FAZER LOGINLourdes Montes es una chica de 22 años de edad, hija de familia de clase media, pero la vida de ella da un vuelco de la noche a la mañana al haber descubierto que es hija de un multimillonario, su verdadero padre se llama Andrés Davalos, dueño de una cadena de hoteles de lujo en los Estados Unidos, significando para ella ocupar el lugar que le corresponde en la empresa de la familia de su padre, ocasionándole a Lourdes un nuevo reto en su vida, más aún porque ella es una ferviente apasionada de las pistas de carreras, y no está dispuesta a abandonar su pasión, pero todo cambia cuando se cruza con Gonzalo Davalos, un hombre de 26 años, problemático, ambicioso, con una alma oscura, que vive envuelto en escándalos sociales e innumerables aventuras amorosas, aunque todo da un giro dramático por ciertas circunstancias, poniéndolos en un camino entre el amor y el deber, ¿Crees que podrán ser una pareja normal? ¿Qué podrán soportar? Descúbrelo conmigo, en Curvas Peligrosas.
Ver maisMalam di Istana Arshaka selalu terasa sama bagi Sarah. Dingin, sunyi, dan penuh bisikan yang tidak pernah benar-benar peduli padanya.
Ia duduk di depan cermin perunggu di sudut kamarnya, menatap wajah yang disebut banyak orang cantik. Rambut hitamnya terurai panjang melewati bahu. Kulitnya bersih, matanya tajam.
Namun, semua itu tidak berarti apa-apa di dalam tembok istana yang luas ini. Sarah sudah tiga bulan menjadi selir Raja Adrian. Tiga bulan penuh ia menjalani hari-hari yang nyaris tidak berbeda: bangun, makan, berdiam diri, lalu tidur.
Ia tidak pernah dipanggil menghadap raja. Ia tidak pernah diundang ke jamuan istana. Bahkan namanya hampir tidak pernah disebut, kecuali oleh pelayan tua yang mengurus keperluannya.
Statusnya sebagai selir memang sah. Namun, di mata banyak orang, ia tak lebih dari perempuan simpanan yang terbuang.
Dulu, keluarga Sarah adalah salah satu keluarga bangsawan terpandang di perbatasan timur. Ayahnya, Lord Arman, adalah panglima yang dihormati. Namun, semua berubah ketika pengkhianatan besar mengguncang kerajaan, dan nama keluarga Arman ikut terseret.
Sarah dipaksa masuk ke istana sebagai bagian dari kesepakatan politik yang tidak pernah ia inginkan. Ia menjadi selir bukan karena cinta, bukan karena keinginan raja, tetapi karena dianggap sebagai alat untuk menjaga sisa-sisa kehormatan keluarganya.
“Nona Sarah, sebaiknya Anda beristirahat. Sudah larut malam,” suara Dayang Mira memecah lamunannya.
Sarah menoleh. Wanita paruh baya itu berdiri di dekat pintu, membawa nampan berisi teh hangat. Senyumnya tulus, satu-satunya yang membuat Sarah merasa masih dianggap sebagai manusia di tempat ini.
“Aku tidak mengantuk, Mira,” jawab Sarah pelan.
Dayang Mira meletakkan nampan di meja kecil, lalu mendekat. “Jika Nona ingin tetap di istana, Nona harus menjaga kesehatan. Di sini, penyakit bisa menjadi senjata bagi musuh.”
Sarah tersenyum tipis. Ia tahu itu benar. Istana adalah panggung pertarungan yang halus. Bukan pedang yang membunuh, melainkan racun, gosip, dan senyuman palsu.
“Apakah ada kabar dari perbatasan?” tanya Sarah tiba-tiba.
Mira terdiam sejenak. “Tidak ada kabar baik, Nona. Pasukan kerajaan terdesak di Lembah Esha. Para penasihat raja mulai cemas.”
Sarah menegakkan punggungnya. Matanya yang tadi tampak lesu berubah serius. “Terdesak? Bukankah seharusnya mereka bertahan di benteng utara?”
“Itulah masalahnya. Panglima Dasco memilih menyerang terbuka. Banyak prajurit tumbang.”
Sarah menahan napas. Nama Lembah Esha tidak asing baginya. Ayahnya dulu pernah bercerita panjang tentang wilayah itu. Tempat berbatu dengan kabut tebal di pagi hari, berbahaya untuk pasukan bergerak cepat.
Jika pasukan kerajaan masuk terlalu jauh, mereka akan dikepung dari atas bukit.
“Siapa yang memberi perintah menyerang?” tanya Sarah lebih tajam.
