LOGINTHIS BOOK CONTAINS EXPLICIT CONTENT. IF YOU’RE UNDER 18, MOVE ALONG. Atlas of His Flesh is a scorching BL erotica Anthology of over 100 stories that take you across genres, timelines and, universes and galaxies, exploring the steamy tension between men fated, forbidden or enemies. Disclaimer: Every story is about Man×Man Romance, don't expect anything else.
View More“Sheza agak cemberut gue tinggal touring. Padahal pulang touring gue janji bakal ngajak makan malam di luar. Dio juga udah rewel banget minta mainan VR.” Prabu harus sedikit berteriak agar Satria menangkap suaranya dari balik helm.
“Kenapa nggak bilang kalau lo punya janji di rumah? Dua minggu lagi ada touring lain. Harusnya kita bisa ikut yang itu aja. Gue jadi nggak enak, Prabu …. Kan gue yang ngajak. Ck!” Satria mengacungkan tinjunya. “Gue cuma kasian sama duda kalau nggak ada yang nemenin. Coba Roman doyan motor dan masuk club kita. Bisa berduaan terus lo berdua karena berstatus pria single,” seru Prabu lagi. “Roman, sih, doyannya night club, bukan club motor!” balas Satria, terbahak di motornya. “Atau sekali-kali lo ikut Roman ke night club. Biar aura lajang Roman nular. Lo nggak kayak duda anak satu lagi!” Prabu lalu tertawa terbahak-bahak. Setengah jam saling berbalas omongan, jalan yang ditempuh semakin mendaki. Permainan gas, kopling dan rem dilakukan dengan handal oleh peserta tour agar motor tetap stabil di tanjakan. Jalan berliku-liku dan mereka nyaris tiba di titik istirahat pertama saat hujan mulai turun. Awalnya hujan tipis, namun kemudian semakin deras. Airnya meluncur membasahi jaket kulit yang membalut rapat tubuh mereka. Dua pria bertubuh nyaris sama tinggi dan tegapnya saling pandang. Satria melirik langit. Terlihat awan gelap bergulung makin menebal. Di sisi kirinya, Prabu menoleh sambil tertawa kecil. "Gas, nggak?" "Tunggu reda dikit, Bu. Anginnya kenceng banget. Neduh dulu, yuk.” Satria menyalakan lampu sen, menuju bawah jembatan kecil. Satria tidak punya firasat apa pun. Pagi itu semuanya normal dan semuanya baik-baik saja. Prabu ada janji dengan keluarga kecilnya dan ia sendiri berjanji akan menjemput Nayla; putrinya di rumah mantan istrinya. Akhir pekan adalah giliran ia menjalankan co-parenting untuk gadis kecil semata wayangnya. Bagi Satria sendiri, ia merasa tidak ada yang berbeda dengannya. Prabu juga cerita seperti biasa. Kecuali kalau boleh dibilang agak berbeda, Prabu memang kadang-kadang diam dan mengecek ponselnya sedikit lebih lama. Prabu kadang berdecak dan menghela napas panjang. Meski sepintas, Satria melihat perubahan wajah sahabatnya itu. “Ada masalah?” tanya Satria saat mereka berdiri bersisian di bawah jembatan. “Nggak adalah. Memangnya muka gue keliatan muka pria ada masalah?” Prabu meninju lengan Satria sambil tertawa. Sama cerianya seperti kemarin-kemarin. "Itu yang lain udah pada jalan. Ada iring-iringan club mobil juga kayaknya. Kita ikut aja. Biar cepet sampai." Prabu naik ke motor dan menyalakannya. "Udah, santai aja. Kita nggak perlu nyusulin yang lain. Masih deras,” kata Satria, berjalan ke tepi jembatan dan mendongak. “Ayo, deh. Gue nggak mau kalau Sheza dan Dio nunggu gue kelamaan.” Prabu bersiap-siap memakai sarung tangannya. Satria meraih lengan Prabu, menahannya. Rautnya jadi ikut gelisah. “Lo tuh, ya. Kalau memang ada janji sama Sheza dan Dio harusnya nggak perlu iyain kalau gue ajak. Asli gue jadi kasian sama mereka. Mau digas sekarang juga jalanan licin, Bu.” Jawaban Prabu saat itu hanya mengangkat bahu. Ia menepuk lengan Satria sebelum melaju. “Ayo, Sat! Gue tinggal juga, nih,” katanya. Entah