Share

⁵ | Pria di Balik Perginya Celestine

"Ini seharusnya tak terjadi padamu."

Namun dengan cepat Celestine menarik tubuhnya menjauh dan menggelengkan kepalanya setelah mengusap wajahnya. Senyuman pun tercipta saat itu juga. "Aku tak menyesalinya, Lou. Aku dan Joseph saling mencintai dan kami sudah memiliki seorang putri sekarang. Setidaknya sekarang aku mempunyai alasan untuk tetap bersama Joseph meskipun kau, Anthony, Virgie, ataupun ribuan orang lainnya berkata tidak. Dan Abigail adalah putri kecil kami yang pantas untuk disayangi dan dicintai seperti anak perempuan lainnya. Dia juga sebuah senjata untuk membuat yang lainnya tersadar dan membuka mata bahwa kami baik-baik saja sehingga mereka percaya cinta itu nyata. Cinta itu ada bagi siapa pun yang mencarinya dan memerjuangkannya."

"Apa kau sudah menikah dengannya?"

"Non ancora (belum). Aku ingin segera menikah dengannya jikalau pap dan ma merestui kami. Aku yakin mereka pasti akan melakukannya. Namun, sulit sekali meyakinkan Anthony." Kini Celestine menggenggam kedua tangan Louis dan menatapnya dalam dengan matanya yang berbalut air. "Kau merestuiku dengan Joseph, 'kan? Louie?"

Louis menarik kedua tangannya dari genggaman tangan kakak perempuannya itu. "Aku tak suka kau dengan Joseph. Mengapa kau tak jatuh cinta dengan orang lain saja?"

No matter what happens, I will always believe in love. Pap does, Ma does, I do.❞ Louis terdiam seolah ucapan kakaknya itu memberitahunya sedikit kebenaran soal cinta. "Kita tak bisa memperkirakan pada siapa kita akan jatuh cinta nantinya karena perasaan itu datang dengan sendirinya. Dan percayalah, perasaan yang datang begitu saja akan menuntunmu kepada cinta sejatimu."

Louis menggeleng. "Tidak, Celestine. Dia mencuci otakmu! Dia itu brengsek, kau tak bisa jatuh cinta dengan seorang brengsek sepertinya. Kumohon, hentikan semua bualan tak berguna ini karena sepatah kata pun tak akan membuatku menyukainya."

Namun Celestine belum menyerah sehingga tangannya kembali menggenggam milik Louis dan menyejajarkan wajahnya dengan milik Louis yang tak bahagia. "Semua yang terlihat buruk tak selamanya buruk. Jika kau tak berhasil mengubahnya, maka ubahlah sudut pandangmu."

"Itu hanyalah omong kosong, Celestine. Bahkan aku tak bisa menemukan sedikit kebaikan pun di dalam diri Joseph yang sudah dipastikan akan dilempar ke neraka oleh Tuhan! Ya, begitulah Tuhan menciptakannya. Dengan api. Persis seperti iblis."

Celestine tersenyum sekilas. "Tak semua yang diciptakan dari api itu jahat. Buktinya ada Phoenix yang cantik."

Kedua alis Louis hampir bertemu ketika ia berkata, "Kau tak bermaksud membela Joseph, 'kan?"

"Aku tak membelanya, aku mengatakan kebenarannya." Louis memutar bola matanya mendengar ucapan kakaknya itu dan tepat setelahnya pria yang sedang dibicarakan berdiri bersandar pintu rumahnya yang terbuka dengan seringai di wajahnya.

"Ini dia si brengsek yang sedang kubicarakan," ucap Louis memutar tubuhnya untuk menatap pria itu yang masih melemparkan seringainya dengan kesan bangga.

