Share

Setelah Badai

Author: Vianita
last update Last Updated: 2025-12-03 02:59:10

Daniel tidak bergeming. Pelukannya semakin mengerat, membuat Alya kesulitan bernapas, bukan karena fisik, tapi karena beban emosional dari keintiman yang baru saja mereka bagi.

Keheningan yang menggantung setelah puncak gairah itu jauh lebih memekakkan telinga daripada erangan atau bisikan mereka sebelumnya.

Lampu-lampu kota yang semula tampak romantis kini terasa seperti mata-mata. Alya bisa melihat pantulan dirinya dan Daniel di jendela dua sosok yang saling berpelukan, telanjang, di dalam kantor CEO yang seharusnya menjadi simbol profesionalisme yang dingin.

Ia mencoba bergerak, namun Daniel menahannya.

"Jangan bergerak," perintah Daniel, suaranya kini tenang, namun memancarkan otoritas yang jauh lebih menakutkan karena diselimuti oleh kepuasan.

Ia mencium puncak kepala Alya, menghirup aroma sampo mahal yang bercampur dengan aroma keringat mereka sendiri. "Aku hanya ingin seperti ini sebentar."

Alya memejamkan mata. Kata-kata Daniel, "Kamu sudah membuat aku gila, Alya Pranata," te
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gairah Sang CEO Muda   Terlambat Satu Langkah

    Helikopter operasional "The Horizon" mendarat dengan guncangan keras di pesisir Pulau Seram yang kini tampak seperti luka terbuka. Daniel Arkana melompat keluar bahkan sebelum baling-baling berhenti berputar. Di belakangnya, Arlo berlari sambil mendekap laptop militernya, matanya terus memantau titik transmisi yang ia temukan."Di sini, Ayah! Sinyal itu berasal dari sini!" Arlo menunjuk ke arah tumpukan kayu yang dulunya merupakan sebuah warung kecil di pinggir pantai.Sinyal "LEODISINI" bukan sekadar teks. Itu adalah kode terenkripsi tingkat tinggi yang disisipkan ke dalam frekuensi radio amatir. Hanya Leo yang bisa memanipulasi gelombang radio sekuno itu untuk mengirimkan pesan digital yang begitu bersih.Daniel mendekat ke arah reruntuhan. Di sana, ia menemukan sesuatu yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak: sebuah radio transistor tua yang telah dimodifikasi. Di dalamnya, rangkaian kabelnya disusun dengan presisi yang tidak mungkin dilakukan oleh orang awam

  • Gairah Sang CEO Muda   Cahaya dari Cakrawala Seram

    Erfan menatap laut dengan mata yang terlalu tajam untuk anak seusianya. Di kepalanya, dunia tidak hanya terdiri dari air dan langit. Ia melihat pola. Ia melihat bagaimana angin membentuk riak di permukaan air sebagai variabel tekanan yang bisa dihitung. Namun, saat ia mencoba mengingat mengapa ia tahu semua itu, kepalanya berdenyut hebat, seolah-olah ada dinding baja yang mengunci memorinya."Erfan! Ayo cepat! Ikan-ikannya sudah mulai melompat!" teriak suara cempreng dari kejauhan.Itu adalah Satria, putra bungsu Pak Bakri. Di keluarga ini, Erfan menemukan pelabuhan yang tenang. Bu Aminah memperlakukannya seperti anak kandung, dan Pak Bakri mengajarinya cara membaca arus laut tanpa bantuan alat elektronik.Keseharian di Tanah RempahSelama dua minggu tinggal di desa itu, Erfan menjadi semacam "keajaiban kecil". Ia tidak banyak bicara, tetapi tangannya sangat ajaib. Ia bisa memperbaiki radio tua milik kepala desa yang sudah mati selama sepuluh tahun hanya dengan menggunakan kawat jemur

