LOGINDi hadapan Megafort Judgement, berdiri sisa-sisa keangkuhan dari era Kekaisaran Luminion yang telah hilang: Gerbang Luminion.Struktur jam raksasa itu kini terbelah dua secara vertikal, meninggalkan celah menganga selebar ratusan meter tepat di pusatnya. Retakan besar itu adalah luka mematikan; sebuah kehancuran fatal yang melumpuhkan fungsi utamanya sebagai Bendungan Raksasa Kekaisaran.Akibatnya, triliunan ton air yang dulunya dikelola sempurna, kini tumpah ruah secara liar. Air itu terjun bebas melalui celah retakan gerbang, menciptakan air terjun raksasa yang gemuruhnya mengguncang langit, seolah kemurkaan para dewa yang tak lagi terbendung.Uap air yang membubung menciptakan kabut abadi yang menyelimuti bagian dasar struktur logam purba tersebut. Di tengah pekatnya kabut uap itu, sebuah pelangi abadi melengkung pucat—hasil pembiasan cahaya putih-keemasan kristal AEC (Aether-Engine Crystals) yang terpecah oleh jutaan butiran air.Dua pahatan wajah kolosal yang menyangga lingkaran
Dengungan itu bukan lagi sekadar suara; ia adalah gema dari sebuah kisah kelam yang terkubur jutaan tahun. Ia adalah gaungan sejarah masa lalu Menara Babelia yang menyisakan lubang besar dalam ingatan dunia—sebuah misteri yang tidak pernah terpecahkan sampai saat ini tentang mengapa menara semegah itu bisa runtuh dan berada di Astarhea, tepatnya di Benua Genevivre. Para ilmuwan lintas generasi meyakini bahwa menara tersebut bukanlah berasal ataupun dibangun di Genevivre, melainkan sebuah anomali yang dipaksakan masuk ke dalam realitas mereka. Tepat saat Luviel menutup kedua telinganya sambil merintih di hadapan Kapten Varick, frekuensi purba itu menyerang dengan intensitas yang berbahaya. Gelombang suara itu merambat halus dan menghipnotis alam sadar Luviel sementara, menariknya ke dalam trans yang tak terelakkan. Atmosfer di aula Babelia mendadak berubah menjadi neraka gravitasi. Udara seolah memadat menjadi timah, menekan paru-paru Luviel hingga ia tersedak dalam oksigen
Harapan seolah sudah mati di dalam jantung raksasa Babelia. Aula yang sangat luas itu kini terasa hampa dan menekan, menciptakan suasana yang begitu berat bagi siapa pun yang berada di dalamnya. Tiang-tiang energi memancarkan cahaya putih yang terang, menciptakan bayangan panjang yang membeku seolah waktu berhenti berputar demi menghormati mereka yang berada di ambang maut. Di sudut aula, Jae-won masih terkapar kaku dalam dekapan Kartika, napasnya begitu tipis hingga nyaris tak terdengar. Tiba-tiba, realitas di tengah aula terbelah, menyemburkan pendaran cahaya galaksi yang sangat megah. Dari balik robekan dimensi itu, Leandris melangkah keluar. Kecantikannya begitu nyata hingga membuat siapa pun yang melihatnya merasa seolah dunia di sekitar mereka telah lenyap, digantikan oleh keagungan kosmik. Ia melangkah mendekati Luviel dengan keanggunan yang tidak dimiliki siapa pun di dunia fana ini. Setiap pijakannya pada lantai logam tidak menghasilkan suara, namun meninggalkan jejak
Langkah kaki bot militer bergema di sepanjang lorong logam Menara Babelia yang terletak di pinggiran Benua Genevivre. Sersan Rebirtha memimpin tim medisnya menembus sisa-sisa aroma ozon dan debu reruntuhan yang menyesakkan indra penciuman. Di dinding-dinding menara, bekas sayatan bilah pedang dan hantaman sihir hitam menjadi saksi bisu betapa brutalnya serangan Sekte Rembulan Merah yang baru saja berhasil dihancurkan. Saat mereka merangsek masuk ke aula utama, langkah tim terhenti seketika. Di tengah aula yang dingin, Argentum—naga perak raksasa—berdiri tegak. Sayap logamnya yang lebar membentang luas, membungkus tubuh Udzhur yang tergeletak di lantai, melindunginya layaknya sebuah perisai hidup yang tak tertembus. "Tahan senjata kalian!" perintah Rebirtha dengan tegas. Ia melangkah maju secara perlahan sembari merapalkan Vital-Resonance. Frekuensi energi hijau lembut terpancar dari telapak tangannya, menyentuh sisik sang naga untuk membuktikan bahwa ia adalah kawan. Argentum men
Gurun Babelia mendadak senyap. Keheningan yang menyelimuti kawasan itu terasa amat pekat, seolah-olah atmosfer di sekitar menara raksasa tersebut membeku di bawah bayang-bayang pilar baja purba yang baru saja bangkit dari masa persemayamannya. Pintu hidrolik besar di pangkal kaki Babelia bergeser terbuka, mengiringi desisan uap panjang yang memecah kesunyian, menyemburkan hawa dingin yang kontras dengan udara gurun yang membara di luar. Jae-won melangkah keluar dengan langkah yang terasa seberat timah. Setiap inci pergerakannya menuntut sisa stamina yang nyaris punah. Jubah biru tua miliknya tampak compang-camping; rona warnanya memudar di bawah lapisan debu tebal dan bercak darah yang telah mengering akibat pertempuran sebelumnya. Ia tidak menggenggam senjata apa pun; hanya sarung tangan baja biru tua yang membungkus tangannya, memantulkan cahaya mentari sore yang menyengat pada permukaan logam yang kusam. Di balik celah logam sarung tangan itu, pendaran biru keemasan dari Rune m
Gurun Babelia yang biasanya sunyi kini bergetar di bawah otoritas baru yang mengerikan. Di kejauhan, tepat di garis perbatasan yang memisahkan padang pasir tak bertuan dengan kedaulatan Domain Pasir Putih, berdiri sebuah pos pengawas legendaris yang dikenal sebagai Petra Valis. Benteng itu dibangun di celah tebing batu merah yang menjulang, berfungsi sebagai gerbang utama sekaligus benteng pertahanan terakhir bagi rakyat di balik gurun. Di puncak menara tertinggi Petra Valis, Kapten Varick menatap layar monitor seismik dengan mata terbelalak. Jarum-jarum analog di meja kerjanya bergerak liar, menari-nari tanpa henti seolah-olah bumi sedang mengalami serangan jantung. "Lapor, Kapten! Sensor panas mendeteksi lonjakan energi masif di sektor nol-sembilan!" teriak seorang operator muda dengan suara gemetar. "Ini bukan badai pasir biasa. Ini adalah aktivitas daya mekanis... berskala kolosal." Varick tidak menjawab. Ia meraih teleskop optik jarak jauh yang terpasang di balkon me







