LOGINSvanna Rose is the black swan of their family. She's the main character that always play the role of antagonist to her own story. She is like Odile, the evil daughter of sorcerer who disguised as Odette. But who are we to judge her, if we are all pretending to be someone who aren't we? Who are we to judge her if she is also a victim of cruelty? Pursuing her dream to become the prima ballerina of the famous ballet 'The Swan Lake', she found herself stuck in a very dangerous situation. And all she can to do is to take a risk as she was claimed to be the black swan of Saint Vicenzo Santorini. Let's witness how she dance to the danger rhythm of uncertainty, as she slowly unveil the truth behind her cruel destiny. "My passion in dancing brought me to life, little did I know it also leads me to my own graveyard"
View MoreTok.. Tok.. Tok..
Pintu kamar diketuk, tak lama terdengar namanya dipanggil. “Rachel, apa papa bisa masuk?” Ya, itu suara Jacob, ayahnya. Rachel segera menutup buku LKS, dan beranjak dari meja belajarnya untuk membukakan pintu. “Apa kamu sedang sibuk, nak? Ada satu hal yang ingin papa bicarakan, ini sangat penting,” ujar Jacob, setelah melihat wajah putri kesayangan muncul dari balik pintu. Wajah Rachel terlihat mengerut, membuat kacamata tebalnya sedikit melorot dari batang hidung. “Ada hal penting apa, pa?” tangan Rachel bergerak untuk membenarkan posisi kacamatanya. Meskipun Rachel masih bingung, namun dia tetap membuka lebar pintu kamar agar Jacob bisa masuk. Jacob mengulas senyum, tak menjawab pertanyaan putrinya namun dia tahu kabar ini mungkin akan mengejutkan putrinya. Jacob menuntun Rachel untuk duduk di tepi ranjang. Kamar Rachel terlihat sangat bersih dengan warna putih yang mendominasi. Rachel masih menunggu kata-kata yang keluar dari mulut Jacob. “Ini mengenai masa depanmu nanti nak,” ujar Jacob memulai pembicaraan. Masa depan? Usia Rachel masih sangat muda, namun ayahnya sudah merencanakan masa depan untuknya. Tentu Rachel menduga jika ini berkaitan dengan universitas yang nantinya akan dimasuki, setelah lulus SMA. Dugaan ini membuat Rachel begitu antusias mendengarkan. “Apa papa menyetujui permintaanku, tentang universitas yang Rachel inginkan?” senyum merekah di bibir Rachel. “Tentu sayang, hal itu juga sedang papa diskusikan dengan mamamu. Tapi bukan itu yang ingin papa katakan, ada hal lain yang juga menyangkut masa depanmu,” ucapan Jacob membuat senyum Rachel sedikit menghilang. Wajahnya kembali mengerut bingung. Dalam pikiran Rachel hanya ingin mengejar pendidikan setinggi-tingginya, itu sudah menjadi tujuan hidupnya. “Papa mempunyai teman bernama Nicholas, mungkin papa belum sempat mengenalkannya padamu. Tapi mungkin sebentar lagi keluarga kita akan bertemu dengan keluarga om Nicholas,” ucap Jacob. Hal itu membuat Rachel semakin bingung. Bukankah papa tadi akan membicarakan tentang masa depannya? Lalu apa hubungan om Nicholas dengan masa depannya? Rachel masih berdiam, menunggu hingga Jacob melanjutkan ucapannya. “Papa memiliki perjanjian dengan opa Anthoni, jika papa memiliki anak perempuan maka harus siap dijodohkan dengan cucu laki-laki dari keluarga Lesham,” lanjut Jacob sembari membelai rambut putrinya. Jacob tahu jika keputusannya ini tentu tidak adil untuk putrinya. Namun perjanjian sudah dibuat, dia pun tidak bisa melanggarnya. Opa Anthoni? Siapa lagi ini? Tentu nama yang asing di pendengaran Rachel yang tak pernah mengetahui tentang orang-orang yang Jacob sebutkan tadi. Namun mendengar nama keluarga Lesham, dia seperti tidak asing dengan nama itu, “Maksud papa? Rachel tak mengerti, pa.” Jacob terlihat menghirup nafas panjang, sebelum kembali menjelaskan. “Dulunya hubungan papa dengan opa Anthoni Lesham terjalin sangat dekat. Papa pun ikut menjenguk ketika cucu pertamanya lahir. Saat itu opa Anthoni menyatakan keinginannya. Kelak cucu laki-lakinya akan berjodoh dengan anak papa, tentu jika papa memiliki anak perempuan. Saat itu papa belum mengenal mamamu,” ucap Jacob kembali menceritakan masa lalunya, agar putrinya mengetahui cerita di balik perjodohan yang nantinya harus dijalani. “Apa itu artinya jodoh Rachel adalah cucu opa Anthoni?” Rachel memang pintar dan cepat mengerti ke arah mana pembicaraan papanya. Jacob mengangguk seraya menjawab, “Iya sayang, maafkan papa jika hal ini mungkin membuatmu merasa tidak adil. Tapi papa tidak bisa melanggar perjanjian yang papa buat dengan opa Anthoni.” Wajah Rachel menggambarkan kekecewaan, hal itu tertangkap dalam penglihatan Jacob. Dia