LOGINThe poor girl is stuck between two mafia brothers and they have no desire to share a woman. How innocent Arabella is going to escape the dangerous dark temptation of Oliver and Arthur?
View More“Mampus ... mampus,” maki Kaluna sambil memberikan uang kepada sopir taksi dan dengan cepat berlari seperti dikejar setan ke dalam restoran tempat ia bekerja.
“Nah ... kan, mampus udah mulai pula acaranya,” bisik Kaluna sambil melirik ke arah pojok tempat parkir, “sepeda siapa pula itu? Tumben ada sepeda di sana? Udah soksoan pola hidup sehat kurasa karyawan di sini,” lanjut Kaluna sambil membuka pintu restoran secepat mungkin.
Telinganya mendengar suara tepuk tangan di dalam ruangan yang menandakan dia sudah sangat terlambat, “Beneran mampus ini! Aku nggak ada waktu lagi buat naruh semua ini ke loker,” maki Kaluna dengan suara pelan karena takut ketahuan karyawan lain kalau dirinya terlambat.
Matanya melihat sekelilingnya dan entah ide dari mana, Kaluna langsung memasukkan semua barangnya ke bawah meja kasir, “Masuk kamu, masuk ... nanti aku ambil, aku harus cepet. Si Raka pasti udah di sana. Duh ... Gusti selamatkanlah hambamu ini dari terpaan amukan Raka yang walau ganteng tapi kalau marah udah mirip perempuan datang bulan!” Kaluna terus berkomat-kamit bak merapal mantra sambil berjalan ke arah pintu.
Dengan cepat ia memanjangkan lehernya untuk melihat sudah sampai di mana acaranya berlangsung, “Sial, udah selesai pula,” bisik Kaluna miris sambil membuka pintu ruangan dan menundukkan tubuhnya serendah mungkin.
Detik ini Kaluna bersyukur dirinya pendek hingga bisa bersembunyi dari tatapan Raka yang entah bagaimana terasa menghunjamnya. Kaluna akhirnya berdiri di belakang salah satu teman sejawatnya.
“Telat Lun?” tanya Okhe teman sejawatnya di dapur sambil menggeserkan tubuhnya, membuat Kaluna bisa terlihat oleh Raka.
Detik itu juga Kaluna ingin menancapkan salah satu pisau di dapur miliknya ke leher Okhe karena pria itu membuat dirinya terekspose, Raka pasti akan memanggilnya dan memarahinya habis-habisan karena terlambat lagi.
“Itu siapa di belakang Pak Raka?” tanya Kaluna saat ia bisa melihat ke arah depan, ia melihat seorang pria yang sedang berbalik dan berbincang dengan Raka.
“Itu Head Chef baru yang udah dipilih sama restoran pusat di Singapura,” terang Okhe sambil berjalan ke arah pintu keluar karena acara perkenalannya sudah selesai.
Kaluna hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil mengikuti Okhe, untuk apa dia di sana? Lebih baik dia ke dapur dan melakukan prepare untuk servise karena sejam lagi restoran akan buka. Saat Kaluna selangkah lagi keluar dari pintu keluar ia mendengar suara panggilan.
“Kaluna.”
“Mampus, kan, mampus udah,” ringis Kaluna sambil menatap wajah Okhe yang saat ini seolah mengejeknya. “Jangan bilang yang manggil gue Raka,” bisik Kaluna dan ia langsung merasakan kecewa karena Okhe tersenyum dan mengucapkan kata good luck tanpa suara yang membuat Kaluna menghela napas.
“Kaluna,” panggil Raka.
Kaluna dengan mengumpulkan semua keberanian yang ia miliki langsung berbalik dan memasang senyuman ramah terbaik miliknya, “Iya, Pak Raka.”
“Sini kamu, saya kenalkan sama Head Chef baru di restoran ini dan perlu kamu tanamankan di pikiran kamu kalau Head Chef baru kita ini tidak suka orang yang ter-lam-bat.” Raka menekannya kata terlambat hingga membuat Kaluna salah tingkah.
Kaluna hanya bisa pasrah, dengan bersusah payah Kaluna menyeret kakinya untuk mendekati Raka. Ia langsung berdiri di belakang lelaki yang sedang membelakangi dirinya.
“Ini orang titisan tiang listrik atau waktu bayi kebanyakan zat besi apa, ya? Tinggi bener,” batin Kaluna sambil memperhatikan tubuh pria itu dan dia yakin seratus persen kalau dibalik seragam chef berwarna putih yang pria itu kenakan pasti terdapat tubuh yang mampu membuat semua kaum hawa tergila-gila, termasuk dirinya.
“Kaluna ini sous chef, yang menggantikan sous chef kita yang sedang cuti hamil, Kaluna kenalkan ini ....”
Lelaki itu berbalik lalu detik itu juga Kaluna dan Raka mengucapkan nama yang sama, “Jonathan.”
“Kaluna ini Jonathan,” ucap Raka yang tidak sadar dengan perasaan Kaluna, “kenapa kamu, Kaluna? Kok pias begitu mukanya? Belum makan?” tanya Raka bingung saat mendapati perubahan air muka Kaluna.
“Hah?” Kaluna mengalihkan pandangan matanya dari tatapan tajam Jonathan yang seolah menghunjam dirinya tanpa ampun. Tuhan ... dia ingat sorot mata itu, dia kenal lelaki di hadapannya itu!
“Kamu sakit atau sekarat mungkin?” tanya Raka yang kesal pada Kaluna yang terlihat pelenga-pelongo, “kamu sampai keringatan begitu.”
“Oh, nggak saya cuman ....” Kaluna menggosok-gosok kedua tangannya di paha dan bersikap senormal mungkin. “Masih untung aku nggak pingsan di tempat karena aku ketemu sama mantan pacar,” batin Kaluna.
“Jonathan,” ucap Jonathan tak acuh sambil mengalihkan pandangannya dari Kaluna seolah melihat Kaluna lebih lama akan membuat dirinya terjangkit virus yang mematikan.
“Hah?” Kaluna kaget saat melihat Jonathan yang seolah-olah tidak mengenali dirinya? Apa-apaan ini? Kenapa Jonathan pura-pura tidak mengenali dirinya? Apa dirinya berubah sebanyak itu sampai-sampai mantan pacarnya itu tidak mengenali dirinya?
“Lo yakin dia nggak budek, kan?” tanya Jonathan sambil memandang sinis pada Kaluna dan mengambil tablet miliknya.
Raka melihat Kaluna bingung, “Kaluna, kamu kenapa?” tanya Raka.
“Ah ... nggak, aku nggak apa-apa, Pak, saya cuman ....” Kaluna menggantungkan kalimatnya, “berpikir Kaluna, saya cuman apa? Nggak mungkin kamu bilang, kalau saya kaget karena mantan pacar saya pura-pura nggak kenal sama saya! Saya salah apa?” batin Kaluna sambil memandang Jonathan dan Raka bergantian.
“Haduh, udah deh ... saya banyak kerjaan, lebih baik kalian berdua ngobrol aja. Kalian coba lebih mengenali diri karena kalian akan banyak kerja di kitchen,” ucap Raka sambil pergi meninggalkan Kaluna dan Jonathan.
Sepeninggalan Raka, Kaluna masih fokus melihat wajah Jonathan. Kaluna berjuang untuk mencari hal lain yang bisa memperkuat dugaannya kalau pria di hadapannya itu ada Jonathan mantan kekasihnya, “Jojo?” Kaluna gembling dengan memanggil Jonathan dengan panggilan kesayangannya dulu.
Hening ....
Lagi, Kaluna melihat Jonathan dari ujung kaki hingga ujung rambut mencoba meyakinkan dirinya kalau lelaki di hadapannya adalah lelaki yang sama. Lelaki yang penuh dengan kelembutan, senyuman yang manis dan belaian yang selalu Kaluna ingat.
Tiba-tiba saja Jonathan menyimpan tabletnya dan menggulung lengan bajunya hingga ke siku. Ekor mata Kaluna dengan cepat melihat sesuatu yang tidak asing di lengan Jonathan, sebuah bekas luka yang tidak asing lagi bagi Kaluna. Bekas luka itu ada karena Kaluna.
"Hai, Jojo?" bisik Kaluna lagi berharap mendapatkan respons yang baik dari Jonathan.
Hening ....
Lelaki di hadapan Kaluna sama sekali tidak bergeming bahkan saat ini Kaluna hanya bisa menahan napasnya karena Jonathan hanya melihatnya dengan tatapan dingin yang sangat menusuk dan Kaluna bersumpah kalau suhu ruangan di sana seolah berubah menjadi lebih dingin.
