Short
Boyfriend Cheated with Cheer Captain, I Left

Boyfriend Cheated with Cheer Captain, I Left

By:  ReneemoonCompleted
Language: English
goodnovel4goodnovel
10Chapters
10.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

At the National High School Football All-Star Game, my boyfriend Evan had just been named MVP. Sophia, the cheer captain, immediately posted on Instagram. Caption: "Guess who got a little something from the champion himself~" The photo turned out to be a pair of Evan's worn underwear! Scrawled across them in lipstick were the words: "For my dearest Sophia." She held them up with her long acrylic nails, pouting for the selfie. The internet exploded. "Why does she have his underwear?" "Isn't it obvious? They're totally together." "Sitting here waiting for the official couple photo." Within seconds, a close-up of the two of them cheek-to-cheek surfaced in the comments. Congratulations and teasing flooded the feed. I gripped my phone, a chill spreading through my entire body. Evan had promised to go public about us ages ago but kept putting it off, saying he needed to prove himself first. He'd been stalling ever since. Now here I was, his actual girlfriend, and I didn't even get an invite to his victory party. I took a deep breath and called him. "Explain." On the other end, Evan's voice was lazy, almost amused. "The fans grabbed everything off me. Jersey, pads, all of it. Sophia insisted on keeping something as a souvenir, so I gave her the underwear. No big deal." "The Instagram post is just riding the hype. Don't be so uptight about it." Then Sophia's voice chimed in. "Yeah, honey, Evan and I are like brothers! I've seen everything on him already. It's just a pair of boxers, so don't be so petty." I listened to their increasingly flirtatious banter through the speaker, then slowly pulled off my engagement ring and tossed it aside. "Fine," I said to Evan. "I'll be the bigger person. Why don't you skip the 'girl bro' thing and just make her your girlfriend? I'm tired of watching this act."

View More

Chapter 1

Chapter 1

“Heh! Apa yang kamu lakukan di sini?! Kamu mengintipku, hah?!”

Adit, yang tengah mengepel lantai ruang ganti pelanggan, nyaris menjatuhkan pelnya saat mendengar suara bentakan itu.

Di hadapannya, seorang wanita cantik dengan tubuh menggoda dan hanya mengenakan pakaian dalam berenda, berdiri dengan napas memburu.

Itu Bu Celina, manajer tempatnya bekerja!

Tangan wanita itu menutupi dadanya yang montok, tapi pahanya yang mulus justru terabaikan.

Glek.

Adit menelan ludah. Otaknya berteriak untuk tidak melihat, tapi matanya berkhianat.

Takut? Jelas. Adit hanya trainee rendahan. Terpergok dalam situasi seperti ini bisa membuatnya dipecat seketika.

Namun, senang?

Bagaimana tidak? Bu Celina adalah fantasi hidup para terapis pria di panti pijat ini!

Dengan tubuh berlekuk sempurna, kulit sehalus sutra, dan tatapan tajam menggoda, siapa yang tidak pernah membayangkan wanita itu dalam pelukan mereka?

Dan sekarang… tubuh yang biasanya hanya ada dalam bayangan, terpampang jelas di depannya!

Tapi… ada yang aneh.

Kenapa Bu Celina masih di sini? Bukankah semua orang sudah pulang?

Dan yang lebih aneh lagi… kenapa tangannya basah?

“Apa yang kamu lihat, dasar mesum! Mau saya pecat?!”

Deg!

Adit buru-buru menggeleng. “A—ampun, Bu Celina! Saya enggak tahu kalau Ibu masih di sini…”

Sebagai trainee, posisi Adit di panti pijat ini sangat lemah. Dia adalah sasaran empuk senior-senior yang haus kuasa. Tidak heran sebelum dirinya, banyak trainee yang tidak bertahan lama, entah karena mundur atau dikeluarkan dengan alasan sepele.

Itulah alasannya malam ini dia bisa ada di sini. Karena salah satu seniornya melemparkan tanggung jawab kepadanya.

Namun, siapa yang menyangka hal tersebut membawanya ke situasi seperti ini…

Adit melihat Celina takut-takut. Ekspresi manajernya itu dingin, tapi tatapannya panik. Ditambah wajah cantiknya yang memerah, Adit merasa Bu Celina seperti takut ada rahasia besar yang terbongkar.

“Sudah! Aku enggak mau tahu. Pergi dari sini atau…”

Bu Celina mengomel selagi buru-buru mengenakan celananya.

Namun, karena terlalu panik, kakinya tersangkut di celana dan tubuhnya terhuyung ke depan!

Bruk!

Refleks, Adit segera menangkap tengkuk Bu Celina sebelum kepala wanita itu terbentur lantai.

Deg!

Dan saat itu juga, sesuatu terjadi.

Wajah Bu Celina merah padam hingga ke telinga. Napasnya memburu, matanya bergetar, dan…

"Ah…"

Desahan lirih itu lolos begitu saja.

Adit membeku.

Apa-apaan ini?!

