เข้าสู่ระบบSuara napas Raia di seberang sana mendadak terdengar sedikit memberat. "Do something apa maksud kamu? Kamu mabuk ya? Aku lagi rebahan, mau tidur.”Aksenna memejamkan matanya, membiarkan bayangan tubuh Raia yang sedang berbaring di atas tempat tidur dengan kuncir rambutnya yang acak-acakan memenuhi isi kepalanya. "Aku gak semabuk itu, Raia. Aku tahu persis aku lagi bicara sama siapa," bisik Aksenna. Pria itu memejamkan mata, membayangkan wajah ketus Raia yang pasti sedang mengerucutkan bibir saat ini. "Tinggal bilang kalau kamu juga kangen aku. Susah banget?" desak Aksenna dengan suaranya yang mulai berat. Raia mendengus pelan di ujung telepon, membalikkan posisinya menjadi telentang dan menatap langit-langit kamar yang remang. Raia tahu apa yang ada di kepala Aksenna saat ini. "Umm … kangen," aku Raia akhirnya, suaranya melembut. "Puas?" ucapnya seraya meraba laci meja rias, memasang earphone nirkabelnya agar bisikan Aksenna bisa terdengar tanpa celah, langsung di dalam kepalanya
Aksenna melangkah keluar dari aula gala dinner lintas perusahaan yang bising, mengabaikan pening yang mulai berdenyut di pelipisnya akibat sisa wiski yang ia tenggak. Alkohol mulai bekerja memengaruhi fokusnya, membuat kerah kemejanya terasa mencekik. Begitu tiba di area lobi lift VIP yang relatif sunyi, ia menekan tombol naik, berniat segera kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Ting.Pintu lift terbuka. Aksenna melangkah masuk, namun sebelum pintu geser berlapis kuningan itu menutup sempurna, sebuah tangan berkuku marun menahannya. Vika menyelinap masuk sebelum sensor pintu sempat bereaksi.Aksenna membetulkan letak kacamatanya, menatap lurus ke arah perempuan dengan dress marun itu. "Ngapain kamu? Lantai kamar saya bukan area publik." "Udahlah, Aksenna. Stop bersikap formal sama aku.” Vika melangkah maju, menatap langsung ke manik mata Aksenna dengan binar menantang yang berani. Gaun satin merah marunnya kini nyaris bergesekan dengan celana tuksedo Aksenna. Sudut bibirnya te
Dira meloloskan siulan panjang sambil meneguk minumannya. Pandangannya jahil menatap Raia yang bersandar lesu di tumpukan bantal sofa.Raia hanya mendengus, memutar bola matanya pelan menanggapi godaan sahabatnya itu. Ia menyilangkan kaki, lalu mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak."Tapi sekarang yang penting bukan itu, I had a fact, fresh banget, came from A1, alias bos gue, kalau Vika anak komisaris. Raia menyodorkan ponselnya yang masih menampilkan foto Vika dengan gaun satin marunnya kepada Dira.Perempuan berambut ikal itu hampir tersedak minuman kalengnya. Ponsel Raia langsung disambar, matanya membelalak lebar memandangi layar."Demi apa?!" pekik Dira sambil memperbesar foto Vika yang tampak begitu elegan di samping komisaris Nusabuy."Wait, wait ... Vika? Vika yang kemaren lo ceritain lompat jalur koordinasi, gak laporan ke elo?”"Iya, dia," sahut Raia, mengambil kembali ponselnya. "Pak Prayoga baru aja ngenalin dia sebagai putri bungsunya di gala dinner Bali malam in
Raia bergegas keluar lift, melangkah cepat menuju unit Aksenna. Bertahun-tahun kerja dan menghabiskan banyak waktu untuk overtime, kali ini, waktu lemburnya ia pakai untuk : finish up the last task for today—taking care of her boss's cat. Rupanya karir Raia peningkatannya sampai ke urusan taking care anabul kesayangan bos— selain handle personal life-nya dan tentu aja sampai kebutuhan biologisnya bosnya itu. ‘I'm kind of sick of it, but why do I seem to like it more and more? Ugh!’Di sudut ruang tengah yang luas dan sunyi itu, Miko, kucing persia berbulu putih abu-abu milik Aksenna, tampak tenang mengunyah pakan kaleng biru dari mangkuknya. Raia mendudukkan diri di sofa, menghela napas panjang sembari memandangi layar televisi yang menyala tanpa benar-benar ia tonton.Pikirannya mendadak berputar kembali pada ucapan Aksenna di ruang rapat siang tadi.‘Aku sebenarnya mau ajak kamu, seperti yang kamu tulis di kontrak kamu. You as my social climber, untuk acara-acara besar kantor.
"Gue baru tahu kalau kubikel lo bisa berubah jadi ring tinju sepagi ini," celetuk Alin sambil menopang dagu di atas sekat pembatas plastik, matanya melirik ke arah lorong tempat Vika baru saja menghilang dengan langkah menghentak. Rekan sesama merchant specialist itu menggeleng-gelengkan kepala jengkel sebelum menggeser kursi berrodanya agar lebih dekat ke meja Raia. "Si Vika kenapa? Mukanya udah kayak kertas kusut begitu."Raia menarik napas panjang. "Biasalah. Masalah skema logistik buat Kronos. Draf dia ditolak mentah-mentah sama Pak Aksenna di dalam tadi, terus dia ngerasa gue sengaja mempersulit posisi dia sebagai co-lead."Alin mendengus pelan, mencondongkan badannya ke depan untuk berbisik. "Ditolak Pak Aksenna? Padahal dia udah pamer ke anak-anak sebelah kalau ide dia luar biasa dan pasti diterima. Mana pake embel-embel dia mantan anak buah emasnya Pak Aksenna waktu di Distrik Segara dulu.""Denger-denger, katanya sih punya kedekatan khusus juga di internal manajemen, makan
“Miss your social life, ya?Aksenna meletakkan kacamatanya ke atas meja, memijat pangkal hidungnya pelan. Bahunya yang semula tegang perlahan turun. Ia menatap Raia lama, lalu senyuman tipis yang tampak lelah terukir di wajahnya. “Oke, aku tahu.” Suaranya melunak. “Setelah saya—ummm aku—maksudnya, kupikir ... aku terlalu sering mengikat kamu beberapa minggu terakhir ini." “Sampai aku nggak pernah liat kamu tertawa sebebas tadi …” Aksenna melangkah pelan mendekati Raia.Raia merapatkan iPad di dadanya, menatap lurus sepasang mata Aksenna yang kini tak lagi mengintimidasi. “Kita di kantor. Gak enak sama yang di luar. Saya keluar ruangan dulu. Mungkin Vika tunggu saya.”Raia berbalik, tangannya baru saja hendak meraih gagang pintu kaca saat ketukan suara Aksenna kembali menahannya. "Raia, wait. Umm ... sorry."Langkah Raia terkunci. Ia menoleh perlahan, mendapati Aksenna berdiri diam di tengah ruangan dengan kedua tangan terbenam di saku celana bahan miliknya."Aku minta maaf," aku







