TRAUMA
TRAUMA
Author: kunkimmm
00. Prologue

"Aku hamil."

Ah, Ethan tahu hal seperti ini akan datang pada akhirnya. Tapi, mengapa harus secepat ini? Dan lagi, kenapa harus wanita ini?

Hening, setelah dua kata yang keluar dari bibir gadis dengan surai hitam itu terlontar. Sosok lain yang menjadi lawan bicara si gadis hanya bungkam, satu alis lelaki itu terangkat.

Kedua manik tajam itu menatap intens pada si gadis, senyum tipis tersungging di bibir tipis gadis itu sejauh mata tajamnya menelisik.

Si lelaki mendengkus pelan. "Kau bercanda?"

Senyum gadis itu menghilang dalam sekejap, kedua manik hitamnya mengerjap pelan lalu menggeleng, masih terlihat baik-baik saja meski sang lawan bicara mulai merasa tidak suka dengan pembicaraan ini.

"Tentu saja tidak. Aku benar-benar hamil." Si gadis menjelaskan dengan yakin, lalu kedua tangannya mulai sibuk mencari sesuatu di dalam tas LV yang ia bawa bersamanya. "Aku bahkan sudah memeriksanya pada dokter Park sebelum ke sini," katanya masih terlihat antusias.

"Cukup." suara rendah itu menghentikan si gadis, bersamaan dengan sebuah tangan besar yang mencengkeram pergelangan tangannya kuat.

"Hentikan omong kosongmu." Katanya dengan rahang mengeras.

"E...Ethan." Gadis itu memanggil si pria. Kedua matanya memancarkan sebuah ketakutan.

Ethan mendengkus dingin sekali lagi.Kedua manik tajamnya menelisik ekspresi si gadis yang terkejut akan perbuatannya. "Aku tidak percaya begitu saja, mungkin saja itu anak dari pria lain," tutur Ethan tidak habis pikir.

"Asal kau tahu," Ethan menunduk, mendekatkan wajahnya pada si gadis yang kini tengah mendongak menatap dirinya, "kau hanya salah satu dari sekian banyak wanita yang rela memberikan tubuhnya padaku dengan suka rela." Sebuah seringai tipis menghiasi sudut bibirnya.

Ethan kembali menjauh, melepaskan cengkeramannya. "Kau beruntung karena kau salah satu putri rekan bisnisku," katanya santai dan menunjukkan senyum tipis tanpa dosa.

"Dan kau masih bisa datang padaku," tambahnya, mengabaikan tatapan si gadis yang sedikit terkejut. "Aku akan dengan senang hati membuatmu orgasme sepanjang malam."

Ethan berbalik, hendak kembali ke kursi kebesarannya. Namun baru dua langkah, lelaki jangkung itu kembali memutar tubuhnya. "Ah, dan juga, hentikan sandiwaramu. Aku tidak akan mudah terpedaya hanya karena kau mengatakan bahwa kau hamil. Sudah berpuluh-puluh wanita datang kemari dan mengatakan omong kosong semacam ini."

Ethan pikir, gadis itu akan memaki dirinya, atau setidaknya dia berteriak dan menampar wajahnya tampannya. Seperti yang beberapa wanita penjilat lakukan padanya. Tapi gadis ini tidak.

Kening Ethan bahkan sampai berkerut heran mendapati gadis itu tersenyum tipis saat dia beranjak dari duduknya.

"Maafkan aku, aku tahu kau belum bisa menerima semua ini. Tapi, aku akan kembali lagi nanti," kata gadis itu sebelum akhirnya berlalu dari sana, setelah membungkuk singkat pada Ethan.

"Percaya diri sekali."

Bahkan, setelah gadis itu keluar dari ruangan itu, rungu sang gadis masih bisa mendengar samar suara meremehkan yang keluar dari mulut sialan Ethan.

...

Seharusnya hari itu Sara tidak perlu mengucapkan kebenarannya, seharusnya Sara tidak menemui Ethan, seharusnya Sara tidak terbuai oleh rayuan seorang Ethan Lee, seharusnya Sara tidak pernah mengenal pria itu.

Seharusnya ... seharusnya, dan selamanya hanya akan menjadi penyesalan.

Sara tahu itu dengan baik.

Siapa yang salah di sini?

Tidak, bukan Ethan. Bukan juga takdir yang telah membawa Sara pada kesengsaraan ini.

Tapi, Sara sendiri. Iya, ia yang salah. Ia salah karena telah membiarkan Ethan mendekam di bagian terdalam hatinya, membiarkan seluruh persepsi tentang Ethan memenuhi benaknya.

Semua salahnya.

Sejak awal Sara seharusnya sadar, jika lelaki seperti Ethan tidak akan pernah berubah. Ethan akan tetap menjadi Ethan Lee—lelaki tampan dan kaya yang selalu datang ke tempat hiburan, berganti-ganti wanita, membawa wanita berbeda ke kamar hotel, seolah wanita itu hanya berupa setelan yang selalu ia kenakan, yang bisa ia pakai dan buang saat sudah bosan keesokan harinya.

Hanya karena lelaki itu pernah mengantarnya pulang satu kali saat ia terjebak hujan deras, bukan berarti Sara bisa membuat Ethan meninggalkan dunianya. Itu adalah pemikiran terbodoh seumur hidupnya.

Hanya karena senyum manis itu, harusnya Sara tidak tergoda oleh bisikan tak kasat mata yang berkeliaran di kepalanya.

"Bisakah aku melihat senyum itu lagi, setiap saat, setiap waktu ... hanya untukku?" batinnya.

Jika saja Sara tahu, bahwa di masa mendatang, senyum itu juga yang akan menghancurkan hatinya, jiwanya, juga dunianya, ia akan memilih tidak pernah melihatnya sama sekali.

Sayangnya, semua itu terasa sudah tidak berarti lagi. Hanya menyisakan sesal yang teramat mendalam untuk seorang Kim Sara.

Lelaki itu adalah pusat kehancurannya. []

"Ingat ini baik-baik Lee Ethan!"

"Dalam setiap nafas yang kau hirup, dalam setiap matamu berkedip, setiap hari, setiap kau terlelap dalam tidurmu,"

"Ingat aku, si wanita jahat yang begitu kau benci, wanita jahat yang tidak tahu diri masuk ke dalam kehidupanmu."

"Kim Sara. Ingatlah nama itu baik-baik, juga setiap kata-kata mengerikan yang selalu kau ucapkan untukku."

"Hiduplah dalam kubangan rasa bersalah, jangan pernah memaafkan dirimu sendiri, bencilah dirimu sebanyak kau membenci diriku. Ingatlah segala dosa yang telah kau perbuat, setiap saat, setiap hari, bahkan dalam mimpi sekalipun. Ingatlah, bahwa kau telah membuat hidup seseorang menjadi begitu hancur tak bersisa."

[TRAUMA] 

Comments (2)
goodnovel comment avatar
xicizieuni
dari prolog nya aja udah bernuansa nguras emosi nih, siapkan hati 👌
goodnovel comment avatar
jiannaa
aku mencium Bau-Bau yang mengandung bawang nih
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status