Andai Kita Tak Pernah Bertemu

Andai Kita Tak Pernah Bertemu

By:  Ratih AnginUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
50Chapters
23views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Tania Jovana, mantan primadona nomor satu di Kota Vala, jatuh miskin dalam semalam. Terjerat utang, dia terpaksa melamar jadi pengasuh bayi tanpa tahu kalau majikannya adalah Dito, mantan kekasih yang dulu dia campakkan dengan kejam! Tania pun harus menahan malu di ruang wawancara. Di balik pengeras suara, Dito tersenyum sinis dan menatap tajam ke arah Tania yang tanpa busana di depan cermin. Dito mengurung Tania di sisinya dengan kontrak bernilai selangit sebagai pengasuh eksklusif putranya demi melampiaskan dendam. Tania pun menerima segala kekejaman Dito tanpa pernah mengeluh. Dia merawat anak yang wajahnya mirip Dito itu dengan tulus, sambil memendam rahasia pedih tentang kematian bayinya sendiri. Tapi saat pria itu menemukan lebam di tubuh anaknya, saat Tania hampir dituduh menyakiti anaknya, dan saat Tania mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi anak itu dalam bahaya penculikan ... tembok hati Dito akhirnya runtuh. Dengan mata memerah, Dito mengungkap kebenaran masa lalu dan berlutut memohon ampun, "Ini anak kita, balik lagi sama aku, ya?"

View More

Chapter 1

Bab 1

"Tania, pelamar perawat bayi. Ayo ikut aku."

Tania menarik napas dalam-dalam lalu bangkit berdiri, melangkah mengikuti petugas menyusuri koridor yang beralaskan karpet tebal.

"Syarat untuk posisi perawat bayi sangat tinggi," ujar petugas itu sambil berjalan. "Gaji pokoknya 200 juta. Kalau majikan puas sama kerjamu, bakal ada bonus tambahan. Tapi tentu saja, tingkat eliminasinya juga tinggi."

"Baik Bu," jawab Tania sambil mengangguk, merasa kerongkongannya tercekat.

Lembaga penyalur pengasuh kelas atas bernama "Citra Kasih" ini hanya melayani kaum konglomerat papan atas. Bahkan pengasuh kasta terendah pun harus lulusan universitas ternama, apalagi posisi perawat bayi yang gajinya jauh lebih besar.

Dia membuang harga dirinya dan melamar ke sini demi gaji besar itu. 200 juta sudah cukup untuk membayar bunga rentenir bulan ini. Kalau bisa bertahan di bulan pertama, dia pun bisa membawa ibunya ke rumah sakit dan tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi seperti tikus.

"Sudah sampai, masuklah."

Suara petugas itu memutus lamunan Tania yang kini sudah berdiri di depan pintu kayu berukir.

Dia mendorong pintu dan masuk. Ruangan itu lebih kecil dari bayangannya. Di sana ada tempat bangsal periksa di tengah, wastafel serta peralatan medis di satu sisi, dan sebuah cermin besar di sisi lainnya.

Di depan cermin, seorang dokter wanita berjas putih duduk sambil membolak-balik dokumen.

"Tania Jovana?" tanyanya tanpa mendongak.

"Iya," jawab Tania pelan.

"Berdiri di tengah," perintah dokter itu dengan suara dingin. "Lepaskan pakaianmu."

Tania mendongak kaget. "Apa?"

Dokter itu akhirnya menatapnya dengan nada lebih dingin. "Perawat bayi harus menjalani pemeriksaan fisik menyeluruh, terutama kesehatan bagian dada."

"Kalau nggak terima, kamu boleh pergi sekarang."

Tania menggigit bibir bawahnya. Dia tidak boleh mundur. Ibunya menunggu uang di kontrakan, para rentenir itu juga sudah mengancam akan memotong jarinya.

"Aku bersedia ...." ucapnya susah payah. Kukunya menancap ke telapak tangan saat dia gemetar membuka kancing pertama.

Pakaiannya merosot satu per satu. Udara dingin yang menyentuh kulit membuat bulu kuduknya merinding.

Tania merasakan malu yang luar biasa. Dia pernah menjadi primadona nomor satu di Kota Vala yang dipuja semua orang. Kini, dia harus berdiri tanpa pakaian di depan orang asing untuk diperiksa.

Dia refleks memeluk diri sendiri untuk menutupi tubuhnya. Cermin besar di depannya membuat dia merasa tidak tenang, seolah ada sepasang mata yang sedang mengintainya dari balik kaca.

Tania tidak tahu, cermin itu memang satu arah.

Di balik cermin itu terdapat sofa kulit berwarna putih bersih. Di atasnya, seorang pria berjas hitam duduk dengan senyum gelap yang sinis.

Wajah tampannya dihiasi kacamata bingkai perak. Di balik lensa itu, sepasang mata elang yang hitam pekat tampak sedalam palung, menyimpan kedinginan yang menusuk tulang.

Sebuah tahi lalat merah kecil di sudut matanya tampak berkilat di bawah cahaya redup, menambah kesan menggoda yang sulit dijelaskan.

