My Dearest Cahaya
My Dearest Cahaya
Author: Kanietha
I Heart You

— And I love the kisses, you wake me up every day —

Cahaya Bhanuresmi.

Gadis itu terjaga, menarik kedua sudut bibirnya ke atas tanpa membuka kelopak mata. Semakin menarik erat lengan besar seorang pria, yang tengah memeluknya dengan posesif dari belakang.

Namun, seketika gadis itu tersadar, membolakan maniknya dengan lebar. Lalu memutar tubuh dengan cepat menghadap pria itu.

"Kak! Bangun! Kamu harus balik sekarang!” sang gadis menepuk pipi pria itu, sedikit keras agar terbangun. “Kak!"

Pria yang masih berbalut jas lengkap tanpa dasi itu hanya menggumam. Menarik tubuh sang gadis lebih dekat lagi kepadanya. Dan … satu kecupan singkat, tepat mendarat di atas bibir gadis itu sebagai pembuka hari.

“Morning Cahaya.” Sapanya masih dengan satu kelopak mata yang terbuka malas. Ditambah sebuah senyum tipis, yang selalu mampu membuat hati gadis manapun akan betah berlama-lama memandangnya.

"Kak Astro! Ada Asa di kamar depan, balik buruan nanti ketahuan."

"Asa?" kini kedua kelopak mata Astro terbuka, "Dia nginap sini lagi?"

"Iya! Makanya buruan baliiiik ... lama-lama aku ganti juga passcode apartku kalau begini!"

Sedari awal Bintang, ayah kandung Aya, membelikan apartement untuk putri kesayangannya itu, Astro sudah tahu passcode untuk menerobos masuk kapanpun ia ingin. Dan, Astro akan selalu terbangun di ranjang gadis itu, jika ia tidak pulang ke rumah ibunya. Padahal unit apartemen Astro, berada tepat di depan apartemen gadis, yang merupakan adik sepupunya itu.

Astro kembali menutup mata. "Aku masih mau tidur dengan Cahaya Matahariku. Ayolah Aya sayang, matahari benerannya aja belum muncul tapi kamu udah berisik."

Astro mendekap tubuh Aya dengan gemas. "Asa itu bangunnya siang, gak usah dipikirin." lanjutnya dengan mata tertutup.

Belum ada lima menit Astro berujar demikian, pintu kamar diketuk dari luar. Siapa lagi kalau bukan Asa, kakak satu ibu dengan Aya.

"Ayaaa! Buka bentar! Papa telpon!"

Papa yang dimaksud adalah Bintang, yang merupakan ayah tiri dari Asa.

Tubuh Astro sedikit terhempas karena di dorong mendadak oleh Aya. Gadis itu berlari kecil menuju pintu dan membuka kuncinya.

"Kenapa papa telpon ke kamu, gak langsung ke hapeku?"

Aya hanya menyembulkan kepala dari pintu, melihat Asa yang hanya memakai boxer dengan bertelanjang dada. Rambut Asa masih terlihat berantakan dengan cetakan bantal yang ada di salah satu sisi wajah, yang masing ingin tertekuk lelap.

Asa menyentil dahi Aya hingga gadis itu mengaduh. Sebenarnya, ada masalah apa sih Asa dengan jemarinya itu. Dahi Aya selalu saja jadi sasaran kekesalan berikut kegemasannya.

"Hapemu gak aktif kata papa!" Asa menyodorkan ponselnya dengan kasar tepat di atas dada Aya. "Nanti aja balikinnya aku mau tidur lagi."

Dengan menguap begitu lebar Asa berlalu. Pergi kembali ke kamarnya untuk merajut ... entahlah, apa yang mau ia rajut subuh-subuh begini. Kalau sang bunda tahu dia masih tidur jam segini, sudah dijamin basahlah, ranjangnya yang ada di rumah. Bunda akan menyiram Asa dengan air, yang dicampur terlebih dahulu dengan beberapa es batu yang diambil dari lemari pendingin. Bunda memanglah sehoror itu saat membangunkan Asa, si tukang tidur.

Oleh sebab itu, Asa lebih senang pulang ke apartemen Aya. Padahal ayah kandungnya, Elonio Dananjaya sudah membelikan Asa sebuah rumah, namun jarang ditempati oleh pria itu.

Aya kembali menutup pintu dan menguncinya. Berbalik dan melihat Astro sudah tidak lagi berbaring di atas ranjang. Pria itu terlihat tengah menelepon seseorang di balkon luar dengan melempar senyum yang tidak berkesudahan.

