로그인One life-saving secret. Two sisters. A marriage built on a lie. Fifteen years ago, I pulled Desmond Zimmerman out of the water. But through the blur, he saw the wrong girl. He gave his heart to my younger sister, Vivian, believing she was his savior. Then came the accident that paralyzed her—and the world decided I was the monster who caused it. When Vivian vanished on their wedding day, Desmond didn't seek justice; he sought a substitute. He forced me into a marriage of convenience in bitter vows. Now, Vivian is back, walking perfectly and demanding her place at Desmond's side. She wants my husband, my home, and my total ruin. I signed the divorce papers and walked out with nothing but a secret life growing inside me and the truth he was too blind to see. My escape led me deep into a dark underworld realm that shook my sanity, a place where names are traded, and shadows have teeth. How will Desmond react when he realizes he spent three years living with the woman who actually kept him alive? Can a man who treated his wife like a "substitute" ever truly be forgiven?
더 보기Malam telah tiba. Waktu bagi semua orang untuk beristirahat entah itu untuk menonton film favorite, bersenda gurau bersama keluarga, makan bersama kerabat, atau memejamkan mata melepaskan penat dari hari panjang yang telah dilalui.
Begitu juga dengan Shera, seharusnya gadis itu tengah menonton drama dan series kesukaannya. Tetapi karena paksaan dan tekanan yang tidak kunjung berhenti, gadis itu terpaksa meninggalkan hal kesukaannya demi berkutat di depan buku-buku serta kumpulan soal dan pembahasan UTBK yang akan diadakan 5 bulan lagi.
Sejak dirinya dipaksa secara mati-matian oleh kedua orangtuanya untuk mengikuti jejak kakaknya yang lulusan universitas negeri nomor satu di Indonesia, Shera kehilangan semua mimpi, cita-cita, dan angan-angannya yang sudah ia rangkai sedemikian rupa saat masih duduk di Sekolah Dasar.
Ia tidak punya lagi mimpi, tidak lagi punya tujuan, semua yang ia lakukan hanyalah mengikuti paksaan ayah dan ibunya —seolah-olah ia adalah boneka, demi berhenti mendengar omongan yang keluar dari mulut-mulut jahat para sanak saudara, tetangga, kerabat orangtua, maupun ayah ibunya sendiri yang selalu saja mengatakan betapa ia sangat berbeda dari kakaknya.
Shera tau maksudnya, ia tau bahwa mereka secara tersirat mengatainya bodoh. Setidaknya cukup sopan untuk tidak berterus terang mengatai seseorang bodoh di depan orangnya.
Dan yang bisa dilakukan Shera hanyalah mengulas senyum pahit dengan berbagai macam emosi yang terpendam, emosi yang kapan saja bisa meledak saat sudah tidak lagi mampu untuk menampungnya.
Shera menghela napasnya kasar. Dipandanginya buku-buku tebal dan berlembar-lembar kertas soal di meja belajarnya dengan emosi yang campur aduk. Sudah. Ia tidak sanggup lagi untuk melanjutkan belajar sampai waktu yang ditentukan oleh orangtuanya yaitu jam 10.
Shera melihat jam dinding, masih pukul 8 yang berarti masih tersisa 2 jam lagi sampai ia dapat menutup buku-buku sialan itu. 'Di sekolah belajar, di bimbel belajar, sekarang di rumah juga disuruh belajar?! Damn, gue bukan Yehsuh yang maniak belajar demi bisa masuk kampus top,' ujarnya dalam hati.
"Sialan," umpat Shera dengan nada lemah sembari menyandarkan punggungnya di penyanggah kursi. Cewek itu menggunakan lengan kanannya untuk menutupi mata —meredakan emosi dan menjernihkan pikiran—agar bisa belajar lagi.
Nihil, pikirannya terlalu kalut untuk sekadar membaca materi. Ia meninggalkan meja belajar menuju jendela kamarnya, memandangi langit gelap berkabut memberi tanda bahwa hujan akan segera turun untuk membasahi bumi. 'Lagi-lagi hujan,' batinnya.
Shera tidak membenci hujan, ia hanya tidak suka hujan yang memunculkan memori-memori pahit nan kelam yang sudah ia kubur dalam-dalam jauh di dasar ingatannya agar tidak timbul kembali selamanya.
'Kayanya gue sama hujan musuhan, doi gak suka ngeliat gue tenang dikit di waktu hujan like other people do. Kalau hujan bisa bikin orang-orang nikmatin indomie rebus atau tidur nyenyak, gue sama hujan dibikin nikmatin sakit kepala yang gak bisa gue definisikan rasa sakitnya.'
Tanpa Shera sadari, Ibunya telah berdiri cukup lama di depan pintu dengan murka melihat anaknya —bonekanya— yang telah meninggalkan meja belajar. Wanita itu mengepalkan tangannya dengan keras, diambilnya sebuah buku kecil namun tebal bertuliskan Bank Soal TKA. "Dasar anak bodoh!"
Bersamaan dengan makian itu, buku kecil tersebut melayang dengan cepat dan mendarat mulus di kepala Shera dengan ujung buku yang keras.
TUKK!!
Dapat Shera rasakan sebuah benda tebal menghantam tengkorak kepalanya dengan keras dan itu cukup membuat pandangannya menghitam beberapa detik dengan rasa sakit yang luar biasa.
“Beraninya kamu ninggalin meja belajar sebelum waktunya selesai?! Sudah pandai melawan?! Sudah pandai membangkang?! Mau jadi apa kamu kalau hidup seperti itu anak bodoh?!” teriak Ibunya tanpa perduli akibat perbuatannya melempar buku tebal itu tadi.
"Jawab!!"
Shera memegang kepalanya, menatap Ibunya marah. "Yang jelas gak jadi orangtua gagal kaya Mama!"
PLAKK!!
"Orangtua gagal kata kamu?! Justru kamu yang gagal karena gak bisa nyeimbangi kemampuan kamu sama kepintaran kakak kamu!"
"Kalau aku yang dibilang gagal, terus Mama sama Papa apa?"
"Shera Zefanya!!"
"Apa?! Mau pukul aku? Ayo cepat lakuin aja! Pukul aku! Tampar aku! Pukul aku sampai aku mati!"
"Dasar anak kurang ajar!" Kali ini bukan Ibunya, melainkan Ayahnya dengan setelan kantor yang lengkap menandakan bahwa laki-laki itu baru saja pulang.
Satu tamparan membelai kulit wajah Shera lagi. Anehnya tidak sakit sama sekali. Tidak ada yang Shera rasakan selain kepalanya yang terus berdenyut hebat dan emosi yang tercampur aduk menjadi satu.
Wajah dan tubuhnya sudah kebal dengan tamparan, pukulan, bantingan, serta bentuk kekerasan apapun yang dilakukan oleh Ayah dan Ibunya hingga ia tidak merasakan apa-apa lagi.
"Papa sama Mama mati-matian kerja buat bayarin semua biaya pendidikan kamu yang nggak murah, tapi kamu membangkang seperti ini. Kamu mau jadi anak liar? Kalau kamu mau, sudah pergi sana dari rumah ini! Kami tidak butuh anak tidak berguna kaya kamu!"
"Pa, udah. Ayo keluar!," Ibunya menarik lengan Sang Suami, mengajak suaminya itu untuk segera keluar sebelum mengamuk.
"I told you Shera, you are the worst child ever," Jari telunjuk laki-laki tua itu menunjuk-nunjuk wajah Shera seolah memperjelas objek yang dibicarakan. "Kerjaannya cuma bisa bikin kami malu di depan orang-orang. Nggak punya bakat, nggak punya prestasi, nggak punya kemampuan, dan nggak pintar. Satu pun gak ada dari kamu yang bisa dibanggain."
Ibu Shera semakin menarik lengan suaminya itu untuk keluar. "Sudah, Pa!"
Lelaki itu menarik lengannya yang ditarik Sang Istri, menatap istrinya dengan marah. "Seharusnya kamu gugurin saja dia kalau besarnya seperti ini."
"Keluar!" teriak Shera pada akhirnya. Cukup jangan menambahi luka dan beban yang tidak perlu, kepalanya sudah berdenyut sangat hebat, ditambah lagi ayah dan ibunya yang kini malah bertengkar. Tidak ada yang sadar dari keduanya bagaimana kondisinya sekarang dengan rasa sakit yang sangat hebat di kepala, pipi yang merah, dan tubuh yang mulai lemas karena menahan sakit.
"Tolong keluar..." pintanya lirih hampir seperti tidak terdengar.
Orangtuanya saling pandang, lalu benar-benar meninggalkan kamar Shera tanpa peduli, tanpa sepatah kata seolah-olah kejadian yang tadi tidak pernah terjadi. Selalu seperti itu, setiap waktu. Benar-benar dibuang.
'Mati! Gue harus mati malam ini juga'. Shera berjalan dengan sempoyongan menuju laci meja belajarnya. Ia mengambil cutter yang dibungkus dengan tisu agar tidak ketahuan oleh siapapun di rumah ini.
"Haaaa sial... akhirnya gue bener-bener bisa mati..." ucapnya setelah menggores lengan kanannya cukup dalam tepat di venanya sebanyak 3 goresan. Tidak butuh waktu lama, cairan kental berwarna merah menembus keluar dengan volume yang sangat banyak. Shera benar-benar ingin mengakhiri hidupnya.
Pandangannya perlahan mulai kabur, kemudian sekelebat kenangan bersama teman-temannya muncul begitu saja tanpa diperintah seolah menunjukkan ia akan segera meninggalkan orang-orang yang menjadi alasannya untuk tetap hidup sampai beberapa menit yang lalu.
Shera tersenyum, senyuman yang tidak seharusnya ia keluarkan di detik-detik ajal menjemput dan entah bagaimana setetes air mata jatuh dari kelopak matanya. Setetes demi tetes akhirnya membasahi wajah Shera, tersenyum sambil menangis menikmati saat-saat terakhir.
'Gue masih mempertanyakan sebenarnya di kehidupan sebelumnya gue pernah ngelakuin dosa sebesar apa sampai harus ngalamin hal-hal buruk kaya gini bahkan ngebunuh diri sendiri? Apa gue emang pantas mati untuk nebus kesalahan fatal gue di masa lalu? Kalau emang iya, gue mohon sama Tuhan untuk maafin diri gue yang hina di masa lalu demi kehidupan gue di masa sekarang. Gue mohon...'
“Shera!!”
Yang terdengar terakhir kali sebelum dirinya jatuh ke lantai yang penuh darah dan menutup mata adalah langkah kaki dan teriakan Kakaknya yang berlari masuk menerobos kamarnya. Setelah itu, semuanya menjadi gelap.
'Tolong....'
- SIERRAI walked fast, clicking my heels with a frantic rhythm against the hallway tile. Every step felt like I was smacking on Desmond’s face. I fucking hated him. I really did. It wasn’t just the heat-of-the-moment kind of anger anymore; it was a cold, deep-seated rot in my chest."Sierra! Wait the hell up!"Aleena scrambled out of the apartment, clutching her keys and a denim jacket. She caught the elevator door just before it hissed shut."I told you, I’m going alone," I said, staring at the floor numbers."Like hell you are. Did you see that feed? There are probably vultures with cameras already circling the block. You’re not walking a single block by yourself.""I can handle Michael Stewart, Aleena.""It’s not Michael I’m worried about, it’s the forty thousand psychos who think you’re a villain because your sister can cry on cue." She shoved her way into the lift, breathing hard. "I’m driving. End of story."We hit the parking garage and piled into her beat-up sedan. The engine
- SIERRAI was standing in front of the hallway mirror, adjusting the collar of my coat. I was already three minutes late to meet Michael Stewart at the diner, and my nerves were shot."Sierra! Oh my god, Sierra, get in here now!"Aleena’s scream ripped through the quiet of the flat. I jumped, my heart slamming against my ribs so hard it made me lightheaded. I dropped my clutch, the contents spilling across the hardwood."Aleena? What's up? Are you okay?" I hurried into the living room, my breath hitching. I expected to see blood or a broken window.Instead, I found her slumped on the sofa, holding up her phone. Her face was flushed, her jaw clenched. "That bitch. That absolute, lying bitch. Look at this.""What are you talking about?" I moved closer, squinting at the screen."Vivian," Aleena spat, her thumb trembling as she turned up the volume. "She’s live now. And the whole goddamn world is watching."I looked down. There she was. Vivian sat in a pool of soft, flattering light, her
- DESMOND"Pull over," I rasped, my throat feeling like I’d swallowed a handful of dry gravel. "Boss, we should keep moving. The press—""I said pull the fuck over, Nigel. Somewhere quiet."He didn't argue a second time. He swerved the car into a darkened alleyway behind a row of closed-up warehouses, the tires crunching over broken glass and grit. The engine hummed for a second before he killed the lights, plunging the cabin into a dark shadow.Nigel reached out for the tablet and checked the live feed. "Check the numbers, Boss," Nigel said, tilting the phone so the screen caught the dim light. "The feed just cut out, but they’ve already got her final plea on a loop. It’s sitting at a staggering two million views and climbing.""Give it to me straight," I said, leaning my head back against the leather. "How bad is the hit?"Nigel tapped away with a grim expression. "The stock took a three percent dip in after-hours trading. A few of the junior partners are panicking on Slack, and m
- DESMOND"Turn it up, Nigel. I want to hear every goddamn word," I barked, shoving my arms into my jacket sleeves. The sudden movement sent a spike of white-hot pain through my temples, but I ignored it. It kept me from putting my fist through the wall.Nigel hit the volume on the tablet. Vivian’s shaky voice flooded the office. "...and I just kept it all inside because I loved him," she was saying, dabbing at her eyes with a crumpled tissue. "I’ve loved Desmond Zimmerman since we were kids. He was my whole world. My only world.""The hell he was," I muttered, pacing the rug like a caged animal. "Nigel, the car. Why the fuck are you still standing here?""Keys are in my hand, Boss. Just listen for a second. You need to know exactly how deep this hole is before you jump in."I stopped and glared at the screen. Vivian was leaning into the camera now, her hair artfully disheveled."One day, I disappeared on my wedding day," she sniffled, a fresh wave of tears spilling over. "They calle
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.