karena memang firasat, atau entah karena ia yang ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama untuk bercakap-cakap sesama pria. Yang jelas, tak ada alasan lagi untuk berdiri di bawah jembatan kecil itu tanpa Prabu. Satria segera menyalakan motor dan melesat untuk memperpendek jarak dengan sahabatnya. Tikungan sempit. Aspal basah. Kabut putih menelan pandangan. Satria menahan napas. Ia tak melihat lampu belakang motor Prabu. Tangan kanannya menekan gas tapi kemudian urung karena dari arah berlawanan terlihat padat. Ketika pikiran ragu-ragu itu muncul, sebuah bunyi memekakkan telinga membuat matanya terpejam sepersekian detik. BRAAAK! Raungan klakson panjang. Suara besi menghantam besi. Suara yang membuat ulu hati siapa pun mencelos. Satria baru saja keluar dari tikungan ketika dunia dirasanya melambat. Ia melihat sesuatu terlempar ke udara. Sebentuk siluet yang sangat ia kenal. Helm pecah dan serpihannya melayang bersama air hujan. Mata Satria tertuju pada sesuatu. Motor Prabu yang menghantam pembatas jalan, lalu tergilas keras oleh truk kontainer yang tak sempat mengerem. Dentuman logam menggemuruh membuat detik itu tangannya reflek menarik rem. Semua kendaraan di depannya kini terhenti dan gaduh. Satria melompat turun dari motornya. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia berlari dengan teriakan tanpa suara. Tak tahu harus berlari ke mana. Darah di mana-mana. Helm Prabu pecah. Ringsek. Tangannya terangkat ke atas. Gemetar menggapai udara. Memegangi kepalanya dengan linglung. “PRABU!” jerit Satria. “Prabu …!” Satria kembali menjerit. Tubuh sahabatnya itu tergeletak di bawah truk. Masih bernapas. Ia masih melihat Prabu menghela napas meski kepayahan. Matanya separuh terbuka. Bibirnya terbuka pelan. Mencoba mengatakan sesuatu yang tak bisa ditangkap telinga. “Tolong! Tolong!” jerit Satria, meraba-raba ponsel dan menekan nomor darurat yang bisa diingatnya saat itu. ***** (IGD Rumah Sakit Pinggiran Kota) Satria berdiri membeku. Bajunya basah kuyup. Sepatunya berlumpur. Jaket kulitnya tertempel bercak darah yang sudah mengering. Sejak tadi tatapannya tak beranjak dari sosok tampan yang kini bergeming dengan wajah penuh luka lecet. Bagian sisi kanan kepalanya ada jahitan besar. Seorang dokter menutup catatan medis, suaranya datar. “Kepalanya parah, ada pendarahan masif. Kami sudah berusaha, Pak.” Kalimat itu seperti palu godam, tapi Satria bergeming. Rahangnya mengeras, matanya memerah. Ia hanya menatap kain putih yang kini menutupi sahabatnya hingga dada. Tangan Prabu sudah rapi disedekapkan. Suster berjalan pelan ke arahnya. "Bapak kenal korban?" Satria mengangguk seraya menelan ludah. Rahangnya tiba-tiba saja mengeras. "Saya kenal istrinya. Biar saya yang kasih tau,” ucapnya. Entah sudah berapa kali ia mengusap wajahnya sejak tadi. Air mata yang berusaha dihalaunya tak kunjung berhenti. “Bapak telepon atau kita….” “Saya yang kabari langsung. Saya ke rumahnya sekarang.” Satria menggigit bibir bawahnya. “Sekalian urus surat-suratnya juga,” tambahnya pelan. Kali ini sepertinya ia harus benar-benar meninggalkan perawat itu. …The dorm room was dark, save for the cheap lamp on Ezra's desk. The radiator hummed softly, echoing through the silence of the night. Ezra laid on his bed, curled up beneath his thick blanket, phone in hand, staring at the chatbox on his screen._Ken_D☆ll: “So, how about we meet tomorrow at Punt Park? Sounds good?”Ezra's chest tightened as his gaze lingered on the message. His thumbs hovered above the screen, hesitating on what to type. He let his gaze drift