FAZER LOGIN—“Amarme solo te destruirá… Por favor, Dominic, déjame ir.” Su voz tembló, y sus ojos brillaron con lágrimas no derramadas mientras daba un paso atrás. —“No,” dijo él con firmeza, avanzando un paso hacia ella. “Podemos hacer que funcione. Eres la única que quiero, Selene. Perderte no es una opción.” —“No se me permite amarte,” susurró ella. “Está prohibido. Mi destino... quedó sellado mucho antes de conocerte.” La mandíbula de Dominic se tensó. —“¿Me amas?” Ella vaciló. —“Selene. Mírame. ¿Me amas?” preguntó de nuevo, con la voz quebrándose. —“Sí... te amo,” respiró finalmente. “Pero—” —“Entonces eso es todo lo que necesito escuchar,” dijo él, con los ojos ardiendo de determinación. “No me importan las reglas. No me importa lo que exija el destino. Eres mía. Y lucharé contra los cielos para tenerte si es necesario.” La Diosa de la Luna cometió un error fatal. En un giro del destino, accidentalmente vertió sus poderes en un cachorro lobo recién nacido. Para recuperarlos, debe descender a la Tierra, seducir al lobo ya adulto, reclamar lo que le pertenece y regresar a su reino. Pero nada la preparó para él, ni siquiera los cielos. Dominic, el chico que posee sus poderes, resultó ser su compañero destinado. Y lo que es peor, ella era la Diosa de la Luna. Era quien otorgaba compañeros destinados a los lobos. ¿Cómo era posible que terminara unida por el destino a Dominic? Era un misterio que deseaba resolver. Amarlo nunca fue parte del plan. Reclamarlo significaba romper todas las leyes de su especie. Sin embargo, la atracción entre ellos era innegable, peligrosa, embriagadora y, sobre todo, prohibida. Pero los frutos prohibidos son los más dulces. Y ella ya había dado un mordisco... y se había vuelto adicta.
Ver maisMalam hari di musim semi, Camelia gelisah di kamarnya. Dia remas buku-buku jemarinya yang penuh bekas luka. Badannya gemetar mengingat seluruh rasa sakit yang ia terima dari lelaki yang sayangnya adalah suaminya sendiri. Camelia, Istri tersembunyi Robert Potter, Mafia kejam dan berbahaya. Setiap kali bertemu hanya siksaan yang ia dapatkan. Seolah raganya hanya mainan. Tak pernah sekalipun lelaki itu bersikap lembut. Tak ada yang berani menolongnya. Jika ada yang bertanya dimana keluarganya? Tentu saja ada. Masih hidup. Tetapi mereka sudah tak peduli padanya. Ia serasa dijual oleh keluarganya sendiri. Semua itu karena uang yang mereka dapatkan begitu banyak setelah Robert menikahinya.
Sebenarnya ia sudah lelah jiwa dan raga. Beberapa kali mencoba bunuh diri namun gagal. Dan justru ia mendapatkan penyiksaan yang lebih kejam. Hingga ia pasrah akan nasibnya yang kurang beruntung. Suatu hari, ketika ada pelayan yang baru masuk. Ia seperti mendapat angin segar. Ia pelayan dari Asia tenggara. Bersama pelayan itu, ia merencanakan pelarian dengan sangat matang. "Anda sudah tidur, Nyonya?"jawab Bibi Sandy. "Belum, Bi."jawab Camelia "Ini, saya bawakan makan malam untuk anda."ucap Pelayan itu. Camelia menegakkan badannya. Sejak tadi ia lelah mondar-mandir di dalam kamarnya. Hingga ia memilih rebahan di ranjangnya yang empuk di sangkar emasnya milik Robert Potter. "Terima kasih, Bi" Pelayan itu mengangguk. "Bibi, ayo kita makan bersama."ajak Camelia "Tidak, Nyonya. Saya sudah makan. Silahkan anda makan untuk menambah tenaga anda dalam pelarian malam ini." Deg Camelia menjadi gugup. Yakinkah ini akan berhasil? Selama ini ia selalu gagal. Jantungnya berdetak sangat kencang. "Anda harus yakin, Nyonya."Ucap Bibi Sandy. Camelia mengangguk. "Muka Bibi pucat sekali." ucap Camelia "Ini karena penyakit Bibi. TIdak apa-apa, Nyonya. Saat ini anda pikirkan diri anda sendiri." Camelia tersenyum getir. Pelayan itu memberikan sebuah buku untuk Camelia. "Ini apa?"tanya Camelia "Buku harian Tuan Robert."ucap Bibi Sandy setengah tertawa. Camelia melongo.. Buku harian? Camelia ingin tertawa. Seorang