MasukI accidentally wear the gown Miles Graham prepared for his childhood sweetheart. To my horror, he forces me to take it off in public. "I prepared this for Nora—do you think you're worthy of wearing it? Take it off! You're dirtying it!" He knows I have serious PTSD after almost being violated, yet he insults me with those words. I look at him tearfully and beg him not to say anymore. That's when the gown's zip bursts open. My PTSD acts up. I'm so overwhelmed that I collapse on the floor and have a seizure. Miles dismisses everyone and takes Nora out on a date. He leaves me lying there in humiliation. I call my mentor before being discharged from the hospital. "Ms. Gardner, I've decided to participate in the water conservation project in Affenheim."
Lihat lebih banyak"Nyonya, kondisi Amelia sangat kritis. Kami khawatir putrimu tidak selamat malam ini. Kami tidak bisa berbuat apa-apa," kata Dokter Richard dengan pasrah.
Dunia Laura runtuh. Dia berlutut dan menangis sambil meraih jas putih dokter itu. Meski dia tuli, dia bisa membaca gerakan bibir dokter. "Dokter, kumohon tolong selamatkan putriku." "Nyonya, kami sudah berusaha menyelamatkan Amelia, tetapi kanker telah menggerogoti tubuhnya dengan ganas. Kami membutuhkan donor sumsum tulang untuk menyelamatkannya. Namun, kami tidak memiliki donor yang cocok untuk Nona Amelia." Air mata Laura terus mengalir, menangis putus asa. Dokter melepaskan tangan Laura dan keluar dari kamar rawat itu. "Mama ...." Sebuah tangan mungil menyentuh kepala Laura. Laura bangkit dengan tergesa-gesa, menghapus air matanya, dan mencoba tersenyum di depan putrinya. "Sayangku, kamu pasti akan sembuh. Mama akan pastikan kamu sembuh," ujarnya sambil menggenggam tangan mungilnya yang sangat kurus. Amelia telah menderita leukemia selama enam bulan. Laura melakukan segala cara agar putrinya sembuh, tetapi tidak ada seorang pun yang memiliki donor yang cocok untuk putrinya, termasuk orang tuanya. "Mama, Papa mana? Amel mau lihat Papa." Bibirnya yang pucat dan kering berbisik lirih. Air mata Laura kembali mengalir mendengar permohonan putrinya untuk bertemu ayah yang tidak pernah peduli padanya, bahkan sejak dia dirawat di rumah sakit. Suaminya, Lucian Wilson, tidak sekalipun menjenguk Amelia. "Papamu masih kerja, Sayang." "Amel mau bertemu Papa. Mama, Amel mau peluk Papa. Papa tak pernah peluk Amel." Laura tak bisa menahan tangisnya dan mencium punggung tangan mungil Amelia. Karena permintaan putrinya, yang mungkin untuk terakhir kalinya, Laura akan mewujudkannya apa pun yang diinginkan putrinya. "Sabar, Sayang. Mama akan bawa Papa kemari." Laura tergesa-gesa keluar dari kamar rawat itu agar putrinya tidak melihatnya menangis dan patah hati. Dia mengirim SMS dan menelepon suaminya sambil menjauh dari kamar rawat Amelia, tetapi tidak ada yang membalas SMS atau mengangkat teleponnya. Dia menelepon beberapa kali dengan putus asa. Lucian tetap tidak mengangkat teleponnya. Seorang wanita di depannya berbicara sambil menunjuk ke layar TV di atas dinding ruang administrasi. "Eh, lihat itu, Viola, aktris terkenal itu. Dia ketahuan oleh paparazzi berbelanja dengan perut besar. Rumor itu benar, Viola sedang hamil delapan bulan." "Ya, perut besarnya kelihatan sekali. Sepertinya dia akan segera melahirkan." "Viola mengakui bahwa dia sudah lama menikah dengan Lucian Wilson, CEO Wilson Group, dan merahasiakan pernikahannya. Lucian juga mengakui bahwa dia sedang menunggu kelahiran anak pertama dengan Viola. Astaga, siapa yang menduga Viola menikah dengan Lucian Wilson? Pria paling tampan dan kaya di negara ini. Mereka sangat serasi dan cocok. Viola adalah wanita paling cantik di negara kita." Wajah Laura pucat menatap ke arah layar TV dengan air mata mengalir dan tersenyum getir melihat suaminya tengah memeluk Viola, adik perempuannya yang hamil delapan bulan, keluar dari sebuah butik mewah. Pria itu perhatian membukakan pintu mobil untuk Viola dan tersenyum mencium keningnya. Istrinya? Anak pertamanya? Padahal Laura adalah istrinya yang sesungguhnya, dan Amelia adalah putri pertama Lucian. Viola adalah adik Laura dan berselingkuh dengan suaminya. Viola sangat dicintai oleh orang tuanya dan keluarga Samson. Tiga tahun yang lalu, Keluarga