Alpha's Regret: Reclaiming My Fated Luna

Alpha's Regret: Reclaiming My Fated Luna

last updateLast Updated : 2023-09-26
By:  Gem LynneCompleted
Language: English
goodnovel16goodnovel
4.7
3 ratings. 3 reviews
137Chapters
11.9Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Theda thinks her life is slowly turning warm after she's saved by the said-infamous alpha Tyler, but things rumble for her when he gets to know a bitter truth about her, and ignoring the fated signals, he turns cold and ill-treats her. What bitter truth led to his drastic change? What will be Theda's new faith after she runs away to save her unborn child and herself? ****** "Isn't it enough, Alpha Tyler? You've hurt me way more than I could ever imagine in the past few weeks. What have I done?" I couldn't stand his grayish-blue eyes piercing my soul. I tried the look away when I became confusingly lost in his eyes. He grabbed my chin and lifted it, he made me look back at him. "These eyes. I never once thought that I would dislike them so much, nor did I ever think that this face of yours is related to something behind my past miseries." His voice was cold and emotionless and I couldn't believe he was the same man who once treated me with love. "I. Hate. You." He spelt out his hatred without blinking an eye, causing my mouth to drop. "Just kill me then and maybe you'll be free from the haunts of your past miseries," I whispered hoarsely with so much bitterness bottled up inside me. "I will surely do that without regret." My eyes grew bigger in awe and a despicable smirk snarled up the face of his that once gave me sparkles. Sadly, it still did. "Every day…will be a living hell for you, Theda." His hot-cold whisper sent chills down my spine and I froze. I thought I'd seen the worst but for him..it was just the tip of an iceberg.

View More

Chapter 1

Chapter 1

"Nyonya!" "Nyonya!"

Teriakan terdengar dari bawah. Semua orang melihat ke arah menara tertinggi kastil, tempat seorang wanita dengan gaun putih penuh darah berdiri di tepi.

Selene Moreau Leventis.

Duchess Leventis. Wanita yang biasanya tenang dan penurut itu kini berdiri di tempat yang paling berbahaya. Para penjaga di belakangnya bergerak hati-hati, takut salah langkah akan membuatnya benar-benar melompat.

Tangisnya pecah, jelas dan memilukan. Selene memegang perutnya yang sakit. Ia baru saja keguguran untuk kelima kalinya. Kali ini ia tahu kebenarannya: semua itu bukan karena penyakit atau kelemahan tubuhnya, tapi karena ulah suaminya sendiri yang tidak menginginkan dia melahirkan keturunan.

"Selene!" suara berat memanggil dari belakang. Dirian, sang Duke, suaminya.

Selene mendengar tapi enggan menoleh. Kecewa sudah terlalu dalam.

"Apa ini trik lain untuk menarik perhatianku?" tanya Dirian dingin. Ia memang tidak suka dibuat repot. Selene tahu, pria itu datang hanya karena tidak tahan mendengar bisik-bisik orang soal istrinya yang berdiri di puncak menara.

Selene tersenyum miris. Suaranya serak saat ia menjawab, "Bukankah kau seharusnya meminta maaf?" Pandangannya jatuh pada seorang wanita cantik yang berdiri di antara para pelayan. Wanita yang rapi, berbeda jauh dari dirinya yang berantakan. Wanita itu dicintai Dirian, wanita yang bahkan tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan dirinya dimata Dirian 

"Apa kau gila?" Dirian membalas, nadanya meremehkan.

Selene berbalik menatapnya. Mata suaminya merah, tapi tetap dingin.

"Ya, aku memang gila! Aku gila karena mencintaimu, padahal kaulah yang membunuh lima anakmu sendiri!" teriak Selene.

Semua pengawal terkejut. Dirian pun terdiam sesaat.

"Selene, jangan bicara omong kosong," ucapnya, mencoba menahan kendali.

Selene tertawa getir. Darah terus merembes membasahi gaunnya.

"Pernahkah kau mencintaiku?" tanyanya dengan tatapan penuh harap.

Dirian diam. Lalu ia mengalihkan pandangan 

"Tidak pernah " Selene menjawab sendiri karena reaksi Dirian 

Kata dari mulutnya sendiri  menghantam Selene. Ia menarik napas gemetar.

"Hentikan semua ini dan turun. Kau butuh istirahat," kata Dirian.

"Jangan pura-pura peduli!" bentak Selene. Air matanya jatuh. "Mengapa tidak membunuhku saja, daripada membunuh semua janin yang tidak berdosa itu?"

"Selene, berhenti! Turun sekarang!" Dirian berteriak memberi perintah.

"Aku akan melompat dan mati lalu bertemu dengan anak-anakku untuk meminta maaf karena tidak mampu melindungi mereka dari ayah mereka sendiri!" balas Selene lagi.

"Jangan gila, Selene! Kau tidak boleh mati!" seru Dirian, gelisah. Langkah mundur Selene membuatnya semakin rentan di tepi menara.

Selene justru tersenyum. "Demi anak-anakku yang kau bunuh, aku bersumpah! Kau akan membayar semuanya! Aku akan menghantuimu seumur hidup dengan penyesalan dan penderitaan tanpa akhir!"

Ia lalu melompat.

"Selene!" Dirian menjerit, berlari ke tepi menara bersama para pengawal. Tapi mereka terlambat. Tubuh Selene meluncur cepat dan menghantam tanah.

Brak 

Suara seluruh tulang yang dihancurkan dan darah yang menggenang disana . 

Matanya masih terbuka, sempat melihat wajah Dirian yang kacau melihat tubuhnya di bawah.

Teriakan pelayan dan orang-orang pecah memenuhi udara malam. Langit gelap tanpa bintang malam itu menjadi saksi tragedi yang menimpa Duchess Leventis.

.

.

"Selene!"

Selene tersentak, matanya terbuka lebar. Napasnya pendek, seperti orang yang baru saja diselamatkan dari tenggelam. Di depannya berdiri Dirian Leventis, suaminya. Wajahnya tenang, dingin, matanya tajam. Di belakangnya ada dokter dan pelayan, bau obat memenuhi ruangan. Semua terasa nyata, seperti panggung yang sama ketika hidupnya berakhir dulu.

Dia menoleh ke samping. Jam di meja kecil berdetak. Hari dan tahun yang tertera menunjukkan dua tahun sebelum ia mati. Angin malam masuk lewat jendela yang terbuka sedikit, membawa aroma yang sama dengan saat ia terjatuh dari menara. Ingatan itu kembali: tubuhnya menghantam tanah, sakit yang luar biasa, lalu gelap. Ia meraba perutnya, mencari bekas luka. Tangannya berbalut kasa, hangat, berdarah. Ia bingung — pernah mati, tapi sekarang hidup lagi.

"Nyonya Duchess, tangan anda berdarah. Saya akan memasang infus," kata dokter cepat. Selene menatap gerakannya dengan kaku, masih tidak percaya.

Dirian berkata, suaranya terdengar jengkel. "Jangan mempersulit dokter."

Selene menarik napas panjang. Kepalanya penuh dengan bayangan jasadnya, jeritan orang-orang, dan terutama lima janin yang tidak pernah lahir. Semua itu menghantam dirinya sekaligus.

Ia menoleh pada Dirian. Suaranya pelan tapi jelas.

"Dirian."

Suaminya menatap. "Apa?"

Selene menatap lurus ke matanya.

"Ayo bercerai."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Mihaela Vardianu
Mihaela Vardianu
More updates please
2023-08-18 00:48:41
2
0
CONIE CARANGIAN
CONIE CARANGIAN
Waste of time to read this,sorry author
2024-04-16 01:24:21
0
0
Linda Parizeau
Linda Parizeau
Another story about an alpha, à bit h shewolf who will do anything to have him and à weak fated mate who will suffer in the end from all the schemes.
2023-10-09 03:27:41
3
1
137 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status