mafia kejam punya buku harian? Sungguh konyol. "Buku ini harus sampai ke tangan Tuan Narendra. Selain menulis kisah hidupnya yang kejam. Buku ini menyimpan simbol yang hanya bisa diterjemahkan oleh Tuan Narendra. Saya meyakini, buku ini menyimpan rahasia yang lebih besar dari itu."ucap Bibi Sandy. Dia menjelaskan siapa itu Tuan Narendra. "Baiklah. Saya akan menjaganya dengan nyawa saya."ucap Camelia. Malam kian larut. Semua pelayan sudah tertidur. Hanya ada penjaga yang masih lalu-lalang, berjaga secara bergantian. Udara malam yang dingin tak menyurutkan Camelia. Ia sudah siap dengan tas ransel besarnya. Ia dan pelayan itu mengendap-endap. "Apa yang terjadi?"tanya Camelia ketika melihat penjaga tergeletak "Saya sudah membuat mereka pingsan setidaknya selama tiga jam lamanya. Jangan khawatir, CCTV juga sudah rusak. Mari, Nyonya."ucap Pelayan itu. Jantung Camelia berdetak dengan cepat. Mereka berjalan keluar mansion. Ternyata sudah ada mobil yang menunggu mereka. Bibi Sandy, rupanya penuh perhitungan juga. Camelia berpikir pasti pelayan itu bukan orang sembarangan. "Kita akan pergi melewati jalur laut, Nyonya. Tuan Robert pasti tak akan mengira kita memakai alat transportasi ini." ucap Pelayan itu. Camelia mengangguk. Mereka menaiki kapal yang akan segera berangkat. Camelia bersandar pada sisi dek. Ia merasa lega namun masih was-was jika pelarian kali ini juga sia-sia. Tapi, Bibi Sandy meyakinkannya bahwa ini akan berhasil. Entah apa yang akan dilakukan lelaki bernama Robert Potter itu jika tahu wanita yang dikurungnya di istana miliknya bisa melarikan diri. "Istirahatlah, Nyonya!" seru Bibi Sandy. Camelia mengangguk. ia memasuki kabin kapal. menuju ruangan yang diperuntukkan untuknya. Menghela nafas lelah. Entah berapa lamanya Camelia tertidur. Pintu kamarnya diketuk dengan keras. Bibi Sandy masuk dengan membawa bungkusan. Nafasnya memburu. "Akan ada patroli, Nyonya. Saya yakin akan ada penggeledahan. Apalagi ini kapal barang. Anda ganti dengan baju usang ini. Dan pakailah make up Tan. kulit putih anda tak mendukung jika anda menyamar menjadi seorang gelandangan yang menumpang gratis dikapal ini." ucap Bibi Sandy. "Apa kalau ketahuan menumpang kita tak akan celaka?" tanya Camelia. "Saya hanya bercanda. Kita akan menyamar menjadi koki di kapal ini. Bersiaplah!" seru Wanita paruh baya itu. Mereka pun berganti baju dan memakai makeup Tan. Kulit mereka berubah menjadi kelam dan dekil. Bibi Sandy menambahkan minyak pada wajah Camelia dan dirinya sendiri. "Mari, Nyonya. Maaf, selama penggeledahan saya akan menyebut Anda Meli ya." Ucap Bibi Sandy. "iya." Mereka menuju dapur. Disana sudah ada beberapa orang yang sibuk mengolah makanan. "Bibi Sansan Kemarilah. Bantu kami membuat Pai." Ucap Salah seorang diantara koki itu memanggil Bibi Sandy. "Tentu, akan ada Meli yang akan membantu kalian." ucap Bibi Sandy. "Wah, kami senang ada tenaga tambahan. Kamu bisa mengiris bawang bombai?" tanya Koki lainnya. "Serahkan padaku." Ucap Camelia. Semuanya bekerja sambil bersenda gurau. Tak menghiraukan penggeledahan di atas mereka. Brak "Cari disekitar sini! Temukan wanita itu!" Seru Seseorang yang baru masuk. Tampang mereka terlihat bengis. Camelia merinding melihat satu lelaki yang sejak tadi memandangnya. Untung saja Bibi Sandy menambahkan tompel berukuran besar di pipinya. Dia yakin, anak buah Robert Potter tak akan mengenalinya. "Tak ada tanda wanita itu disini, Tuan." Seru Anak buahnya. "Kita keluar!" seru Lelaki itu menatap tajam semua orang di ruangan itu. Camelia dan Bibi Sandy bernafas lega. Mereka menunggu sampai dua jam lamanya untuk membantu koki. Jika kamar mereka digeledah. Mereka tak akan bisa menemukan apa yang mereka cari. Buku diary dan barang berharga termasuk identitas mereka tak ada di kamar mereka. Kedua wanita itu menyembunyikannya diantara barang-barang rongsokan yang menjijikkan. Setelah