“Panglima Dasco sendiri, Nona.”
Sarah mengatupkan bibir. Ia tahu betul nama itu. Panglima Dasco adalah orang yang naik menggantikan posisi ayahnya setelah skandal pengkhianatan keluarganya mencuat.
Pria itu ambisius dan tidak sabar. Jika ia memimpin pasukan di medan yang tidak ia kenal, maka kerugian bukan sekadar kemungkinan, melainkan kepastian.
“Aku butuh peta wilayah,” kata Sarah pelan.
Mira terkejut. “Nona, jika ada yang mendengar…”
“Aku hanya ingin melihat. Tidak lebih.”
Mira memandang Sarah sejenak. Ia tahu perempuan muda di hadapannya bukan selir biasa. Dulu, sebelum masuk istana, Sarah tumbuh di bawah didikan langsung Lord Arman.
Ia belajar membaca medan, mempelajari logistik perang, bahkan turut menyusun strategi kecil untuk pertahanan wilayah. Sekarang, semua itu harus disembunyikan.
“Baiklah,” kata Mira akhirnya. “Aku akan coba mencarikan peta tua dari perpustakaan bawah. Nona harus bersabar.”
Sarah mengangguk. “Hati-hati.”
Mira beringsut keluar, menutup pintu perlahan. Sarah menatap lilin di meja yang nyalanya bergetar tertiup angin dari jendela. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia tahu ini berbahaya. Seorang selir yang dianggap tidak berguna seharusnya tidak memikirkan peta perang.
Namun, ia juga tidak bisa tinggal diam karena Lembah Esha adalah wilayah yang pernah menjadi benteng pertahanan ayahnya. Jika pasukan kerajaan kalah di sana, bukan hanya prajurit yang mati, tetapi nama baik ayahnya bisa kembali diinjak.
Malam itu Sarah tidak tidur.
Saat fajar hampir menyentuh langit, pintu kamarnya tiba-tiba diketuk tiga kali. Cepat. Kasar. Sarah langsung berdiri. Itu bukan ketukan Mira.
Pintu terbuka sebelum ia sempat menjawab.
Seorang perwira istana berdiri di ambang pintu, wajahnya tegang. Di belakangnya, dua penjaga membawa lentera.
“Selir Sarah?” tanya perwira itu dengan nada dingin.
“Ya,” jawab Sarah, tetap tenang.
“Raja Adrian memanggilmu. Sekarang.”
Jantung Sarah berhenti sejenak.
Raja memanggilnya? Setelah tiga bulan tidak pernah sekali pun menoleh?
“Aku harus segera bersiap,” kata Sarah.
“Tidak perlu. Ikutlah.”
Sarah merasakan hawa aneh dari kalimat itu. Panggilan mendadak di saat fajar, tanpa pemberitahuan, tanpa waktu berdandan, adalah hal yang tidak biasa. Itu bisa berarti raja mulai mengingatnya atau justru ingin menyingkirkannya.
Ia menarik napas panjang, lalu melangkah keluar.
Langkahnya di sepanjang koridor istana terasa dingin. Dinding-dinding batu tingg. Cahaya obor menyala redup, membuat bayangan mereka tampak menyeramkan.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu besar berukir naga emas. Ruang kerja pribadi Raja Adrian.
“Masuk,” perintah perwira itu.
Sarah menatap pintu itu sejenak. Di baliknya, ada seorang raja muda yang tidak pernah ia ajak bicara bahkan sekali pun. Seseorang yang kabarnya dingin, kejam, dan tidak mudah percaya pada siapa saja.
Ia mendorong pintu perlahan.
Di dalam, cahaya lampu minyak menyala terang. Ruang kerja itu dipenuhi tumpukan gulungan surat, peta, dan segel kerajaan. Di tengahnya, seorang pria duduk di kursi besar dari kayu hitam.
Raja Adrian. Matanya menatap Sarah dari ujung ruangan. Tajam. Dingin. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan.
“Kau,” suaranya terdengar rendah dan berat, “adalah putri Lord Arman.”
Itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan.
Sarah merasakan hatinya berdesir. Setelah tiga bulan dilupakan, nama ayahnya tiba-tiba disebut oleh raja.
“Benar, Yang Mulia,” jawab Sarah pelan.
Raja Adrian berdiri, lalu berjalan mendekat. Tingginya menjulang, membuat ruangan ini tiba-tiba terasa lebih sempit.
“Aku kehilangan banyak prajurit di Lembah Esha,” katanya datar. “Dan ada yang mengatakan kepadaku bahwa kau tahu cara menyelamatkan sisanya.”
Sarah menahan napas. Seseorang telah membocorkan rahasianya.
Sekarang, di depan raja yang berbahaya, ia harus memilih: tetap berpura-pura bodoh, atau menunjukkan kecerdasan yang selama ini ia sembunyikan.
Tres días despuésMiamiGonzalo Desde que Lulú me dio la noticia que seriamos padres no he podido ocultar mi cara de felicidad, pues creí que pasaría más tiempo para contemplar la idea de tener un hijo, pero como siempre ella sigue desafiando mi lógica, aunque nunca ha habido reglas, manuales, entre nosotros, todo lo contrario, rompemos esquemas, cruzamos los límites que nos han hecho arrastrarnos por lo que nos gritaba el corazón, claro que el camino no ha sido nada fácil para poder vivir nuestro amor a pleno, ya que hemos tenido que superar muchos obstáculos, llenos de sufrimiento, de lágrimas de sangre. Lo cierto es que han sido demasiadas pruebas para poder estar juntos, no significa que me arrepiento de nada, más bien siempre derribaré todas las barreras que puedan existir, me tiraré al vació las veces que sean necesarias por ella, porque de eso se trata el amor, de dar hasta el último aliento, de actos suicidas, de cruzar un camino lleno de espina, sabiendo que al final mi rec
La misma nocheMiamiGonzaloCon muchas dudas dejé la habitación de Lulú para acompañar a Alejandro, pero no puedo evitar tener esta sensación extraña, algo que no me deja tranquilo, no sé como explicarlo, además no me cierra que Tamara haya vuelto a la casa de sus padres, pues ella jamás buscaría para esconderse un sitio que no esta a su altura según sus propias palabras, más bien querría tener todos los lujos y las comodidades a las que está acostumbrada, me repite mi interior en tanto conduzco, hasta que decido detener el vehículo buscando la mirada de mi cuñado.–Gonzalo ¿Por qué detuviste el auto? ¿Qué sucede? –pregunta con sus ojos envueltos en dudas.–Alejandro creo que es una trampa la llamada que recibió la policía, porque Tamara jamás en su sano juicio se escondería en casa de sus padres, te lo garantizo. Además, tengo un presentimiento de que algo malo puede suceder, no me preguntes que es, porque no lo sé con certeza– aseguro con una mirada llena de preocupación.–Volvamos
El mismo díaMiamiGonzalo–¡Vete a la mierda Gonzalo! Demándame, pero no conseguirás nada de mí– vocifera a mi rostro.–¡No! ¿Tú lo crees? Afuera tengo a la policía con una orden de arresto por varios cargos en tu contra, entonces tú eliges, colaboras conmigo o te espera una larga temporada en la cárcel, ¿Qué decides? –replico con una mirada desafiante.–Gonzalo intenta encarcelarme, pero saldré en pocas horas, recuerda que no estás tratando con cualquier imbécil. Soy un abogado que conoce mejor que nadie la ley y la usará a su favor– sentencia teniendo una sonrisa burlona.–Alex al menos me daré el lujo de encarcelarte, además alguien como tú no soportará compartir una celda con asesinos, delincuentes, violadores, es muy peligroso para un abogado, pero tú me obligas. ¡Fiscal! Nuestro amigo no quiere colaborar con nosotros, dejo todo en sus manos– replico para terminar usando la radio dando la señal.–Buen truco Gonzalo, te aplaudo, porque has montado un teatro perfecto, aunque no so
La misma nocheMiamiGonzaloLa expresión perdí la cabeza es una exageración muchas veces, aunque en mi caso no, pues no me importa ensuciarme las manos de sangre con tal de vengarme de la persona que le hizo daño a la mujer que amo, estando descontrolado, con el pensamiento nublado, que la rabia y el odio me consumen en este momento, sumado a que las palabras hirientes del bastardo de Ben no ayudan a calmarme, lo cierto es que quiero matarlo a golpes, más acabo de cruzarme con la mirada del detective Matamoros exigiéndome que suelte a esta rata, sin embargo, el sonido del celular me deja pensativo, pues como si fuera una señal del destino, suena el timbre personalizado que designe para Lulú, así con toda la frustración del mundo lo suelto dejándolo caer en el suelo, para enseguida ser sometido por la policía colocándome unas esposas, mientras que dos oficiales levantan por los brazos a Ben, no obstante hago mi voz de protesta presente.–¡Matamoros! No es necesario que me arresté como












Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
avaliações