pun mendekap tubuh Rachel sembari mengelus kepala Rachel penuh kasih sayang. “Papa yakin jika cucu opa Anthoni adalah pemuda yang baik. Besok sore papa akan mengajakmu untuk mengunjungi keluarga Lesham. Apa kamu bersedia, nak?” Perasaan Rachel terlalu rumit untuk dijelaskan, hal ini sungguh diluar prediksinya. Seumur hidup bahkan Rachel tidak pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis. Sehingga kabar perjodohan ini membuatnya takut. Takut jika masa depannya akan terhenti. “Maaf ya nak, papa sudah membuat hidupmu seperti ini. Tapi papa akan sangat senang kalau kamu mau menerima perjodohan ini. Papa yakin anak laki-laki keluarga Lesham adalah pemuda yang baik, sama seperti Anthoni yang selalu baik ke papa. Dan kamu masih bisa meraih cita-citamu kelak, jika kamu menginginkan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi sesuai keinginanmu." Pikiran Rachel masih tak bisa menerima keputusan Jacob. Namun mendengar ucapan Jacob yang terakhir, membuat Rachel berpikir kembali. Haruskah dia menuruti keinginan papa? Jika perjodohan itu tak mengganggu keinginannya untuk bersekolah, mungkin Rachel akan menerimanya. Tentu Jacob sudah mempersiapkan sesuatu yang terbaik untuknya. Rachel mengurai pelukan, lalu memandang wajah Jacob dengan senyum tipisnya. “Rachel tahu papa akan memberikan yang terbaik untukku. Rachel setuju pa,” jawab Rachel akhirnya, disambut senyum lebar Jacob yang begitu bangga memiliki putri yang selalu pengertian dan penurut. “Terima kasih nak. Besok sore setelah kamu pulang sekolah, kita akan mengunjungi rumah keluarga Lesham." *** Keesokan harinya di sekolah Prashanti Bhineka. Lima belas menit sebelum bel sekolah berbunyi, Rachel sudah berada di kelas. Duduk di bangku paling depan, tepat di depan meja guru. Kebanyakan dari murid berprestasi akan duduk di barisan terdepan. Sementara murid yang sering bermasalah, memilih duduk di barisan belakang. Rachel membaca buku pelajaran selagi menunggu guru mata pelajaran matematika datang. Bangku kosong mulai terisi, setelah bel sekolah berbunyi. Para murid yang tadinya di luar, kini mulai masuk ke dalam kelas, menempati bangkunya masing-masing. Tak lama guru matematika masuk dalam kelas. Suasana yang tadinya ribut mendadak hening. Pak Supri dikenal sebagai salah satu guru paling galak di antara guru yang lain. Bahkan tak segan menghukum murid yang melanggar peraturan kelas. “Keluarkan buku LKS kalian! Buka halaman 83, pelajari itu dalam waktu 15 menit!” ucap pak Supri dengan nada tegas. Seperti biasa, jika beliau sudah berkata demikian maka para siswa harus bersiap menghadapi ulangan mendadak. Terdengar suara mengeluh dari murid yang duduk di barisan belakang. Dan suara itu tertangkap di pendengaran pak Supri. “Jonathan! Maju ke depan!” perintah pak Supri, meskipun hanya mendengar tanpa melihat langsung, beliau sangat hafal pemilik suara itu. Rachel menoleh ke belakang, menatap pada Jonathan dengan senyum sinis. ‘Sukurin dah lu, Jo. Habis dah lu!’ batin Rachel dalam hati. Tentu hatinya bersorak melihat rivalnya kena semprot sang Guru Killer. Rachel tak sabar menunggu hukuman apa yang akan didapatkan si Biang Kerok. Jonathan beranjak dari tempat duduknya, dengan langkah percaya diri berjalan ke depan. Berdiri di samping meja guru, dengan wajah terlihat tenang. Jonathan seperti sudah terbiasa menghadapi situasi ini. Garis bibir Rachel terangkat, memperlihatkan senyum sinis. Hal itu tertangkap di pandangan Jonathan, yang posisinya menghadap persis ke arah Rachel. “Apa lo?” bentuk bibir Jonathan mengatakan itu, meski tanpa suara. Rachel mengedikkan bahu bersikap acuh. Lalu kembali menatap pada angka dan kumpulan huruf pada buku di hadapannya. “Jonathan, ambil tas dan peralatan tulismu! Mulai sekarang kamu duduk di depan! Mila pindah ke belakang, dan Jonathan duduklah di samping Rachel!” perintah pak Supri, tentu membuat Jonathan terkejut juga Rachel. Bagaimana mungkin pak Supri memberikan hukuman seperti itu? Justru Rachel yang merasa dihukum jika harus duduk sebangku dengan sang Pembuat Onar. ***Svanna Rose Zeneca-SantoriniWhen Vicenzo said that 'this is now over' he was wrong. That is just the end of our first journey together and the beginning of another battle that we must conquer together. During that last fight with Flacara Mafia, everything changes. Gordon died... Mom killed him intentionally. I couldn't accept it. But I need to be strong because he told me that he wanted to see me rising from the spotlight.I thought being the prima ballerina is the peak of my dreams. But then I realize that I just wanted to have Vicenzo stay with me the rest of our life. I don't need to be the prima ballerina of Zeneca Ballet or to be the white swan of Swan Lake play. Because I am already the prima ballerina to my own story and I just have to recognize that the main character doesn't just always play at the center. She could be a black swan like me.And this is my last dance, my last dance as the black swan. Because
