LOGINDengan demikian, kedatangan Lavanya kali ini untuk menyampaikan informasi justru tidak memberinya keuntungan apa pun.Bukan hanya itu, setelah dibuat kesal, pada akhirnya justru Tirta yang diuntungkan. Meskipun merasa sangat tertekan, pada akhirnya Lavanya tetap tidak mampu melawan arus takdir.Tirta juga menepati janjinya kepada Lavanya sebelumnya. Dia benar-benar membuat wanita itu kenyang dan menghilangkan dahaganya.Selain itu, sebagai seorang perawan tua yang telah hidup lebih dari 3.000 tahun, untuk pertama kalinya Lavanya akhirnya mengerti kenapa begitu banyak pria dan wanita fana begitu tergila-gila pada urusan asmara.Ternyata, hal semacam itu memang memiliki kenikmatan tersendiri. Bahkan ini terasa lebih memuaskan daripada bertahun-tahun berkultivasi tanpa kemajuan dan tiba-tiba mendapatkan pencerahan dalam suatu kesempatan."Bajingan tak tahu malu. Kalau saja kekuatanku nggak kalah darimu, setelah kamu memperlakukanku seperti ini, pasti akan kucabik-cabik tubuhmu dan kuhancu
"Selain itu, petinggi Sekte Formasi Surgawi juga sudah bersiap untuk berperang melawan Istana Samara ...."Mendengar itu, Tirta mencibir dingin. "Huh, aku punya banyak kartu truf. Kalau mereka ingin bunuh aku, nggak akan semudah itu.""Ngomong-ngomong, dibandingkan dengan Istana Samara, seberapa besar selisih kekuatan Sekte Formasi Surgawi?" Tirta mencemaskan keselamatan Arshala dan Nova."Secara teori, Istana Samara memang sedikit lebih kuat. Tapi kalau benar-benar bertarung, hasilnya belum tentu.""Sama seperti dirimu. Dari luar kelihatannya nggak terlalu kuat, tapi kamu bisa membunuh banyak orang yang tingkatannya lebih tinggi darimu.""Atau seperti para kultivator yang punya pengalaman tempur melimpah dan banyak cara membunuh musuh, mereka juga bisa mengalahkan kultivator yang setingkat dengan mudah," jelas Lavanya."Kalau kamu bisa mengundang kembali senior berambut putih itu, semua ini pasti bukan masalah.""Perempuan itu? Aku juga nggak tahu dia pergi ke mana." Tirta mengangkat
Saat ini, Tirta sedang menikmati kenikmatan yang membuat orang terlena di Desa Persik.Namun, yang sama sekali tidak dia sangka adalah menjelang senja, seorang tamu tak diundang datang ke luar Desa Persik. Orang itu tidak lain adalah Lavanya yang diam-diam datang untuk mencari Tirta.Tirta tidak tahu bahwa Lavanya telah membuat perjanjian dengan wanita berambut putih dan kini menjadi pelindungnya.Saat menyadari kedatangan Lavanya, dia khawatir Lavanya datang membawa orang-orang untuk membalaskan dendam Ganesh dan memiliki cara untuk menghancurkan formasi pelindung gunung yang dipasang Arshala.Karena itu, dia segera mengenakan pakaiannya dan membawa pedang untuk menyambut."Hei, ada urusan apa kamu datang kemari? Waktu itu kamu berhasil kabur, urusan di antara kita masih belum selesai. Jangan-jangan kamu datang untuk cari mati?"Setelah melepaskan kesadaran spiritualnya, meskipun tidak mendeteksi keberadaan kultivator lain dalam radius 250 kilometer, Tirta tetap tidak tenang. Dia lang
"Pihak petinggi ternyata memerintahkan seluruh tetua dan murid untuk diam-diam bersiap menghadapi perang dengan Istana Samara ....""Tapi ini seharusnya hanya rencana terburuk. Dalam waktu dekat, rasanya mereka nggak akan bertindak langsung.""Arshala berada di Istana Samara, jadi seharusnya nggak ada bahaya apa pun.""Untungnya di dalam Sekte Formasi Surgawi, selain aku dan Humaira, seharusnya nggak ada yang tahu Tirta berasal dari Negara Darsia.""Aku sebaiknya kabari Tirta tentang gerakan sekte ini, agar saat kembali nanti dia sudah siap siaga."Banyak tetua agung yang sangat kuat di dalam sekte menghilang pada waktu yang bersamaan. Lavanya menduga orang-orang itu pasti sedang merencanakan sesuatu terhadap Tirta.Karena itu, setelah memberi beberapa instruksi kepada muridnya, Humaira, dia memutuskan untuk diam-diam pergi ke dunia misterius, lalu menuju bumi, mencari Tirta di Desa Persik dan memberi tahu masalah ini kepadanya.....Di Istana Samara, di dalam istana milik Afifah.Sete