Wajar kan, kalau Aya curiga dengan siapa, saat ini Astro berbicara.

Aya sedikit tersentak mendengar dering ringtone dari ponsel Asa yang masih ada di genggaman. Tertulis nama Papa di sana. Tidak perlu menunggu lama, Aya segera mengangkatnya, dan berbicara sambil membaringkan tubuh di atas ranjang, dengan kaki menjuntai ke bawah.

Astro kembali masuk bersamaan dengan Aya yang telah mengakhiri pembicaraannya di telepon.

"Siapa yang nelpon Kak Astro subuh-subuh begini?"

"Mama, disuruh sarapan di rumah." Astro mendesah panjang sambil membaringkan tubuhnya menimpa tubuh Aya. Menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher gadis itu. "Aku mau sarapan kamu dulu sebelum ke rumah mama."

Dengan sigap Aya menyentak kepala Astro yang hendak memberi jejak merah di lehernya.

Astro bangkit terduduk di paha Aya, namun tidak menumpukan seluruh berat badannya. "Yaa, I know." Kemudian, Astro melepas jas dan melemparnya ke sembarang arah. Disusul dengan kemeja putihnya.

Tubuh Aya separuh bangkit, bertumpu pada kedua sikunya, Memandang tubuh atletis yang bertelanjang dada, dengan sobekan roti yang berjumlah enam buah, tepat di hadapan ... Sungguhlah membuat gadis itu sangat tergoda. Apalagi saat Astro meraih satu tangan Aya untuk menyentuh dadanya dengan gerakan perlahan.

Dan … melihat bagaimana reaksi Astro yang menutup mata, menikmati sentuhan jemari Aya, membuat gadis itu membayangkan tubuh Astro berkeringat di atasnya. Menyebut namanya di setiap …

Wait!

Whaaat!

No no no!

Aya menggelengkan kepala dengan cepat. Menarik tangannya dan menampar dada Astro dengan keras. "Gak usah mancing, kalau aku pengen kan gawat!" dengus Aya.

Astro tertawa, menganggap remeh semua yang dikatakan gadis itu. Tangan besarnya lalu menyangga wajah Aya. Dengan hanya satu kerjaban mata, Astro menyatukan bibir mereka.

“Aku bahkan sanggup, langsung lari, keluar dari persidangan kalau kamu bilang ‘pengen’ waktu aku lagi membela klienku.” Astro berujar tepat di atas bibir Aya, memberi tatapan yang sungguh menggoda.

Namun, Aya tertawa, “Lebay! Minggir! Aku mau ngeces hape.”

Dengan memberi Aya cebikan yang begitu dramatis, Astro menyingkir. Bangkit dari tubuh Aya dan melepaskan pakaian yang tersisa di tubuhnya.

“Siapin handuk, aku mau mandi.”

“Hei! Apartmu itu di depan, kak! Baliklah dan maaaandi …”

Kelopak mata Aya tidak berkedip, ia menahan napas, saat memandang tubuh polos yang berjalan begitu percaya diri memasuki kamar mandinya. Setelah pintunya tertutup, barulah Aya mengerjab, tersadar, kalau sekali lagi, maniknya ternoda dengan sebuah ciptaanNya yang begitu sempurna.

Dengan cepat Aya mengumpulkan kesadaran. Lalu kembali ke niat awal yaitu hendak mencharger ponselnya yang kehabisan daya.

“Gak mau gabung, Ay?” tawar Astro yang melihat Aya masuk dan meletakkan handuk untuknya di meja wastafel.

Aya menggeleng, mengambil sikat gigi dan menuang pasta gigi diatasnya. Sebenarnya, situasi seperti ini dengan Astro, sudah biasa dialaminya, jadi Aya tidak lagi canggung menghadapi pria itu.

“Nikahi aku dulu, baru aku gabung.”

Astro diam, tidak memuntahkan kalimat apapun jika gadis itu sudah menyinggung tentang pernikahan.

Aya menyikat giginya, sembari menatap pantulan wajahnya pada cermin. Kalau biasanya, prialah yang harus menahan imannya bila berdekatan dengan wanita. Kali ini terbalik, Ayalah yang harus benar-benar menahan hasrat saat ada tubuh polos, dengan lekuk atletis yang sempurna berada tidak jauh dari dirinya.

Setelah menyikat gigi, Aya mencuci wajahnya. Kemudian keluar, meninggalkan Astro yang sekilas, masih terlihat membalut tubuhnya dengan busa sabun.

