LOGINJune Carter, a dedicated nurse, thought she knew her husband, billionaire Lucas Grey, but when secrets from his past and her own family begin to surface, her life spirals into chaos. As June navigates betrayal, passion, and a dangerous game of revenge, she must decide whether to fight for her marriage or embrace a new beginning. With unexpected twists and a mysterious stranger who could change everything, June’s journey is far from predictable.
View More"Selamat pagi, Pak? Saya Larasati, ada yang bisa saya bantu?" Kata-kata yang aku ucapkan setiap ada yang memasuki ruangan ini.
Aku magang di konsultan bisnis, mengaplikasikan ilmu yang selama ini aku pelajari. Dengan mengantong ijasah sarjana ekonomi, jurusan managemen sisnis di universitas ternama negara ini, membuatku mudah mendapatkan pekerjaan. Apalagi, aku lulus dengan predikat cumlaude. Berbekal percaya diri, akhirnya aku terdampar di kota ini.
Semua senior sudah menangani pelanggan, tinggal aku saja yang belum. Biasanya, yang datang orang-orang yang sudah mempunyai usaha, dan menginginkan saran untuk mengefisienkan operasional.
Kali ini yang datang seorang laki-laki, bisa dibilang masih muda. Dilihat penampilan, dia masih pemula. Orangnya tinggi, berambut ikal agak panjang, kaos pendek, dan celana panjang cargo. Tampilan bukan bisnisman, malah cenderung seperti orang main dan sekadar mampir.
"Selamat pagi. Kauleh nyarek, eh ... saya mencari alamat kantor konsultan bisnis Santosa. Apakah di sini tempatnya?" ucapnya, menggunakan bahasa daerah dan mengulang dengan bahasa Indonesia. Dia memberikan kartu nama yang dipegang sedari tadi, sambil tetap mengedarkan pandangan mata ke segala penjuru.
Sekilas aku menatap, setelah mendengar suaranya. Perkataan dengan logat Madura yang kental, terdengar menggelitik di telingaku yang berasal dari Solo. Biasanya, kalau kita bicara dengan logat kampung halaman disebut wong ndesit--orang dari desa. Jadi kalau laki-laki namanya ndesitman, ya biar terdengar keren. Keminggris sedikit, bolehlah.
"Iya, Pak. Betul! Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku setelah menerima kartu nama itu.
Memang, kantor ini terletak di gedung bersama dan kantor perusahaan ini di lantai tiga. Karena itulah sebelum menangani client, kami berkumpul di ruangan ini. Ruang tamu bersama. Lumayan, sambil menunggu kami ngobrol dan ngopi-ngopi dulu.
Beruntung ada lift, jadi kaki tidak pegal karena naik turun. Apalagi sepatu hak tinggi yang seakan mencengkeramku. Kalau tidak, bisa jadi kakiku cenut-cenut semalaman. Bayangin saja, dalam satu hari berapa kali kami harus naik turun.
"Kauleh mendapatkan kartu nama ini dari Mr. Andrew, Classy Furniture. Dia menyarankan untuk konsultasi bisnis di sini."
Aku mengernyitkan dahi, mendengar nama Mr Andrew yang sudah tidak asing lagi. Dia pengusaha furniture terkenal di kota ini. Siapa laki-laki ini? Kenapa bisa begitu dekat dengan Mr Andrew.
"Itu dia noles di belakang kartu."
Aku balik kartu nama, ada tulisan tangan dan paraf atas nama Mr. Andrew. Bertuliskan: Tolong bantu teman saya, namanya Jaz.
"Bapak, bernama Jaz?" tanyaku dengan mendongakkan kepalaku. Orang ini tinggi sekali. Aku yang tinggi seratus enam puluh lima saja, hanya setelinganya.
"Enggih. Kenalkan, nama kauleh Jazil Ehsan. Panggil saja. Jaz atau Jazil," ucapnya, dengan tetap menggunakan kata dan logat Madura yang kental.
Enggih pasti maksudnya, iya. Hampir sama dengan bahasa Jawa yang biasa kugunakan. Kauleh, kalau dari kalimatnya, mungkin artinya saya. Aku menerka apa yang dimaksud.
Namanya bagus, senada dengan sosoknya.
Dia mengulurkan tangan dan tersenyum.
"Saya Dewi Larasati, biasa dipanggil Larasati atau Laras saja," ucapku menyambut tangannya.
Tangan begitu kokoh dan terasa kasar di telapak tanganku. Seharusnya, ini bisa menjadi petunjukku menerka siapa dia dan apa bisnisnya.
Namun bisnis apa, ya? Tidak mungkin dia pemilik perusahaan yang tinggal duduk di balik meja dan perintah sana dan sini.
Sejenak aku terpana melihat senyuman, ternyata dia manis juga. Beberapa saat kami saling pandang, rasa hangat menjalar dari tangannya yang masih menangkup tanganku. Entah, kenapa ada geleyar aneh di hati ini. Ah, mungkin ini karena dia sosok yang berbeda dengan orang yang biasanya datang ke kantor ini.
"Ma-maaf. Kita ke kantor sekarang." Aku menarik tangan ini dari genggamannya. Kemudian mempersilahkan mengikutiku ke kantor lewat lift.
"Kita naik lift?" tanyanya menoleh ke arahku.
"Iya, Pak. Kantornya ada di lantai tiga," jelasku dan segera mengalihkan pandangan.
Wajah yang bengong dengan bibir sedikit terbuka, terlihat menggemaskan. Apalagi, rambut ikal dan beberapa helai menutupi sebagian wajah. Kulit coklat hangat, mirip foto model asal Latin. Asal …, dia tidak bersuara yang menunjukkan logatnya. Bisa ambyar.
"Mbak Larasati. 'Ka-kauleh' tidak bisa naik lift."
Aku memutar kepala mendengar apa yang dituturkan sembari menunjukkan wajah menuntut penjelasan.
“Naik lift membuat saya pusing,” jawabnya menjawab rasa heranku.
Aduh!
Orang ini dari mana, to? Zaman sekarang masih ada orang pusing menggunakan lift.
'"Dasar, Ndesitman," gumamku lirih.
****
June “Lucas,” I began, my voice trembling despite my efforts to steady it. “We need to talk.”Lucas was at his desk, his back to me, focused intently on a stack of papers. My heart pounded, my anxiety threatening to overwhelm me. I had reached my breaking point, and I knew I couldn’t wait any longer.His shoulders stiffened, but he didn’t turn around. Instead, he continued shuffling through the papers with deliberate movements, as if trying to avoid the confrontation. “June, I’m busy right now. Can this wait until later?”“No, it can’t,” I replied firmly, my voice gaining strength. “This can’t wait any longer. I’m tired of feeling like an afterthought in your life.”Finally, Lucas leaned forward in his chair, his dark curly hair catching the light as he met my gaze. His water-coloured eyes were cool, almost detached, and I felt a pang of frustration at his lack of visible concern. “What’s this about? I thought we resolved our issues.”“Resolved?” My frustration boiled over. “Is that
JuneI woke up that morning with a strange feeling in my chest—a quiet kind of hope that maybe, just maybe, Lucas had remembered. After all, it was my birthday. Even if things between us had been strained lately, surely he wouldn’t forget. There was no way he would. I knew we would get past all of the drama that we've held between us. But as the morning light filtered through the curtains, my phone remained silent. I stared at it for a few minutes, waiting for the familiar buzz of a notification, the simple “Happy birthday” text that would at least acknowledge my existence. Nothing came. A part of me wasn’t surprised. This wasn’t the first time Lucas had neglected to remember. It had become almost normal now and I hated it. I let out a long, heavy breath, pushing down the familiar ache that settled in my chest. I tried calling him once, just to hear his voice, hoping for some small reassurance, but it went straight to voicemail.I scoffed. “No surprise there.” Deep down I expected
JuneI stood in front of the mirror, smoothing my dress down for what felt like the hundredth time, wondering if I looked the part of a supportive wife at a business event. Lucas had been vague about the guest list, but I knew how important tonight was for him, so I promised myself to try and blend in. It wasn’t often that I attended his work events; he never invited me. But tonight, I insisted. I felt like just a fool being used only at convience.The door behind me opened, and I caught his reflection in the mirror as he stepped inside, adjusting his tie with his usual smooth, detached demeanor. “You don’t have to force yourself to come tonight,” he said, his voice steady but cold. “This isn’t really your thing. It would be best if you stayed at home.”“I want to be there,” I replied softly, turning to face him. “I want to support you, Lucas.” those words coming from me sounded like i was pleading to stand behind him. Hasn't it been what I have been doing for the longest time. He bar






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.