Begitu keluar dari gerbang sekte, di bawah pimpinan Tahir, rombongan itu langsung melarikan diri dari tempat itu dengan kecepatan tertinggi.Barulah setelah meninggalkan Istana Samara sejauh kurang lebih 500 kilometer, mereka berhenti. Tidak ada pilihan lain, mereka khawatir jika bergerak terlalu lambat atau berhenti terlalu dekat, mereka akan dipaksa tinggal di Istana Samara selamanya."Seharusnya mereka nggak akan ngejar sampai ke sini. Ayo kita bentuk formasi di tempat ini," perintah Tahir setelah menenangkan pikirannya."Baik ...." Para murid itu masih diliputi ketakutan dan menjawab dengan suara gemetar.Padahal formasi besar itu seharusnya bisa dibangun hanya dalam waktu singkat, tetapi karena rasa takut yang berlebihan, mereka justru menghabiskan hampir 30 menit untuk menyelesaikannya.Setelah kembali ke Sekte Formasi Surgawi, Tahir menyuruh semua orang beristirahat, sedangkan dirinya sendiri pergi menemui pemimpin sekte.Tahir menuju aula leluhur untuk melaporkan seluruh kejadi
Saat merasakan tekanan yang begitu besar, rombongan yang dipimpin Tahir merasa makin gelisah. Beberapa dari mereka yang penakut bahkan sudah mulai berkeringat dingin."Apa sih maksud Ketua Istana Samara ini? Mengerahkan begitu banyak orang, apa ini untuk menakuti kita?" tanya seorang murid Sekte Formasi Surgawi pada Tahir melalui transmisi suara dengan takut sekaligus marah dan bahkan berhenti berjalan."Ketua Afifah, aku boleh tanya, apa maksud dari semua ini?" tanya Tahir yang memberanikan dirinya."Tahir, di antara Istana Samara dan Sekte Formasi Surgawi, kamu rasa siapa yang lebih kuat dan siapa yang lebih lemah?" tanya Afifah."Masing-masing punya keunggulannya sendiri. Dengan status dan kedudukanku, aku nggak berani sembarangan menilai," jawab Tahir.Afifah berkata, "Kamu memang sangat berhati-hati. Cara bicaramu benar-benar nggak tinggalkan celah. Aku dengar ada seorang murid di dalam sekteku yang sebelumnya berasal dari sektemu. Tapi sekarang, dia sudah bergabung dengan Istana
"Hais, kalau tahu Tirta sehebat ini, aku nggak bakal menyinggungnya hari itu. Kalau aku lebih dewasa hari itu, kita pasti berteman dengan Tirta sekarang."Setelah mendengar penjelasan Tabir, Aaris pun menyadari betapa besarnya kesenjangan di antaranya dengan Tirta. Dia tak kuasa merasa frustrasi. Ket
"Siapa bilang dia pacar pura-puraku? Apa kamu pernah melihat wanita yang duduk di pangkuan pacar pura-puranya dan berciuman dengan mesra?" balas Aiko dengan nada sinis. Dia jengkel sekali saat mendengar nada memerintah dari ucapan Billy.Usai berkata demikian, Aiko berinisiatif memeluk leher Tirta da
"Ini ... bukan salahku. Ini gara-gara Kak Arum suruh aku menghabiskan sebaskom besar sup ikan!" Tirta terpaksa menjelaskan karena ketiga wanita ini mendesaknya."Setelah membereskan kasus Dhio, aku pinjam toilet rumahnya karena nggak tahan lagi. Aku nggak lihat Bu Yanti di dalam dan langsung pipis. T
"Ah ... jangan .... Tirta, biarkan Bibi istirahat sebentar ...."Mendengar ucapan Melati, tubuh Ayu langsung merasa panas seketika. Dia menghindari tatapan Tirta karena merasa malu."Bibi, nggak usah gugup. Kak Melati cuma bercanda kok. Aku sayang sekali sama Bibi, mana mungkin aku hukum Bibi?" Tirta