Dia menatap tajam ke arah Tania di balik cermin. Sorot matanya menyapu setiap inci tubuh Tania. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki yang putih bersih dengan penuh gairah.

Dua tahun berlalu, Tania memang lebih kurus, tapi lekuk tubuhnya justru makin menggoda hingga membuatnya ingin segera merengkuh perempuan itu ke dalam pelukan.

Jakunnya bergerak naik turun, lalu dia menekan tombol interkom.

Sementara itu, Tania memejamkan mata saat menjalani pemeriksaan dokter.

Tangan yang dingin itu meraba tubuhnya untuk memeriksa. Dia nyaris menangis saking malu dan terhina.

"Bentuk tubuh bagus ...." Dokter itu berucap ke arah alat perekam dengan suara datar tanpa emosi.

Saat itulah, tiba-tiba terdengar suara pria yang dingin dan berat di telinga Tania.

"Apa Nona Tania sudah menikah? Punya anak?"

Tania hampir melonjak kaget. Dia berusaha menutupi tubuhnya dalam kepanikan. Suara itu terlalu familier, saking familiernya hingga membuat jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.

"Jangan gerak!" Dokter itu menahan pergelangan tangannya dan memperingatkan dengan suara pelan. "Ini calon majikan yang tanya. Jawabanmu bakal berpengaruh langsung sama hasil wawancara, kamu harus jawab."

Tubuh Tania gemetar hebat. Dia berusaha keras meyakinkan diri kalau dia cuma salah dengar. Tidak mungkin orang itu, orang itu pun tidak punya alasan untuk mencari pengasuh bayi.

Setelah susah payah menenangkan diri, dia baru bisa menjawab dengan berat, "Aku ... aku belum menikah, dan nggak punya anak ...."

Suara itu terdengar lagi, kali ini terdengar sedikit lebih senang dari sebelumnya. "Lalu, apa punya pacar?"

Wajah Tania memucat. Jarinya mencengkeram telapak tangan dengan kuat demi menekan rasa hina di dalam dadanya sebelum menjawab perlahan, "Nggak punya ...."

Dito menyunggingkan senyum. Jari panjangnya mengetuk lengan sofa sambil terus bertanya, "Lalu ... kapan terakhir kali kamu berhubungan intim?"

Wajah Tania seketika memerah padam. Air mata penghinaan mulai menggenang di pelupuk matanya.

Dia tidak pernah membayangkan akan mengalami semua ini.

Rasanya dia ingin berbalik dan pergi saja. Tapi, saat teringat utang rentenir yang selangit dan ibunya yang terbaring sakit di rumah ... dia hanya bisa menggertakkan gigi dan terus bertahan.

"Sudah terlalu lama, aku ... nggak ingat ...."

Dia menjawab sambil menggertakkan gigi. Matanya yang terasa kosong menatap sang dokter, suara agak serak. "Maaf Dok, apa pemeriksaannya sudah selesai?"

Di balik cermin, Dito menatap bulu mata Tania yang gemetar dan tinjunya yang terkepal. Rasa puas yang menyimpang dari sebuah balas dendam melonjak di hatinya.

Nona Besar Tania yang dulu begitu angkuh, mungkin tidak pernah terpikir akan muncul di hadapannya dengan kondisi seperti ini.

Dito mengatakan sesuatu ke mikrofon, lalu dokter itu langsung mengangguk.

"Sudah cukup, silakan pakai bajumu."

Tania merasa sangat lega seolah baru saja mendapat pengampunan besar. Dia memungut pakaian di lantai dengan jari gemetaran. Begitu dia selesai mengancingkan kancing terakhir, pintu kamar tiba-tiba terbuka.

"Wawancaramu lulus, kamu diterima."

Suara itu tidak lagi terdengar lewat pengeras suara, melainkan benar-benar terdengar dari belakang tubuhnya.

Tania mematung seolah tersambar petir. Setelah sekian lama, dia baru perlahan membalikkan badannya.

Pupil matanya mendadak mengecil begitu melihat sosok jangkung itu.

Dito Halim.

Pria muda yang terkubur dalam ingatannya. Kini sudah menjadi pria dewasa, sedang bersandar di bingkai pintu sambil menatapnya dengan senyum tipis penuh maksud.

Dia mengenakan setelan jas hitam yang sangat pas di badannya. Wajahnya jauh lebih tampan dibanding dua tahun lalu, tapi tatapan matanya yang gelap membuat seluruh auranya terasa sangat dingin.

Dia melangkah mendekat selangkah demi selangkah. Sepatu kulitnya hampir nggak bersuara di atas karpet, tapi setiap langkahnya terasa seperti menginjak ulu hati Tania.

Dia berhenti tepat di depan Tania, lalu mengulurkan tangan mencengkeram dagunya dan memaksanya mendongak.

"Lama nggak jumpa, Tania."

Suaranya rendah dan lembut, tapi justru membuat Tania merasa seolah terjatuh ke dalam lubang es yang sangat dingin.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
50 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status