Cari Kerja

"Sil, Silvi," samar-samar ada suara yang memanggil namaku. "Bangun!" lanjutnya. Akupun mengerjap sambil mengucek mata.

"Iyah, ada apa?" sahutku, rupanya aku ketiduran di dalam mobil, aku sangat letih semalaman tak bisa tidur, karena memikirkan aku akan pergi meninggalkan Ibu dan Adik-adik ku, sehingga mataku terjaga sepanjang malam.

"Silvi, kita udah sampai, ayo turun!" ucap Nabila seraya membuka pintu mobil sampingnya, dia pun keluar, sementara Mas Andri dan Mbak Karina sudah turun dan masuk duluan ke dalam rumah.

"Oh, kita udah sampai ya?" tanya ku pada Nabila, nyawaku belum sepenuhnya sadar, efek tidur yang nanggung cuma beberapa menit, akupun turun mengikuti dia dari belakang, sambil menggendong tas ransel ku.

Rumah minimalis dinding tembok warna abu-abu, rumah mungil sederhana namun sangat nyaman, ku berpijak di jalan konblok halaman rumah ini, kanan dan kiri jalan yang kupijak tanaman hias yang hijau nan indah sehingga menghadirkan nuansa asri.

"Silvi, Kok kamu malah bengong? Ayo masuk!" ajak Nabila menggamit tangan ku.

"I,iya, Ma'af aku melamun."

"Huh, kamu, melamun... aja kerjanya, mikirin apa sih?"

"Gak mikirin apa-apa, aku_ Cuma malu,"

"Ngapain malu sih! Gak usah sungkan! Anggap aja ini rumah sendiri!" Nabila menarik tanganku ke dalam kamar yang letak temboknya terhubung dengan ruang tengah.

"Ini, kamar mu Nab," tanya ku, menatap sekeliling, lalu meletakan tas ransel di bawah lantai dekat tempat tidur, tas yang sudah agak sedikit sobek resleting nya pun sudah hilang, ku sematkan peniti untuk merekatkan resleting nya.

"Iya, kamu istirahat aja dulu! Aku mau mandi, gerah," ucap Nabila seraya mengambil handuk yang terpaut di kapstok balik pintu kamarnya.

"He'em, aku mau rebahan ya! lelah banget Nab."

Aku menjatuhkan tubuh di atas tempat tidur yang empuk, jauh berbeda dengan kasur yang ada di kamar rumah ku, hanya kasur kapuk yang sudah mengeras, dan empuk kembali ketika sehabis di jemur itu juga tak bertahan lama. Kamar ini cukup nyaman lemari pakaian ada dua, satu lemari plastik, dan satu lemari kayu 3 pintu dengan cermin besar pada setiap pintunya.

Meja rias minimalis di dekat tempat tidur yang penuh dengan alat make-up dari bedak parfum juga lain-lainya. Aku tak memiliki semua itu, untuk urusan make up aku hanya menggunakan bedak tabur sachet-an, lipstik ku, lipstik Arab pemberian Bu haji waktu dia baru pulang umroh, bulan lalu.

Hah, hidup ku memang menyedihkan, serba kekurangan dan serba tak ada, baju yang aku kenakan pun ini termasuk baju yang paling agak masih bagus yang aku miliki, celana jeans pensil pilox musim beberapa tahun lalu, dan kaos hitam ku ini yang aku pakai juga dapat kredit cicilan 7 ribu perminggu, malah baru lunas Minggu lalu meskipun bajunya sudah tak baru lagi.

"Silvi," panggilan dari depan pintu kamar, seperti suara Mbak Karina. Aku pun bangkit dan berjalan setengah berlari menuju pintu dan membukanya.

"Ada apa Mbak?" tanya ku dari ambang pintu.

"Makan siang dulu yuk! Ini udah jam 1 siang loh,"

"Nanti, aku mau mandi dulu, nungguin Nabila belum selesai mandinya," jawabku.

"Oh gitu, ya udah kalau kamu sudah beres mandi, segera ke dapur ya! Kita makan bareng! Mbak baru beres masak,"

"Iya Mbak, nanti aku ke sana! Nyusul bareng Nabila,"

"Ya udah kalau gitu, Mbak mau kupasin buah  dulu, sekalian nunggu kalian!" jawab Mbak Karina sambil berlalu ke ruang dapur letaknya berseberangan dengan kamar yang aku singgahi, tembok ruang tengah jadi penghubung antara kamar dan dapur.

"Silvi," panggil Nabila yang baru habis mandi wajahnya cerah dan segar, Karena habis keramas rambutnya pun masih di gulung dengan handuk yang di letakan di kepala.

"Nab, tadi Mbak kamu kesini, ngajak kita makan!"

"Ya udah cepetan, kamu mandi sana! Lalu kita makan, aku udah laper, sambil nungguin kamu, aku Dan-dan dulu,"

"Iya, tapi Nab, aku gak bawa perlengkapan mandi,"

"Tar ya." Nabila duduk di kursi meja rias sambil membuka laci dia mengambil sesuatu dari dalam. "Silvi, ni sikat giginya! Odol pake yang ada di kamar mandi aja, sabun juga sama, pake aja yang ada!" sambung Nabila.