beberapa waktu di dalam. Bibi Sandy mendekati Camelia. "Sepertinya sudah aman, Nyonya. Kita keluar." Bisik Bibi Sandy. Camelia mengangguk. Ia bisa menghirup udara setelah merasakan engap di Dapur. "Kelihatannya keberuntungan berada di pihak kita.. Lelaki kejam itu tak akan bisa menemukan kita." Ucap Bibi Sandy. "Terima kasih, Bi. Tanpa pertolonganmu aku tak akan bisa pergi dari tempat terkutuk itu." ucap Camelia. "Itu sudah menjadi tugas saya sebagai manusia." Ucap Bibi Sandy tersenyum. Camelia memandang lautan. Berharap ia segera sampai di tempat tujuan dengan selamat. *** Pagi menyapa, Camelia memandang hamparan laut lepas. Bibi Sandy mendekatinya. "Kita sudah berlayar selama dua hari, Nyonya. Satu hari lagi kita akan sampai di Dermaga di Indonesia." Camelia mengangguk. "Aku deg-degan. Lelaki gila itu pasti telah mengirim anak buahnya ke berbagai penjuru. Dia benar-benar gila. Tak bisakah ia melepaskanku saja." ucap Camelia. "Dia memang gila. Tak ada yang berhasil keluar dari genggaman tangannya sejauh ini. Semoga anda bisa lepas darinya selamanya." ucap Bibi Sandy. Camelia mengangguk. "Aku ingin bahagia sebentar saja." Ucap wanita cantik itu sendu. "Semoga anda bahagia selamanya." ucap Bibi Sandy. "Aamiin." "Anda baik sekali." Ucap Camelia memeluk Bibi Sandy. ------------- Di Mansion Milik Robert Potter,lelaki itu memukul anak buahnya tanpa ampun. Ia bahkan menembak para pelayan dengan bengis. Ia tak terima Camelia bisa kabur dari pengawasan mereka. "Aku ngga mau tahu. Cari wanita itu sampai ketemu!", seru Robert dengan muka merah padam. "Am..ampun, Tuan. Ka..kami akan mencari Nyonya dengan nyawa kami." ucap Anak buahnya. Robert menarik baju anak buahnya yang berbicara. "Kalau begitu cari! Aku beri waktu hingga dua hari. Jika gagal, nyawa kalian dan keluarga kalian taruhannya!" seru Robert nyalang. Lelaki itu pun naik ke lantai dua dimana kamar Camelia berada. Ia membuka kamar yang tampak sepi. "Aku tak akan memaafkanmu, Camelia. Berani sekali kamu kabur dariku. Sepertinya hukuman dariku tak membuatmu jera." gumamnya menyeringai mengerikan. Robert mengamuk. Ia menghancurkan barang-barang yang ada di kamar. Peam, tangan kanannya hanya bisa mengelus dada melihat kengerian yang diciptakan atasannya. Ia bahkan tak berani mendekat. Namun juga tak bisa menjauh. Setiap saat di dipanggil, Ia harus segera datang. Agar lelaki itu tak semakin marah. "Peam!" Seru Robert " Saya, Tuan." Jawab Peam. "Bakar barang-barang di kamar ini!" seru Robert meninggalkan kekacauan di kamar Camelia. Peam pun mengangguk. Ia segera memanggil anak buah lainnya agar membantunya. Robert sendiri masuk ke kamarnya. Ia mengusap rambutnya ke belakang. Menahan diri agar tak mengamuk di kamarnya sendiri. Ia membuka laci yang terkunci. Berharap menemukan apa yang ia cari. Dalam laci itu ada sebuah pistol dengan sepuhan emas di bagian tengahnya. Dia mencari-cari barang yang tak ia temukan. "Dimana buku itu?" tanyanya panik. "Sialan! Dimana bukuku!" serunya panik "Peam!" serunya "Saya, Tuan." Ucap Peam. "Siapa yang berani masuk ke kamarku?" tanyanya murka. "Hanya bibi Sandy, Tuan. Karena memang dia yang bertugas membersihkan kamar anda.." bug bug Peam tak sempat meneruskan ucapannya karena Robert memukulinya. Nafas Robert turun naik menahan marah. Ia tak mungkin menghabisi anak buah kepercayaannya saat ini. "Periksa CCTV!" Seru Robert. Peam bangkit meski sedikit pincang. Ia segera pergi ke ruang kerja Robert dan membuka laptop di meja kerjanya. Robert mengikuti dengan langkah gontai. Jika buku itu jatuh ke tangan Narendra, habislah dia. Ia menduga, bibi Sandy yang membawa buku itu. Dengan alasan apa, Robert tak tahu.Unas semanas después…El gran salón del Mount Olympus estaba impregnado de un ambiente de alegría y celebración mientras Zeus se dirigía a la asamblea de inmortales.