MasukEstuve con Don Massimo durante cinco años. Durante todo ese tiempo, él nunca ocultó a su favorita: Cara. La hija de su chófer. El hombre que recibió una bala por él. Él lo llamó «pagar una deuda». Y yo, como una tonta, se lo creí. Le dio joyas. Autos veloces. Incluso le compró una maldita isla. Tres días antes de la boda, descubrí que había cambiado el lugar. No en la finca de mi familia en Sicilia. Sino en la isla. La isla de ella. ¿Su excusa? Cara era claustrofóbica. No soportaría una gran boda en un lugar cerrado. Estaba harta. Tres días después, la boda se celebró en esa isla. Pero la novia no apareció. Massimo fue humillado públicamente. Recorrió la ciudad de esquina a esquina, buscándome. Fue entonces cuando lo descubrió. Pensó que se casaría conmigo. En cambio, me casé con su mayor enemigo. Nikolai Volkov. El padrino de la Bratva rusa. Dejó a Cara. Corrió a la finca de mi familia y esperó. Siete días y siete noches. Con flores, un anillo y un montón de súplicas.
Lihat lebih banyakSetelah Sepuluh Tahun Pernikahan
"Miring dulu ya, Mas," ucapku pada suamiku yang tengah terbaring tak berdaya di ranjang. Lalu aku seka punggungnya dengan waslap dan air hangat agar tubuhnya lebih segar.
Mas Bima hanya tersenyum saat badannya kubersihkan. Tampak bibirnya ingin bergerak namun tak bisa.
"Apa Mas? Badannya segar ya?"
Mas Bima tak menjawab, hanya gerakan bulu matanya yang mengisyaratkan bahwa ia setuju dengan ucapanku.
Kupakaikan baju yang bersih juga harum agar ia bisa kembali tidur dengan nyaman. Setelah baju kupaikan, tak lupa kusisir rambut bagaian depan agar terlihat rapi. Meskipun ia hanya tidur di atas ranjang tanpa bisa kemanapun, aku tetap memperhatikan penampilannya.
"Bu, sudah selesai mandikan ayah?" tanya Danisa, putriku.
"Kenapa, Mbak?" tanyaku balik tanpa menghadap wajahnya, karena aku sedang merapikan nakas di samping ranjang tempat ayahnya berbaring.
"Adik ee'."
"Iya, tunggu sebentar."
Segera kuselesaikan aktivitasku di dalam kamar tidur suamiku yang sedang terkena stroke ini. Suami yang menikahiku sepuluh tahun lalu setelah berjuang meyakinkan orang tuaku bahwa ia mampu memberikan kebahagiaan. Kini ia terbaring lemah tak berdaya setelah tiba-tiba tak sadarkan diri enam bulan yang lalu.
Cinta yang besar membuatku sanggup bertahan untuk merawatnya. Cinta juga yang membuatku bertahan disisinya untuk membantunya berjuang meraih kesembuhan. Menelan segala pil pahit kehidupan seorang diri demi menjaga keutuhan keluarga kami.
"Dek Rani sudah ee'nya?" tanya Danisa yang terdengar hingga luar kamar mandi.
"Udah Mbak," jawab si bungsu.
"Buuu, ini adek sudah selesai," teriak Danisa memanggilku.
"Iya, Mbak, nggak usah teriak nanti ayah kebangun." Kuhampiri Rani dalam kamar mandi dan kubantu untuk membersihkan kotorannya.
"Ibu sudah mandiin ayahnya?" tanya Rani saat aku sudah berada di depannya.
"Sudah adek," jawabku sambil tersenyum.
"Yaaa padahal tadi adek mau bantu-bantu ibu," jawabnya bersedih.
Mendapati wajah mungil di depanku yang sedang cemberut ini membuatku gemas. Kuusap lembut rambut tipisnya lalu kucium sekilas. Dua gadis inilah yang membuatku kuat menghadapi segala macam ujian kehidupan.
"Nggak apa-apa, adek bantu ibu masak mau?" tanyaku berusaha menghiburnya.
"Ibu mau masak?"
"Iya, mau bantu ibu? Yuk?" ajakku setelah selesai memakaikan kembali celana dalamnya. Kami berdua lantas berjalan ke arah dapur. Kugandeng tangan mungil Rani, kemudian tautan tangan kami ia ayun-ayunkan hingga kami sampai di depan pintu dapur.
"Ibu mau masak apa?" tanyanya saat tangan kami terurai. Aku sedang membuka rak tempat kami menyimpan makanan, biasanya kuletakkan telur dan mie instan di dalamnya.
"Ibu mau goreng telur aja, adek mau?" tanyaku memastikan.
"Mau mau, adek ke mbak dulu ya, Bu," ucapnya seraya berlalu pergi tanpa menunggu jawabanku.
Kubuka kembali rak yang ada di sudut dapur ini, tampaknya beberapa stok makanan pemberian mertua sudah banyak yang habis. Telur hanya tinggal dua butir, beras hanya tinggal seliter, hanya cukup untuk makan hingga esok pagi. Sementara uang pesangon juga hasil dari jual motor sudah hampir habis untuk pengobatan Mas Bima juga biaya hidup kami sehari-hari.
Selesai makan Danisa kembali melanjutkan mengerjakan tugas sekolahnya. Sedangkan Kirani menemaniku menjaga ayahnya di dalam kamar. Kupijat dengan lembut kaki Mas Bima agar badannya tidak terasa pegal. Namun aku tersenyum manakala Rani tertidur pulas sambil memeluk tubuh ayahnya.
"Mas kenapa? " tanyaku saat air mata Mas Bima tiba-tiba menetes.
Tanpa mendengar jawabannya aku tahu bahwa Mas Bima merasa bersalah, merasa tak berdaya atas keadaannya. Bagaimana tidak, semasa hidupnya tak ia biarkan aku turut bekerja membantu perekonomian keluarga. Baginya mencari nafkah adalah tanggung jawab suami, sedang istri hanya membantu dengan doa juga merawat buah hatinya.
Sikapnya semasa sehat yang penuh kasih sayang juga bertanggung jawab membuatku dengan senang hati merawat kondisinya saat ini. Karena jelas tak mungkin kutinggalkan lelaki yang sudah bertahun-tahun memenuhi kebutuhan juga membahagiakanku ini.
"Jangan bersedih, Mas. Ini ujian yang Allah berikan, aku ikhlas menjalaninya." Wajahku tetap tersenyum sekalipun otakku berpikir keras bagaimana caranya untuk mencukupi kebutuhan esok hari juga setelahnya.
Beberapa saat kemudian Mas Bima sudah tertidur. Kuputuskan untuk melihat keadaan Danisa terlebih dulu, juga mengunci pintu ruang tamu.
"Sudah selesai Mbak belajarnya?" tanyaku setelah aku selesai memeriksa pintu dan jendela.
"Sudah, Bu."
"Ya sudah, Mbak tidur dulu ya?"
Danisa hanya menjawab dengan anggukan lalu berjalan menuju kamar di sebelah kamar utama. Tubuhnya terlihat lebih tinggal dari beberapa temannya. Ia juga turut membantu merawat ayahnya, kadang ia juga membantuku menjaga Kirana saat aku harus membawa ayahnya berobat. Ah anakku sudah besar rupanya.
Kududukkan tubuhku di atas sofa ruang tengah. Entah mengapa aku ingin sendiri malam ini. Setelah kepalaku tak bisa berhenti berpikir bagaimana mencari biaya untuk bertahan hidup, kini hati terasa tak karuan.
Kuletakkan kepala di sandaran sofa dengan tangan saling bertaut. Sambil terus berzikir semoga Allah segera memberi kami pertolongannya.
"Wi! Dewi! Cepat buka pintunya!" Suara teriakan Mas Seno-kakak Mas Bima- menyadarkanku dari lamunan.
Gegas aku keluar menghampirinya, sedang apa malam-malam teriak-teriak di rumah orang.
"Ada apa, Mas?" tanyaku pada Mas Seno yang sepertinya terburu-buru.
"Aku boleh minta tolong nggak?"
"Kalau bisa bantu pasti saya tolong, Mas."
"Aku boleh pinjam sertifikat rumah kamu? Besok hari terakhir tenggang waktu yang diberikan bank untukku bayar cicilan, namun aku belum mendapatkan uangnya. Kumohon pinjami aku sertifikat rumahmu ini, nanti kukembalikan setelah aku ada uangnya," pintanya memohon.
Aku tercekat mendengar permintaan Mas Seno, sebab ini terlalu mendadak buatku berpikir. Bagaimana mungkin memberikan pinjaman sertifikat rumah ini sementara ini adalah harta kami satu-satunya.
"Kumohon Wi, janji kukembalikan setelah ada uangnya," ucapnya lagi setelah aku tak memberikan respon apapun.
"Jangan lupa aku juga turut membantu biaya pengobatan suamimu, masak sekarang ganti aku yang butuh bantuan kamu nggak mau bantu," ucapnya lagi. Jika diungkit soal kebaikannya, aku tak bisa berkata apa-apa sebab ia juga turut membantu membiayai pengobatan Mas Bima beberapa bulan lalu.
"Ayolah, Wi! Tolong bantu masmu ini."
Tak tahu lagi aku harus bagaimana, hendak menolak juga tak mungkin karena dia sudah mengungkit kebaikannya pada kami. Ah sudah lah, biarkan saja kuberi pinjaman, toh dia juga punya usaha untuk bisa menebus kembali sertifikat ini nantinya.
"Baiklah, Mas. Tunggu sebentar."
Akhirnya dengan berat hati kuberikan sertifikat itu pada Mas Seno. Semoga saja ia kembalikan secepatnya karena hanya itu harta kami satu-satunya. Motor Mas Bima juga sudah kami jual untuk biaya hidup kami.
Kutatap punggung Mas Seno hingga ia hilang dari pandanganku. Betapa hidup ini penuh dengan ujian. Tak cukup hanya dengan ujian berupa suami yang sedang sakit, masih juga Allah uji kami dengan meminjamkan harta berharga kami pada saudara. Sungguh usia pernikahan yang menginjak angka sepuluh ini terasa begitu menyiksa kalbu.
Bersambung🥀🥀🥀
Punto de vista de CaterinaEra la noche más importante del submundo de Light City: la gala benéfica anual.Una noche donde los pecados se lavaban con champán y cada negocio sucio se blanqueaba a plena vista.La atracción principal de esa noche: la joya de la corona de la familia Caruso.La icónica Torre Caruso en Midtown Old Bridge.Era el símbolo del poder de su familia. Lo último que le dejó el padre de Massimo.Y esa noche, cambiaba de manos.Entré al pasillo del brazo de Nikolai.Los focos nos iluminaron de inmediato. Cada mirada en la sala estaba llena de una mezcla de miedo y respeto.—Señor Volkov, señora Volkov, por aquí, por favor.Un camarero nos condujo al palco principal en el centro de la sala.Antes solía pertenecer a Massimo.Ahora, era nuestro.Al sentarme, vi una figura familiar con el rabillo del ojo.Massimo. Estaba vistiendo un traje viejo, claramente una talla demasiado grande para él. El cuello estaba deshilachado.Estaba en los asientos baratos.
Punto de vista de CaterinaMassimo Caruso se convirtió en el chiste más grande de Light City.Los videos de «La boda en la isla sin novia» y «La reina en la catedral» se hicieron virales en la red oscura.Todos vieron cómo expulsaron de una iglesia al Don de la familia Caruso.También vieron a su «inocente» noviecita haciendo un berrinche en el suelo.Él intentó silenciar la historia. Pero se olvidó de algo. Los servidores que controlan los medios ahora pertenecían a mi esposo.Sin las tres rutas de lavado de dinero de Rossi, las montañas de dinero negro de la familia Caruso eran solo papel.Sus contenedores fueron confiscados por la aduana.Sus casinos fueron allanados por Hacienda.Incluso la antigua casa de su familia en Sicilia fue registrada «accidentalmente» por la policía local.¿Y yo? Estaba sentada en la oficina del pent-house de Nikolai en Old Bridge.—¿Qué miras? —Nikolai me envolvió en sus brazos por detrás. Apoyó la barbilla en mi hombro, su cálido aliento daba
Punto de vista de Caterina—¿Qué? ¡Yo nunca elegí a Cara! —Massimo negó con la cabeza frenéticamente—. Caterina, no lo entiendes, ella solo es...—¿Solo es qué? —lo interrumpí—. ¿Más importante que yo?—¡No! ¡Yo te amo!¿Amor?Tuve que reír.—¿Me amas? —me arrodillé, así que quedamos cara a cara—. Entonces, ¿por qué dejaste que ella usara la reliquia de mi familia?El rostro de Massimo palideció.—¿Por qué cambiaste el lugar de la boda a su isla? ¿Por qué tiraste las velas que me dejó mi abuela? ¿Por qué dejaste que rasgara el velo de mi madre?Massimo abrió la boca, pero no salió ningún sonido.Lo sabía. No había excusas.—Caterina... —le tembló la voz—. Dame una oportunidad. Puedo compensarte...—¿Compensarme? —me puse de pie—. ¿Cómo? ¿Con tus mentiras? ¿Con tu traición? ¿O con esa patética familia tuya que ya se está convirtiendo en polvo?—Caterina... —su voz temblaba—. Es solo una broma, ¿verdad? ¿Estás enfadada conmigo porque cambié la ubicación? ¡Puedo explicarlo! ¡
Punto de vista de Caterina—Ahora, yo los declaro marido y mujer.Tan pronto el sacerdote terminó, la iglesia estalló en un estruendoso aplauso.Lo logré.Por fin escapé de la jaula de Massimo.Nikolai se volvió hacia mí. Un destello de ternura en sus profundos ojos azules. Nunca lo había visto en un hombre como él.—Mi esposa —dijo en voz baja, y luego me besó el dorso de la mano.De repente, él cayó sobre una de sus rodillas.Toda la iglesia quedó en silencio.Todos los invitados contuvieron la respiración.Nikolai sacó una caja de terciopelo negro del interior de la chaqueta de su traje.Dentro había un anillo con un enorme diamante negro, rodeado de un halo de diamantes más pequeños. Brillaba bajo la luz de las vidrieras.—Caterina Volkov —su voz era reverente—. Como regalo de bodas —declaró—, te doy la mitad de mi territorio en Light City.¿La mitad de su territorio?Eso valía miles de millones.Se oyeron jadeos de asombro por toda la iglesia. En nuestro mundo, el
La noche antes de la boda, estaba sola en la mansión.Massimo y Cara se habían ido esa mañana. «—Últimas revisiones en la isla», dijo él.Mi maleta estaba en la cama. Dentro había ropa sencilla. Y el velo roto.Me lo llevaba conmigo. Un recuerdo de cinco años de mentiras.Sonó mi teléfono. Massi
La tarde siguiente, tuve la última prueba de mi vestido de novia.Era de mi abuela. Encaje francés color marfil, cada flor bordada a mano.Hace setenta años, ella lo usó para casarse con mi abuelo.Hace cuarenta años, mi madre lo lució al entrar en nuestra casa familiar en Sicilia.Ahora era mi
Miré su espalda. Se me volvió hielo la sangre.Esas eran las velas de mi abuela. En su lecho de muerte, me tomó de la mano y dijo: «—Caterina, todas las hijas Rossi caminan hacia el altar con estas velas. Te darán felicidad.»Ahora se estaban pudriendo en algún vertedero.Y todo porque Cara pensa
Tres días antes de mi boda, llegó la invitación. El lugar de la ceremonia no era la finca de mi familia en Sicilia. Era la isla que mi prometido compró para su pequeña mascota, Cara.Mi teléfono se iluminó. Una nueva publicación de Cara.Ella publicó fotos del ensamblaje de la boda en la isla. Una












Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.