Sadar dengan suara yang baru saja keluar dari mulutnya, Bu Celina langsung bangkit dengan wajah panik!

“Kau, kau apakan aku barusan!?”

Adit ikut berdiri, wajahnya bingung. "Sa-saya nggak ngapa-ngapain, Bu! Saya cuma menangkap Ibu biar nggak jatuh—"

“Tapi---”

Celina ingin mengatakan sesuatu.

Ada sensasi aneh yang menyelinap ke dalam tubuhnya.

Hangat.

Menyusup ke saraf-sarafnya.

Tiba-tiba area yang disentuh Adit tadi terasa lebih peka. Seakan… terbakar dari dalam.

Namun, dia menggeleng cepat, menepis perasaan aneh itu.

Mana mungkin dia mengaku sentuhan tangan Adit di lehernya … membuat sesuatu dalam tubuhnya berdenyut?!

“Ah, sudah! Lupakan saja!”

Bu Celina bergegas mengenakan pakaiannya, lalu sebelum keluar ruangan, dia menoleh tajam.

"Ingat ya, urusan kita belum selesai!"

Adit hanya bisa menatap kepergiannya sambil menelan ludah.

Habis sudah…

Sudah menyinggung bosnya, Adit pasti akan kehilangan pekerjaannya ini dalam waktu dekat.

“Haaah … ya sudahlah, itu urusan nanti …” pikirnya sebelum memutuskan membereskan alat-alat bersihnya dan keluar dari ruangan.

Tanpa dia sadari…

Cincin yang melingkar di jarinya berpendar…

Lalu menghilang…

Dan membentuk lingkaran hitam di jarinya.

**

Keesokan paginya.

“Anak baru nggak berguna! Baru berapa hari jadi trainee sudah berani datang terlambat?!"

Makian itu terlontar dari mulut Rudi, senior Adit yang paling berengsek. Pria yang sama dengan yang melemparkan pekerjaan bersih-bersih kepadanya tadi malam.

"Maaf, Pak Rudi! Saya tidak bermaksud untuk datang terlambat…"

Tadi pagi, Adit sebenarnya ingin berangkat kerja seperti biasa. Namun, di tengah Bersiap-siap, Adit menyadari bahwa cincin peninggalan kakeknya tiba-tiba hilang.

Sebagai satu-satunya kenangan yang Adit punya terhadap sang kakek yang baru meninggal beberapa waktu lalu, benda itu sangat berharga.

Dia pun mencarinya dengan panik, sampai akhirnya lupa waktu dan berakhir datang terlambat ke kantor.

Alhasil, di sinilah dia sekarang, menerima ocehan dan menjadi bahan pelampiasan kemarahan seniornya.

BUK!

Satu pukulan dengan gulungan kertas koran diterima di kepala oleh Adit.

“Nggak bermaksud terlambat? Kamu kira aku peduli kamu bermaksud atau nggak?! Di sini ada aturan, dan kamu sudah melanggarnya!”

BUK!

Pukulan kedua.

“Baru trainee aja udah belagu.”

BUK!

Pukulan ketiga.

“Kalau kamu merasa udah jago, kamu sebaiknya---”

BRAK!

Pintu pegawai terbuka keras!

“RUDI!”

Bu Celina muncul dengan wajah marah, membuat Rudi menoleh kaget. “B-Bu Celina?”

Adit langsung mengangkat kepala. Saat melihat sosok Celina, dia langsung menunduk lagi, jantungnya berdegup kencang.

Dia pikir… Bu Celina akan memecatnya.

Namun, yang terjadi selanjutnya sangat di luar dugaan.

“Kenapa pelanggan ruang 25 belum ada yang melayani?!”

Rudi membeku, panik. "A-anu, Bu… saya—"

Mata Bu Celina menatap ke arah Adit.

Dan saat mereka saling bertatapan…

Celina langsung mengenalinya.

"Kamu…"

Adit menahan napas, takut kejadian tadi malam akan diungkit.

Tapi Celina membuang wajah, berdeham, lalu berkata dengan suara tegas.

“Kamu! Siapa nama kamu!” tanya Celina.

“A—Adit bu…”

“Adit! Sekarang kamu pergi ke ruang 25. Pijat pelanggan yang ada di sana itu!”

Wajah Rudi seketika mengeras, “Ta—tapi Bu… Adit kan masih Trainee, seharusnya saya yang—"

"Kalau mau pelanggan, seharusnya kamu peka sejak tadi! Bukan sibuk menindas bawahan!" Kemudian, Celina menatap Adit. “Selain itu, mulai saat ini dia jadi pegawai tetap! Cepat ke sana!”

“Ba—baik bu!”

Adit yang melihat ini sebagai kesempatannya, segera saja berlari ke ruangan itu, diikuti tatapan kesal dari Rudi yang merasa dipermalukan.

Namun, berbeda dengan Bu Celina. Ia melihatnya dengan tatapan berbeda…

‘Adit … ya?’

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status