When you thought everything is okay, reality will suddenly slapped you real hard- that no matter how good everything was, bad things is still right behind the corner waiting for the right time to strike again and mess your life again.It's always like that. You're a happy and then you're sad later. If you're sad now, you're happy later. It is a continuous cycle, a very redundant scenario. It was like a story that has a same plot but with different lines. It so fuck up!Before I end up in this kind of mess, in this kind of danger- everything is just good compare now. I have a peaceful and quite life away from trouble. I know it's boring because I spent all my life in dancing isolating myself from the people around me.I don't have a good relationship to my father, we don't usually talk, we don't even eat a meal together. I am not that welcome to the eyes of Mommy Adie even to Aliah, my haft sister. I was the black swan of the Zeneca family. I exist but only as th
"Where did you go?"I lift my head and I saw Vicenzo looking at me seriously. His rugged face is screaming with annoyance. He doesn't look pleased and I know the reason why.But instead of being scared with his unwelcoming greeting, I walk fast towards him and hug him tightly. I felt him stilled and his body went rigid with our sudden contact. But later after I felt his arm wrap around my waist and possessively pulled me even more to him.He's sitting on the single couch while I'm sitting on the top of his lap facing him with my legs wide open. Our position is quite awkward but I don't really care, I feel bad because of what happen."Tell me what happen?" He whisper while caressing my back.I sniff and buried my face on his neck "I miss Mom..." I whisper.He sigh "That's why you sneak out?" He utter in a controlled tone of voice.I pulled away and face him. His brows furrowed when he saw the dry tears in my face but later on his face
"No..." I shake my head and close my eyes "No...this is not true. I am just hallucinating. This is not true" I mumble to myself and pulled my hair.There's no way my Mom is alive after all these years. I always visit her grave, I always visit her whenever I miss her. Whenever I felt like everything seems against me. Whenever I felt alone..."You are not hallucinating Chèrie," Gianni said behind me "Tita Vanda is alive. She's alive Svanna Rose. The reason why Tito Roman doesn't want you to visit her grave is because she was never been buried-""No!" I scream, shaking my head "Mom is dead! She's not my Mom!" I exclaimed crying while looking at the woman in front of me who look exactly like me."Tito Romano never visit her grave, it's because he know that Tita Vanda never die in the first place-""Stop it Gianni!" I cut him off, breathing heavily while my eyes is clouded with tears.I shook my head and step back. My heart is beating fast
I return to my room with dry tears on my cheeks after I talk to Gordon. I am expecting Vicenzo to already finish his shower, but then he's not around and I can hear the sound of running water inside the bathroom which made me conclude that he's still there.I turn my hea
The car halted in front of our house. I was hesitant to step out but I force myself when Calcifer opens the door for me giving me an assuring smile."Thank you, Cal" I whisper politely."Stay safe here. Remember that even if you're here, we're still monitoring your every move. You can
He's here? What is he doing here?"Flower..." he drawled which made me step back a little because of sudden nervousness "I wanna do bad things with you, I've been waiting for you..." he mutter in a low husky voice just enough for me to hear him.I bit the inside of my mouth as I felt
"I trust you" I mumble under my breath.I felt him stop walking so I tighten my hug on him. He is the first person I trust aside from Gordon. Gianni and Aunt Marie are all my relatives on my mother's side and that's given that I really trust them. But Vicenzo is different, when I first met












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore