Chapter: BAB 211 : STRATEGI DEWADewa melangkah keluar dari arah pintu utama Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, disambut oleh kilatan lampu kamera dan cecaran puluhan jurnalis. Barikade petugas keamanan kewalahan menahan gelombang manusia yang saling dorong demi mendapatkan pernyataan langsung dari sang pengacara kondang. "Pak Dewa! Apakah tuduhan rekayasa korporasi dalam Eksepsi Anda tadi memiliki bukti kuat?" "Pak Dewa, JPU menyebut Eksepsi Anda salah kaprah dan terlalu dramatis! Bagaimana tanggapan Anda?" Dewa berhenti sejenak di anak tangga terakhir. Ia tidak menghindar, namun tatapannya yang tajam dan rahangnya yang tegas sudah cukup membuat beberapa wartawan di barisan depan menurunkan volume suara mereka. "Eksepsi kami bersandar pada logika hukum dan rentetan kejanggalan fakta," jawab Dewa dengan suara bariton yang menggema, menembus keriuhan suara para awak media. "Tugas Jaksa Penuntut Umum adalah membuktikan dakwaannya, bukan sekedar memamerkan kertas yang sudah dirancang sedemikian rupa oleh pih
Last Updated: 2026-09-26
Chapter: BAB 210 : BANTAHAN TIARADewa menutup eksepsinya dengan kalimat yang menggetarkan. "Oleh karena itu, kami memohon agar Majelis Hakim Yang Mulia menyatakan Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum Batal Demi Hukum, atau setidak-tidaknya tidak dapat diterima, dan membebaskan Terdakwa Hasan Kurniawan dari segala tahanan." Ruang sidang hening selama beberapa detik, sebelum akhirnya keriuhan meledak. Para jurnalis di barisan belakang sibuk mencatat, sementara bisik-bisik tajam memenuhi area pengunjung. Argumen Dewa baru saja melemparkan tuduhan telak bahwa petinggi Mahesa Group-lah dalang di balik semua ini. Sagara Mahesa mengeraskan rahangnya, urat di lehernya menonjol, sementara Hendra Sadikin menelan ludah dengan susah payah. TOK! TOK! TOK! "Pengunjung sidang harap tenang!" suara bariton Hakim Ketua menggema tajam, mengetukkan palunya hingga ruangan kembali senyap. Hakim Ketua kemudian menoleh ke sisi kanan ruangan. "Saudara Jaksa Penuntut Umum, Majelis telah mendengar nota keberatan atau Eksepsi dari piha
Last Updated: 2026-09-26
Chapter: BAB 209 : SIDANG RESMI DIMULAIDua puluh hari sudah berlalu. Di dalam sel Rutan Cipinang, Hasan menghabiskan hari-harinya di balik jeruji besi. Tubuh rentanya semakin menyusut, dan batuk kering mulai sering menderanya akibat udara sel yang lembap. Meski Dewa telah mengerahkan tim dari Adiraja & Associates untuk memastikan keamanan dan kenyamanan mertuanya, tak ada kemewahan yang bisa menggantikan kebebasan. Sementara itu di Griya Zadewa, Zea hanya bisa menghitung hari dengan perut yang semakin membesar. Usia kandungannya kini menginjak akhir bulan kedelapan. Sesuai janjinya pada Dewa, ia tak lagi menangis histeris. Ia menelan semua pedihnya dalam doa-doa panjang di sepertiga malam. Ia harus kuat. Hari ini adalah hari penentuan, hari di mana perang di meja hijau resmi dimulai. Pagi itu, Dewa berdiri di depan cermin besar kamarnya. Kemeja putih dan dasi hitamnya telah terpasang rapi. Di tangannya, ia memegang Toga Advokat berwarna hitam dengan garis merah di kerahnya. Zea melangkah pelan mendekati suaminy
Last Updated: 2026-09-26
Chapter: BAB 208 : ANAK KORUPTORDi balik kaca jendela mobil Alphard hitam yang melaju membelah pagi menuju kawasan Universitas Erlangga, suasana begitu hening. Hanya deru halus mesin dan hembusan pendingin udara yang mengiringi perjalanan mereka. Sepanjang perjalanan, tangan kokoh Dewa tak sekalipun melepaskan genggamannya dari jemari dingin Zea. Dewa menoleh, menatap profil wajah istrinya dari samping. Wajah cantik itu masih tampak pucat dengan lingkaran hitam samar di bawah mata. Sudah berhari-hari Zea tertekan, menelan pilu dan menangis diam-diam meratapi nasib Hasan yang kini mendekam di tahanan. "Zea," panggil Dewa pelan, meremas lembut jemari istrinya untuk menarik perhatiannya. Zea tersentak halus dari lamunannya, lalu menoleh lambat. "Iya, Kak?" "Dengarkan aku baik-baik," ujar Dewa dengan intonasi rendah. "Tiga jam dari sekarang, Pak Supri sudah harus menunggumu di lobi Fakultas Hukum. Selesaikan urusan revisi Bab Empat dan Lima dengan bu Hana, serahkan berkasnya, lalu langsung pulang. Jangan
Last Updated: 2026-09-25
Chapter: BAB 207 : PELAKU SEBENARNYAKeheningan menyelimuti ruang rapat lantai dua puluh Mahesa Tower. Di balik kaca jendela raksasa yang memperlihatkan pemandangan Kota Jakarta dari ketinggian, tiga pria duduk mengelilingi meja oval berbahan kayu jati hitam. Mereka adalah inti dari Keluarga Mahesa—pemegang saham mayoritas sekaligus pemilik Mahesa Group. Di ujung meja, Bramantyo Mahesa, sang pemimpin berusia lima puluh lima tahun—duduk dengan penuh wibawa. Sebagai Ketua Dewan Komisaris, Bramantyo tidak lagi mencampuri urusan operasional sehari-hari. Ia adalah pemegang modal, penikmat keuntungan, dan penentu arah strategis perusahaan. Di sisi kanannya, Sagara Mahesa, putra sulung Bramantyo, seorang pengacara sekaligus menjabat sebagai Komisaris, memutar-mutar gelas kristal berisi wine. Tatapannya dingin, menyimpan ketegasan seorang pewaris utama. Sedangkan di sisi kirinya, Arka Mahesa, sang adik, duduk dalam diam sambil memperhatikan laporan keuangan di layar tabletnya. "Dua persen," ujar Bramantyo dengan suara be
Last Updated: 2026-09-25
Chapter: BAB 206 : TAHANAN KEJAKSAANRuang pemeriksaan Pelimpahan Tahap II di Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan terasa menyesakkan bagi Dewa. Mengingat ayah mertuanya harus berada di tempat ini sebagai tahanan kejaksaan. Hasan duduk tertunduk di kursi kayu cokelat tua dengan borgol yang mengikat kedua pergelangan tangannya. Pria paruh baya itu tampak rapuh. Kemeja batiknya kini terlihat longgar dari sejak tiga hari yang lalu, sementara bayangan hitam tebal menggelayut di bawah matanya yang layu. Pintu kayu ruang pemeriksaan terbuka pelan. Dewa melangkah masuk dengan langkah tegap, diikuti Bima dan Dika. Begitu pandangan mata Hasan menangkap sosok menantunya, pria tua itu tersentak. Bibirnya bergetar, dan bulir air mata langsung merebak di pelupuk matanya. "Dewa..." bisik Hasan dengan suara parau yang nyaris tak terdengar. Dia tidak menangisi nasibnya, Hasan justru merasa telah mempermalukan dua keluarga konglomerat Adiraja dan Sastrowardoyo. "Maafkan Papa, Nak... Gara-gara Papa, namamu, keluarga Adiraja dan keluar
Last Updated: 2026-09-24
Cinta Gita
"Dia pergi demi melindungiku. Dan aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk mengungkap alasan di balik kepergiannya."
Bagiku, Andreas adalah segalanya. Cowok tampan dan paling dipuja di SMA yang memilih menambatkan hatinya padaku, gadis sederhana yang biasa saja. Semua orang percaya kami takkan terpisahkan. Namun di hari menjelang kelulusan, Andreas menghilang tanpa kabar.
Empat tahun berlalu, disaat orang baru telah masuk kedalam hidupku, Andreas muncul kembali. Namun bukan untuk pulang, melainkan bersanding dengan gadis lain.
Saat kebenaran yang menjadi alasan Andreas pergi mulai terungkap, hatiku kembali diuji.
Sanggupkah aku dan Andreas memperjuangkan cinta yang sejak awal tak pernah pergi, atau terpaksa untuk saling merelakan? karena kami sama-sama telah terikat dengan orang baru.
Read
Chapter: EPILOG : TUJUH TAHUN KEMUDIAN"Iya, Sayang. Aku sama Aiden mau ke taman dulu," sahutku saat Andreas menelepon untuk menanyakan apakah aku sempat menjemput putra kami ke sekolah. Aiden Arkadewa, itulah nama putra pertama kami. Saat ini usianya sudah menginjak lima tahun dan baru saja masuk taman kanak-kanak. Dan saat ini, aku pun tengah mengandung anak kedua kami dengan usia kandungan tujuh bulan. "Maafkan aku ya, Sayang. Tadi mendadak Dokter Handoko memintaku mendampinginya di ruang operasi," sahut Andreas dari seberang telepon. Suaranya terdengar agak tergesa-gesa. Saat ini, Andreas memang sudah mencapai akhir masa pendidikan residennya. Ia memilih melanjutkan spesialisasi menjadi seorang dokter spesialis bedah jantung. Sebentar lagi, ujian kompetensi besar menantinya agar ia resmi menyandang gelar spesialis. Aku selalu dibuat takjub dan bangga oleh kegigihannya. Laki-laki itu mampu menjalani kerasnya pendidikan dokter spesialis sambil tetap bekerja sampingan di laboratorium demi membiayai kuliahnya se
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: BAB 100 LANGIT MALAM KALIURANG (18+)Deru mesin kereta eksekutif yang membawa kami dari Jakarta perlahan mereda begitu roda-rodanya mencengkeram rel Stasiun Tugu, Yogyakarta. Suara riuh pengumuman stasiun berpadu dengan petikan lirik lagu lawas tentang kota ini yang samar-samar terdengar dari pengeras suara, menyambut langkah kaki kami. Yogyakarta selalu memiliki cara tersendiri untuk menjerat rindu, namun bagi aku dan Andreas, kota ini kini menyandang status baru, saksi bisu dari awal perjalanan panjang kami sebagai sepasang suami istri. Setelah melewati resepsi pernikahan yang menguras energi di Jakarta seminggu lalu, Andreas langsung memesan tiket dan sebuah vila privat di daerah lereng Gunung Merapi, Kaliurang. Laki-laki itu tahu benar kalau aku membutuhkan ketenangan, jauh dari hiruk-pikuk rutinitas kesibukan kami di Jakarta. "Sini tasnya, Sayang. Biar aku yang bawa," ujar Andreas lembut begitu kami melangkah keluar dari pintu kedatangan stasiun. Aku menoleh, menatap wajah tampannya yang kini terlihat jauh
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: BAB 99 KEBAHAGIAAN KAMIRestoran bernuansa alam di sudut kota Bogor itu terasa begitu menyejukkan. Suara gemercik air dari kolam ikan yang mengelilingi saung-saung bambu, berpadu pas dengan aroma tanah basah sehabis hujan dan semilir angin pegunungan. Tempat ini sengaja dipilih oleh Bian, sebagai sebuah ketenangan untuk merayakan kelulusan, sekaligus menjadi saksi dari sebuah rencana besar yang sudah ia persiapkan matang-matang. Andreas menggenggam tanganku dengan erat saat kami berjalan menyusuri jalan setapak berbatu menuju saung utama yang sudah dipesan. Genggamannya hangat, memberikan rasa aman untukku. Berada di sisi Andreas dalam suasana sesantai ini adalah hal yang sangat kuinginkan sejak kepergiannya empat tahun lalu. "Kayaknya kita terlambat, sayang. Mereka sudah datang," bisik Andreas pelan di dekat telingaku, matanya melirik ke arah saung besar di ujung kolam di mana gelak tawa teman-temanku sudah terdengar bersahutan. "Kamu sih dandannya kelamaan, jadi telat jemput aku," balasku sambil ny
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: BAB 98 CERITA NANDA"Aku tahu, kalau Kak Nanda sengaja memberikan berkas itu padaku. Tapi, dari mana Kakak tahu kalau aku mengenal perwira polisi yang meninggal itu?" potongku, tidak memberi kesempatan Kak Nanda untuk bisa mengelak. Kak Nanda menghembuskan nafas perlahan, mencoba menerima kalau aku sudah mengetahui rencananya. Ia meraih jemariku dan menggenggamnya erat. "Waktu itu aku tidak sengaja memberikan file tentang kematian Baskoro Adi, kamu ingat? di hari pertama kamu magang?" aku mengangguk, karena ingatan itu terus melekat di benakku. "Sejak itu, aku melihat kalau kamu sangat penasaran dengan kasus Baskoro Adi. Aku berpikir, sepertinya ada sesuatu antara kamu dengan perwira kepolisian itu. Jadi, aku mengecek data diri kamu dan melihat kalau kamu berasal dari Universitas yang sama dengan Caleandra." Kak Nanda berhenti sejenak. Mencoba mengatur tarikan nafasnya yang terasa berat. Lalu, tanpa diduga, air mata mengalir di pipinya. Aku melepaskan genggaman tangannya dan meraih tisu di atas m
Last Updated: 2026-06-13
Chapter: BAB 97 KEMBALI KE HARIAN NASIONAL"Gita!" Suara lembut yang sangat kukenali itu seketika membuatku menghentikan langkah. Aku menoleh ke belakang. Di sana, berdiri tidak jauh dari tempatku, Azizah, Bian, dan Nila tengah berjalan menghampiri. Mereka semua melempar senyum hangat ke arahku. Terus terang saja, aku sangat merindukan sahabat-sahabatku ini. Hubunganku dengan Ale selama ini membuat hubungan persahabatanku ikut berantakan. Dan hari ini, di hari wisuda kami, akhirnya kami bisa bertemu kembali. Azizah dan Nila terlihat sangat cantik dengan kebaya senada berwarna baby pink, warna favorit mereka. Tanpa kusadari, air mata menetes di pipiku. Melihat hal itu, Azizah langsung melangkah maju dan merengkuh tubuhku dengan isak tangis yang sama. "Gue kangen banget sama lo, Git. Maafin gue... maafin gue sama Bian yang udah bikin kita jauh selama ini," bisik Azizah di sela tangisnya. Nila yang tidak tahan menunggu giliran, langsung ikut memelukku dan Azizah. Kami bertiga berpelukan dengan teramat erat di teng
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: BAB 96 CALON ISTRI DOKTER"Ndre," Aku memanggil pelan laki-laki yang sedang sibuk mencatat rekam medis pada papan klip di tangannya. Wajah seriusnya seketika mendadak cerah, lalu senyuman yang hangat terbit di wajah tampannya. Menatapnya saat ini, aku merasa seolah baru benar-benar menemukannya kembali setelah empat tahun lamanya kami berpisah. Laki-laki yang dulu selalu datang menjemputku ke rumah untuk berangkat sekolah bersama, dan selalu mengajakku menikmati senja di sudut kota Jakarta dalam dekapan hangat di atas motor besarnya. Andreas berjalan pelan menghampiriku. Senyuman di bibirnya tidak pudar sedikit pun, membuat seluruh kecemasan di hatiku menghilang. Akhirnya, aku bisa merasakan kenyamanan dan ketenangan yang luar biasa. Begitu tiba di hadapanku, ia mengangkat tangannya perlahan, meraih beberapa helai rambutku yang sedikit berantakan lalu menyelipkannya ke belakang telinga. "Sudah makan siang belum?" Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Andreas terdengar begitu lembut di telingaku. A
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: SPESIAL CHAPTER 2"Sayang, Reygan dan Elara sudah datang?" Seru Zheydan, melangkah masuk ke dalam rumah dan melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Suaranya yang berat memantul di dinding lorong rumah yang megah itu. Kinan, yang sedang sibuk menyusun piring camilan untuk menyambut kedatangan para tamu di taman belakang, tentu saja tidak mendengar panggilan suaminya. "Papi, isch hei cho!" [Papi, sudah pulang!]seru Yara gembira, anak gadis Zheydan dan Kinan yang baru berusia sepuluh tahun, berlari kecil menghampiri ayahnya dari arah ruang keluarga. "Hoi Schatzi, wo isch d’Mami und diin Brüeder Alexander?" [Halo sayang, dimana mami dan Kakakmu Alexander?]tanya Zheydan dengan senyum hangat, langsung berlutut untuk mendaratkan ciuman lembut di kedua pipi putri kecilnya. "Mami di taman belakang bersama Kak Kaelia, Om Reygan, Om Lingga, tante Elara dan tante Vanda. Kalau Kak Alex sedang di kamarnya bersama Levin," jawab Yara polos. Zheydan menaikkan sebelah alisnya. "Hanya Kaelia dan Levin? Lalu
Last Updated: 2026-09-11
Chapter: SPECIAL CHAPTER 1Kaelia melangkah pelan memasuki area sekolah menengah atas paling favorit di kota ini. Mata bulatnya yang jernih dengan bingkai bulu mata lentik nan lebat menyapu setiap sudut gedung megah berlantai empat di hadapannya. Udara pagi yang segar menyambut langkah pertamanya sebagai siswi SMA. "Akhirnya, diterima juga gue di sekolah ini," gumam Kaelia, mengulas senyum manis yang sanggup mengalihkan perhatian beberapa siswa yang berlalu-lalang. Gadis cantik itu baru saja hendak mengayunkan langkah menuju lobi utama, ketika sebuah teriakan nyaring memanggil namanya dari arah belakang. "Non! Non Kaelia! Ini bekal dari Mommy ketinggalan!" teriak Pak Damar, sopir setia keluarga Valero, berjalan setengah berlari menghampiri Kaelia. Kaelia menghentikan langkahnya dan berbalik cepat. "Pak Damar, jangan teriak-teriak! Aku tidak budek!" tegur Kaelia bersedekap dada. Meski wajahnya menampilkan ekspresi kesal, kecantikan alaminya sama sekali tidak berkurang. "Iya, maaf, Non. Pak Damar c
Last Updated: 2026-09-11
Chapter: EPILOG : CERITA KITA 3REYGAN VALERO & ZHELARA ADOLF - BUAH HATI - Matahari sore membiaskan cahaya keemasan yang hangat menerobos masuk melalui dinding kaca kediaman Valero. Di area pelataran taman belakang yang asri, alunan musik klasik berputar pelan dari pemutar piringan hitam, menyatu dengan gelak tawa renyah yang menghidupkan suasana rumah megah itu. Di atas hamparan karpet empuk, dua bayi mungil berusia delapan bulan merangkak aktif dengan celotehan yang menggemaskan. Kaelen Valero—si jagoan kecil yang mewarisi mata tajam dan rahang tegas Reygan—tampak sibuk menepuk-nepuk bola kain berwarna-warni. Sementara di sisinya, Kaelia Valero—sang putri mungil bernetra jernih bagai kristal mirip Elara—terkekeh riang sambil meraih jemari ibunya. Elara duduk bersila di samping si kembar, mengenakan gaun santai berwarna biru muda yang membuat wajah cantiknya memancar alami. Raut wajahnya tampak memancarkan kebahagiaan yang sempurna sebagai seorang ibu. Dari arah teras, langkah kaki tegap terdengar mend
Last Updated: 2026-09-10
Chapter: EPILOG : CERITA KITA 2ZHEYDAN VON GRAFFENRIED & KINAN - BAHASA CINTA - Rumah tangga Zheydan dan Kinan tidak pernah sepi dari canda tawa. Jika pasangan lain mengisi hari-hari setelah pernikahan mereka dengan candlelight dinner yang romantis, maka Zheydan dan Kinan memilih hal lain yang jauh dari kata romantis. Perdebatan konyol, saling ledek, dan kejutan jahil yang membuat suasana rumah selalu hidup setiap harinya. Pagi itu, Kinan duduk di sofa ruang tengah dengan laptop berstiker lucu di pangkuannya dan sebuah buku catatan tebal. Matanya fokus memandangi layar sambil sesekali memicingkan mata. "Sedang membaca dokumen rahasia perusahaan, Sayang?" tegur Zheydan yang baru saja keluar dari ruangan gym. Pria Swiss itu bertelanjang dada, menyampirkan handuk kecil di lehernya, memperlihatkan deretan tato yang menghiasi lengan dan dada bidangnya. "Bukan," sahut Kinan tanpa berpaling dari layar. "Aku sedang belajar bahasa Swiss." Zheydan menaikkan sebelah alisnya, tertarik. Ia melangkah mendekat lal
Last Updated: 2026-09-10
Chapter: EPILOG : CERITA KITA 1VANDA ADOLF & LINGGA - DIBALIK JERUJI BESI - Langkah kaki Vanda Adolf bergema pelan menembus lorong yang dingin. Di sampingnya, Lingga berjalan tegap dengan satu tangan menggenggam erat jemari sang istri, memberikan kehangatan di tengah kecemasan yang menggelayuti dada Vanda. Setiap kali jemari kekar Lingga meremas lembut tangannya, Vanda menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya serta pergerakan kecil dari janin di dalam kandungannya yang kian membesar. Langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu besi berjeruji. Seorang petugas polisi mengangguk sopan pada Lingga sebelum menggeser gerendel besi yang berdecit nyaring. Di dalam ruangan kunjungan yang sempit dan remang itu, seorang wanita paruh baya duduk di balik meja kayu lapis. Pakaian tahanan berwarna oranye mencolok terlihat begitu besar melekat di tubuhnya yang kini sangat kurus dan ringkih. Rambutnya yang dulu selalu tertata rapi, kini beruban dan terikat asal-asalan. Tatapan matanya redup, kehilang
Last Updated: 2026-09-10
Chapter: FINAL CHAPTER"KUTAKLUKAN GUNUNG SAUJANA BERSAMAMU." ⭐️⭐️⭐️ Yuda dan Zavier sudah tiba di tempat yang disepakati sebagai titik temu sebelum melanjutkan perjalanan menuju Gunung Saujana. Pagi itu, keduanya tengah duduk santai di sebuah rumah makan, menunggu kedatangan Reygan dan Elara. "Gila juga takdir hidup. Bisa-bisanya Reygan naik gunung lagi, ditemani bidadari yang dulu dia temui di hutan Saujana," celetuk Yuda sambil menatap langit cerah berawan di atas mereka. "Mungkin kali ini giliran lo yang bertemu bidadari di atas sana, Yud," sahut Zavier terkekeh. "Bukannya bidadari, paling demit yang ketemu gue. Hiiii...!" Zavier tertawa terbahak-bahak. "Sadar diri banget lo kalau nasib lo selalu sial, Yud!" "Sialan lo!" Yuda melempar potongan roti ke arah Zavier yang masih tertawa puas. "Eh, Zav. Gimana Juna? Lo udah hubungi dia?" Mendengar pertanyaan Yuda, tawa Zavier seketika reda. Ia menghela napas panjang. "Udah. Tapi dia nggak mau merusak momen kalau ikut naik gunung bareng
Last Updated: 2026-09-10
ANESTESI RINDU
Devan Alaric, seorang Dokter Spesialis Bedah yang sangat tampan, merasakan dunianya telah hilang bersama kepergian sang kekasih, Rossa, yang meninggal akibat kecelakaan tepat di hari jadi mereka.
Hingga kehadiran seorang residen spesialis bedah di Rumah Sakit Medika Center bernama Vanya Naomi, yang jatuh cinta pada pandangan pertama, mencoba masuk kedalam hati Devan dan berusaha mengobati rasa trauma masa lalu yang telah menjadikan Devan sosok dingin dan tidak mudah tersentuh.
Perjalanan kisah Vanya mendekati Devan tidak seindah seperti pasangan biasanya, tapi masa lalu yang masih menghantui mereka membawa keduanya pada teka teki misteri kehidupan keluarga penguasa Harrington dan Alaric.
Read
Chapter: SPESIAL CHAPTER 2Suasana di koridor depan ruang bersalin VIP RS Medika Center siang itu benar-benar menguji ketahanan mental siapa pun yang lewat. Di dalam ruangan, singa betina yang telah lama tidur kini resmi terbangun kembali demi menyambut kelahiran anak keduanya. Sherin yang kini sudah berusia empat tahun duduk manis di kursi tunggu koridor, mengenakan gaun merah muda yang mengembang. Di sebelah kanan dan kirinya, Om Bram dan Om Nathan bertindak sebagai pengawal pribadi sekaligus sasaran empuk pertanyaan kritis sang bocah. "Om Nathan, kenapa Mommy teriak-teriak panggil Daddy di dalam? Mommy lagi berantem ya sama Daddy?" tanya Sherin polos, mendongak menatap Nathan dengan mata bulatnya yang jernih. Nathan meringis, meraba kepalanya sendiri seolah bisa merasakan trauma rambut dijambak saat Dila melahirkan anak pertama mereka. "Enggak, Sherin... Mommy lagi berjuang ngeluarin adik laki-laki buat Sherin. Nah, Daddy di dalam tugasnya jadi... sasaran Mommy." Bram yang duduk di sebelah mereka
Last Updated: 2026-06-07
Chapter: EPILOG : AKHIR CERITARuang kerja Kepala Departemen Bedah RS Medika Center yang biasanya rapi dan hanya dipenuhi dokumen medis, siang ini mendadak berubah fungsi menjadi zona bermain anak. Di atas karpet bulu tebal yang sengaja digelar di dekat meja kerja Devan, seorang balita perempuan berpipi gembul dengan kuncir dua berbentuk air mancur sedang duduk dengan tenang. Namanya Sherina Alaric, atau yang akrab dipanggil Sherin. Bocah berusia dua tahun itu kini sedang sibuk menyusun balok-balok mainan, sama sekali tidak mempedulikan dua dokter spesialis di hadapannya yang sudah tampak seperti rongsokan bernyawa. "Nath... tolonglah, Nath. Gantian," bisik Bram dengan suara serak, nyaris menyembah di depan Nathan. Jas dokter Bram sudah kusut tak berbentuk, kancing paling atasnya lepas, dan stetoskopnya kini justru terkalung pasrah di leher sebuah boneka beruang besar milik Sherin. "Nggak bisa, Bram! Perjanjiannya kan jelas. Jam satu sampai jam dua itu shift kamu yang jadi kuda-kudaan!" balas Nathan tak
Last Updated: 2026-06-05
Chapter: BAB 150 SPECIAL CHAPTER"Lihat, Mas. Lucu banget, kan? Mirip banget sama kamu," bisik Vanya lembut, menatap lekat bayi laki-laki yang tengah tertidur lelap dalam dekapannya.Devan tersenyum manis. Sepasang mata cokelat madunya menatap penuh haru ke arah makhluk suci itu, lalu dengan sangat hati-hati, ibu jarinya bergerak mengusap lembut pipi sang bayi."Iya, Sayang. Mirip sekali denganku," sahut Devan, suaranya melembut bahagia menyambut kehadiran bayi yang baru saja lahir ke dunia."Malam ini aku akan menjaganya," ucap Devan setengah berbisik, berhati-hati agar tidak membangunkan makhluk menggemaskan yang sedang terlelap itu."Aku juga mau menjaganya," protes Vanya langsung, melirik tak suka ke arah suaminya sambil mengerucutkan bibir.Devan terkekeh pelan, mengusap puncak kepala istrinya dengan gemas. "Kamu nanti kecapekan, Sayang.""Nggak! Aku nggak capek sama sekali. Pokoknya malam ini aku mau ikut menjaganya," keukeuh Vanya tidak mau kalah."Tapi kalau kamu kecapekan nanti bisa sakit, Sayang.""A
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: BAB 149 FINAL CHAPTERSetelah membersihkan diri dan mengganti pakaian bedah dengan pakaian miliknya, Devan melangkah keluar dari area steril ruang operasi. Langkah kakinya yang panjang terdengar di sepanjang koridor lantai tiga yang sunyi. Begitu pintu geser otomatis menuju ruang tunggu terbuka, pandangan Devan langsung terkunci pada satu sosok mungil yang duduk di barisan kursi tunggu. Vanya ada di sana, sedang merapatkan kedua tangannya di depan dada, tampak menemani ketiga remaja Indonesia yang kini sudah jauh lebih tenang. Mendengar suara pintu terbuka, Vanya seketika mendongak. Begitu matanya menangkap sosok Devan yang berjalan menghampiri dengan raut wajah lelah sekaligus lega karena telah berhasil menyelamatkan Dimas di meja operasi, Vanya langsung berdiri dari duduknya. Ketiga remaja itu pun ikut berdiri dengan tatapan penuh harap dan cemas. "Mas Devan..." lirih Vanya, melangkah beberapa langkah mendekati suaminya. Devan tersenyum tipis, tatapannya melembut khusus untuk istrinya sebe
Last Updated: 2026-06-04
Chapter: BAB 148 KERJASAMA TIMVanya berjalan lunglai menuju ruang tunggu di depan koridor kamar operasi. Tubuhnya masih lemas setelah salah menangkap informasi tentang kecelakaan turis Indonesia berjaket biru yang ia pikir adalah suaminya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi besi yang dingin, mencoba menata detak jantungnya yang perlahan mulai kembali normal meski tangannya masih sedikit gemetar.Di salah satu sudut bangku yang tidak jauh darinya, ketiga teman korban jatuh itu tampak duduk berkerumun dengan tubuh lemas dan wajah yang sembap karena tangis.Baru saja Vanya hendak memejamkan mata untuk menenangkan pikiran, terdengar suara langkah kaki mendekat. Seorang perawat wanita Jepang dengan seragam bernuansa merah muda lembut melangkah menghampirinya. Di kedua tangannya, perawat itu membawa sebotol air mineral dingin dan sebuah handuk kecil yang bersih.Perawat itu membungkuk sedikit dengan sopan, memberikan senyuman hangat yang menenangkan sebelum mengulurkan air mineral kepada Vanya."Excuse me, Madam,"
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: BAB 147 LICENSE TO OPERATEVanya bergerak secepat yang ia bisa. Mengabaikan penampilannya yang berantakan dan napasnya yang terasa mencekik akibat udara dingin, ia langsung berlari keluar menuju area depan resor ski. Beruntung, sebuah taksi baru saja menurunkan penumpang di lobi luar. Tanpa membuang waktu, Vanya langsung membuka pintu dan melompat masuk ke kursi belakang."Minamiuonuma Hospital! Please, hurry!" seru Vanya dengan suara bergetar kepada pengemudi taksi, seorang pria paruh baya Jepang.Melihat kepanikan yang luar biasa dari penumpangnya, sang sopir hanya mengangguk cepat dan langsung menginjak pedal gas dalam-dalam. Sepanjang perjalanan menembus jalanan bersalju Niigata, Vanya tidak berhenti meremas kedua tangannya sendiri. Air matanya mengalir deras membasahi pipi.Pikirannya terus berputar pada kata-kata petugas informasi tadi. Jaket biru. Turis Indonesia. Kritis. Semua ciri-ciri itu mengarah tepat pada Devan. Ketakutan terbesar dalam hidupnya kembali mendera, ketakutan akan kehilangan Devan u
Last Updated: 2026-06-03