Chapter 3: Manusia (2)

Rombongan Bus Pariwisata bergerak dari arah Ibu Kota menuju Pantai Pangandaran, Jawa Barat. Terdapat poster besar yang ditempel pada kedua sisi bus, bertuliskan SMA N 1 MAMETI. Setiap bus diberi nomor sesuai urutan dari kelas 11-A sampai 11-F. Kebanyakan siswa masih terlelap, hanya bus dari kelas 11-F saja yang terdengar bising. Kebisingan tersebut berasal dari beberapa siswa dan siswi di kursi belakang. Mereka menyanyikan banyak lagu dengan irama acakadut, tak berseni sama sekali.

“Arghh! Ara! Kuping lo gak sakit apa? Ih, diem mulu!” protes Yuliana Latifa, teman sebangku Zaara Yulanda—Ara merupakan nama panggilan akrabnya. Yulia menarik-narik lengan Ara memaksanya bangkit dari duduk.

“Apaan, sih, Yul? Ganggu tauk!” Remaja dengan rambut panjang bergelombang itu melepaskan earphone-nya. Ia menatap sebal temannya yang berambut sebahu dan ikal. Saat itu, gendang telinga seketika sakit lagi berdengung. Telapak tangan auto menempel di kuping. “Aduh! Mereka ngapain, sih?” tanya Ara, suaranya teredam nyanyian para murid bengal di belakang.

“Kan! Lo denger musik mulu, sih. Jadi gak peka sama sekitar!” pekik Yulia, suaranya ditinggikan agar terdengar jelas, “sekarang lo harus buat mereka diem, Ara! Lo ‘kan wakil ketua!”

“Males. Itu tugasnya Randa, ketua kelas kita,” tukas Ara acuh tak acuh.

“Tapi ‘kan, Randa gak ikut, Ara!”

“Bodo!”

Belum sempat bersandar pada jendela kaca bus, Ara sudah di tarik paksa oleh Yulia. Sesaat setelahnya bus berhenti karena lampu merah. “Aduduh ....” Badannya oleng bersamaan dengan tangan yang mencengkeram sandaran kursi, hampir jatuh.

Kali ini, Ara sungguhan berdiri di tengah-tengah bus. Semua murid kelas 11-F menatapnya heran, bahkan ada yang memberikan pandangan sinis. “Udah, sana. Lo pasti bisa. Semangat, Ara ...,” bisik Yulia dari balik kursi biru berbunga.

Butiran keringat mendadak muncul di pelipis perlahan mengalir ke pipinya. Ara melangkah maju sambil memasukan ponsel dan earphone ke dalam saku jaket biru-putih—jaket khusus kegiatan sekolah. Dagunya sedikit terangkat dan menatap lurus pada Lalisa, seorang siswi berbadan bagus dan berpakaian modis, bahkan jaket yang seharusnya longgar berubah ketat saat digunakan oleh Lalisa.

“Eh, Arara. Ada apa, nih? Mau ikut nyanyi bareng?” goda seorang siswa laki-laki, duduk di sebelah Lalisa. Ganteng, tapi masih gantengan Randa, pikir Ara.

Di sisi lain, ada siswa laki-laki yang mengapit Lalisa juga. Sementara pada kursi sebelah kanan dan kiri, terdapat murid laki-laki dan perempuan bersatu padu. Yah, bunga sekolah pasti banyak temannya, pikir Ara lagi.

Sementara Lalisa, memberikan tatapan tak suka pada Ara, meski bibir merah merekahnya masih bisa tersenyum manis. “Mau apa lo, Ra? Mau ikut nyanyi juga?” tanyanya sambil memilin rambut tebal yang diwarnai dengan tangan terlipat di dada.

Ara menggeleng cepat, kemudian tersenyum kikuk. “Enggak, Lis. Maaf, gue gak sengaja kedorong tadi, ehehe. Gue balik, ya.”

Yulia yang sedari awal meliput gelagat teman sebangkunya, pengin langsung mengasingkan diri ke kutub utara saja. Padahal langkah Ara sudah mantap ditambah sorot matanya yang oke. Bukannya memarahi mereka malah mundur. Ibarat kelomang[1] tersentuh cangkangnya, saking takut sampai mundur duluan dan cari aman.

“Ara Ara, malunya gue punya temen kayak lo!”

“Diem, ah! Mending lo denger musik juga kayak gue. Biar gak keganggu mereka-mereka.” Ara kembali pada kursinya lalu bersandar lagi di jendela kaca. Melamun.

Yulia menepuk jidat, lagi-lagi Ara masuk ke dalam mode privasinya. Ara bukanlah teman yang sudah lama Yulia kenal, tapi dia tahu temannya yang satu ini memang agak unik. Bahkan ia heran, mengapa Randa menyukai Ara. Orang cuek dan penakut begini, enggak singkron satu sama lain sifatnya. Aneh. Kalau dipikir-pikir Yulia juga ngerasa gila, bisa-bisanya dekat dengan manusia semacam Zaara Yulanda.

Selepas membaca WhatsApp dari Randa yang menanyakan kabar Ara, Yulia berkata untuk memancing kepekaan temannya, “Kalau ada Randa, pasti pada diem. Enggak kayak sekarang, jadi seenaknya gini. Gimana kabar pacar lo itu, Ara?”

“Udah, Yul. Biarin Randa istirahat, kasian ‘kan kalau gue ganggu-ganggu mulu,” balas Ara tanpa memandang Yulia sama sekali.

Tuh, kan! Kalau temannya yang lain pasti langsung cek WhatsApp , terus balas chat dari pacarannya, lah ini anak malah bilang begitu. “Eh! Ara! Gue bilang gini biar lo inget! Kalau pacar lo itu sakit! Kasih kabar atau apa, kek, gitu. Ini Randa dari tadi WA-in gue mulu nanyain lo!”

Ara menoleh. “Ah, serius?” Lalu segera mengecek ponselnya. Tahu-tahu mobil bus berjalan begitu saja. Mengakibatkan kepala Ara berbenturan dengan sandaran kursi. “Aduh!”

“Haha, rasain. Kualat! Itu akibatnya karena lo cuek bebek banget sama Randa!”

Zaara sekadar meniup poninya, tidak membalas cacian Yulia. Ia kembali pada posisi semula, segera mengetik pesan balasan untuk Randa. “Udah, ya. Nih, liat!” seru Ara memperlihatkan chat yang sudah bertanda centang dua, tanda centang itu langsung berubah biru. Balasan dari Randa muncul.

Za, aku angen thau. Camu gak angen aku emang? [Za, aku kangen tahu. Kamu gak kangen aku emang?]

Yulia membulatkan mata, menganga tak percaya. “OMG. Itu ... beneran chat dari Randa?”

Alis Ara berkedut, menarik ponselnya lalu melihat chat yang baru sampai. Guratan merah padam muncul pada wajah putih langsatnya. Rasanya udara menjadi sedikit panas, padahal AC masih menyala.

“Ini emang Randa, kok. Itu makanya gue males bales chat-nya. Bukan karena gue gak suka orangnya, tapi gue gak suka cara dia nge-chat gue gini.” Ara mendengus sebal, mengetik balasan dengan penuh emosi.

Yulia ketara sekali sedang menahan tawa. Ternyata ekspektasinya tentang Randa, salah. Randa bagian dari anak alay juga ternyata.

***

Bus Pariwisata bertuliskan ‘SMA N 1 MAMETI: 11-IPS-F’ terparkir dengan aman sentosa, setelah beberapa menit beradu argumen dengan seorang wisatawan mancanegara. Untung ada Pak Amar yang jago bahasa Inggris. Alamat kalau tak ada Pak Amar, bisa berjam-jam bus kelas 11-F tidak diparkir-parkir.

Semua murid berhambur keluar, membawa tas masing-masing dan mengosongkan bus. Ada yang lewat pintu belakang, gerombolan Lalisa dan kawanannya. Adapun yang menggunakan pintu depan, termasuk Zaara dan Yuliana. Mereka segera berbaris dan menerima pengarahan dari Wali Kelas 11-F, yaitu Bapak Amar Dani Listianto.

“Liburan kali ini, bukan untuk bersenang-senang saja. Melainkan, liburan sambil belajar. Ada yang masih ingat tujuan kita ke Pangandaran untuk apa?” tanya Pak Amar.

“Menguak Misteri Cagar Alam Pangandaran, Pak!” Seorang murid ranking satu di kelas mengangkat tangan tinggi-tinggi, menyebutkan judul materi pada catatannya.

Sementara Ara, terlihat membalas beberapa pesan chat dari WhatsApp mau pun sosial media lainnya. Yulia sampai harus menuntun Ara berbaris dengan rapi. Dari awal sampai akhir Ara tidak mendengarkan. Terlarut dalam ruangnya sendiri.

“Dek Zaara Yulanda. Saya ada di sini loh, bukan di dalam HP,” panggil pemandu wisata laki-laki, dengan tersenyum ramah.

Seketika gelak tawa teman-teman terdengar membahana, membuat tangannya terkesiap hampir menjatuhkan ponsel. Dengan wajah memerah dan tertunduk, Zaara segera memasukan ponselnya pada saku jaket.

“Kenapa lo gak bilang kalau kakak itu liatin gue?” bisik-bisik Ara sambil menyenggol lengan Yulia.

“Gue udah bilang. Lo aja yang keasikan main HP.

“Lain kali cubit gue aja sekalian biar—Awww!”

Teriakan Zaara langsung mengundang perhatian. Semua mata tertuju padanya, termasuk Pak Amar dan pemandu wisata itu. Ara menutup mulutnya rapat-rapat, sementara Yulia cengengesan, karena berhasil mengerjai Ara dengan mencubit pinggangnya.

“Dek Zaara, ada apa?” tanya pemandu wisata masih dengan wajah yang dibingkai ramah.

Bersambung... 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status