ログインDuring a zombie-extermination mission, I end up getting infected with the zombie virus for the sake of protecting my squad. But Emilia Campbell, the team captain as well as my girlfriend, decides to give the only antidote to another team member, who has secretly run away from the squad, only to get infected. Her excuse is that she should avoid being partial. With red-rimmed eyes, she promises me, "Trust me, Zack. I'll definitely find another antidote for you during the three-day incubation period of the virus." I can only nod in response while enduring the scorching pain flaring from my body. On the second day, Emilia actually returns with an antidote. But the second she's about to inject it into my bloodstream, Dustin Nott, a member who has never left the campsite, suddenly frowns. "My head hurts so much, Em… What if I'm already infected with the virus?" Emilia doesn't hesitate to pass the antidote to Dustin in front of everyone else. "Dustin is a part of the team as well. It's my fault as the captain for not taking care of the squad if anything happens to him. "Zack, you're the vice leader as well as my boyfriend. I must be impartial." That's when I notice the smugness crossing Dustin's eyes as well as Emilia's righteous expression. Fury bubbles within me at that moment. She must be impartial, huh? Fine. Emilia will soon understand that the squad would never have survived to this point without me. After all, I'm a perfect evolved specimen—a human being that only has a 0.1% chance of overcoming the zombie virus and evolving into a powerhouse in this apocalypse.
もっと見る"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGDustin tried to run, but his broken leg slowed him down.A zombie lunged at him, sinking its teeth into his neck. Blood sprayed everywhere.Emilia froze for a second, then turned and ran.But she couldn't outrun the zombies.Soon, three zombies surrounded her.She backed up against a crumbling wall, holding the empty gun and futilely pulling the trigger.Click. Click. Click.The zombies lunged.I looked away."Should we record this?" the co-driver asked."No. Keep going."The convoy drove away from the ruins, leaving behind the screams and the blood.That evening, Iris came to find me."The northern outpost reported back that the serum is working well. Out of 30 infected people, 29 were cured. The last one had been infected for too long to be saved, but at least they didn't mutate.""That's good news," I said."There's more." Iris looked at me. "The research team has developed a preventive vaccine using your antibodies. After vaccination, it completely immunizes the hu
One, two, five, ten... Eventually, only Emilia and Dustin were left standing there.Leon walked up to me with his head lowered. "Vice-Captain... I'm sorry. I didn't speak up back then…""Now you're sorry?"He nodded. "I get it now. Some people aren't worth sticking with."I patted him on the shoulder. "Get in the vehicle."As the convoy prepared to leave, Emilia suddenly rushed over and grabbed my arm."Zack, take me with you. Please."I looked at her hand, the same hand that had once been my world.Now, all I felt was disgust."Let go," I said.She wouldn't. Tears streamed down her face."I was mistaken... I know I was. Please, give me one more chance. Just one last chance…"I shook her hand off."Emilia, I've given you chances. Three chances. The first time, you wanted to be impartial and gave the antidote to someone else. The second time, you wanted to be impartial and gave me the suppressant. The third time, you wanted to be impartial and kicked me out of the camp."I
"Relocate?" Emilia blinked. "Where to?""To Elysium Refuge. If you're willing to accept shelter."Emilia's eyes lit up.But in the next moment, Dustin came rushing out of the mall. His face went pale when he saw me."Vice-Captain?" He stammered. "You... You didn't die?"I looked at him.The look in my eyes made Dustin stumble backward, and he almost fell."I didn't die. Are you disappointed?""No… No…" Dustin shook his head frantically as he retreated behind Emilia. "Em, how did he..."Emilia shielded Dustin and turned to face me."Zack, I'm sorry for what happened before. But I had no choice. I had to prioritize the well-being of the whole team...""I understand," I interrupted her. "You had to be impartial, right?"Emilia's face went pale."But that's not necessary anymore. I'm no longer your team member, so you don't have to do that now," I continued. I turned to Iris. "Captain Rochester, what's the procedure for relocation?"Iris glanced at Emilia, then back
Iris looked at me. "Was that vice-captain you?"I didn't answer. Instead, I turned and walked toward the weapon rack."Are you going over there?" Iris asked.I picked up a modified weapon and checked the magazine. "I'm not going to rescue her.""Then what are you going there for?""To watch a good show," I said, loading the magazine smoothly, like I had done a thousand times before. "Maybe I'll collect some long-due interest too."The convoy raced through the ruins.Iris led the team personally, which consisted of twenty elite superpowered soldiers who were all heavily armed.I sat in the passenger seat of the lead vehicle, watching the crumbling ruins fly by outside the window.Ever since the gray-white streaks had disappeared, my vision had become incredibly sharp.I could see maggots in the eye sockets of a zombie 300 yards away, and weeds growing in the cracks of the ruins.I could even see the rising black smoke in the distance.That was the location of the firefight


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.