“Ada tugas ke mana kamu hari ini?”

Aya yang bertelungkup sambil menatap laptopnya itu, menghentikan sejenak kegiatannya. Ia kembali disuguhi pemandangan yang dapat meruntuhkan kewarasannya sebagai seorang gadis normal.

Astro … pria itu melepas satu-satunya handuk yang melekat pada tubuhnya. Memakai pakaiannya yang telah dipungut oleh Aya dari lantai dan diletakkan di atas meja rias.

“Aya … ada tugas ke mana hari ini?” tanya Astro sekali lagi, karena yang gadis itu lakukan hanyalah menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata.

“Hari ini belum dapat tugas sih, tapi aku ada janji wawancara sama Mbak Zetta nanti siang. Dia baru pulang dari Surabaya pagi ini.” Dengan sekali tarikan napas, Aya mengalihkan tatapannya kembali ke laptop. “Sesembak itu, sibuk banget, susah ditemui.”

“Lagian, kamu itu ngapain masih mau merepotkan diri jadi wartawan? Sudah gitu, bukannya wartawan tv malah lebih milih media cetak.” Astro sudah selesai mengenakan pakaiannya kembali, tanpa memakai jasnya. Ia menghampiri Aya dan kembali menimpa tubuh gadis yang tengah bertelungkup itu. “Semua saham papa di JB, sudah atas nama kamu, belum lagi beberapa outlet Brownies Bunda, juga udah jadi punya kamu. Ditambah yang lain-lain, kurang apa lagi sih kamu, Ay?”

“Kurang kerjaan! Aku butuh sesuatu yang menantang!”

Aya menyikut sisi tubuh Astro, bermaksud membalik tubuhnya agar bertelentang dan dapat menatap pria itu. Aya menyelipkan kedua tangannya pada surai legam Astro yang masih sedikit basah. Menatap wajah tampan penuh kharisma, yang selalu saja mengumbar senyum, hingga mampu membuat jantung para gadis terlonjak seketika.

“Jadi wartawan itu enak, kenalannya banyak. Dari mereka yang ada di kolong jembatan. Sampai puncak tertinggi kepemimpinan, yaa meskipun gak sembarangan orang yang ditugasin untuk meliput di ring satu. Tapi aku yakin, kalau suatu saat, aku bakal masuk dan wawancara langsung dengan presiden!”

Aya tersenyum lebar dengan percaya diri. Gadis itu ingin menjadi seperti Bintang dan Elo. Mengawali karir dengan menjadi kuli tinta, dan berakhir menjadi orang penting yang kehadirannya selalu diperhitungkan dan tidak bisa dianggap remeh. Aya bahkan memutuskan mengawali karir di tempat yang sama dengan kedua ayahnya itu, yakni di Metro Ibukota. Padahal, Aya bisa saja masuk ke Network Group, karena Pras saat ini adalah pemilik dari stasiun televisi terbesar itu.

“Kak Astro ada sidang hari ini?”

Sedangkan Astro, ambisinya adalah berkuasa seperti Pras. Memegang semua rahasia dari petinggi, dan kaum elite yang memakai jasanya sebagai seorang pengacara. Dan, saat itu terjadi, maka dunia akan berada di genggamannya.

Namun, ada perbedaan yang mencolok dari keduanya. Jika seorang Pras, merupakan epitomi hidup dari arogansi antagonisnya. Sedangkan Astro, pria itu adalah embodiment nyata dari kerendahan hati dan empati. Sikap humble dalam didikan Bintang, membuat pria itu mudah bergaul dan mampu menempatkan diri di mana saja.

“Jadwalku full hari ini."

Bibir penuh Aya yang sensual itu membulat, membentuk huruf O. “Ada konser CNCO malam minggu ini, nonton yuk. Aku dapat dua free pass dari ayah.”

“Kamu tahu, aku gak suka keramaian, nontonlah sama Asa.”

“Asa itu fotografer, sudah pasti dia ada di sana, paling depan.” Bibir Aya yang memberengut maju itu, tentu saja langsung jadi santapan bagi Astro. Tidak membiarkan gadis yang sudah mengalungkan tangan di leher Astro itu, mengeluarkan sepatah katapun. Mengunci bibir penuh Aya itu, dalam belitan basah lidahnya.

“Tell me that you love me, Ay.”

Keduanya terengah, melepas decapan basahnya dengan kening yang masih terhimpit rekat.

“I heart you, kak. For sure.”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status