"Makasih ya Nab." Aku mengambil barang yang di berikan oleh sahabatku ini, si gadis bertubuh bongsor itu mengenakan dress motif mawar lengan pendek.

"Yah, kamu, Gak usah kebanyakan terimakasih! Kaya sama orang asing aja," sergah Nabila. Aku pun keluar dari kamarnya menuju kamar mandi yang berada di dapur letaknya, di samping kiri dapur 2 meter dari meja makan.

Aku masuk ke kamar mandi dan membuka seluruh pakaianku, kusiram tubuh tinggi dan kurus ini, namun kata orang ukuran tubuhku ini sangat ideal, tinggi badan ku 160 cm berat badan ku 50, ku tuang kan shampo ke telapak tangan dan ku usap-usapkan ke rambut panjang ku.

Segar menjalari seluruh tubuh ini, setelah merasa cukup bersih aku pun keluar kamar mandi dengan mengenakan kaos putih polos lengan sebahu, juga bawahan rok semi payung bekas ibu muda dulu.

"Mbak," panggil ku pada Mbak Karina perempuan bertubuh sama bongsor nya seperti Nabila, dia sedang mengupas buah di wastafel dapur lalu mencucinya.

"Iya," sahutnya seraya menoleh seketika. "Sil, seger amat kayanya, ya udah sana gih panggil Nabila!" titahnya.

"Dia tadi lagi Dan-dan, katanya tadi mau nyusul, mungkin sebentar lagi dia kesini," jelasku sambil mendekati Mbak Karina.

"Owh." Mbak Karina membulatkan bibirnya. "Si Nabila tuh, kalau Dan-dan lama, bukan untuk di tungguin, kaya artis mau konser aja," ucap Mbak Karina.

 "Mbak, biar aku bantu ngupasin buahnya!"

"Boleh!"

 Aku mengambil pisau dari dekat wastafel, dan mengupas buah mangga gedong yang matang sepertinya sangat manis, dari tekstur dan aromanya yang harum.

"Sil, Mbak mau ngomong, tapi kamu jangan kecewa ya!"

"Ngomong aja Mbak!"

Mbak Karina menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, ku lihat dia menggigit bibirnya seperti nya dia ingin mengatakan sesuatu, namun dia sangat ragu,

 "Gini Sil_" Mbak Karina menggantung ucapannya.

"Apa Mbak?" tanya ku sedikit mendesak.

Mbak Karina menaruh pisau juga buah di wastafel, pandangannya lurus ke bawah.

"Sil, Di cafe Mbak gak ada lowongan, kata manager cafe, soalnya karyawan yang kemaren mau ngundurin diri, dia gak jadi, katanya masih butuh pekerja'an," ucapnya dengan suara berat dan ragu.

Deg.

Hatiku agak kecewa mendengarnya, terus aku mau kerja apa? Jika di cafe milik Mbak Karina tak ada lowongan, aku akan kerja di mana? tak mungkin aku kembali lagi ke kampung, sementara aku sudah berjanji pada Ibu dan Adik-adiku, aku akan membahagiakan mereka.

"Mbak, terus aku gimana dong, masa aku pulang lagi ke kampung?" tanya ku dengan suara rendah ku taruh pisau di bibir wastafel, buah ku letakkan di keranjang.

"Sil, bukan berarti kamu gak bisa kerja." Mbak Karina memegang tangan seraya menatap mataku. "Tapi, kamu bekerja di cafe teman Mbak, lokasinya lumayan jauh dari sini, kamu mau gak?" Mbak Karina sepertinya sangat ragu padaku.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskan nya perlahan. "Gak apa-apa Mbak, asalkan aku dapat kerja'an, di mana pun, kapan pun aku bersedia! terus kapan mulai kerjanya?"

Mbak Karina menarik nafas lega sambil mengulas senyuman. "Silvi, besok aja ya, mulai kerjanya, sekarang kan kamu pasti capek, baru tiba disini, besok Mas Andi dan Mbak antarkan kamu kesana! Sekalian Mbak mau titipin kamu sama temen Mbak,"

"Oh, makasih ya Mbak, Ma'af aku udah merepotkan Mbak!" Aku menoleh menatap nya dengan penuh rasa syukur karena Mbak Karina tidak lepas tanggung jawab, hati ku sedikit lega mendengar penjelasan dia. Akhirnya aku bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan, kami pun melanjutkan mengupas dan memotong buah.

"Hai, kalian lagi ngobrolin apa sih? Serius amat?" tanya Nabila kedatangannya mengejutkan kami, membuat kami menoleh serentak ke arahnya, lalu dia duduk di kursi meja makan.

"Ah, kepo," sanggah Mbak Karina sambil menuntaskan mencuci buah dan memasukkan nya ke dalam keranjang yang di alasi bak kecil.

"Ih, aku pengen tau lah, apa yang kalian bicarakan! Siapa tau ngomongin aku," tukas Nabila.

"Gak usah dengerin dia! Yuk, Sil, kita makan siang dulu!" ajak Mbak Karina, menepuk bahu ku, lalu kami pun duduk di kursi gabung dengan Nabila, tak lama Mas Andri pun datang dan duduk bersama kami, makan siang pun di mulai.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status