Home / Romansa / Chemistry Chapter / BAB 226 : SIDANG SKRIPSI

Share

BAB 226 : SIDANG SKRIPSI

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-09-30 09:25:46

SEBELUMNYA DI RUANG SIDANG...

Pintu kayu jati berukir berat itu tertutup rapat di belakang Zea, mengurungnya dalam ruangan berukuran empat kali lima meter yang suhunya terasa membekukan tulang. Suara dengung pendingin ruangan dan detak jarum jam dinding menambah ketegangan yang membuat jantung Zea berdebar dua kali lipat lebih kencang.

​Di hadapan Zea, membentang sebuah meja bundar besar. Tiga orang akademisi hukum paling disegani di Fakultas Hukum Universitas Erlangga telah duduk menanti.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Yoongina
( ^-^)ノ∠※。.:*:・'°☆
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
proud of you Natasha Zealina, S.H...<3
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Chemistry Chapter   BAB 229 : NGAPEL

    Tembok Cina mungkin adalah salah satu keajaiban dunia yang pembangunannya membutuhkan waktu berabad-abad. Namun bagi Dewa, keajaiban dunia yang paling menyebalkan baru saja dibangun di atas ranjang king size miliknya hanya dalam waktu kurang dari lima menit.​Dua buah guling dijejerkan secara vertikal tepat di tengah-tengah kasur, membelah wilayah kekuasaan menjadi dua bagian yang tak bisa diganggu gugat.​Di sebelah kiri, Zea tidur dengan posisi sangat nyaman. Ia memeluk selimut tebal, membelakangi sang suami, sementara napasnya terdengar teratur.​Di sebelah kanan, Dewa menatap langit-langit kamar dengan mata membelalak lebar. Jam di nakas sudah menunjukkan pukul satu dini hari, dan ia belum bisa memejamkan mata sedetik pun.​Udara dari pendingin ruangan terasa lebih menusuk tulang dari biasanya. Dewa merapatkan selimutnya, menghela napas panjang, lalu melirik ke arah dua guling pembatas itu. Perlahan, dengan gerakan mengendap-endap seperti maling, Dewa menjulurkan tangan kirinya, b

  • Chemistry Chapter   BAB 228 : HUKUMAN OMA DYAH

    Ruang keluarga kediaman utama keluarga besar Adiraja malam itu tidak lagi terasa seperti tempat berkumpul yang hangat. Bagi Dewa, ruangan berlapis karpet Turki dan dihiasi lampu kristal mewah itu mendadak berubah fungsi menjadi Ruang Sidang Pengadilan.​Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup sang pengacara tak terkalahkan itu, Dewa duduk di kursi Terdakwa Utama.​Di sofa seberang, duduklah Majelis Hakim yang paling ditakuti Dewa di dunia ini, Oma Dyah sebagai Hakim Ketua, dan Lenny, sebagai Hakim Anggota. Keduanya duduk dengan postur tegak, tangan bersedekap, dan tatapan mata yang lebih tajam daripada silet.​Sementara itu, sang ‘korban’ alias Zea, tampak bersandar nyaman di atas chaise lounge empuk yang dipenuhi bantal-bantal beludru. Zea sedang menikmati perannya, memakan buah anggur hijau tanpa biji, sambil memangku Angga yang sedang sibuk mengemut mainan jerapahnya.​Hening yang mencekam memenuhi ruangan. Dewa berdeham pelan, mencoba memecah keheningan dengan senyum canggun

  • Chemistry Chapter   BAB 227 : POSITIF!

    Enam bulan telah berlalu sejak sidang skripsi yang menegangkan itu. Anggara Adiraja kini telah tumbuh menjadi bayi berusia enam bulan yang luar biasa gembul, aktif, dan menjadi penguasa di Griya Zadewa. ​Hari ini adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Zea. Hari Wisuda Universitas Erlangga. ​Pagi itu, suasana di kamar utama keluarga Adiraja sudah seperti lokasi pengungsian bencana alam. Zea berdiri di depan cermin besar, dibalut kebaya modern berwarna rose gold yang pas di badan, berusaha menjepit rambutnya dengan pin sambil sesekali menghela napas panjang. ​Di atas ranjang, Angga yang mengenakan setelan jas mini berwarna navy, kembaran persis dengan ayahnya, sedang asyik mengunyah teether berbentuk jerapah, mengoceh tak jelas. ​Sementara itu, Dewa tampak kewalahan. Ia berlari kecil dari walk-in closet sambil membawa sebelah sepatu bayi, dasi kupu-kupu yang miring, dan tas popok bermotif kelinci yang sangat tidak macho. ​"Sayang, sepatu kanan Angga hilang! Tadi seingatk

  • Chemistry Chapter   BAB 226 : SIDANG SKRIPSI

    SEBELUMNYA DI RUANG SIDANG... Pintu kayu jati berukir berat itu tertutup rapat di belakang Zea, mengurungnya dalam ruangan berukuran empat kali lima meter yang suhunya terasa membekukan tulang. Suara dengung pendingin ruangan dan detak jarum jam dinding menambah ketegangan yang membuat jantung Zea berdebar dua kali lipat lebih kencang. ​Di hadapan Zea, membentang sebuah meja bundar besar. Tiga orang akademisi hukum paling disegani di Fakultas Hukum Universitas Erlangga telah duduk menanti. ​Di tengah, duduk Bu Hana, dosen pembimbingnya yang menatap dengan senyum tipis. Namun, di sisi kiri dan kanan Bu Hana, duduk dua "algojo" akademis yang paling ditakuti bagi seluruh mahasiswa tingkat akhir: Prof. Dr. Haryono, S.H., M.H., pakar Hukum Acara Pidana yang terkenal tak pernah pelit memberikan nilai C; dan Dr. Ratna Siregar, S.H., M.H., spesialis Hukum Pidana Ekonomi dan Kejahatan Korporasi yang matanya setajam pisau bedah saat menguliti argumen mahasiswa. ​Zea melangkah tegap menu

  • Chemistry Chapter   BAB 225 : LULUS NILAI A

    Satu bulan berlalu sejak Anggara Adiraja membuka matanya untuk pertama kali melihat dunia. Kehidupan di Griya Zadewa telah bertransformasi. Jam raksasa di ruang tengah yang biasanya menjadi penanda keberangkatan Sadewa Adiraja ke kantor atau kampus, kini lebih sering menjadi saksi bisu pria itu mondar-mandir di tengah malam dengan rambut acak-acakan bak orang kehilangan arah. ​Pukul dua dini hari, tangisan melengking memecah keheningan kamar utama. ​Zea yang baru saja terlelap satu jam lalu setelah menyusui, menggeliat gelisah. Matanya terasa sangat berat, seolah baru saja dilakban. Namun, sebelum ia sempat mengangkat tubuhnya, tangan Dewa menahan bahunya dengan lembut. ​"Tidurlah, Sayang. Biar aku yang urus klien paling rewel ini," bisik Dewa dengan suara serak. ​Pria itu bangkit dari ranjang. Dewa hanya mengenakan celana tidur katun, tanpa atasan. Ia melangkah menghampiri boks bayi dengan langkah gontai, mengucek matanya yang merah. ​"Interupsi diterima, Yang Mulia Angga,"

  • Chemistry Chapter   BAB 224 : CUTI AYAH

    Cahaya matahari pagi yang hangat menyusup malu-malu dari balik celah tirai ruang perawatan VVIP Rumah Sakit. Suara bising ibukota di luar sana seolah teredam oleh dinding kedap suara, menyisakan keheningan yang hanya diisi oleh dengung halus pendingin ruangan dan ritme napas yang teratur. ​Zea perlahan membuka matanya. Pandangannya yang semula buram perlahan mulai fokus. Aroma khas antiseptik rumah sakit kini telah bercampur dengan wangi lembut bunga lili putih yang tertata cantik di dalam vas kristal di atas meja nakas. Tubuhnya terasa remuk redam, sisa-sisa kelelahan dari pertarungan bertaruh nyawa semalam masih menggerogoti setiap sendinya. Namun, rasa sakit itu tak sebanding dengan kelegaan luar biasa yang memenuhi rongga dadanya. Perutnya kini telah mengempis. ​Ia memutar kepalanya dengan gerakan pelan ke sisi kanan, dan pemandangan yang tersaji di depan matanya seketika membuat sudut bibir pucatnya melengkung ke atas. ​Di atas sofa panjang berlapis kulit di sudut ruangan,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status