—Hoy nos reunimos para marcar una nueva era de entendimiento y cooperación entre nuestra comunidad divina y nuestros amigos, los hombres lobo. A partir de este día, a los dioses y diosas se les permitirá unirse a hombres lobo, bajo la condición de que sean compañeros elegidos y destinados.El salón estalló en vítores y aplausos; muchos de los inmortales se pusieron de pie para mostrar su apoyo.Zeus levantó las manos para calmar los aplausos, con el rostro radiante de orgullo. —Me enorgullece anunciar que la primera de estas uniones tendrá lugar hoy mismo entre Selene, Diosa de la Luna, y Dominic, Alfa de la manada Golden Sword. Su vínculo fue otorgado por la luna, y han sido elegidos para ser compañeros.Selene dio un paso al frente, con los ojos brillando de amor y gratitud. A su lado, Dominic permanecía erguido y orgul
—Entregas la espada y renuncias a tu título, o miras a tu querido Dominic morir a manos mías.Los ojos de Selene se llenaron de lágrimas mientras miraba a Dominic y a Ares. Tenía el corazón partido en dos y la mente le iba a mil por hora intentando encontrar una salida. Pero sabía que no había otra opción.¿Qué iba a hacer?—No lo escuches, Selene —dijo Dominic—. Haz lo que tengas que hacer para salvar al mundo y a la gente. No te preocupes por mí. Ya no tengo nada que perder. He vengado la muerte de mi padre. Por fin soy libre.Las lágrimas rodaron por las mejillas de Selene mientras caía de rodillas. Estaba tan confundida.Ares se burló. —¡Patético! —extendió la mano—. ¡Entrégame la espada... ahora!Selene no dijo nada. Se quedó allí arrodillada, con la mente abrumada por los pensamientos. —Luna —susurró—. ¿Qué hago? Amo a Dominic, pero también quiero salvar a todos. No puedo vivir sin lo uno ni lo otro. Ambos tienen mi corazón, así que perderlos sería perderme a mí misma —continuó
—No vine a morir —dijo Selene, con una voz que resonó con una claridad que la sorprendió incluso a ella—. Vine a poner fin a esto. A ponerte fin a ti.Ares soltó una carcajada, un sonido oscuro y escalofriante que le provocó un escalofrío a Selene por la columna vertebral. —¿Crees que puedes derrotarme? ¿A mí, el Dios de la Guerra? No eres más que una simple diosa.Selene enderezó los hombros, con una postura inquebrantable. —Puede que sea una diosa, pero no estoy sola —corrigió Selene, mientras apretaba la mano alrededor de la empuñadura de la espada matadioses—. Mis compañeros dioses están aquí, y pondremos fin a tu reinado de terror de una vez por todas.La mueca de desprecio de Ares se transformó en un ceño fruncido. —Diosa o no, no tienes ninguna oportunidad contra mí. Pero si deseas morir a manos mías, estaré encantado de complacerte —se rió entre dientes—. Pero primero, veamos a esos compañeros dioses tuyos en los que tanto pareces confiar.Ares sonrió con superioridad cuando a
Con una repentina ráfaga de velocidad, Dominic se abalanzó hacia adelante, con las garras extendidas y los colmillos al descubierto. Alpha Draco reaccionó rápido, parando el ataque con su espada y respondiendo con una veloz estocada.Dominic se giró hacia un lado, esquivando el ataque por muy poco, y lanzó otra ofensiva, rasgando el brazo de Alpha Draco con sus garras. El anciano gritó de dolor, pero se negó a retroceder.Ambos se enfrascaron en una feroz batalla, y el eco de sus armas chocando resonaba entre los árboles.A medida que el combate se prolongaba, tanto Dominic como Alpha Draco empezaron a cansarse; sus ataques se volvían más lentos y menos precisos.Dominic, al notar que su oponente se debilitaba, arremetió hacia adelante, apuntando con sus garras directamente a la garganta de Alpha Draco. Pero el anciano no estaba tan indefenso como parecía.Con un gruñido de esfuerzo, Alpha Draco descargó su espada, amputando el brazo de Dominic a la altura del codo. El joven lobo aull


















Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.
avaliações