"Jo ... jo?" ulang Kaluna takut-takut.
Terdengar helaan napas Jonathan, "Maaf, apa kita kenal?"
***
Author's POV Five Years Later! Arabella was training students of R agency in the early morning, Sun was coming out in the sky slowly. Students were beyond exhausted after working too hard.She saw their faces and dismissed the class. Her walk back to mansion was quiet as no one was on the road this early but she halted in her place when she saw little boy on the middle of the street, practicing swordplay. He was around four years old but the sharpness is his eyes was more intense than any adult. His sword was cutting through the air like butter. His naked feet wasn't afraid of rough street under them.He moved so fast, she could hardly see his clear image. "Hey, Boy!"Arabella called him and he froze. His sword tip made sound after touching the road. He was drenched in sweat because of the practice but he started sweating more when he saw Arabella. He looked down and gulped as she approached him with frown. His hold on his sword tightened as she stepped closer and closer. Arab
Author's POVArthur and Oliver were waiting for Arabella to come out. All guests were present. The wedding was in their huge garden.They were getting impatient on the aisle.The garden was decorated with white and pink flowers. Soft song was playing in the background. Wind was gentle and guests were excited."Mom, can you check on her?"Oliver asked impatiently."Relax, man! She ain't going on a runway."Dominick teased him."Like your bride?"Oliver teased back and Dom chuckled.Arabella on other hand was getting nervous."Gosh! Why I am nervous?"She wiped her sweaty hands."What's wrong? You kill hundred people at a time and you are nervous to stand on the aisle?"Julie was amused."I don't know why. But they are going to watch me. I am centre of the attraction today. I don't like it... Why couldn't we just sign the papers, it's all because of you."She took deep breaths."Nervous, Arabella?"Damian chuckled from the door frame.She turned around and smiled at him awkwardly."Dad!
Arabella's POV Rancho is gone, leaving everything behind. I was not ready to take the responsibility of R Agency because how can I make people go through that hell when I have suffered from that. The life is just pain and tears there. But Rose Arthur gave me confidence that I can do it make it better than before, students there won't be just killing machines but humans with feelings. Yes, certain things are necessary to take care of but I can do it. I used to think that I don't need anyone, I am a strong independent woman and I am enough for myself but after metting my men, I have realised how much I needed their love, support and care. They filled up the space which I didn't even know it's there. They have decided to shift the agency near mansion where they will give all the facilities to students and little kids which are just brought to agency, now it's my responsibility to make them strong. No child will loose it's innocence. "Look at the screen."The doctor informed and I t
Arabella POVI don't understand why Rancho wants to meet me. Arthur didn't wake me up yesterday as I was in deep sleep but I found out from Garry in the morning. He said, Rancho is getting restless. He wants to see me and that's his last wish. He is not sure how long he will live. I never thought that meeting me would be Rancho's last wish. I am amazed to imagine what he wants, although everyone is against it. They don't want me to meet him. They think that he might fill my mind with some negative crap. "I want to meet him."I turned towards Oliver, who is trying to convince me not to meet him since last one hour. He sighed and gave up."Fine but we will be coming with you, you are not going there alone."He wanted to meet me alone but that's okay, I don't think there is anything which he should tell me in isolation. My partners have all rights to be with me."Fine!"They led me where Rancho was held captive. I must say, he was kept in tight security. Guards on each entrance and
Author's POV Rancho rubbed his forehead, knowing she is almost at the stage where his class A fighters also can't defeat her. There is only one man in the agency who can defeat her and that's Rancho himself. He was doubtful if Arthur can defeat her. But his wicked mind was also thinking about oth
Author's POV Arabella was in her dorm, looking at her neck in the mirror which had Arthur's handprints on it. "Who managed to get your neck?"Her room mate asked amused."A rare sight to see."Arabella didn't answer the question."Why aren't you in training, Ombre?"Ombre sat on her bed while tak
Author's POVKnight brothers looked at the girl who was standing there with straight face, not at all guilty or scared to hold them on gun-points. "Dove, what are you doing?"Arthur tried to call her, tried to catch the glimpse of recognition from her eyes but it was missing. They both were beyon
Author's POV Arabella couldn't sleep that night. The morning was lethargic as her sleep wasn't completed. She went to the dining hall where everyone was having breakfast. No one looked at her and she was feeling grateful that they weren't making her uncomfortable by stares. "Garry!"She called h






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews