LOGIN"Eh, aku nggak mau. Kamu pasti punya niat buruk, ini jelas hanya alasanmu yang mengincar tubuhku," kata Prita sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk melindungi bagian vitalnya sambil menatap Tirta dengan tatapan waspada."Paman Prita, penilaianmu padaku terlalu buruk. Aku sudah punya begitu banyak wanita, untuk apa aku masih repot-repot datang untuk menipumu? Memangnya apa untungnya bagiku?" balas Tirta sambil merentangkan kedua tangannya."Benarkah?" tanya Prita. Melihat Tirta berbicara dengan begitu tulus, entah mengapa dia malah merasa sedikit tidak nyaman. Bagaimanapun juga, dia pun termasuk gadis yang sangat cantik, mana mungkin dia tidak memiliki daya tarik di mata Tirta."Tentu saja benar," kata Tirta."Baiklah. Kalau kamu memang mau tunjukkan sesuatu, tunjukkan saja di sini," kata Prita sambil memainkan sehelai rambutnya dengan jarinya dan cemberut."Sebenarnya bukan apa-apa, aku hanya punya 100 batu spiritual kualitas terbaik. Aku mau titip kamu untuk disimpan
"Tunjukkan rasa terima kasih apa? Aku sudah jadi istrimu. Jangan-jangan kamu masih mau memeras batu spiritual dan obat spiritual dariku?" tanya Irena sambil mengernyitkan alis."Tentu saja nggak, aku mana begitu tega. Maksudku, di sini kan pemandangannya indah, burung-burung berkicau, dan bunga-bunga bermekaran. Bagaimana kalau kalian temani aku lakukan sesuatu yang lebih berarti?" kata Tirta sambil tersenyum."Sesuatu yang berarti ...."Irena masih belum memahami maksud dari ucapan Tirta, tetapi wajah Yumika sudah langsung berubah. Dia langsung mengendalikan pedangnya dan segera terbang meninggalkan tempat itu."Yumika, kenapa kamu lari?" tanya Irena yang kebingungan."Hehe. Nggak apa-apa, nggak akan bisa pergi jauh. Pada akhirnya, Kak Yumika tetap akan jatuh ke tanganku dengan patuh. Tapi Sayang, sekarang giliranmu yang akan diuji," jawab Tirta.Irena langsung mengeluh, "Ah! Dasar bajingan! Kamu masih berani bilang kamu nggak tega. Kamu ini bukan manusia, kamu ini binatang berbentuk
Irena terlihat mulai memercayai kata-kata Tirta, tetapi mulutnya tetap tidak ingin mengaku kalah. "Yumika, kamu juga merasa memang begitu?"Yumika menganggukkan kepala dan berkata, "Kalau dibahas secara serius, memang seperti itu."Meskipun begitu, Yumika mengaku pertarungan antara Tirta dan Irena memang sangat menarik. Hampir tidak ada celah sedikit pun. Namun, jika benar-benar bertarung sungguhan, yang paling kuat tetap yang unggul dan akan menghasilkan kemenangan yang menghancurkan."Bahkan Kak Yumika juga berpikir seperti itu?" tanya Tirta sambil mengernyitkan alis."Faktanya memang begitu, Tirta. Aku nggak memihak siapa pun," kata Yumika."Lihat, 'kan? Lebih baik kamu tinggal saja di dunia ini. Mengalahkan aku saja nggak bisa. Kalau pergi ke dunia awani, kamu juga hanya akan cari mati," kata Irena sambil melepaskan diri dari Tirta dan kembali memasang sikap sombongnya."Baiklah, sepertinya aku hanya bisa menunjukkan kekuatan tempurku yang sebenarnya," balas Tirta sambil mengangkat
"Dia bahkan nggak sekuat aku, kenapa dia bisa gunakan teknik yang begitu hebat?"Setelah terkejut sejenak, Irena kembali menggunakan teknik rahasia dari Dinasti Pembunuh. Tubuhnya bergerak dengan aneh, lalu benar-benar menyatu dengan kehampaan. Bahkan dengan menggunakan kesadaran spiritual pun, keberadaannya tetap tidak dapat dideteksi."Heh?"Melihat situasi itu, Tirta juga tidak panik dan langsung menggunakan Serangan Tujuh Harimau. Tujuh sosok harimau pun muncul dan terus berlari liar di dalam kehampaan."Setiap aura terasa begitu nyata, benar-benar sulit membedakan mana yang asli dan mana yang palsu. Teknik seperti ini memang khusus untuk menghadapi para pembunuh. Begitu keberadaanku terbongkar dan aku menyerang target yang salah, semua usahaku akan sia-sia," pikir Irena.Namun, Irena tidak menyadari semua itu hanya tindakan spontan Tirta yang membalas serangan sesuai keadaan. Pada akhirnya, dia yang terlebih dulu memecah kebuntuan dan kembali menggunakan Pedang Ruang Hampa untuk m
Melihat Irena yang penuh percaya diri, Tirta pun tertawa dan berkata, "Jangan di sini. Kita cari tempat yang nggak ada orang.""Oh ya, aku ingatkan dulu. Di dunia ini, kamu nggak boleh mengeluarkan kekuatan di atas tingkat pembentukan dewa. Kalau nekat, nanti kamu memicu bencana besar.""Apa?! Jangan-jangan di dunia ini pernah ada ahli tertinggi yang meninggalkan warisan belenggu yang nggak bisa dipatahkan?"Mendengar itu, Irena menunjukkan ekspresi terkejut, jelas tidak percaya. Bahkan Yumika juga merasa hal itu sulit diterima.Harus diketahui, bahkan di dunia awani yang energi spiritualnya belasan kali lebih kaya daripada bumi, belum pernah ada ahli tertinggi seperti itu. Bagaimana mungkin di wilayah yang begitu tandus ini muncul sosok semacam itu?"Dunia ini luas, nggak ada yang nggak mungkin. Faktanya memang begitu. Nggak usah diperdebatkan. Ayo ikut."Setelah berkata demikian, Tirta menginjak pedangnya dan melesat ke angkasa.Irena masih tidak percaya. Dia mengeluarkan sedikit kek
Tirta lalu berkata, "Tapi, dalam waktu dekat ini aku tetap harus ke Istana Samara. Jadi sebaiknya kamu ikut saja. Masih ada urusan yang perlu bantuanmu."'Urusan apa? Tirta, dengan keadaanku sekarang, apa aku masih bisa kembali ke Istana Samara?'Yumika takut Yunda sudah memakai tipu daya untuk membuatnya kehilangan posisi di Istana Samara. Dia pun diam-diam menyampaikan kekhawatirannya kepada Tirta melalui transmisi suara."Huh, Yunda si bajingan itu berani mencelakaimu seperti ini. Aku nggak akan membiarkan dia begitu saja.""Nggak perlu khawatir. Racun naga purba jahat bisa menghalangi kesadaran spiritual. Lagian, sebelum kabut racun itu hilang, aku sudah bawa kalian ke dunia ini.""Aku berani jamin, Yunda nggak akan tahu apa pun soal kita." Tirta menenangkannya."Yang benar?" Emosi Yumika tampak sedikit bergejolak."Iya." Tirta mengangguk."Ini benar-benar bagus. Tirta, aku akan ikut kamu. Aku harus bunuh Yunda dengan tanganku sendiri untuk balas dendam!" kata Yumika tegas, seolah
Genta bahkan mendesak Tirta. Jadi, Tirta juga tahu kehebatan artefak dan anjing hitam itu.Tirta tidak sempat menemui Ayu dan lainnya lagi. Dia berpamitan dengan Nabila dan Bella, lalu mengerahkan Teknik Pengendali Angin untuk pergi ke kolam di dekat gunung itu.Kecepatan Tirta sangat tinggi. Orang
"Kecuali Bahera datang untuk meminta maaf kepadaku dengan membawa hadiah berharga. Kalau suasana hatiku bagus, mungkin aku mau menyembuhkan Coby," kata Tirta.Begitu Tirta melontarkan ucapannya, tiba-tiba Prita tertawa. Devika tidak bisa berkata-kata. Amarahnya memuncak setelah melihat tindakan Tirt
Tirta membatin, 'Wah, Shinta bahkan menyemburkan cairan dari bagian intimnya! Waktu itu, Kak Nabila juga mimpi, tapi dia nggak menyemburkan cairan. Jangan-jangan Shinta juga sama seperti Marila? Mereka sangat sensitif sehingga langsung menyemburkan cairan begitu disentuh?'Tatapan Tirta saat melihat
Bella mengusap kepala Yasmin dan berucap dengan lembut, "Yasmin, kamu cuma merindukan gurumu? Apa kamu nggak merindukanku? Aku peluk kamu ya?"Sewaktu Bella dan Tirta berpisah sebelumnya, Yasmin yang menghibur Bella di kediaman Keluarga Purnomo setiap hari. Jadi, Bella juga ingin menghibur Yasmin sa





![Thai Qu Cing Si Anak Kotoran 2 [Penyembuh yang Terkutuk]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)