Lalu Louis pun mulai mendekatinya untuk bertukar tatap. "Hey, kau sudah puas dengan semua perbuatanmu? Mulai dari perencanaan untuk mendapatkan Celestine sampai memiliki seorang putri dengannya, hm? Kutebak setelah ini kau akan menyuruh Celestine pulang lalu meminta uang kepada pap untuk keperluan putrinya yang mana sebenarnya untukmu, bajingan!" Namun, Joseph hanya tersenyum.

Telunjuknya terlambung lalu mendarat di ujung bahu Louis sedikit mendorongnya menjauh. "Aku belum miskin Louis Plonker Wistletone. Aku masih punya cukup harta untuk membeli harga dirimu. Jadi, rasanya tak mungkin jika aku tak mampu membiayai hidup Celestine dan Abbie. Oh, tidak, aku lupa jika harga dirimu lebih murah daripada biaya hidup keluarga kecilku."

Louis pun memutar tubuhnya untuk menatap kakaknya yang baru saja menatapnya siap mendengarkan. "Kau lihat, Celestine? Ini yang kau sebut masih mempunyai kebaikan? Aku ini adikmu dan dia sama sekali tak mempunyai rasa hormat kepadaku."

Joseph yang tak terima pun meninggalkan bibir pintu tempatnya bersandar dan beralih untuk mendorong tubuh Louis tak sampai jatuh membuatnya berbalik. "Kau yang lebih dulu tak menghormatiku, Berandalan. Sebelum kau menghinaku tidakkah kau lihat dirimu sendiri? Sosok berandalan yang bersembunyi di balik nama Wistletone sehingga kau bisa menyebut dirimu sendiri keturunan bangsawan." Joseph berdecih menjetikkan lidahnya membuat beberapa ludahnya terlontar lalu terseret angin.

Every man is an island in his own special way, so you can't expect me to be like you want me to,❞ sambungnya setelah melipat kedua lengannya di depan dada. Melihat mimik sengit Louis yang dilemparkan kepadanya membuat Joseph tak bisa untuk tak mengatakan, "Aku memang bukan bangsawan dan kau melabeliku bajingan. Tapi kau tak bisa memaksakan seseorang untuk menjadi baik seperti yang kau definisikan perihal kata baik dalam otakmu! Karena bangsawan atau berandalan memiliki arti yang sama apabila itu terkait dirimu ataupun Anthony!"

Celestine yang melihat Louis hampir saja melambungkan tinjunya ke arah Joseph, langsung menyelinap ke dalam jarak yang tersisa di antara keduanya dan mendorong mereka menjauh beberapa centi. "Ayolah jangan seperti ini. Ini sudah malam. Dan, Louie." Kali ini Celestine menatap adiknya dengan dagu yang mengeras menampakkan rahang kuatnya. "Sebaiknya kau pulang."

"Kau mengusirku, Celestine?"

"Tidak, bukan begitu, Louie. Ini sudah malam dan aku tak ingin ada keributan di sini. Kumohon, mengertilah. Ini semua demi kebaikan kita."

"Kebaikan kita atau kebaikan si banci di belakangmu yang mungkin akan pingsan karena tinju ringan dariku?"

Tepat setelah itu, tinju Joseph melambung melewati bahu Celestine dan mendarat di pipi Louis membuatnya mundur beberapa langkah seraya memegangi pipinya. Louis yang sudah tak tahan pun akhirnya membalas perlakuan Joseph dengan tindakan serupa sehingga keduanya berakhir dalam perkelahian yang membuat Celestine tak bisa berhenti berteriak hingga ayah Joseph keluar untuk melempar tubuh Louis ke pekarangan rumahnya—jatuh menindih beberapa helai rumput di bawahnya.

"Kau menjijikan sekali, Louis!" ucap Jasper Stefar yang suaranya menggema di balik kumis tebalnya. Lalu pria itu melanjutkan hinaannya ketika Louis berusaha bangkit seraya memegangi perutnya. "Aku bahkan tak sudi menyebut nama lengkapmu karena Wistletone tak cocok untukmu! Kau berandalan kecil yang seharusnya mati dan tak pernah kembali setelah sekolah militer sialanmu itu—yang mendidikmu menjadi lebih berandalan dengan kemampuan berkelahimu yang berkembang. Bukannya menjadikanmu abdi negara dengan lencana keberanian dan rasa hormat!"

