The First and Only One
The First and Only One
Author: Asihdias
1. Penolakan dan Harapan




"Tidak Ma. Aku tidak ingin dijodohkan. Aku akan menikah dengan orang yang aku cintai." Pria tampan bermata serupa mata elang itu menghela napas lelah. "Aku pergi. Aku lelah dengan pembicaraan ini," lanjutnya lalu beranjak pergi meninggalkan sang ibu.

"Mama belum selesai bicara. Dimas kembali!" teriak Sarah tapi Dimas tidak mengacuhkannya. Ia cukup lelah dengan sikap ibunya yang selalu memaksanya untuk menikah dengan gadis yang menurut ibunya baik. Bukan berarti pilihan ibunya buruk atau tidak sesuai dengan keinginannya. Hanya saja sudah beberapa kali menuruti ibunya untuk mengenal dan bertemu dengan mereka, tapi tidak satu pun di antara mereka yang bisa membuat hatinya bergetar. Tidak satu pun di antara mereka yang membuatnya merasa nyaman.

Sikap yang mereka tunjukkan padanya itu benar-benar membuatnya muak. Sikap mereka terlalu dibuat-buat, tidak ada satu pun yang tulus. Mengingatnya saja sudah membuatnya mual. Ia mendesah lelah.

Apa salah jika ia ingin menikah dengan orang yang dicintainya? Apa salah ia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan orang yang dicintainya dan mencintainya? Ia tidak ingin gegabah dalam memilih pasangan.

Sering kali ia melihat teman dan rekan bisnisnya yang menikah karena perjodohan berakhir tragis. Entah itu perselingkuhan ataupun perceraian. Ia tidak ingin mengalami itu semua. Hah! Andai ia memiliki kekasih yang dicintai dan mencintainya, pasti ia tak akan berpikir dua kali untuk membawa kekasihnya itu ke hadapan ayah dan ibunya. Kenyataannya, ia belum menemukan sosok itu. Sosok yang mampu membuatnya nyaman dan menggetarkan hatinya. Ia harap, ia akan menemukan sosok itu suatu hari nanti. Iya suatu hari nanti.

***

"Paman!"

Teriakan itu membuat beberapa orang di ladang itu menoleh. Mereka tersenyum dan menggelengkan kepala mereka melihat sikap gadis cantik yang berlari kecil ke arah mereka itu. Senyum tak lepas dari wajah cantiknya. Wajah semringahnya sangat terlihat jelas dari binar matanya. Mereka benar-benar terhibur dengan sikap gadis cantik itu. Hidup mereka lebih berwarna sejak kedatangan gadis cantik itu di tengah-tengah mereka tiga tahun yang lalu.

"Paman lihat! Hasil panen kita bulan ini meningkat," ujarnya dengan penuh semangat. Ia menunjukkan beberapa sayuran dalam wadah yang dibawanya.

Orang-orang di sekelilingnya melihat wadah itu dan terkekeh setelahnya, "Rea! Sayuran di wadah ini tidak bisa menunjukkan hasil kita bulan ini meningkat."

Rea atau lengkapnya Andrea, si gadis cantik mengembungkan pipinya, sebal. "Bukan ini maksudku, Paman, tapi itu," katanya sambil menunjuk beberapa wadah yang penuh dengan berbagai jenis sayuran dan buah. Semua orang mengikuti arah yang ditunjuk Rea. Mereka terdiam melihat jumlah sayuran dan buah itu.

"Benar, 'kan? Hasil panen bulan ini meningkat?"

Mendengar perkataan Andrea membuat orang-orang itu tersadar. Astaga! Gadis cantik ini benar-benar pintar mengerjai dan membuat mereka kehabisan kata-kata.

"Ayo cepat selesaikan ini agar kita bisa pulang lebih awal," ujarnya. "Dan aku akan memasakkan makanan untuk paman dan bibi sekalian, spesial buatan Rea," lanjutnya yang disetujui oleh orang-orang yang ada di ladang itu, 'Semoga kau tetap tersenyum dan bahagia seperti ini, Rea,' batin mereka.

***

Revan mengernyit saat melihat Dimas sahabatnya berwajah lesu. Pria tampan itu juga mendengar beberapa kali desah lelah dari sahabatnya, seperti sedang menghadapi masalah yang sangat besar.

Revan menempelkan minuman dingin di pipi sahabatnya yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri. "Ada apa, hm? Apa yang sedang kau pikirkan sampai wajahmu seperti mayat hidup?" tanyanya setelah Dimas sadar kalau dirinya ada di ruangan yang sama. "Apa masalah dengan tante Sarah lagi?"

Dimas menghela napas, "Kau selalu tahu apa yang menjadi masalahku, Van."

Revan terkekeh dan mengangguk. Memang benar ia selalu tahu apa yang menjadi masalah sahabatnya. Dimas selalu menjadikan permintaan ibunya adalah sebuah masalah. Sedikit tidaknya ia tahu dan mengerti apa yang menjadi pikiran Dimas, karena ia pun mengalaminya. Namun, ia lebih beruntung karena ibu dan ayahnya tidak memaksanya. Mereka hanya memintanya untuk mengenal beberapa orang tapi keputusan tetap ada pada dirinya. Berbeda dengan Dimas yang setiap saat mendapat tekanan dari sang ibu.

"Kalau aku jadi dirimu, aku akan menerimanya."

"Lalu bagaimana denganmu, huh? Kau juga sama bukan? Selalu menolak wanìta yang dikenalkan orang tuamu."

Revan kembali terkekeh mendengar sindiran Dimas. Ia tidak menampik akan hal itu karena yang dikatakan Dimas benar adanya. "Ya ... ya ... ya ... aku akui itu, tapi aku tetap berusaha mengenal mereka," sanggah Revan yang membuahkan dengkusan Dimas "Itu tidak ada bedanya, dasar bodoh!" bantah Dimas.

Dimas memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di sofa. "Aku tidak menyukai mereka Van. Sikap mereka selalu membuatku muak. Kau juga pasti tahu maksudku, 'kan?" ucap Dimas masih setia memejamkan matanya.

"Ya ... karena itulah tujuan mereka, Dim. Selalu tentang uang dan kekuasaan. Tidak jauh-jauh dari hal itu. Mereka akan melakukan apa pun untuk bisa hidup enak dengan kemewahan dan kekuasaan."

Revan mendesah. Pikirannya melayang. Mungkin hampir semua orang yang melihat mereka, akan menganggap mereka hidup dengan mudah tanpa kesulitan yang berarti. Nyatanya, hidup mereka jauh dari bayangan banyak orang. Tidak mudah mencapai apa yang mereka miliki saat ini. Mereka harus menguras pikiran, tubuh bahkan hati mereka untuk meraih semuanya.

"Rasanya aku ingin melarikan diri dari ini semua, Van."

Perkataan Dimas sontak membuat Revan menatapnya dengan kening mengerut dalam. "Kau serius dengan ucapanmu, Dim?" tanyanya.

"Jika aku bisa, sudah pasti aku akan melakukannya." Dimas membuka matanya,  "Jika aku diberi kesempatan untuk beristirahat dan menghentikan kegilaan ini, pasti aku tidak akan berpikir dua kali untuk mengambil kesempatan itu."

Dimas meneguk minumannya dan menghela napas "Dan berharap mama akan mengerti yang aku inginkan. Mengerti kalau aku juga manusia yang memiliki hati dan perasaan, memiliki keinginan sendiri. Bukan hanya anak yang harus menuruti setiap perkataan orang tuanya."

"Lalu apa yang kau ingin lakukan?"

Dimas mengangkat bahu tidak acuh "Sudahlah hentikan pembicaraan ini. Aku sudah bosan membicarakan hal ini terus menerus. Entah itu denganmu atau dengan mama."

Revan terbahak dengan keras. "Kau menginginkan kesempatan tapi tidak tahu apa yang akan kau lakukan? Kalau aku jadi dirimu, aku akan mencari seorang kekasih agar mamaku tidak lagi melakukan perjodohan-perjodohan konyol itu. Dengan begitu, aku tidak akan dipaksa untuk menyetujui perjodohan apa pun lagi."

"Memangnya mudah untuk mencari kekasih? Jika aku memilikinya, aku tidak akan sefrustrasi ini."

"Dengan uang dan wajahmu, kau pasti dengan mudah kauakan mendapatkannya."

Dimas mendelik kesal ke arah Revan "Bukankah itu sama saja dengan menerima perjodohan itu, huh?" tanyanya.

"Lalu kau ingin kekasih seperti apa, Dim? Kau tahu sendiri tidak mudah menemukan seseorang yang bisa menerima kita apa adanya, tidak memandang kita dari harta dan kekuasaan."

Dimas mengangkat wajahnya, menatap semburat jingga di langit yang tampak dari jendela ruangannya, menerawang jauh ke mana. "Aku yakin suatu hari aku akan menemukan seseorang yang menerimaku apa adanya. Hanya melihat aku sebagai Dimas Ardiantara, bukan dari wajah, harta, ataupun kekuasaan. Aku akan menemukan orang yang mampu menggetarkan hatiku dan mampu membuatku nyaman."

Revan sempat terkesiap mendengar ucapan Dimas, tapi dengan cepat ia tersadar. Ia mengulum senyum dan menepuk bahu Dimas "Iya! Suatu hari kau akan menemukan orang yang kau cintai dan mencintaimu. Aku yakin kau akan menemukan orang itu, Dim."

Dimas mengangguk "Kau juga, Van," ucapnya.

"Itu pasti!" ucapnya Revan mengiyakan perkataan Dimas. 'Atau mungkin aku sudah menemukannya, Dim,' batinnya seraya membayangkan wajah seorang gadis yang tersenyum manis padanya. "Sebaiknya kita pulang sekarang," ajaknya pada Dimas.

Dimas melihat jam tangannya, dan benar hari sudah mulai gelap. Ia mengambil jasnya lalu mengikuti Revan yang lebih dulu melangkah keluar dari ruangannya.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status