  • Gairah Sang CEO Muda   Pencarian Leo

    Tiga minggu sebelum titik terang di pesisir Maluku muncul, Samudra Pasifik Selatan adalah sebuah neraka biru yang tak berujung bagi Daniel Arkana. Di atas kapal riset canggih "The Horizon", mesin-mesin sonar dan pemindai satelit menderu tanpa henti selama dua puluh empat jam sehari.Langit di atas "Segitiga Hitam" tampak seolah-olah sedang berduka. Awan kumulonimbus yang tebal menggantung rendah, sementara ombak setinggi lima meter menghantam lambung kapal dengan ritme yang memekakkan telinga. Namun, kebisingan di luar sana tak sebanding dengan kekosongan yang dirasakan Daniel di dalam dadanya.Pencarian di Jantung Kegelapan"Tidak ada apa-apa, Tuan Daniel. Sonar kita hanya menangkap bangkai paus dan formasi batuan bawah laut," suara Hendri anak buah Daniel terdengar parau. Matanya merah, dikelilingi lingkaran hitam karena kurang tidur selama berhari-hari.Daniel tidak menjawab. Ia berdiri di depan jendela besar dek komando, menatap cakrawala yang kelam. "Leo tidak m

  • Gairah Sang CEO Muda   Namamu Erfan

    Fajar menyingsing di atas pesisir pantai terpencil di pinggiran Pulau Seram, Maluku. Suara ombak yang tenang menyapu pasir putih, membawa serta sisa-sisa badai elektromagnetik yang terjadi tiga malam lalu. Di antara tumpukan batang pohon tumbang dan sampah laut, sebuah objek logam berbentuk kapsul silinder dengan sisa-sisa luka bakar atmosferik teronggok setengah terkubur di pasir.Bakri, seorang nelayan paruh baya yang sedang mencari kayu apung, menghentikan langkahnya. Matanya menyipit melihat pantulan cahaya dari logam tersebut. Namun, bukan logam itu yang membuatnya menjatuhkan keranjangnya, melainkan sosok kecil yang terbaring beberapa meter dari sana.Seorang anak laki-laki, mungkin berusia sepuluh atau sebelas tahun, mengenakan pakaian ketat berwarna perak kebiruan yang sebagian besar telah koyak dan hangus. Tubuhnya pucat, hampir transparan di bawah sinar matahari pagi."Ya Allah! Aminah! Kemari cepat!" teriak Bakri pada istrinya yang sedang mengumpulkan kerang di kejauhan.Ti

  • Gairah Sang CEO Muda   Leo Hilang

    Suasana di pusat komando Arkana Tower mendadak berubah menjadi hening yang mencekam, hanya menyisakan deru kipas dari server raksasa dan detak jantung yang berpacu. Di layar utama, visualisasi orbit bumi menampilkan dua titik cahaya biru—representasi digital Leo dan Arlo—yang sedang merayap mendekati siluet merah "Satelit Hantu" milik Victor Vance. Di bagian bawah layar, terdapat umpan video dari kamera helm Hilda dan Tobi. Mereka tidak berada di menara; mereka berada di garis depan, di sebuah fasilitas stasiun bumi rahasia di pinggiran Jawa Barat yang menjadi jembatan transmisi data ke ruang angkasa. Garis Depan di Bumi "Kontak visual terkonfirmasi," suara Hilda terdengar stabil meski di latar belakang terdengar suara rentetan tembakan. Ia berlindung di balik pilar beton stasiun bumi. "Tim taktis Obsidian tidak main-main. Mereka mengirimkan tentara bayaran profesional untuk memutus uplink kita. Mereka tahu jika stasiun ini hancur, Leo dan Arlo akan terjebak di dalam jaringan tanpa

  • Gairah Sang CEO Muda   Misi Baru

    Sore itu, halaman belakang kediaman Arkana yang luas tidak tampak seperti benteng pertahanan teknologi tinggi, melainkan seperti taman bermain yang penuh tawa. Matahari Jakarta yang mulai meredup memberikan cahaya oranye hangat pada rumput hijau yang tertata rapi.Di tengah lapangan, Tobi—dengan perawakannya yang besar dan ramah—sedang membungkuk rendah, berpura-pura menjadi monster raksasa. "Kalian tidak bisa lari dari Monster Bug!" serunya sambil tertawa bariton.Hilda, yang biasanya tampil dingin dengan setelan taktis hitamnya, kini mengenakan kaos santai dan celana kargo. Ia berlari kecil mengejar Leo dan Arlo yang sedang tertawa terbahak-bahak. Di tangan Hilda terdapat sebuah pistol air canggih hasil modifikasi laboratorium Arkana yang mampu menembakkan gelembung sabun raksasa."Leo, ke kiri! Arlo, berlindung di balik Kevin!" teriak Hilda sambil melepaskan rentetan gelembung.Kevin, sang ahli sistem yang biasanya sibuk dengan kabel dan server, kini justru menjad

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status