LOGINRp 150 Juta. Satu Bos Perfeksionis. Dan satu proposal yang mengubah segalanya. Hidup dan karier Raia Andini (29) terancam karam gara-gara utang investasi bodong milik kakaknya. Aksenna (32), bos baru yang dikenal dingin dan tanpa kompromi, mengetahui masalah tersebut dan menawarkan bantuan pelunasan dengan satu syarat mutlak: Raia harus menyerahkan proposal non-tunai dalam waktu tujuh hari. Masalahnya, ide proposal seperti apa yang bisa melunasi ratusan juta tanpa uang sepeser pun? Terjebak dalam kontrak transaksional yang memaksa mereka berinteraksi lebih dekat, dinamika kaku di antara keduanya perlahan berubah menjadi permainan perasaan yang berbahaya. Apalagi saat Nevan, rekan kerja yang hangat di kubikel sebelah, mulai hadir sebagai distraksi yang memicu percikan cemburu sang atasan. Di tengah batas waktu yang terus berjalan, bisakah Raia menyelamatkan kariernya, atau justru hatinya yang tersita oleh bosnya sendiri?
View More"Lo sinting ya, Di? Seratus lima puluh juta! Lo mau bikin gue mati berdiri?!"
Raia menekan ponselnya kuat-kuat ke telinga, meredam suaranya di koridor sepi dekat toilet Lantai 12.
Di ujung telepon, Aldi terdengar panik. Latar belakang suara bising jalanan menandakan kakaknya itu sedang melarikan diri.
"Rai, gue ditipu! Investasi titip modal arisan yang kemarin gue ceritain ternyata skema Ponzi bodong, orangnya kabur bawa semua duit nasabah. Gue panik ditagih lubang tutup lubang, dan ... gue pakai data lo buat penjamin." Suara Aldi memelas, "Gue ngungsi di rumah temen dulu. Jangan bilang Nyokap, ya!"
"Jangan bilang Nyokap kata lo?!" Raia mencengkeram pembatas dinding besi. "Gue bahkan bingung kepala lo itu isinya otak atau cuma cashback koin marketplace, Di! Lo tahu gaji gue di sini berapa? Lo tahu beban kosan Rian sama susu anak lo sendiri gue yang tanggung?!"
"Ra, lo kan pint—"
Klik!
Raia memutus panggilan secara sepihak. Dia menolak mendengar kata 'pintar' dari mulut Aldi.
Bagi keluarga mereka, kata 'pintar' versi Aldi berarti ‘kamu sanggup memeras otak untuk membereskan kotoran yang gue buat’.
‘Ada gila-gilanya ya lo, Al!’
Raia menatap layar ponselnya. Dia sudah tidak bisa menangis. Setiap hari hidupnya tidak pernah benar-benar tenang. Ia macam sekrup kecil dalam mesin yang harus tetap berjalan agar keluarganya tidak rubuh.
Raia merapikan jedai rambutnya, lalu kembali ke kubikel yang bising. Di depannya, sudah menumpuk notifikasi merah di pojok layar laptop. Grafik Gross Merchandise Volume (GMV) dari salah satu top merchant sedang anjlok—sama seperti isi rekeningnya.
"Raia! Rating merchant kosmetik drop jadi 4.2! Kalau mereka cabut sebelum campaign tanggal kembar, bonus kita hangus!" Suara rekan kerjanya melengking.
"Aman, Mbak. Ini lagi gue draf email recovery strategy-nya. Lima menit lagi gue follow up
via telepon," jawab Raia lugas, meski jiwanya ingin pindah planet.
"Rai, udah lihat email HR?" bisik Alin, rekan kubikelnya. "Besok Head of Merchant baru masuk. Aksenna Dhanendra. Tau, kan?"
Raia terdiam sejenak. Lama berkutat dengan hitungan matematika utang domestik keluarganya, manalah sempat ia mengecek pengumuman mutasi atau latar belakang satu orang penting di NusaBuy.
Bagi Raia, semua atasan tingkat atas itu sama saja. Hobi menuntut target tinggi tanpa tahu rasanya dikejar cicilan.
"Nggak tahu. Siapa?" tanya Raia acuh tak acuh.
"Ih elo, dia tuh lulusan MBA dari Meridien Business University Singapore, Rai! Masuk sana jalur beasiswa penuh karena otaknya keenceran,” tukas Alin sambil mendorong pelan bahu Raia.
Lagi, rekan kerjanya itu lanjut berceloteh, “Kabarnya dia sengaja ditarik langsung sama jajaran C-level pusat buat ngeberesin stagnansi di regional kita. Umurnya baru tiga puluh dua tahun, tapi reputasinya di ekosistem tech startup nasional sudah luar biasa. Julukannya si eksekutor. Agak ngeri ya!”
“Oooo …” respon Raia santai.
‘Bagus banget’, batin Raia sarkas. ‘Beban hidup gue aja uda mau bikin pecah kepala. Sekarang apa lagi?! Bos baru tipe hustle culture garis keras. What a life!’
Empat jam revisi data tanpa jeda sukses menguras habis sisa energi Raia. Tepat jam satu siang, ia melipir ke parkiran belakang membawa tiga kaleng makanan kucing.
"Cap, cip, cup! Sini!" panggil Raia pelan.
Tiga ekor kucing liar lokal yang salah satunya berkaki pincang dan bertelinga robek langsung keluar dari balik ban mobil. Melihat mereka makan dengan lahap adalah satu-satunya coping mechanism murah meriah yang Raia punya.
"Kalau manusia bisa di-check-out massal lalu diretur ke rahim ibu tanpa ongkir, Aldi udah gue balikin sepuluh tahun lalu, Cup!" gumam Raia sarkas pada seekor kucing oranye di depannya.
Kucing itu mengeong, seolah setuju.
"Menghujat anggota keluarga di tempat umum memang nggak menyelesaikan masalah finansial, tapi diakui atau nggak memang cukup melegakan."
Suara bariton itu datang dari belakang. Raia refleks berdiri, namun aspal licin membuat hak sepatunya terpeleset. Ia memejamkan mata, bersiap jatuh, namun benturan itu tidak pernah terjadi.
Sebuah lengan kokoh mencengkeram pinggangnya, menarik tubuh Raia rapat ke dada bidang pria asing itu. Aroma cendana dan tembakau mahal seketika memenuhi indra penciumannya.
"Hati-hati," bisik pria itu tepat di atas kepalanya.
Raia buru-buru menjaga jarak, meski badannya masih terasa limbung. Di depannya berdiri seorang pria jangkung dengan penampilan urban—kemeja flanel hitam yang lengannya digulung rapi sampai siku dan jam tangan pintar yang layarnya menyala terang.
"Ma—makasih, Mas! Sori, saya agak kagok," ujar Raia spontan.
Sentuhan tangan pria itu rasanya masih menempel di pinggang. Raia mundur selangkah, pipinya terasa panas karena malu.
Pria dengan rahang tegas itu tersenyum tipis.
"Baru pertama kali saya lihat ada orang yang mau meretur kakaknya sendiri karena nggak sesuai deskripsi." Dia melirik ID karyawan Raia, lalu berjongkok memberikan creamy treat pada si kucing oranye. "Tampaknya, dunia korporat di lantai atas benar-benar bikin kamu stres."
Raia terpaku. Aura cowok ini bahaya. "Mas, anak kantor sini juga?"
"Bisa dibilang begitu. Baru mulai aktif besok."
"Oh, pantesan." Raia kembali memberi makan kucing. "Saran saya, kalau besok mulai kerja di sini, siapin mental. Apalagi kalau masuk divisi Merchant. Besok, Head baru kita masuk, kabarnya dia tipe pemimpin yang hobi bantai staf lewat email. Jadi, nikmatin street-feeding siang ini sebelum besok hidup kita berubah jadi neraka korporat."
Pria itu tertawa rendah—suaranya seksi, tetapi mengintimidasi. Ia berdiri, merapikan kemeja flanelnya, lalu menatap Raia tajam.
"Neraka korporat, ya? Terima kasih peringatannya. Saya akan ingat itu besok pagi,” ujarnya enteng sambil berlalu pergi.
Namun, senyum terakhir pria tadi terasa seperti sesuatu yang mengancam.
Raia mematung sejenak, masih menatap punggung pria itu hingga menghilang di balik pilar.
‘Wait, besok pagi?!’ pekik Raia mulai berasumsi.
Otak Raia yang tadinya lelah mendadak bekerja dua kali lebih cepat. Ia menatap punggung pria itu. logikanya otomatis melakukan scan cepat.
Kemeja flanel hitam custom-fit, jam tangan pintar seri terbaru yang bahkan haram masuk daftar wishlist-nya Raia, hingga aroma cendana dan tembakau mahal yang menandakan pria itu tidak pernah pusing memikirkan biaya hidup.
Terakhir, cara pria itu berjalan—tegap dan penuh otoritas, seolah memiliki seluruh gedung ini.
‘Jangan bilang kalau dia ….’ Raia bahkan tak berani melanjutkan tebakannya.
Ia berjongkok, meremas dua sisi kepalanya sambil berteriak tanpa suara. ‘Ah, sial!’
Raia masih sulit menjelaskan kenapa semua bisa terjadi sampai sejauh ini. Kenapa seorang Aksenna Dhanendra, atasannya yang baru itu bisa jadi manusia paling menggoda belakangan ini.Aksenna.Bahkan nama itu mulai terasa akrab dan tak asing terucap dari bibirnya. Raia mulai menyukai semuanya. Suara berat dan dalamnya. Puppy eyesnya, termasuk senyuman tipis yang menyebalkan itu.Dan juga—urat-urat yang samar bertonjolan di punggung tangannya. Kotak-kotak di abs-nya. Terlebih lagi ... the way he kissed, dan apa yang dia lakukan di—ranjang. It so deym!‘uhuk!’ Ia mengusir bayangan mesum itu. Lalu terbersit satu hal di pikiran Raia. ‘Masa sih Aksenna masih single?’Cowok dengan posisi mentereng. bodi all muscle, dan pembawaan sekelas bos besar di NusaBuy itu rasanya terlalu mustahil kalau tidak punya pawang di luar sana.‘Tapi, pikir nanti aja, Raia. Sekarang urus yang lebih krusial dulu.’ batin Raia memperingatkan dirinya sendiri dengan buru-buru.Ia merogoh saku celana piyamanya, mengam
Kesadaran Raia masih tertinggal separuh di alam mimpi saat hidungnya mendadak mengenali wangi yang salah.Wangi yang sukses membuat matanya melebar.Ia mengerjap beberapa kali. Menatap langit-langit kamar yang asing, lalu melirik selimut linen gelap yang membungkus tubuhnya di atas ranjang king-size super luas.Fix, ini kamar Aksenna."Sialan," umpat Raia pelan, langsung duduk tegak dengan jantung yang serasa melorot hingga ke perut.Otaknya berputar cepat merangkai memori semalam. Terakhir yang ia ingat, ia sedang mendengarkan Aksenna menjelaskan grafik pasar, lalu matanya terasa sangat berat, dan ... 'oh, oke gue ketiduran'.Belum sempat Raia menyusun rencana kabur demi menyelamatkan sisa gengsinya, pintu kamar mandi di sudut ruangan mendadak terbuka.Aksenna melangkah keluar dengan bertelanjang dada, hanya mengenakan celana boxer hitam longgar yang bertengger pas di pinggang kokohnya.Sisa air mandi itu masih membasahi dada dan punggung bidangnya, sementara rambut hitamnya yang aca
Bagi Aksenna, hidup adalah sebuah persamaan matematika yang harus diselesaikan dengan presisi. Tidak ada ruang untuk variabel liar, tidak ada toleransi untuk kesalahan, dan tentu saja, tidak ada tempat untuk kekacauan domestik.Setidaknya, itu prinsip yang ia pegang teguh sebelum sebuah pintu apartemennya bergeser terbuka dan aroma harum gyudon serta sup miso menyergap indra penciumannya.Dan sebelum bibir di depannya ini terlalu sayang untuk diabaikan.“So, you are my dinner …”Belum sempat Raia membalas, Aksenna sudah membungkam bibirnya. Pagutan yang menyusul langsung memutus ruang bagi Raia untuk berkelit.“Emmpph,” tangan Raia yang semula menahan dada Aksenna perlahan merayap naik, mencengkeram kerah kemeja putih pria di depannya.Aksenna mempererat cengkeraman tangannya di pinggul Raia, mengangkat sedikit tubuhnya agar menempel rapat pada dada bidang miliknya.Lekukan bibir itu terasa lembut dan pas di bibirnya. Aksenna sendiri tidak bisa membohongi diri; ia benar-benar kecandua
Langit di balik jendela apartemen Aksenna perlahan-lahan berubah warna dari jingga kemerahan menjadi temaram keunguan.Raia melirik jam di dinding; pukul enam lewat sepuluh menit. Suasana di dalam unit terasa senyap dan kosong. Ia meletakkan tas kerjanya di atas sofa, lalu melangkah ke area dapur pantry.‘Jangan overthink, Raia. Fokus.’Ia menarik napas panjang, menepis sisa obrolan siang tadi bersama Dira. Tentang Aldi. Tentang utang. Tentang Aksenna.Terlalu banyak yang harus dicerna oleh isi kepalanya saat ini.‘Do something, Raia!’Ia melangkah ke arah sudut dapur, menarik gagang pintu kulkas dua pintu berukuran besar yang langsung memancarkan cahaya putih terang ke wajahnya.Jemarinya telaten menyusuri rak demi rak, memilah bahan-bahan segar yang tersisa di sana.Sebungkus tahu sutra yang lembut, daun bawang segar, beberapa butir telur, hingga paketan daging sapi iris tipis shortplate yang tersimpan di dalam chiller.Membakar kalori di depan kompor malam ini jauh lebih masuk akal
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews