LOGIN[Rebirth, writing, slag abuse, one-on-one, no abuse!] She was the king of mercenaries who made the world's big men talk, holding a piece of ancient jade in her hand, repairing the truth, medical skills... all proficient. Unexpectedly reborn, she turned into an upper - class joke, school people see the evil school slag girl? The king of talented mercenaries, who used to deter the entire mercenary community, said, "Don't make trouble. Waste incompetence? How do you feel about being twisted off by a piece of waste? The last? Come on, let your sister tell you how to write the word "genius!" She doesn't have the talent to do business, financial, managerial half - sister? Well, do you know that the present king of commerce cried and begged her to accept him? Father unknown? As soon as her father's name comes out, the world will shake! A magical ancient doctor, she is the god of heaven in the eyes of countless patients. Sweeping the army, she is no one on the road dare provoke. Beauty coexists with acting. She is the goddess of the circle. A rebirth, a new life, she is still alive, accidentally become a national citizen who no one dares to provoke! Life and death on one hand and fate on the other. The misogynist should play face-to-face, play the rich, play the entertainment circle, and conquer someone by the way. * * * [Little Theater] Old man: It's almost midnight. Are you still busy? Man: No. Then you go out so late? Man: The family is strict. The Lord
View MoreSore ini aku menunggu senja untuk kembali datang menyapaku walau sesaat, tapi cuaca sore ini sedang tak bersahabat. Air yang jatuh dari langit mengingatkan ku pada peristiwa itu, peristiwa dimana aku pertama kali kehilangan Mama, Papa, dan kedua kakakku.
Aku kehilangan mereka bukan karena kecelakaan, tapi karena mereka yang membuangku ke jalanan. Menurut mereka aku adalah anak pembawa sial, dan mereka membawaku sangat jauh dari rumah untuk membuang ku agar aku tau arah pulang.
Aku tidak cacat, lalu mengapa mereka tega membuang ku! Aku tidak meminta untuk di lahirkan ke dunia ini. Aku menangis sekencang-kencangnya tapi tak sedikit pun mereka mengasihi ku. Aku seperti sampah di mata mereka.
Namaku Tere. Saat itu usiaku 7 tahun. Tubuhku yang kurus ini menggigil karena hujan deras mengguyur tubuhku. Perutku yang lapar membuatku lemas berjalan untuk menemukan jalan pulang.
Aku berjalan tanpa henti hingga aku benar-benar tak sanggup lagi untuk melangkah, dan akhirnya aku tak menyadarkan diri.
Langit semakin gelap namun hujan tak kunjung reda. Ketika aku tersadar dan perlahan membuka mata, ternyata aku terbaring lemas tak berdaya tepat di bawah pohon mangga yang lebat. Baju yang ku gunakan basah kuyup dan tubuhku semakin menggigil seolah ada es batu yang lebih besar dari tubuh kurus ku ini masuk hingga ke tulang.
Rasanya aku akan mati di tempat ini. Perutku sangat lapar dan aku tak sanggup menahan rasa dingin yang menggila ini.
Ketika aku tersadar, aku sangat merasa ketakutan dan tak kuasa menahan lapar dan dingin yang merasuk ke tubuhku. Aku bingung harus bagaimana. Hatiku terasa sakit sakit dan dadaku sangat sesak, mengapa mereka tega membuang ku ke jalan dan membiarkan ku akan mati seperti ini! Rasanya benar-benar aku seperti akan mati di tempat ini. Aku berharap ada seseorang yang akan menolong ku, tapi kemana orang-orang itu, mengapa tak satupun ada yang lewat d tempat ini. Aku sangat kebingungan dan tak tau harus bagaimana lagi.
Aku kembali memejamkan mataku dan kembali berharap jika aku membuka mata seseorang sudah menolong ku.
*****
Tak terasa suara adzan subuh berkumandang di mesjid, sepertinya mesjid itu tak jauh dari sini. Aku ingin beranjak dari tempat ini tapi tetap saja aku sudah tidak memiliki kekuatan untuk melangkahkan kaki, untuk mengangkat badanku saja bangun aku tak memiliki kekuatan, aku harus bagaimana Tuhan.
Aku hanya pasrah saat itu, dan berdoa terus menerus dengan penuh harap. Jika aku harus mati kelaparan dan kedinginan di tempat ini, mungkin sudah takdirku.
Malam yang panjang sudah kulalui dengan hujan yang sangat deras tanpa henti. Sang fajar mulai datang dan sang mentari mulai menunjukkan lukisan indah di langit, tanda hujan tak akan turun lagi. Aku tetap terus berdoa penuh harap.
Aku tertidur di dalam ketidak berdayaanku, tiba-tiba buah mangga yang ada di atas pohon itu jatuh dan menimpa kepalaku dan membuatku harus membuka mata dengan kondisi yang sangat amat lemas.
"Awww... Rasanya sangat sakit". Aku melihat sejenak buah itu lalu perlahan mengambil nya dan memakannya.
"Apakah aku harus bertahan hidup dengan pohon yang di penuhi buah ini? Apakah aku bisa mengisi perut laparku dengan buah ini? Lalu bagaimana dengan tubuh kurus ku yang hanya memakai pakaian basah akibat kehujanan? Ah sudahlah, aku tak boleh banyak mikir dulu, yang penting aku bisa mengisi perutku yang sangat lapar ini." Gumam ku
Satu biji buah mangga ukuran sedang sudah ku lahap, lumayan aku bisa merasa sedikit kenyang, walaupun aku memakannya dengan cara mengupasnya dengan gigiku ini.
Kepalaku masih sedikit pusing mungkin karena akibat perutku lapar ditambah lagi buah mangga itu jatuh tepat di kepalaku. Tapi tidak masalah, mungkin ini cara Tuhan agar aku dapat bertahan hidup.
Matahari sudah mulai memancarkan sinarnya. Dan aku berusaha berdiri dan duduk di bawah sinar matahari agar baju ku yang basah ini akibat hujan bisa kering.
Sangat sulit memang, tapi mungkin ini yang harus aku hadapi meski hatiku menjerit ingin pulang.
Sambil berjemur di bawah sinar matahari, aku memperhatikan di sekeliling ku. Benar-benar tak ada orang yang lewat.
Aku berusaha menguatkan diriku agar aku dapat berjalan mencari pertolongan. Tapi sepertinya ada mesjid di sekitar sini, itu berarti ada rumah di dekat sini. Aku harus berusaha mencari pertolongan agar aku tak berada di tempat ini terus menerus.
Ketika aku merasa bajuku yang basah ini lumayan kering dan perutku sudah tak terasa lapar lagi karena berkat buah mangga itu, aku memutuskan untuk mencari pertolongan, kali aja aku beruntung bisa bertemu dengan orang baik yang akan menolong ku.
Aku berjalan tanpa tahu jalan, yang penting aku bisa selamat di pikiranku.
Aku mencari mesjid yang mengeluarkan suara adzan subuh tadi, tapi di mana mesjid itu. Rasanya aku berjalan sudah lumayan jauh, tapi aku belum melihat tanda-tanda ada seseorang yang tinggal di dekat sini atau seseorang yang lewat.
Aku terus berusaha untuk berjalan, walau tubuh ku sudah mulai terasa lemas kembali.
Dan akhirnya aku menemukan seorang ibu-ibu yang sepertinya hendak ke pasar. Aku hanya mampu mengatakan tolong lalu aku kembali tak menyadarkan diri lagi.
Aku tak tahu ibu itu menolong ku atau tidak, karena saat itu aku benar-benar kembali tak menyadarkan diri dan tak merasakan apa-apa sama sekali.
Ketika aku terbangun, dan melihat di sekeliling ku, sepertinya aku berada di rumah sakit. Aku ingin bertanya pada dokter yang memeriksa ku tapi mulutku belum mampu untuk mengeluarkan suara.
"Apakah ibu itu yang menolong ku lalu membawa ku ke rumah sakit? Lalu kemana ibu itu? Aku tak melihatnya sama sekali". Gumamku.
Karena berhubung aku benar-benar masih sangat lemas, akhirnya aku mengikuti mataku yang memang ingin terpejam kan.
Ketika aku kembali terbangun di malam hari, aku merasa sedikit membaik. Tapi tak ada lagi dokter yang masuk di ruangan ini untuk memeriksa ku. Bahkan aku tak memiliki teman kamar yang di rawat di rumah sakit ini. Aku benar-benar sendiri di sini, dan orang yang menolong ku itu siapa dan kemana dia!
Aku menengok ke meja yang berbeda tepat di sisi kananku, dan lumayan ada makanan yang tersedia. Aku bisa memakannya untuk memuaskan perutku yang sudah mulai bawel ini.
Saat aku sedang asyik makan makanan yang tersedia di meja itu, tiba-tiba aku di kagetkan dengan kedatangan seorang perawat, dan perawat itupun terkejut melihatku makan dengan sangat lahapnya meski tanganku masih kondisi terinfus.
"Kamu sudah bangun anak manis?" Kata dokter itu.
"Aku hanya mengangguk sambil menikmati makanan yang ku makan ini."
Meski rasa makanan ini hambar, tapi setidaknya aku bisa makan dan tak kelaparan lagi.
Perawat itu hanya melihat ku sambil tersenyum lalu memberikan ku selimut dan obat yang harus ku minum setelah aku selesai makan.
No one dares to put Yu Shi Jin's words wrong.In the first two days, the Qin team had the order issued overnight, but in Yu Shijin, only an hour, the order was issued.At this point, Zhang's meeting room.It was a devastating blow to Zhang's family, which had lost most of its money because of the countless medicinal materials on hand.Zhang Mingxi himself knew better, but he was not in a hurry because he had a bank card for the International Centre, which he looked up and contained a total of 900 million dollars.That's nearly half of Zhang's real estate.He would be surprised if someone else was out with so much money, but it was Carl, and he had nothing wrong with it. After all, it was Carl, and it was hundreds of millions of dollars of money.Sitting in the conference room is now a joint venture with Zhang's investors.They were all directed at Carl.Only four days after the International Centre Investment Competition, Carl led the Zhang family team to first place, his team is alre
Yu Shijin took it for granted.But this question made all four others laugh bitterly."After all, it's the International Center," the commander-in-chief said. The other three looked at their nostrils and knew that this time they were going to come out on their own. "It's not your style."They all know Yu Shi Jin this person has always been very low-key."Commander, how do you know that this is not my style?" Yu Shi Jin lip horn evokes a smile.But those dark eyes, but did not see the smile at all."Yu Shao!" The other three except for the commander-in-chief were startled, raising their heads directly, and their pupils shrinking. "Everyone knows where the International Center is.Their countries really don't see enough about going to the International Centre.It is not impossible for one of the Big Three to directly change ownership of the International Center.The commander looked at Yu Shi Jin constantly knocking on the back of the chair finger, knew that he was impatient, and hurri
The three icy words reverberate in their ears.Shen An'an was a little stunned at first.Two plainclothes officers approached her, and one took out handcuffs from his pocket.In the sun, a glare of snow was reflected."How dare you catch people casually?" Shen An'an also happened to see the Qin team being restrained by Chu Xuning when they were handcuffed by two men.Her pupil shrank sharply, and her heart chuckled.Behind the Qin team stood the international center person, Qingshi still dare to move him?Thinking of this, she looked up abruptly, straight to Shijin look past.The other side stood in solitude and spot a cigarette.Shen An'an's dark eyes gradually deepened.She was well aware that there would never be a person who dared to move the International Centre unless the person was not local to the city.No matter how stupid she is, she should be able to guess the simplicity of Shijin... Even the international center dare to grasp it directly.Shen An-an sipped her lips and qui
"Bang!"It was a group of men who followed Yu Shi Jin, a voice that did not hold back the fall.Then he stared at the dog, looked at Su Hui in a moment, looked at Yu Shijin in a moment, and finally showed an expression of sudden enlightenment.Just say why Yu Shao went all the way back from the international center, not even the face of the big three..."Are you very free?" Yu Shijin eyes cold, looking up to the group of people.The little head immediately patted the dust on the body, one by one waving hands, "no, no..."Then a smoky man sat back in the army car they were driving.Yu Shi Jin then turned back his head, looking at a face carelessly leaning against the car of Su Hui.She was looking at herself sideways, and at the corner of her mouth there was a lazy arc.His fingers moved, and a cigarette had been drawn from his pocket, and his well-defined fingers had been caught in a black fire.The whole standing posture is very elegant, just hanging eyes a little cold.Finally, I di
As soon as Zhang Mingxi's words came out, Yu Xiangyang, standing not far from Su Hui, took a breath of air.He always knew that Zhang Mingxi had a good feeling for Shen An'an, and that Shen An'an did have this ability. After all, even the children who had been raised from childhood were not as good
Rumoured dull Miss Sue had by this time reached a single VIP room on the 25th floor.Ben's slow-walking Su Hui paused suddenly, his eyes squinted, his hands in his pocket, the moment burst into a strong momentum, even in front of her the sun felt something was wrong.As soon as he looked back, he s
The driver in the driver's seat was alarmed by the movement of the two men, who hastened to open the door and disembark."I'm having a little fun with you," said Su, slapping her head in the sun, her clear eyes turning to Uncle Chauffeur, taking a red ticket from her pocket and handing it to him, s
"Dyed black, handsome man, slightly repaired," said Su, looking for a hair salon, sitting on a chair towards the boy with scissors.In memory, the former Sioux slumped to this hair salon.As soon as she sat down, she raised her legs on the table, posing lazy and casual, with a little careless smile






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews