เข้าสู่ระบบI worked as a waitress in a small-town diner, but I put my husband Tom through Harvard Law School. But after he graduated, when I was eight months pregnant, he divorced with me and married my best friend, Sarah. On their wedding day, I didn't cry or make a scene. Instead, I went to work as their housekeeper. Tom thought my love made me easy to control. Sarah treated me like dirt, thinking I was born to serve. I never complained – I just prepared a surprise for them. But when their daughter was admitted to Harvard, they opened the surprise and went crazy.
ดูเพิ่มเติมSeorang perempuan duduk dengan begitu tegang di pinggir ranjang, dalam sebuah kamar hotel. Dia sedang menunggu model pria yang telah ia sewa untuk tidur dengannya.
Ceklek' Mendengar suara pintu yang dibuka, Shazia Adena Malik–perempuan berusia 22 tahun itu menoleh ke arah sumber suara untuk melihat siapa yang datang. Namun, dia sama sekali tak bisa melihat apa-apa sebab matanya tertutup rapat. Dia sengaja merekatkan bulu mata bawah dengan bulu mata atas, menggunakan lem bulu mata palsu. Dia melakukan itu karena dia tak ingin mengenali wajah model yang dia sewa, tujuannya agar dia dan pria yang ia sewa tak canggung apabila bertemu di kemudian hari. "Kamu temannya kakaknya Kania yah?" tanya Shazia, ketika dia merasa jika pria itu telah berdiri depannya. Pria yang ia sewa adalah seorang model yang merupakan teman dari kakak sahabatnya. Sebenarnya Shazia tak ingin benar-benar tidur dengan model pria ini. Dia hanya ingin mengambil foto dirinya dan pria ini yang tidur di ranjang, seolah mereka melakukan hubungan suami istri tapi sebenarnya tidak. Dia melakukan ini untuk membatalkan perjodohan yang direncanakan oleh pamannya untuknya. Shazia dijodohkan dengan seorang duda berusia 45 tahun yang sudah memiliki anak berusia 12. Tentu saja, Shazia tidak mau menikah dengan duda berusia 45 tahun sedangkan ia gadis berusia 22 yang masih polos. Namun, Shazia tak bisa menolak secara langsung. Dia hanya anak angkat di keluarga Malik dan dia tidak bisa membantah. Jadi Shazia melakukan cara ini, berharap dengan ini pria yang dijodohkan dengannya akan menolak sendiri perjodohan tersebut. "Tu-tunggu!" Pria itu tiba-tiba menyentuh pipi Shazia, membuat Shazia refleks menepisnya. Jujur saja, Shazia sangat gugup karena ini pertama kalinya dia melakukan hal gila. Jika kakak angkatnya yang saat ini sedang di luar negeri mengetahui apa yang dia lakukan sekarang, bisa dipastikan Shazia berakhir mengenaskan. Kakak angkatnya adalah orang yang membesarkannya akan tetapi sangat dingin dan galak. 'Aroma parfum Kakak.' batin Shazia, di mana jantungnya berdebar sangat kencang ketika penciumannya menangkap aroma familiar. Meskipun sudah tujuh tahun tak bertemu dengan pemilik aroma ini, akan tetapi otaknya mengingat dengan sempurna aroma wangi ini. 'Ah, hanya kebetulan saja! Mungkin parfum pria ini sama dengan parfum Kakk. Lagian Kakak masih di luar negeri.' batin Shazia, menepis jika pria ini adalah kakaknya. Karena tak mungkin! Kakaknya masih di luar negeri dan dia sangat senang akan hal itu sebab kakaknya adalah orang yang sangat galak serta banyak aturan. Hidup Shazia bebas setelah kakaknya menetap di luar negeri. "Umm … ini hanya pura-pura, jadi tidak ada kontak fisik berlebihan," ucap Shazia kembali, mendongak pada sosok pria di depannya. "Humm." Suara deheman yang terdengar berat, mengalun di telinga Shazia. Deg-deg-deg' Jantung Shazia kembali berdebar kencang. Suara ini … sangat familiar, mirip suara dari seseorang yang sering menghukum Shazia untuk berdiri di sudut ruangan. Kakaknya! 'Ah, tidak. Kakak sedang di luar negeri. Sekalipun hari ini aku wisuda, dia tidak akan pulang.' batin Shazia, mencoba menenangkan diri. Yah, hari ini Shazia melaksanakan wisuda di kampusnya. Setelah pulang dari acara tersebut, Shazia segera ke hotel ini untuk melancarkan rencananya. Besok, pamannya dan pria itu akan datang untuk meresmikan perjodohan atau membahas pernikahan. Shazia tak punya waktu yang banyak! "I-ingat, ini hanya pura-pura yah," ujar Shazia lagi, meraba ranjang lalu bergegas naik ke bagian tengah. Di sisi lain, pria itu bersedekap di dada, melayangkan tatapan membunuh pada Shazia. Dia melepas tuxedo mahal yang membungkus tubuhnya lalu naik ke atas ranjang. Dia mendekati Shazia yang terlihat kesusahan melepas kebaya. Dia tebak perempuan ini langsung ke sini setelah acara wisudanya berakhir. Pria itu mengambil posisi duduk di belakang Shazia, dia mengulurkan tangan–membantu gadis nakal ini untuk menurunkan resleting pada bagian belakang kebaya, bagian punggung. "Aku bisa melakukannya sendiri," ucap Shazia, refleks menoleh ke belakang lalu meraba-raba agar mengetahui posisi pria itu. "Waktuku