Cinta Sebesar Kebencian: Mengubur Putriku, Mengakhiri Pernikahanku

Cinta Sebesar Kebencian: Mengubur Putriku, Mengakhiri Pernikahanku

بواسطة:  Kirana Sodaتم تحديثه الآن
لغة: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
لا يكفي التصنيفات
50فصول
0وجهات النظر
قراءة
أضف إلى المكتبة

مشاركة:  

تقرير
ملخص
كتالوج
امسح الكود للقراءة على التطبيق

Putrinya berada di ambang maut dan sangat membutuhkan transplantasi sumsum tulang dari ayah kandungnya. Namun, saat putrinya berjuang antara hidup dan mati, sang ayah yang selalu dirindukan justru membangun sebuah kastel kristal untuk putri dari cinta pertamanya, bahkan menyalakan pesta kembang api di seluruh kota demi merayakan ulang tahunnya. Nadine menelepon berkali-kali. Namun, dari seberang telepon, yang terdengar hanya dua kata dingin. "Aku sibuk." Setelah itu, telepon langsung dimatikan. Hingga tangan kecil putrinya berubah dari hangat menjadi dingin dan kaku ... pria itu tetap tidak pernah datang, meski hanya untuk melihat terakhir kalinya. Nadine keluar dari rumah duka sambil memeluk guci abu putrinya. Di sepanjang kawasan komersial, seluruh layar LED raksasa menayangkan video perayaan ulang tahun. Tiga orang yang telah mengorbankan nyawa putrinya itu bernyanyi dengan penuh kebahagiaan, membayangkan masa depan yang indah. Dulu, cinta Nadine kepada Damien sangat besar. Namun, kini sebesar itu pula kebenciannya terhadap pria itu.

عرض المزيد

الفصل الأول

Bab 1

"Bu, sekarang sudah waktunya. Apa ayah mendiang masih belum bisa dihubungi?"

Di tengah alunan musik duka yang pelan, seorang petugas berpakaian serba hitam mengingatkan dengan lembut.

Dengan tatapan kosong, Nadine Maulana mengangkat matanya yang merah dan bengkak, menatap putrinya yang terbaring di tengah karangan bunga. Tubuh mungil itu tampak pucat dan dingin.

Meski sudah berkali-kali mencoba menelepon, yang terdengar tetap hanya pemberitahuan bahwa ponselnya tidak aktif.

Dengan langkah kaku, dia berjalan ke depan, lalu mengangkat tangan untuk membelai lembut pipi putrinya.

"Naya, kita nggak usah menunggunya lagi ya?"

Bahkan petugas yang sudah terbiasa menghadapi hidup dan mati pun tak kuasa menahan rasa haru.

"Kalau ayah mendiang belum sempat melihat putrinya untuk yang terakhir kali, beliau mungkin akan menyesal nanti. Bagaimana kalau kita tunggu sebentar lagi?"

Menyesal? Nadine tiba-tiba tertawa.

"Waktu putriku terbaring di ruang operasi, menunggu donor sumsum tulang untuk menyelamatkan nyawanya, ayahnya malah memeluk putri dari cinta pertamanya dan menyalakan kembang api di taman hiburan. Menurutmu dia bakal menyesal?"

Air mata mengalir deras, jatuh membasahi pipi putrinya yang sudah mulai kaku.

Nadine buru-buru mengusapnya hingga bersih. Putrinya sudah terlalu banyak menderita. Dia tidak boleh pergi ke alam baka sambil membawa air mata ibunya.

"Langsung dikremasi saja. Nggak perlu menunggunya lagi."

....

Nadine memilih guci abu paling cantik bergambar Putri Elsa untuk putrinya, lalu menambahkan motif-motif yang dilukisnya sendiri.

Naya takut gelap. Dia tidak menggunakan kain hitam yang disediakan rumah duka, melainkan melepas mantel miliknya sendiri untuk membungkus guci itu dengan rapi.

Angin awal musim dingin menusuk tubuh bagaikan pisau. Namun, Nadine sudah tidak bisa merasakannya lagi. Dengan mati rasa, dia memanggil taksi, duduk di kursi belakang, lalu menyebutkan alamat tujuan.

Mobil itu segera keluar dari kawasan pinggiran yang sepi dan memasuki pusat kota yang ramai.

Pemandangan kota yang gemerlap terbentang di depan mata, tetapi yang memenuhi matanya hanyalah kesedihan.

Orang tuanya telah tiada. Putrinya juga telah tiada. Rasanya, di dunia ini sudah tidak ada lagi yang membuatnya ingin bertahan hidup.

Ledakan kembang api di luar jendela menarik perhatiannya. Hatinya terasa perih dan sesak.

Dia refleks memalingkan wajah, tetapi justru melihat seluruh layar LCD di sepanjang jalan serempak memutar video ucapan ulang tahun.

Di dalam kastel kristal yang dihias meriah bak istana Disney, Mila mengenakan gaun putri berwarna putih dan mahkota berlian yang sangat mahal, menaiki kereta labu menyusuri karpet merah.

Presdir Grup Alfandy yang begitu terpandang rela menjadi kusir. Tatapannya penuh kasih. Dia membungkukkan badan untuk membantu Mila turun dari kereta, lalu menggandeng tangannya menuju Clarice yang telah menunggu tak jauh di depan.

Kemudian, mereka sama-sama menyalakan kue ulang tahun pesanan khusus setinggi sepuluh tingkat. Setelah selesai mengucapkan harapan, Mila mencium pipi mereka berdua dengan gembira.

Kebahagiaan manis keluarga yang beranggotakan tiga orang itu seolah meluap dari layar.

Duar! Kembang api kembali meledak, menghiasi seluruh langit malam dengan cahaya yang memukau.

Sopir taksi tak mampu menahan diri untuk menghela napas. "Nasib orang memang beda-beda ya. Jadi putri Pak Damien itu pasti menyenangkan."

Dengan mata merah menyala, Nadine memeluk erat guci abu di dadanya. Hatinya terasa seperti disayat-sayat pisau.

"Pak, lewat jalan kecil saja." Suaranya serak, nyaris seperti memohon.

Sang sopir terdiam. Mengingat lokasi saat dia menjemput wanita itu, dia langsung sadar telah salah bicara.

Keramaian seperti ini memang sangat tidak pada tempatnya.

"Maaf ya, Bu. Turut berduka cita." Setelah berkata demikian, dia segera berbelok ke jalan kecil, menghindari semua jalan utama.

Meski jalannya bergelombang, setidaknya mereka tidak lagi melewati satu pun layar LCD.

Satu jam kemudian, mobil berhenti di The Manor. Nadine mengucapkan terima kasih, lalu turun sambil memeluk guci abu itu. Sambil berdiri di bawah cahaya putih terang lampu jalan, dia memandang rumah yang telah ditinggalinya selama enam tahun.

Dari ruang piano di lantai tiga, seolah masih terdengar suara putrinya memainkan piano. Naya selalu berlatih dengan sungguh-sungguh. Dia sedang sakit dan tubuhnya begitu lemah. Baru bermain sebentar saja sudah bermandikan keringat. Namun, dia tetap bersikeras untuk terus berlatih.

"Mama, kalau Naya jadi juara satu di kompetisi internasional, Papa bakal lebih sayang sama Naya nggak?"

Hidung Nadine terasa perih. Dengan kedua kaki yang terasa berat, dia berjalan menuju ruang piano.

Dia meletakkan guci abu itu dengan hati-hati di bangku samping piano, membuka penutupnya, lalu perlahan memejamkan mata.

Ujung jarinya mulai bergerak. Nada-nada indah bergema di seluruh ruangan, mengoyak kenangan menyakitkan dan hati yang kini meneteskan darah.

Sejak kedua orang tuanya meninggal, dia tak pernah lagi memainkan piano. Itu adalah luka batin yang selalu menghantuinya.

Namun, sekarang dia ingin memainkan satu lagu hanya untuk Naya. Itu adalah lagu yang telah dipersiapkan Naya untuk kompetisi. Dia pun memainkannya berulang kali, hingga jari-jarinya bergetar dan tak lagi mampu menekan tuts.

Nadine duduk termenung semalaman. Keesokan harinya, dia melangkah turun ke lantai bawah. Wajahnya begitu pucat dan kuyu, hampir menyerupai mayat hidup.

Sinar matahari pagi terasa begitu menyilaukan. Sosok pria yang tinggi dan tampan berjalan masuk dari luar dengan cahaya matahari di belakangnya. Mantel hitamnya membawa kesan dingin. Dia mengibaskannya di area pintu masuk.

Damien Alfandy akhirnya muncul juga.

Pria itu bahkan tidak meliriknya. Dia melepas mantel dan menggantungnya, lalu bertanya dengan suara dingin dan datar, "Naya belum bangun?"

Nadine mengeluarkan tawa sinis. Putrinya sudah mati tiga hari lalu. Setelah bersenang-senang bersama wanita pujaannya, pria ini baru ingat bahwa masih ada putri lain yang menunggunya?

Benar-benar sampah!

Damien jelas tidak menyangka Nadine akan bersikap seperti itu. Mata suramnya terangkat. Saat melihat wajah Nadine, ekspresinya sempat membeku sesaat. Alis tajamnya tak urung berkerut.

Wanita ini sedang memainkan trik apa lagi? Setelah tertawa sinis, sekarang pura-pura sedih?

Dia terlalu malas memikirkannya.

"Aku membatalkan rapat pagi dan buru-buru pulang. Panggil Naya turun. Aku mau antar dia ke kelas piano."

Mendengar kata "kelas piano", Nadine nyaris tak mampu berdiri karena dilanda kesedihan.

Naya memiliki tiga kelas piano setiap minggu. Semuanya pada pukul 9 pagi. Di hari kerja, Naya tak pernah berani meminta Damien mengantarnya.

Hanya setiap hari Sabtu dia akan bertanya dengan hati-hati apakah ayahnya bisa mengantarnya, tetapi jawaban yang dia terima selalu penolakan.

Belakangan, kondisi kesehatannya semakin buruk. Kelasnya pun dikurangi dari tiga kali seminggu menjadi seminggu sekali.

Baru pada kelas terakhir sebelum operasi, Damien akhirnya setuju mengantarnya.

Malam sebelumnya, gadis kecil itu hampir tidak bisa tidur karena saking senangnya. Dia mengenakan gaun putih tercantik miliknya, lalu dijemput oleh asisten Damien.

Nadine sempat mengira putrinya akan menikmati pagi yang indah. Namun, pukul 9.30 pagi, guru pianonya menelepon.

Saat Nadine tiba, Naya sudah tak sadarkan diri. Barulah dia tahu bahwa Damien telah mengingkari janjinya. Asistennya hanya mengantar sampai ke depan tempat kursus, tidak naik ke lantai atas, lalu langsung pergi.

Damien tidak akan pernah mengerti bahwa alasan Naya terus-menerus memohon hanyalah karena anak-anak lain mengejeknya yang tidak pernah ditemani ayahnya.

Dia hanya ingin Damien muncul sekali saja. Sekali saja sudah cukup.

Namun, bukan hanya kelas pianonya yang tidak dihadiri. Saat dia terbaring putus asa di meja operasi, menunggu Damien, pria itu juga tidak datang.

Betapa sedihnya Naya ketika mengembuskan napas terakhirnya.

Dengan mata dipenuhi urat merah, Nadine menatap Damien tanpa berkedip. Suaranya dipenuhi kebencian yang begitu pekat.

"Nggak perlu lagi. Mulai sekarang, nggak perlu lagi."

"Apa maksudmu?" Damien jelas mulai tidak sabar.

Hari itu dia memang ada urusan sehingga tidak bisa datang. Sekarang wanita ini malah bersikap seolah dirinya marah besar?

"Waktuku nggak banyak. Suruh dia turun."

Nadine akhirnya tak sanggup lagi menahan semuanya. Dia berteriak histeris, "Dia sudah mati! Naya sudah mati!"

توسيع
الفصل التالي
تحميل

أحدث فصل

فصول أخرى

للقراء

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

لا توجد تعليقات
50 فصول
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status