di hari pertama. Saya harap kau selalu seperti itu. Kamu boleh pulang dulu, saya mau mengunci pintu," kata owner Nail's Cafe and Coffe, Nail.

Audrey pun berganti pakaian dan keluar dari kafe. Sebentar lagi larut malam, jelas jalanan sudah menjadi sepi. Tapi tak jarang juga orang yang masih keluar.

Kini Audrey berjalan menuju rumahnya. Saat melewati depan gang yang gelap dan sempit. Tiba-tiba Audrey merasa ada yang tengah bernafas di telinganya.

Kyaaa..

Teriak Audrey yang melengking. Kali ini zombie itu datang lagi. Dia mulai mendekati Audrey dengan langkah yang sempoyongan. Tapi ada yang aneh, zombie yang kali ini menyerang Audrey, berbeda dengan zombie yang menyerang Audrey sebelumnya.

Titt...

Tiba-tiba Andrew datang menggunakan sepeda motor dan langsung menabrak zombie itu, hingga membuat zombie itu terpental ke tong sampah besar di gang itu.

"Audrey!" teriak Andrew.

Kemudian Audrey langsung naik ke sepeda motor Andrew. Dan mereka pun langsung pergi dari tempat itu. Setelah keluar gang, di atas motor Andrew memberikan helm Audrey.

Andrew pun langsung menarik gas dengan sekencang-kencangnya. Agar mereka bisa selamat dari zombie yang menyerang.

Beberapa saat kemudian di tempat kejadian tadi. Zombie yang berhasil di tabrak oleh Andrew bangun. Ia berhasil berdiri seolah tidak terkena apa-apa. Lalu ia mulai menggoyangkan kepalanya seolah sedang mencaru jejak Audrey dan Andrew.

Tidak lama kemudian, Xavier dan Julian sampai di gang itu. Kedatangan mereka membuat zombie itu bingung. Karena mereka bukan target yang di cari zombie itu.

"Monster Rou, disini kau rupanya!" seru Julian.

"Berani-beraninya kau muncul di tempat manusia," sambung Xavier.

"Dimana portal penghubung kalian!" seru Julian sambil melotot.

Tapi zombie itu tidak mendengarkannya. Ia malah maju ke depan melewati Julian menuju Xavier. Dengan tangan yang terangkat zombie itu seperti ingin menyentuh Xavier.

Xavier membiarkan zombie itu mendekatinya. Ia bahkan membiarkan zombie itu menyentuh kepalanya. Dan zombie itu mulai membuka mulur seolah akan memakan Xavier.

Tapi tiba-tiba saja dua buah tongkat besi yang ada di sebelah tong sampah bergerak. Tongkat besi itu langsung melayang dan menusuk tepat di jantung zombie itu.

Seketika itu juga zombie itu menjadi butiran debu. Menghilang tanpa jejak dan hanya menyisakan tongkat besi yang tadi menusuknya.

"Ternyata mereka masih menciptakan monster yang bodoh," kata Xavier sambil menepis pundaknya.

"Kau yang bodoh! Seharusnya kita gunakan dia untuk melacak portal penghubung itu, kenapa kau musnahkan dia?" tanya Julian yang marah.

"Dia menyentuhku. Aku tidak tahan dengan tangan kotor nya itu," jawab Xavier.

"Kau kan pengendali gerak gravitasi, seharusnya kau pindahkan saja dia atau buat dia tidak bergerak. Bukan malah menusuk dia bodoh!" ujar Julian yang melotot.

"Tata krama kau mulai memudar ya Julian," ucap Xavier sambil berjalan keluar dari gang.

"Tidak ada peraturan aku harus menjaga tata krama kerajaan di dunia manusia. Jadi aku tidak akan memanggilmu pangeran disini," balas Julian sambil mengikuti Xavier pergi dari gang itu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status