tidak banyak, aku akan membantumu," ucap pria itu dengan suara bariton yang berat dan deep. Jantung Shazia lagi-lagi berdebar sangat kencang. Suara ini sangat mirip dengan suara kakaknya. Namun, tak mungkin pria ini adalah kakaknya. Jika pria ini kakaknya, pria ini pasti akan mengamuk dan memarahinya. Yah, selain aroma parfum, mungkin pria ini juga punya suara yang mirip dengan kakaknya. "Ta-tapi jangan pegang-pegang yah. Ingat, ini cuma pura-pura," ucap Shazia dengan nada tegas. "Humm." Pria itu hanya berdehem sebagai balasan. Selanjutnya, Shazia membiarkan pria itu membantunya melepaskan kebaya ketat yang membungkus tubuhnya. Saat kebaya itu lepas, Shazia buru-buru meraba-raba bantal. Lalu setelah mendapatkannya, dia langsung menutupi tubuhnya dengan bantal tersebut. "Aku sudah meletakkan kamera di atas televisi," ucap Shazia, di mana meja televisi berada di depan ranjang. Sebelum dia menutup mata dengan lem perekat bulu mata palsu, Shazia lebih dulu memastikan semua. Termasuk memastikan kamera berada di tempat yang strategis. "Nanti kamu tekan ini--" Shazia meraba meja nakas lalu meraih sebuah remot kecil di sana, kemudian dia menyerahkan remot tersebut pada pria tersebut, "agar kameranya mengambil foto kita." "Humm." Pria itu lagi-lagi hanya berdehem. "Aku akan tidur, da-dan kamu lepaskan bajumu agar kita benar-benar terlihat seperti sedang melakukan hubungan suami istri," ujar Shazia, membaringkan tubuh secara perlahan lalu menutupi dirinya dengan selimut. Di dalam selimut, Shazia melepas tanktop lalu menurunkan tali bra supaya pundaknya terlihat telanjang, seakan dia tidak mengenakan apapun. Setelah itu, dia memposisikan selimut hingga ketek. Pundak mulusnya terlihat, seolah tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun di balik selimut. Sejak awal pria itu sudah melepas kemejanya, jadi dia hanya tinggal berbaring di sebelah Shazia. Namun, dia melanggar rules yang Shazia katakan. Dia mendekat pada Shazia, memeluk perempuan itu dari belakang lalu menelusup ke ceruk leher Shazia. "A-apa yang anda lakukan?!" panik Shazia, meraba kepala pria itu lalu mendorongnya agar menjauh dari lehernya. "Kau ingin hasil yang natural bukan?" ujar pria itu, tetap memposisikan kepala pada ceruk leher Shazia. "Ya. Tapi aku tidak mau disentuh. Cukup pura-pura tidur saja. Tolong menjauh!" pekik Shazia, mulai takut dan panik. "Jika kau takut, kenapa nekat melakukan ini, Humm?!" Alih-alih menjauh, pria itu mengeratkan pelukannya pada Shazia. Tubuh keduanya berbalut selimut dan itu benar-benar membuat mereka terlihat seperti tengah bergulat panas di atas ranjang. "Pokoknya aku tidak membayarmu untuk melakukan ini," jerit Shazia setengah marah, mencoba mendorong pria itu akan tetapi dia tidak berhasil. "Kau bukan perempuan yang kuinginkan, jadi tenanglah," bisik pria itu tepat di sebelah daun telinga Shazia. "Percaya padaku dan kau akan mendapatkan hasil yang bagus," lanjutnya. Seakan terkena hipnotis, Shazia mendadak diam. Meskipun dibalut rasa takut dan panik, akan tetapi dia mencoba memberikan kepercayaan pada pria itu. Dia membiatkan pria itu memeluknya dan menelusup pada ceruk lehernya. Setelah mendapatkan foto dengan gaya tersebut, pria tersebut mengarahkannya untuk mengubah posisi. Saat ini Shazia memeluk pria tersebut, di mana dia tidur dengan berbantalkan lengan si 'pria. Pria itu juga duduk di atas perutnya, membuat mereka sedang melakukan hubungan suami istrinya. Setelah banyak mengambil foto, pria itu turun dari ranjang. "Tolong ambil kameranya dan … besok sore, kirim fotonya ke alamat yang sudah kuletakkan di bawah kamera," ucap Shazia, memeluk selimut sambil meraba-raba ranjang untuk menemukan kebayanya. Pria itu menaikkan sebelah alis. "Kau tidak takut aku menyebar foto-foto ini, Humm?" "Kalau kamu sebar, aku tidak membayarmu," ujar Shazia, "lagian aku tahu kamu siapa. Karir model-mu bakalan hancur kalau berani menyebarnya," lanjutnya, memberi ancaman pada pria itu. "Cih." Pria itu berdecis pelan, mengambil kamera dan sebuah kertas berisi alamat di bawah kamera. Setelah itu, dia beranjak dari sana, meninggalkan Shazia yang langsung menghela napas lega sebab pria mengerikan itu telah pergi. Yah, mengerikan karena dia melanggar rules yang Shazia katakan. Pria itu mencium leher Shazia, memeluk Shazia, dan duduk di atas perut Shazia. Ah! Dia sangat merinding melakukan semua itu. Beruntung dia menutup mata sehingga jika suatu saat dia bertemu dengan pria tadi, Shazia tak akan malu sebab dia tak mengenal pria itu. Shazia melepas lem bulu mata lalu buru-buru mengenakan pakaiannya. Tiba-tiba saja handphone Shazia berdering, di mana kepala maid lah yang menghubunginya. "Ada apa, Bu?" ujar Shazia setelah mengangkat telepon. 'Nona, anda di mana? Tuan Rayden telah pulang dan Tuan mencari anda.' Deg'"You know exactly what I'm talking about." My voice was steel. "Or have you forgotten about your plans with Sarah?"The color drained from his face."I found those messages between you and Sarah one year before the divorce. Not just about your affair..."I pulled out my phone. "About how you were going to kill me."The crowd gasped. Police officers stepped closer, suddenly more alert."You were planning to take the money I earned from those double shifts. All my savings that paid for your precious Harvard degree."Sarah's perfect face crumpled. She knew what was coming."Did you really think I was that stupid, Tom? That I didn't see the poison you kept in your desk drawer?"Tom's face twisted with desperate rage. "You're insane! I never—""Let me refresh your memory." I pressed play on my phone.Tom's voice filled the air: "Once the stupid bitch is dead, we'll have everything. Her life insurance, her savings..."Sarah's girlish laugh followed: "And everyone will think poor Jane worked
"Isn't this reason enough?" Sarah took a deep breath.Her perfectly manicured hands trembled. "I may not have your natural grace, your quiet dignity that everyone admired..."She stepped closer, her designer heels clicking on the marble. "But I won where it matters. Your husband chose me!"The crowd watched as she circled me like a shark. "Look at you - the great Jane, scrubbing my floors, serving my meals."Her voice dripped with satisfaction. "You and your pathetic daughter living in my house like beggars, surviving on my charity!"She threw back her head and laughed, the sound echoing off the mansion walls. "Do you know what I treasure most about these eighteen years?"Her eyes glittered with cruel joy. "Watching your daughter clutch Grace's castoffs like they're Gucci! The way she cradles those broken toys!""Remember that ratty pink dress Grace outgrew? Your daughter cried with gratitude when I let her have it!"Her laughter grew wilder, more unhinged. She was practically dancing
"I want to make a statement," I said, my voice carrying across the sudden silence. "I never switched those babies."The police officer took out his notebook. "Tell us exactly what happened."I looked directly into the phone cameras broadcasting my confession to the world."Eighteen years ago, I was eight months pregnant when Tom divorced me. We had been married for seven years."Tom shifted uncomfortably as all eyes turned to him."I had worked double shifts at a diner to put him through Harvard Law School. Every penny I earned went to his tuition.""The day he made partner at his firm, he served me divorce papers. He was marrying Sarah - my best friend."The crowd murmured. Someone spat at Tom's feet."I had nowhere to go, no money saved. Tom knew this. He offered me a job as their housekeeper, knowing I couldn't refuse.""So I served the woman who stole my husband while I was carrying his child. I cleaned their floors and cooked their meals."Sarah's perfectly made-up face twisted. "
Sarah took a stumbling step toward me, her designer dress stained with tears. Her mascara ran in perfect tragic streaks down her cheeks."How could you?" she screamed, her voice breaking just right for the cameras pointed at us. "I treated you like family!"Her hands shook as she reached toward the crowd."Even Grace was your daughter, I gave her everything! The best schools, the finest clothes, more love than my own child!"Her voice rose higher, trembling with practiced emotion."I poured my heart and soul into raising Grace for eighteen years! Every moment, every celebration, every triumph!""I neglected my own daughter for her!" She pressed her hands to her heart. "My real baby suffered while I lavished love on yours!"Instagram Live viewers flooded in by the thousands as she turned to face the cameras directly.Tears streamed down her face. "She knew our babies were switched. All this time, she knew!""Why didn't you tell me?" She whirled back to me. "Why did you hurt my child?"
After the initial shock, the party guests rushed down to the street below, their designer shoes slipping on the marble stairs.Tom shot me a look of pure hatred before stumbling after them.I calmly took out my phone and dialed 911: "I need to report a suicide. My daughter was driven to jump." My voic
"Grace isn't your daughter," I said clearly. "She's mine."The champagne glass slipped from Sarah's hand, shattering on the marble floor."What did you say?" Her voice shook."Your real daughter is Mistake, the one you've been torturing in the basement for eighteen years."My hand touched the DNA test r






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
ความคิดเห็น