Celestine berusaha membuat Jasper Stefar terdiam karena bagaimanapun, Louis adalah adiknya dan ketika ia disakiti, maka Celestine akan merasakan rasa sakit serupa dalam hatinya. Namun, tampaknya Louis tak memedulikan ucapan Jasper yang sama tak bermoralnya seperti putranya.

"Tentara macam apa yang datang ke rumah seseorang untuk membuat keributan dan memukuli tuan rumahnya?! Fantine melahirkan dan membesarkan sebuah kotoran bukan seorang putra! Kau hanya—"

"Sedangkan dirimu sendiri seorang penjilat yang membohongi para pekerjamu dengan gaji rendah meskipun hasil panennya melimpah! Kau pikir kau hidup di abad 18?! Adam Smith sudah mengubah perekonomian Inggris bodoh!"

"Louie!" ucap Celestine dengan intonasi nada tinggi tapi diucapkan dalam bisikan dan saat itu pula Louis melihat Nyonya Stefar melongok dari balik kaca bersama seorang gadis kecil yang mungkin adalah Abigail—membuat Louis tak jadi melanjutkan ucapannya.

"Pergilah dari sini, Louis! Pergi dan matilah setelah ini karena kecelakaan atau apa pun! Sosokmu tak pernah diinginkan dunia!" Kali ini Joseph Stefar lah yang berbicara setelah selesai memijat rahangnya yang lebam.

Telunjuk Louis melambung ke arah Joseph dan Jasper secara bergantian setelah Celestine meminta Joseph menarik kata-katanya. "Kalian berdua sama-sama biadab! Ucapan kalian tak memiliki sedikit moral pun sama seperti sifat kalian! Jika DNA mu, Jasper, sudah menurun ke putra bajinganmu ini, tak akan kubiarkan DNA kalian yang sudah mengalir dalam diri Abigail terlatih sehingga ketika dia tumbuh, akan menjadi kacau sifatnya seperti kalian berdua!"

"DNA DNA, itu masuk akal jika Joseph demikian, coba lihat dirimu sendiri, Louis. Ayahmu tak sepertimu apalagi ibumu. Aku curiga kau hanya anak angkat, atau kau mungkin putra Adam dengan salah satu jalangnya tetapi dibesarkan oleh Richard. Kau pikir siapa yang tak kenal paman brengsekmu itu?! Dia persis sepertimu!"

"Sudahlah, Ayah. Biarkan Louie pulang sekarang," ucap Celestine seraya memegangi lengan Jasper yang berkacak indah di pinggangnya.

Namun, Louis menggeleng. "Tidak, Celestine. Aku tak akan pulang jika tidak bersama Abigail. Aku tak sudi Abigail diasuh para Stefar!"

Dan Joseph pun yang mendengar ucapan Louis, segera melambungkan telunjuknya sekaligus mendorong tubuhnya mendekat menghardiknya. "Kau tak akan pernah—" Sayang sekali, Jasper justru menarik tubuh putranya menjauhi Louis dan meminta putranya untuk diam.

"Biarkan Louis membawa Abigail untuk malam ini atau seminggu lagi. Aku memang butuh hari libur untuk tak mendengar tangisan putrimu itu."

Sedikit kejutan mengetuk hati Joseph dan Celestine yang tak menyangka pria ini lebih senang gadis kecil dalam gendongan dibawa pergi demi waktu istirahat. Pikiran Louis pun berdialog, "Memang tak seharusnya Abigail ada di sini. Pria ini tak benar-benar menginginkan Abigail melainkan Celestine."

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status