تسجيل الدخولArthur Valerius, miliarder genius yang hidup dalam sebuah draft webnovel mendapati dirinya dibuat mati secara tragis oleh penulisnya sendiri. Tapi alih-alih pergi ke alam baka, jiwanya justru bertransmigrasi ke dunia nyata, masuk ke dalam tubuh Arga, seorang pemuda pengangguran yang terjerat hutang dan seorang pecandu. Bukan untuk balas dendam, Arthur justru menjadikan Nadia sebagai ratu dan memberikan segalanya.
عرض المزيدNadia terbangun dan di sebelahnya seorang laki-laki masih tidur tanpa busana!
Tubuh bagian intimnya tertutup dengan selimut, tapi masih menampakkan bagian kakinya sampai ke paha atas. Pemandangan yang langsung membuat Nadia memalingkan muka, seketika ia teringat kejadian semalam.
Nadia sadar betul bahwa ia baru saja menghabiskan malam yang sangat panjang dan menguras tenaga dengan laki-laki di sampingnya sekarang.
Sebuah pengalaman one night stand yang harus Nadia akui cukup membuatnya berdebar, meskipun semalam ia melakukannya dalam keadaan setengah sadar akibat pengaruh minuman.
Nadia ingat bagaimana dalam keadaan mabuk berat, ia merangkul pundak dan merapatkan dirinya ke dada laki-laki itu saat tubuhnya digendong ke dalam kamar kosnya. Laki-laki itu kemudian meletakkan tubuh Nadia dengan perlahan ke atas kasur bersprei putih.
Awalnya, laki-laki itu hendak berniat pergi ke kamar mandi sebentar. Namun, tangan Nadia justru menarik lengannya dengan kuat.
Akhirnya, laki-laki itu kehilangan keseimbangan dan langsung terhuyung jatuh menindih tubuh Nadia.
Mereka sempat saling bertatapan sebelum akhirnya gairah mengambil alih, membuat keduanya secara brutal melucuti pakaian masing-masing dan melakukan hal gila semalaman suntuk.
Saat Nadia masih kesusahan menarik resleting celana jeansnya, tiba-tiba ia mendengar suara gerakan di belakangnya dan melihat laki-laki asing itu sudah terduduk menatap ke arahnya. Seketika ia berteriak dan memundurkan tubuh.
Perempuan itu dengan cepat menyilangkan kedua tangannya di depan dada, berusaha menutupi dua asetnya yang terekspos dari pandangan laki-laki itu.
Bukannya merasa bersalah atau panik, laki-laki itu justru tersenyum miring. Hal itu membuat wajah Nadia seketika memerah karena menahan marah dan malu. Dengan kesal, wanita itu meraih bantal di dekatnya dan melemparnya kuat-kuat ke arah wajah laki-laki itu. "Tutup matamu! Jangan melihatku berpakaian!"
Laki-laki itu pun tertawa kecil sambil menepis bantal itu. “Tidak usah khawatir dan repot-repot menutupi tubuhmu. Aku sudah melihat semuanya semalam. Bahkan, aku masih mengingat lekuk tubuhmu dengan sangat baik.”
Mendengar ucapan blak-blakan itu, Nadia terkejut setengah mati. “Astaga! Gimana bisa keputusanku keluar tadi malam malah berujung tidur dengan laki-laki menyebalkan ini? Apalagi sampai membawanya ke kosku sendiri. Bodoh banget kamu, Nadia!”
Nadia mengabaikan laki-laki di sampingnya dan berusaha menunduk, mencoba mengambil bra dan kemejanya yang terlempar masuk ke bawah kolong ranjang.
Namun, belum sempat tangannya meraih pakaian itu, pinggangnya tiba-tiba ditarik dengan kuat. Tubuh mungil Nadia terangkat dan langsung terhempas kasar ke atas tumpukan bantal dan selimut.
Laki-laki itu kini berada di atasnya, mengungkung tubuh Nadia. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi sekarang."
"Apa maksudmu? Lepaskan aku!" ronta Nadia.
"Ya, maksudku, siapa pun yang sudah berhubungan badan denganku tidak bisa semudah itu pergi begitu saja. Tidak ada kesempatan untukmu kabur ke mana pun sekarang," tekan laki-laki itu.
Kini Nadia dan laki-laki asing itu saling memandang dengan jarak wajah yang sangat dekat. Saking dekatnya, Nadia bisa merasakan napas pria itu yang sedikit kasar menerpa wajahnya.
Nadia juga bisa merasakan tangan besar dan hangat milik laki-laki itu mencengkeram pergelangan tangan kanannya dengan sangat kuat. Nadia menatap mata sosok di depannya yang hitam pekat, alisnya yang tebal, serta rambutnya yang acak-acakan khas bangun tidur.
Meskipun laki-laki ini menyebalkan, Nadia tidak menampik jika gurat wajah pria di atasnya ini terlihat sangat dominan.
“Sekarang, kamu adalah milikku,” kata laki-laki itu mutlak, lalu perlahan memundurkan tubuhnya, melepaskan kunciannya pada Nadia.
Nadia langsung bangkit dan menjauh. “Jangan gila kamu! Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?”
“Cukup mudah. Ubah alur cerita novel yang sedang kamu tulis sekarang. Bertanggung jawablah atas kematianku di sana. Buat aku tetap hidup di ceritamu,” jawab laki-laki itu dengan ekspresi datar.
Nadia langsung mengerutkan keningnya. Jantungnya berdetak makin kencang. Ia sangat terkejut mendengar ucapan laki-laki asing di depannya ini.
“Kenapa aku harus menuruti perintahmu?” tantang Nadia yang berusaha mengumpukan sisa keberaniannya.
“Karena seperti yang kubilang tadi, kamu milikku sekarang. Dan aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun.” Tegas laki-laki itu.
Belum sempat Nadia menjawab, tiba-tiba pintu kamar kos didobrak dengan sangat kasar dari luar hingga engselnya hampir lepas.
Tiga orang laki-laki bertubuh besar melangkah masuk ke dalam kamar. Ketiganya memiliki postur tubuh yang kekar dengan tato yang memenuhi kedua lengan mereka.
Salah satu dari preman itu, yang memiliki tato paling banyak hingga menjakar ke punggng tangannya, terlihat sedang menghembuskan asap rokok. Dengan santainya, pria kasar itu membuang puntung rokoknya yang masih menyala sembarangan ke atas lantai kamar kos.
Mata preman bertato penuh itu memandangi Nadia dan laki-laki di sebelahnya secara bergantian dengan tatapan merendahkan.
“Sialan. Ternyata kau masih punya banyak waktu luang untuk bercinta di kasur ketimbang mengumpulkan uang untuk membayar utang ayahmu, hah?” gertak preman itu dengan suara serak.
Melihat reaksi Nadia yang gemetar hebat, laki-laki di sampingnya bergerak cepat. Ia buru-buru menarik selimut tebal dari ujung kasur dan menutupi tubuh bagian atas perempuan itu agar tidak terekspos.
Setelah memastikan Nadia tertutup aman, laki-laki itu melangkah maju dengan dada membusung, langsung berhadapan tatap muka dengan ketiga preman kekar tersebut.
"Wah, wah. Kalian sungguh pasangan yang sangat serasi," ledek salah satu preman lain yang memiliki tindik besi di telinga kirinya.
Preman bertindik itu berdecak meremehkan sambil menatap jijik ke arah laki-laki asing itu, seperti telah mengenalnya. "Yang satu perempuan tawanan utang ayahnya, dan yang laki-laki cuma pecundang kere yang juga punya utang segunung."
Preman satunya tertawa mengejek. "Bukankah sebaiknya kalian berdua bekerja sama memikirkan cara melunasi utang? Hidup kalian ini benar-benar tidak berguna sama sekali."
Salah satu preman yang memiliki rambut dicat merah tiba-tiba melangkah maju tanpa basa-basi. Tangan besarnya terjulur, mencoba menarik paksa lengan Nadia yang masih bersembunyi ketakutan di balik selimut.
Melihat itu, laki-laki asing itu maju dan menarik lengan preman tersebut dengan kasar. Sedetik kemudian terjadi adegan adu jotos dalam kamar kos yang sempit itu.
Melihat pemandangan mengerikan di depannya, Nadia membenamkan diri di ujung kasur sambil menarik selimutnya tinggi-tinggi. Ia merasa sangat ketakutan saat ini.
Di tengah suara bising bendaa jatuh dan tubuh yang terlempar ke sana-kemari, Nadia memandangi laki-laki asing itu. Ia benar-benar lupa bagaimana semalam mereke bisa bertemu.
Perempuan itu benar-benar mencoba memastikan dalam ingatannya sendiri bahwa ia tidak pernah mengenal ataupun bertemu sebelumnya dengan laki-laki itu.
Tapi dia tidak bisa memungkiri, ada perasaan familiar yang ia rasakan saat melihatnya—rasanya seperti bertemu kenalan lama yang sudah tidak pernah berjumpa lagi lalu tiba-tiba bertemu kembali.
Nadia kemudian terperanjat kaget saat tubuh laki-laki asing terlempar ke arahnya, dan sebelum laki-laki itu kembali membalas pukulan para preman di depannya. Ia menoleh ke arah Nadia sambil mengatakan, “Kau pasti sangat kebingungan sekarang. Maka perkenalkan, aku adalah Arthur Valerius. Tokoh yang kau buat mati dalam ceritamu. Dan sekarang waktumu untuk bertanggung jawab.”
Setelah mengatakan itu, ia kembali maju ke depan untuk menghadapi ketiga preman yang terlihat sangat murka.
Mendengar apa yang baru saja diucapkan laki-laki asing bernama Arthur itu, Nadia seketika membeku. Otaknya mencerna dengan sedikit lama, dan terkejut ketika mengingat nama itu.
“Arthur Valerius. Nggak mungkin. Dia kan cuma tokoh fiksi.”
Ucapnya lirih, mencoba denial dengan kenyataan yang ada, sambil matanya terus menatap ke arah Arthur yang berusaha bertahan di antara tiga preman yang mencoba menghabisinya.
“Memangnya ada cara lain untuk menyelesaikan ini, Arga?”Darwin bertanya pada laki-laki di sampingnya yang masih menatap ke arah Budi dengan tenang. Hawa dalam ruangan terasa makin gerah, satu dua preman membenarkan posisi.“Tidak semua hal harus diselesaikan dengan kekerasan, Darwin.”Hening sejenak, kemudian Arthur menoleh pada Darwin dan melanjutkan, “Pilihlah yang paling menguntungkan bagimu.”Darwin tersenyum kecut, sedikit merasa kesal.“Memang bagianmana yang menguntungkan? Dia sudah bersembunyi dan tidak membayar uang yang telah dia pinjam.”“Tidak. Dia menunda, bukan tidak membayar sama sekali.”“Lalu mana? Apakah ia kemari membawa uang untuk melakukan pelunasan?”Suara Darwin terdengar sedikit meninggi. Gesturnya terlihat sedikit meremehkan Arthur. Bagi Darwin yang selalu memutuskan dengan cepat sebuah masalah dengan eksekusi, cara Arthur terasa cukup membuang waktu dan berbelit-belit.Ia merasa bahwa, seseorang yang melakukan hal seperti yang Budi lakukan berarti hanya memi
Kehidupan kerja Nadia yang awalnya penuh dengan tekanan dan ketakutan kini berubah drastis semenjak kedatangan Arthur. Ia bisa dengan bebas mengekspresikan imajinasinya dalam tulisan tanpa harus merasa terbebani dengan permintaan yang aneh-aneh oleh editornya.Walaupun semenjak Adrea digantikan oleh editor baru bernama Rhea Nadia sudah aktif menulis, tapi sebenarnya ia sama sekali belum bertemu dengan perempuan itu secara langsung.Nadia hanya beberapa kali melakukan komunikasi secara daring, karena Rhea masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan di luar kota dan belum bisa datang ke kantor sebelum tugasnya selesai di sana.“Tau nggak, katanya hari ini editor baru pengganti Andrea bakalan dateng.” Ucap Ara sembari memasukkan roti isi ke mulutnya.Siang itu Nadia dan Ara pergi ke kantin saat jam makan siang. Suasana cukup tenang dan hawa hari itu tidak terlalu panas seperti biasanya.“Oh ya. Kok aku nggak tahu. Kak Rhea nggak ngabarin aku tuh kalo mau ke kantor.”“Nggak tau juga sih.
Usai mendapatkan kabar Budi yang telah ditemukan, Darwin dan Arthur bergegas pergi ke markas Darwin untuk menyambut kedatangan anak buahnya yang membawa buronan yang selama ini ia cari.Mereka berdua duduk di atas kursi yang sudah disiapkan, berada di tengah ruangan yang seluruh perabotannya telah disingkirkan. Ruangan yang biasanya menjadi tempat Darwin mengeksekusi musuh-musuhnya.Udara di sana terasa sedikit pengap, cahaya dari luar hanya masuk dari ventilasi kecil di atas jendela yang dicat hitam seluruhnya. Debu tebal menempel di lantai, dan kipas angin kecil di atas menyala ringkih, seperti tidak berarti apa-apa.Sebuah teriakan samar terdengar dan pintu terbuka begitu saja. Dua anak buah Darwin menyeret seorang pria paruh baya ke dalam ruangan itu. Wajah pria itu pucat, binar ketakutan sama sekali tidak bisa disembunyikan dari muka lelahnya. Pakaiannya kusut, dan kedua tangannya gemetar hebat.Pria bernama Budi itu didorong ke hadapan Arthur dan Darwin. Dengan keadaan tubuh yan
Ruangan privat yang dipesan Arthur di salah satu restoran terkenal di kota itu dipenuhi aroma teh yang pekat. Membuat Arthur yang saat itu sedang melihat-lihat menu makanan menjadi sedikit lebih rileks dari biasanya.Hari ini adalah janji temu dengan Darwin, rentenir yang berhasil mendapatkan persetujuan kerjasama dengannya kemarin. Bisa dibilang, kali ini adalah pertemuan pertama mereka untuk membahas kasus yang akan ditangani Arthur.Usai memesan menu pembuka, Arthur menyenderkan badan ke kursi lipat yang ia duduki. Tak lama setelah itu, pintu dibuka dan Darwin masuk.Laki-laki tambun itu datang sendirian. Tak ada satu pun dari anak buahnya mengikutinya masuk.Sebelum duduk, mata laki-laki itu menyapu ruangan, kemudian senyum tipis muncul dari wajahnya.“Ternyata bukan hanya kemampuan, tapi seleramu juga naik kelas sekarang.” Darwin berucap sembari duduk bersila di atas kursi lipat di hadapan Arthur.Arthur menatap laki-laki di depannya dengan tenang, “Untuk membangun sebuah kerjasa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.