MasukCaleb Smith's best friend, Kevin Baker, calls me in a panic and tells me that Caleb has been in a terrible racing accident. Without a second thought, I rush to the hospital and donate two pints of blood to save him. As I walk past a hospital room, I freeze. There's Caleb—standing perfectly healthy beside a hospital bed. Kevin throws his head back and howls with laughter. "It's April Fools' Day. We actually managed to trick Winnie Jewel into donating two pints of blood. Too bad that it's useless, though. We might as well feed it to the stray dogs." Vivian Jewel, lying in a hospital bed, looks up at Caleb. "Caleb, don't you think that's a bit much?" A fond smile curves Caleb's lips as he replies, "I can't help it. Where does Winnie get the nerve to take your place? She should have stayed in the orphanage, but since she forced her way back into the Jewel family, she can't blame us for taking your side." Kevin jumps in eagerly. "This year marks the eighth year since she returned to the Jewel family, and the eighth year we've been pranking her." Their undisguised mockery spills out of the room. I pull out my phone and contact my aunt, Gianna Jewel. "Aunt Gianna, I’ve decided. Let's leave the country."
Lihat lebih banyak“Pokoknya Mama kasih waktu satu tahun lagi, kalau dalam waktu satu tahu kamu tidak juga hamil, kamu harus ikhlas kalau Abi harus menikah lagi.” Wanita bersanggul rendah itu menatap wanita muda yang menunduk di hadapannya.
“Mara akan usaha lagi, Ma,” jawab Wanita itu. Dia segera menyeka air matanya yang tadi menggenang dan akhirnya lolos juga.
Entah berapa obat-obatan yang sudah dia telan dan segala macam makanan sehat penambah kesuburan. Dia hanya menjalani apa yang dititahkan keluarga itu tanpa bisa menolak atau mengatakan keadaan yang sebenarnya.
“Besok Mama antar, kita ganti dokter.”
Wanita bernama Amara itu menganguk patuh kemudian dia menoleh saat mendengar langkah kaki mendekat. Lelaki yang sedang dia tunggu akhirnya datang. Amara ingin suaminya ikut menjawab segala macam pertanyaan mertuanya. Bukan dirinya saja yang seharusnya ditekan, tapi Abian yang seharusnya bertanggung jawab atas keadaannya yang tak kunjung hamil.
“Mara mau periksa sama Mas Abi, Ma,” kata Amara setelah lelaki itu mendekat.
Tampak kernyitan di kening lelaki itu. “Periksa apa?” tanyanya. Lelaki itu mengempaskan diri sofa berseberangan dengan sofa yang diduduki Amara.
“Kosongkan jadwalmu, besok kalian harus periksa ke dokter.” Sang ibu menatap ke arah anak lelakinya.
“Aku nggak bisa, Ma. Biar Mara saja yang jalani pengobatan. Lagian aku yakin kalau aku sehat.”Lelaki bercambang itu berkilah. Selalu seperti itu dan selalu saja mendapatkan pemakluman.
Amara tahu kenapa lelaki itu tidak mau ikut periksa juga. Dia paham apa yang dipikirkan suaminya, tapi Amara masih mencoba untuk tetap bertahan seperti janjinya pada kedua orang tuanya. Harapan kedua orang tuanya begitu besar pada pernikahannya.
“Ibu akan beri waktu satu tahun, setelah satu tahun kalau tidak ada perubahan, kamu boleh menikah lagi,” ujar wanita paruh baya itu kemudian dia beranjak meninggalkan anak menantunya di sana.
Ada senyum yang terbit di bibir lelaki itu kemudian dia ikut beranjak dari sana.
“Kamu ikuti saja apa yang diperintahkan Mama, jangan bicara apa pun tentang pernikahan kita,” ujar lelaki itu pada istrinya.
Apa pun yang dikatakan Abian, Amara hanya bisa mengiyakan, tidak ada bantahan meski akhirnya dia sendiri yang disalahkan. Dirinya dianggap tidak subur oleh mertuanya. Entah berapa banyak lagi stok kesabaran yang dia simpan untuk menjalani pernikahannya.
Bukan karena dia lemah, tapi dia begitu menghormati hubungan baik antara orang tua dan mertuanya. Amara tidak mau hubungannya dengan Abian akan mengecewakan para orang tua itu, meski dia tahu ibu mertuanya tidak terlalu suka padanya.
.
Amara mengikuti suaminya ke kamar. Dia tidak pernah melalaikan kewajibannya melayani kebutuhan suaminya meski sering kali pengabaian yang didapat. Dia hanya menyakini, sikap tulusnya akan berbuah manis, itu pasti, entah kapan. Amara masih berusaha berpikir positif.
Abian melepas jas yang dia kenakan kemudian mengulurkan pada Amara. Lelaki itu lantas duduk dan Amara langsung bersimpuh di depan Abian, membuka sepatu dan kalos kaki suaminya kemudian meletakkan di rak sepatu.
Wanita yang selalu mengenakan jilbabnya meski di dalam kamar itu menuju kamar mandi untuk menyiapkan air dalam bak mandi. Biasanya Abian suka berendam setelah pulang dari kantor.
Lelaki itu masuk ke kamar mandi setelah melepas pakaiannya dengan menyisakan celana pendek saja. Amara segera berbalik meninggalkan kamar mandi itu.
Amara membersihkan ruang lain di kamar itu. Menyalakan lampu menutup jendela kemudian membersihkan ranjang agar pemilik merasa nyaman menidurinya. Dia juga mengambilkan baju ganti untuk Abian. Itu adalah rutinitasnya setap hari selama lima tahun menjadi seorang istri.
“Aku akan katakan pada Mama untuk tidak mengajakmu ke dokter.” Suara itu membuat Amara yang sedang membersihkan kamar itu menoleh.
“Apa karena Mas Abi tidak mau Mama terus memaksa kita untuk usaha punya anak?” tanya Amara dengan senyum samar di bibirnya.
“Mama tidak akan meragukanku, aku hanya merasa kasihan padamu karena harus menelan obat-obatan tiap hari.” Lelaki itu mengibaskan rambutnya yang basah kemudian mengambil pakaian yang disiapkan Amara.
“Seharusnya kita coba sekali saja, Mas.” Amara langsung menutup mulutnya yang dengan lancang mengatakan itu. Dia terlalu berani menuntut. Bukankah dia sudah sering kali mendapat peringatan bahwa Abian tidak akan menyentuhnya?
Lelaki itu menarik sudut bibirnya kemudian mendekat menepis jarak antara mereka.
Sungguh, saat itu tubuh Amara membatu. Dia tidak bisa bergerak menjauh. Debaran jantungnya menggila dan wajahnya memerah saat hembusan hangat menyambangi wajahnya.
Abian semakin mendekat membuat bulu kuduk Amara meremang.
“Jangan terlalu berharap, aku sudah janji tidak akan menyentuhmu,” ujar lelaki itu tepat di telinga Amara.
Sejenak Amara kesusahan menelan ludah. Debaran di dadanya lebih dari menggila kemudian dalam beberapa detik melemah berganti rasa sesak. Wajahnya masih memerah dan saat dirinya bisa menguasai diri, Amara segera ke luar dari ruangan itu. Ruang rahasia yang digunakan Abian untuk tidur. Tidak ada yang mengetahui ruangan itu kecuali dia dan Abian saja.
Amara memejamkan matanya, air matanya ke luar begitu saja seolah mewakili ungkapan rasa kecewanya. Dia tidak diharapkan oleh suaminya selama lima tahun lamanya.
Apakah dia seburuk itu?
***
“Nanti Mara tidak perlu ke dokter.” Abian menginformasi pada ibunya.
Suara denting sendok berhenti dan semua mata tertuju pada Abian. Ruang makan itu seketika hening setiap kali bahasan tentang anak Abian terlontar.
“Apa maksudmu?” Maria menatap tajam pada putra sulungnya, diletakkannya dengan kasar sendok dan garpu.
“Kami tidak perlu buru-buru,” jawab Abian kemudian melirik Amara yang ikut menatap ke arahnya. Dia memberikan senyuman pada Amara.
“Mama sudah memberi kalian waktu lima tahun.” Wanita itu menatap Amara dengan wajah memerah. “Pasti kamu yang mempengaruhi Abi ‘kan?”
Amara menggeleng. Dia sendiri tidak tahu kenapa dan apa rencana Abian saat ini. Apa mungkin ….
“Kenapa hanya masalah anak saja kalian harus merusak selera makanku!” Lelaki yang usianya lebih muda dari Abian mendengus kemudian mengambil segelas air meminumnya hingga tandas.
“Mama itu ingin segera punya cucu. Kalau kamu segera menikah dan segera beri Mama cucu, Mama tidak akan mendesak Mara dan Abi segera punya anak.”
“Jodoh dan keturunan itu hak mutlak Allah, kenapa Mama bersikap seolah menyalahkan apa yang telah Allah takdirkan, kenapa Mama membuat pernikahan mereka jadi seperti neraka. Memangnya wanita menikah itu hanya untuk disuruh hamil? Memangnya kalau wanita mandul tidak layak dinikahi?” Entah ada masalah apa dengan pemuda itu, dia bahkan terlihat tidak senang sejak obrolan tentang anak dibahas di meja makan.
“Satria. Yang sopan kalau bicara sama Mama,” tegur sang ayah. Lelaki itu mengakhiri makannya, dia beranjak lalu berjalan mendekati menantunya. “Jangan pikirkan apa yang diucapkan Mama, kami tidak menuntut apa pun dari kamu.” Lelaki itu mengusap kepala Amara yang berbungkus jilbab.
Hati Amara menghangat, setidaknya ada orang yang berpihak padanya. Sejak dulu hanya lelaki itu yang bersikap baik padanya dan selalu dipihaknya. Dia adalah Atmaja--ayah mertuanya.
“Tidak bisa begini, Pa. Mama akan carikan Abi istri kedua kalau Mara tidak segera hamil.”
Gianna Jewel's POVWinnie was taking a nap when Caleb's call came through. I saw the caller ID and answered it for her."Winnie, can we talk? I'm standing right outside your aunt's house. I'm not going anywhere until you come out."The moment he hung up, I walked outside and immediately spotted him.I bluntly said, "Winnie is asleep. If you have something to tell her, you can tell me. I'll pass it along."My gaze was so sharp that it visibly made Caleb uneasy. "There's no need. In that case, I'll be leaving now. In a couple of days—"I cut him off before he could finish speaking. "Didn't you just get married two days ago? Shouldn't you be on your honeymoon? Why are you in Ironden chasing after Winnie?"Under the weight of my scrutiny, Caleb finally told me the truth. "Actually… the bride was supposed to be Winnie.""That's preposterous!"My expression hardened, and my voice rose. "You're like an uncle to her! When she returned to the Jewel family, she was just a young girl. An
Caleb Smith's POVWhen Winnie first returned to the Jewel family, she followed Vivi's lead and called me "Mr. Smith".But once she realized her feelings for me, she only called me by my first name.So when she used that title again, she was trying to tell me that our relationship was finally, truly over.I immediately understood. That address had drained the color from my face. I lifted my hand to reach for her again, but in the end, I let it drop.I stood there, watching her disappear into the distance, until a single tear slid down my cheek and hit the floor.That was when Vivi stepped out from the shadows.She clung to my arm, her face wearing a mask of hurt innocence. "Caleb, aren't I the one you love? You pulled all those pranks on Winnie because of me. You planned this entire wedding for me. I'm the only one who's supposed to be your wife."I shoved her away, and my brows furrowed. "I never once told you that I loved you. The only woman who will ever be my wife is Winnie.
Winnie Jewel's POVFor the 16 years I spent in the orphanage, I never once stepped outside the country. And during the eight years after the Jewels brought me home, watching my parents take Vivian on vacations filled me with quiet envy every single time.So when I arrived in Ironden, I went out for walks every day. Watching strangers move through the city helped me momentarily forget the injustice that had shadowed me for more than two decades.There was a bridal boutique along my usual route. They changed their window display daily, and checking out the new wedding dresses had become the part of my routine I looked forward to the most.A pink gown was displayed that day, the diamonds catching the sunlight and casting a soft glow.The moment I saw it, my mind immediately drifted back to the wedding dress Caleb had designed.In fact, I had heard rumors that he was designing a custom gown for the wedding. For weeks, I had looked forward to the moment I'd finally see it—until the da
Caleb Smith's POVI couldn't put into words the turmoil I felt on the drive back to the villa. It wasn't until I opened the door that I realized that the place was completely empty.The wedding decals had been stripped from the walls, leaving the stark white paint looking even more barren.I called my assistant and ordered him to track Winnie's location. When I learned she was in Ironden, I hurled my phone across the room.My eyes drifted to the table. A note and a bank card that the bridal stylist had handed me earlier sat there.The bank card held ten million dollars. It seemed that this was her way of settling the score for the kindness I'd shown her all these years. The note, however, bore only one line in her handwriting: "Caleb, I wish you and Vivian a happy marriage."I crumpled the note in my hand, then booked a flight to Ironden.During the entire ten-hour flight, I didn't close my eyes once.My mind was a tangled mess, scene after scene flashing before me—the genuine












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.