from his phone screen to the bed across from him where his roommate Kendall laid, back facing him, and the reflection of his phone light dully illuminating his part of the room.It wasn’t supposed to go this far. Ezra had only created the fake profile—Maya—because of his undeniable crush on his roommate, Kendall. From the very first day he’d dragged his suitcase down the narrow dorm hall and stepped inside his new room for the semester, he’d been floored by what he found waiting there: Kendall Hayes.Tall, curly brown hair, broad
Daniel lifted Evan from the counter and carried him effortlessly into his bedroom. Once he made way to his large bed, he dropped him, letting him crease his perfectly laid bed.Standing at the edge of the bed he stared at Evan’s frail physique, his cock twitching to be set free from the restriction of his pants. He slowly undid the draw strings watching Evans expression at the bulge. In a swift motion, it was freed and Evan gasped at its girth. Daniel could see the lust in his eyes and it turned him on furthermore. Rubbing his hand on his length, he imagined what it would feel like to fuck Evan. The thought of ramming his dick into his ass excited him so much he nearly came. “Wh—what do I do?” Evan asked, staring at him like a lost sheep. A sheep— yes that's what Evan was. Innocent looking, and vulnerable to predators—predators like himself. “Take your clothes off.” Daniel said, softly. Raking his eyes over Evan's clothed self, “Start from the top.”Evans tugged off the sweatshirt,
“And here I was feeling special.” Evan chuckled nervously, slurping a spoonful of the broth.Daniel's gaze lingered on Evan a little too long before he responded, “You are special.” “Mm…sure.” Evan added, staring down at his soup like it was the most interesting thing in the world. “You didn’t answer my question though. Why did you invite me here?”“Finish your dinner first.” Daniel watched him until Evan shifted uncomfortably on the stool.“I meant what I said earlier,” Daniel continued at last. “You were humiliated. Nobody should walk away from that without a place to go. You deserved better.”“From Liam?” Evan asked, trying to sound casual, though his voice cracked on the name.Daniel’s jaw flexed. “From everyone.”Silence settled between them, broken only by the rain and the clink of their spoons against the bowls.Evan set his spoon down, pushing the soup away though he’d barely eaten half. “You don’t have to sugarcoat it. I know you think I’m pathetic. Showing up here. Staying
The breakup was humiliating. Not because Evan cried—though he did, it was loud and ugly—but because it happened in front of Liam’s entire friend group at a bar. And now, three weeks later, Evan had the nerve to show up at the Fitzgerald estate. Rain plastered his clothes to his body as he stood on the stone porch, shivering and fuming. He never should’ve taken Liam’s father up on his old offer. He'd told him after a huge fight with Liam, “If you ever need space, the pool house is yours.” And there he was standing in the rain with his duffel bag, in front of this beach house belonging to his Ex's father whom he'd informed of his arrival two days ago. He rang the doorbell and soon the door opened. And there stood him—Daniel Fitzgerald. Fifty three, greying hair. Fit physique, tall and breathtakingly good looking even for his age. “Evan.” Daniel’s voice was low, quite surprised even. “Hi, Mr. Fitz,” Evan shivered. “I thought you got my text.” “Oh, I did. I'm only surprised you a






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.