Samson dan Wilson melakukan perjodohan antara Lucian dan Viola, tetapi tiba-tiba, Lucian mengalami kecelakaan, koma, dan buta. Viola tidak mau menikah dengan orang buta, tetapi keluarga Samson tidak mau membatalkan perjodohan kerjasama dengan Wilson Group. Mereka memaksa putri angkat mereka, Laura, untuk menggantikan Viola. Laura yang menemani dan merawat Lucian saat dia lumpuh dan buta selama satu tahun. Namun, begitu Lucian mendapatkan kembali kesehatannya dan matanya bisa melihat, Lucian justru jatuh cinta pada Viola. Entah apa yang dilakukan Viola hingga membuat Lucian mencintainya, saat Laura yang merawatnya selama satu tahun ketika dia lumpuh dan buta. Lucian bahkan ingin menceraikan Laura agar bisa menikah dengan Viola. Keluarga Samson pun mendukung agar Laura bercerai dari Lucian dan memaksanya mengembalikan posisi istri dan Nyonya Wilson kepada Viola. Laura hanya anak angkat keluarga Samson yang diperlakukan dengan buruk dalam keluarganya dan harus mengalah serta melakukan apa pun untuk Viola. Jika bukan karena Kakek Billy yang memukul dan mengancam Lucian bahwa dia tidak akan mendapatkan Wilson Group jika dia menceraikan Laura, mungkin dia sudah lama bercerai. Namun, pria itu semakin membenci Laura dan bahkan berselingkuh terang-terangan dengan Viola, serta tidak menyukai putri mereka, Amelia. Orang tua Lucian juga tidak menyukai Laura karena dia hanyalah anak angkat di keluarga Samson dan tidak mendapatkan warisan Samson Corporation. Mereka hanya menyukai Viola karena dia akan mewarisi Samson Corporation dan merupakan putri kandung satu-satunya di keluarga Samson. Laura mendesah putus asa saat meninggalkan rumah sakit. Dia harus bertemu Lucian dan memohon agar pria itu mau bertemu dengan Amelia. Ketika dia tiba di rumahnya, dia hanya melihat Viola yang hamil besar dan mengenakan gaun tidurnya. "Apa yang kamu lakukan di rumahku?!" Tak peduli bagaimana Lucian berselingkuh dengan Viola, mereka tak pernah menunjukkan perselingkuhan mereka di rumah ini, rumah yang diberikan Kakek Billy untuk Laura. "Oh, mulai sekarang aku akan tinggal di sini dan menjadi istri Lucian. Rumah ini sudah diberikan padaku oleh Lucian," balas Viola dengan senyum jahat. Laura membaca gerakan bibirnya dan tercengang. "Lucian memberikan rumah ini padamu? Tidak mungkin! Rumah ini atas namaku dan diberikan oleh Kakek Billy. Dan aku dan Lucian bahkan belum bercerai! Keluar dari rumahku!" "Kalau aku tidak mau, apa yang akan kamu lakukan padaku? Lagipula, jika bukan karena aku dan orang tuaku, bagaimana mungkin yatim piatu sepertimu bisa masuk dalam keluarga kaya dan menikah dengan Lucian! Kamu hanya anak angkat dan orang tuli!" Viola mencibir, lalu mencengkram rahangnya dengan kasar. "Lucian tidak pernah menyukaimu, apalagi mencintaimu. Kamu yatim piatu dan tuli. Kamu hanya penggantiku merawat Lucian saat dia lumpuh dan buta. Namun, orang yang disukai Lucian tetap aku. Sebaiknya kamu sadar diri dan enyah dari kehidupan kami. Lucian dan aku akan segera menikah." Laura menatapnya dengan mata berkaca-kaca, membaca semua penghinaan Viola padanya. "Pada awalnya, kamu yang menolak menikah dengan Lucian. Mengapa kamu mengganggu kami dan merebut Lucian dariku?" "Ah, kamu sangat menjengkelkan. Lagipula, Lucian akan segera menceraikanmu karena Kakek Billy sudah meninggal dan aku mengandung anak laki-laki pertamanya." Laura melirik saat Viola mengelus perut besarnya dengan bangga dan menatapnya dengan tatapan provokatif. Matanya memerah menahan air mata, tak bisa menemukan kata-kata untuk membalas ucapan Viola. "Oh, ya, Lucian juga mengakui bayi kami adalah satu-satunya anaknya, bukan anak perempuan penyakitan seperti Amelia! Anakmu juga akan segera mati. Kasihan ..." Viola tertawa senang melihat wajah terpuruk Laura. Ekspresi Laura berubah ganas. Tidak ada seorang ibu pun yang mau anaknya dihina di depannya. Didorong oleh amarah, dia meraih kerah gaun tidurnya yang dikenakan Viola. "Jangan berani menghina putriku! Lepaskan gaunku dan keluar dari rumahku!" Mata Viola melebar dan tersenyum licik ketika dia meraih tangan Laura, lalu tiba-tiba membuat tampak seolah Laura yang mendorongnya. Viola jatuh terduduk di lantai. "Akh! Kakak, mengapa kamu mendorongku? Aku sedang mengandung anak Lucian!" Suara Viola berseru kesakitan sambil memegang perutnya. "Laura!" Tiba-tiba lengannya ditarik dengan kasar dari belakang, dan sebuah tamparan keras mendarat di pipinya, menyebabkan Laura jatuh ke lantai.In the end, Miles returned to our home country with Nora. Before leaving, he stood outside my window and said, "Lani, I've already wronged you. I can't wrong Nora too."Even with my hands over my ears, I still managed to hear his words. He was truly nauseating. Did he really see himself as some great romantic hero?Even after Miles left, Carter stayed behind. He bought a house nearby and started visiting us daily.Surprisingly, Ms. Gardner didn't tease me about him. It was likely because Carter kept providing her with updated equipment and resources to support her financially strained projects.I complained to Ms. Gardner, "You can't just sell me off like this!"She hesitated for a moment before replying, "If Carter were a bad person, I wouldn't accept anything from him. But he's a good young man. I trust him."Frustrated, I said, "There's nothing between us! Besides, his career is based back home. Aren't you worried that if we got involved, it would disrupt my work here?"Ms. G
I instinctively stepped back. Miles seemed hurt by my reaction, and his emotions erupted. He stammered while grabbing my arm, "How could you come to this godforsaken place without telling me? Are you really planning to stay here forever?"I've told you countless times, Nora doesn't threaten your position! Come back home with me, please? We can get our marriage license right away and have a grand wedding! I'll give you everything I have!"I gave him a brief, cold glance and let out a faint laugh. My reaction left him utterly confused. It was as if his confidence had been drained."Is there anything else?" I asked calmly.It was as if Miles' pride was wounded. He quickly grew angry, revealing his true nature. "You don't love me anymore, do you? Did Carter send you to Affenheim first? That brat's been moving assets here lately. Are you two planning to elope behind my back?"Hearing him bring up Carter, I felt my own anger ignite. "We've been over for a long time. If you want to thr
I ran my fingers over the phone screen for a long time but didn't reply. After falling into a groggy sleep, I suddenly dreamed of the time I was nearly assaulted. I had somehow blurred the memory of it due to severe trauma in the past. Perhaps because my mind was at peace tonight, but the events came rushing back to me in vivid detail.Back then, I was attending a gala hosted by the Grahams as a scholarship recipient under their sponsorship program.Most of the guests at the event judged people by their appearance. I stood awkwardly in a faded cotton dress that had been washed to near white, feeling utterly out of place.Miles had walked past me, his eyes briefly lighting up with surprise before that fleeting admiration turned to mild disdain when he noticed my dress. He then gave a faint, amused smile and walked away, leaving me even more embarrassed.It was Carter who approached me with a warm smile. He extended his hand and asked, "Miss, may I have this dance?"That night, I
When I got off the plane, my mentor stood there holding a sign with my name and greeted me with a radiant smile."Ms. Gardner, I've missed you so much," I said as my nose tingled with emotion.Having lost my parents at a young age, I had faced everything in life alone. Seeing Ayla Gardner—my mentor, friend, and almost a mother figure—I couldn't help but feel a deep pang of sadness.She stood before me. There was worry and gentle reproach in her voice as she said, "Gosh, I should've forced you to come here two years ago. It would have spared you from all that drama and wasted time back there."I nodded in agreement while looking at her closely. Her once smooth and supple skin had grown rougher. Her lean, upright figure now resembled a pine tree weathered by harsh winds, radiating a serene, steadfast aura.Ms. Gardner had long earned the title of lifetime achievement professor at her university. She could have spent her days teaching students, doing research, and living a peaceful l






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan