ANESTESI RINDU
Menjadi residen bedah bukan hanya soal berpacu dengan maut di meja operasi, tapi juga ujian mental menghadapi dr. Devan. Dia jenius, spesialis bedah paling disegani, dan memiliki wajah yang bisa menghentikan detak jantung. Sayangnya, hatinya sedingin ruang mayat dan mulutnya setajam pisau bedah.
Bagi Devan, wanita hanyalah pengganggu. Namun, bagi Vanya, sikap dingin itu justru sebuah tantangan.
Di antara jadwal jaga malam yang gila dan tekanan di ruang operasi, sebuah misi rahasia dimulai. Bukan sekedar mendapatkan persetujuan medisnya, tapi juga meruntuhkan tembok es yang membalut hatinya. Apakah sang residen nekat ini akan berhasil melakukan "bedah hati" pada sang dokter spesialis yang tak tersentuh, atau justru Devan yang akan terjebak dalam perasaannya sendiri, disaat juga harus menghadapi perjodohan dengan wanita pilihan orang tua?
Lire
Chapter: BAB 9 BERITA HEBOH"Apa yang kamu lakukan pada Vanya?" tanya Adam dengan suara meninggi, melangkah lebar mendekati tempat tidur. "Dokter Siska bilang dia pingsan di ruanganmu. Kamu menyiksanya dengan banyak tugas karena dia seorang residen kan?"Devan berdiri perlahan. Tubuhnya yang lebih tinggi dan tegap menciptakan bayangan mengancam saat ia berhadapan langsung dengan Adam. Tidak ada lagi sapaan formal antardokter. Di mata Devan, pria di hadapannya ini bukan lagi seorang spesialis jantung tamu, melainkan sumber kekacauan bagi residennya."Keluar, Dokter Adam. Pasien butuh istirahat," ucap Devan dengan suara rendah yang justru terdengar lebih mengancam daripada teriakan Adam."Pasien? Dia mantan kekasihku! Aku yang paling tahu kondisinya!" Adam mencoba meraih tangan Vanya yang bebas dari infus, namun Devan dengan cepat mencekal pergelangan tangan Adam di udara.Cengkeraman Devan begitu kuat hingga Adam meringis. "Lepas!""Jadi, ini tangan yang menyeretnya keluar dari rumah sakit kemarin?" desis De
Dernière mise à jour: 2026-02-10
Chapter: BAB 8 TUBUH YANG MENYERAHVanya berbalik dengan mata yang panas terbakar air mata. Di luar ruangan, ia melihat Evelyn berdiri bersandar di dinding dengan tangan bersedekap, senyum kemenangan terukir jelas di wajahnya. "Selamat menikmati tugas administratifmu, Vanya," bisik Evelyn dengan nada puas saat Vanya melintas di depannya. Vanya sudah tidak punya kekuatan untuk membalas provokasi Evelyn. Bagaimanapun, kejadian hari ini memang mutlak karena kesalahannya. Ia sendiri yang memberi ruang untuk Evelyn agar menjadi orang terdekat dan kepercayaan Devan. Ia terus berjalan mengabaikan Evelyn dan meraih handphone di sakunya. Vanya membuka catatan proyek 'Bedah hati dr. Devan'. Ia menambah catatan : proyek Bedah Hati selesai dengan status GAGAL! ditutupnya catatan itu diringi dengan tetesan air mata yang sudah luruh sejak keluar dari ruangan Devan. *** Vanya duduk di meja perpustakaan rumah sakit yang sepi. Jarum jam menunjukkan pukul 03.30 pagi. Di hadapannya, tumpukan kertas folio baru terisi tiga puluh hala
Dernière mise à jour: 2026-02-10
Chapter: BAB 7 HUKUMANVanya mempercepat langkahnya, berharap Adam tidak melihatnya berjalan menuju kafetaria. Namun, sepertinya sosok Vanya memang telah dinantikan. Dari sudut mata Adam, ia bisa melihat sosok Vanya melintas didepannya dengan tergesa. "Vanya, tunggu. Kita belum selesai bicara," panggil Adam mendekati. Vanya menghela nafas pendek dan menghentikan langkahnya. Adam kini sudah berada di hadapannya dengan wajah sendu menatap Vanya. Tatapan seseorang yang menahan rindu sekian lama. Vanya yang sepenuhnya telah melupakan sosok Adam dalam hatinya karena sudah ada penghuni lain yang masuk kesana, menatap sebaliknya, dengan perasaan jengkel dan merasa sangat terganggu. "Ada apa lagi, dok?saya harus segera kembali ke IGD." Tangan Adam bergerak hendak meraih tangan Vanya, namun gadis itu segera melipat kedua tangannya di dada. Membuatnya mengurungkan niatnya. "Tolong buka blokir handphonemu, ijinkan aku menghubungi dan memperbaiki hubungan kita. Aku serius. Aku tidak bisa melupakanmu, Vanya." Vany
Dernière mise à jour: 2026-02-10
Chapter: BAB 6 PUJIAN DI MEJA OPERASIVanya mematung sejenak di depan pintu otomatis ruang bedah. Kalimat dingin Devan barusan seperti peringatan agar ia tidak tenggelam dalam kenangan masa lalu. Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, dan membayangkan sosok Adam perlahan memudar, digantikan oleh gambaran anatomi kantung empedu yang pernah ia pelajari dari tugas yang Devan berikan saat awal kedatangannya di Rumah Sakit ini. "Fokus, Vanya. Fokus," bisiknya pada diri sendiri. Ia segera melangkah masuk ke area scrub station. Menanggalkan jas putihnya dan mengenakan seragam bedah yang berwarna biru langit dan mengikat rambut panjangnya untuk mengenakan penutup kepala. Dengan gerakan yang sudah terlatih, ia melakukan prosedur cuci tangan bedah. Air mengalir dingin membasahi lengannya, seolah membasuh sisa-sisa sentuhan Adam di pergelangan tangannya tadi. Setelah mengenakan gaun operasi steril dan sarung tangan dengan bantuan perawat, Vanya melangkah masuk ke dalam ruang operasi yang dingin dan terang benderang.
Dernière mise à jour: 2026-02-09
Chapter: BAB 5 MASA LALU YANG KEMBALIPintu ruangan Devan diketuk dua kali sebelum akhirnya terbuka perlahan. Sosok Evelyn muncul dengan senyum menawan yang menjadi ciri khasnya. Ia membawa dua cup kopi dari kafe di lobi rumah sakit. "Dokter Devan? Masih sibuk?" tanya Evelyn dengan nada suara yang lembut namun terdengar percaya diri. Ia melangkah masuk tanpa menunggu jawaban, lalu meletakkan salah satu cup kopi di atas meja kerja Devan, tepat di samping map biru milik Vanya. Devan menutup laci mejanya, menyembunyikan tumpukan notes Vanya dari pandangan Evelyn. "Terima kasih, Evelyn. Ada perlu apa?" "Hanya ingin mengantarkan ini. Dan... aku ingin meminta maaf soal di ruang operasi tadi. Aku perlu menyesuaikan diri karena perubahan bidang bedah yang aku ambil," ujar Evelyn menyandarkan pinggulnya di tepi meja Devan, merasa percaya diri bisa sedekat ini dengan sang dokter spesialis. Mata Devan beralih dari kopi ke wajah Evelyn. "Di ruang operasi, gangguan sekecil apa pun bisa berakibat fatal. Aku harap itu tidak
Dernière mise à jour: 2026-01-18
Chapter: BAB 4 SECARIK KERTAS KECILVanya terduduk lemas di meja Nurse station IGD. Pikirannya melayang ke kamar operasi nomor tiga. Devan dan Evelyn sedang bersama saat ini, Devan pasti akan terkagum-kagum dengan kepintaran Evelyn di ruang operasi. Di masa koas setahun yang lalu, dokter spesialis jantung yang tampan, sempat mengisi ruang hati dan hidup Vanya. Hubungan mereka baik-baik saja, sampai kedatangan Evelyn setelah tiga bulan Vanya menjalani koas, membuat semua impian Vanya hancur berantakan. Kecerdasan dan kecantikan Evelyn mampu merebut hati Adam dari Vanya dan mereka menjalin hubungan di belakangnya. Vanya sempat stres dan merasa dikhianati teramat dalam, membuat gadis itu dirawat di Rumah Sakit karena dehidrasi berat dan asam lambung akut. Penyakit yang tiba-tiba singgah di tubuhnya karena Vanya memilih mengurung diri di kamar tanpa makan dan minum selama tiga hari lamanya demi melupakan bayangan Adam dalam hati dan pikirannya. Lalu kenapa sekarang Evelyn mendekati dr. devan? Pikir Vanya, Apa hubungan
Dernière mise à jour: 2026-01-18