Gadis Bertubuh Gemuk dimiliki Oleh Tiga Pewaris

Gadis Bertubuh Gemuk dimiliki Oleh Tiga Pewaris

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-08-20
Oleh:  Miss Queen MikaylaBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
91Bab
597Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

"Jangan memancingku, Isolde. Menatap siluet tubuh berlebihmu itu saja sudah cukup membuat akal sehatku terkikis, apalagi jika aku harus menyentuhmu di atas ranjang ini." — Lucien Blackthorne. "Kau pikir kau bisa lari dariku setelah membuat tubuhku mengeras setiap malam, Chubby? Menangislah sepuasmu, tapi pasrahmu tetap milikku." — Evander Blackthorne. "Kulit putih berisimu ini... adalah kanvas paling indah yang ingin kurobek pakaiannya dan kulukis dengan jemariku malam ini juga." — Azriel Blackthorne. Bagi Isolde Ravelyn, malam pertunangannya adalah neraka. Ia tidak hanya memergoki pria yang dicintainya berselingkuh secara vulgar di kamar hotel, tetapi juga harus menelan makian kejam yang menghina bentuk tubuh suburnya seberat 90 kilogram. Di tengah kehancuran hidup dan rasa malu yang viral secara nasional, sebuah surat wasiat misterius menariknya masuk ke dalam Blackthorne Mansion—kediaman megah milik dinasti konglomerat paling berkuasa yang ditakuti di negara ini. Namun, alih-alih menemukan perlindungan, Isolde justru terjebak di dalam sarang monster. Tiga pria pewaris Blackthorne awalnya memandang kehadirannya sebagai ancaman dan mencoba mengusirnya dengan berbagai intimidasi yang menyesakkan napas. Namun, benci perlahan berubah menjadi obsesi gelap. Ketiganya tidak bisa menahan gairah yang tersulut setiap kali melihat lekuk tubuh berisi milik Isolde yang menantang. Lucien sang sulung yang dingin dan posesif, Evander si anak kedua yang menggoda dengan tipu daya manisnya, serta Azriel sang bungsu, seniman misterius dengan fantasi kanvasnya yang liar. Ketiganya perlahan menarik Isolde ke dalam pusaran hasrat terlarang, memperebutkan tubuh dan jiwanya secara brutal. Bagaimana Isolde bisa bertahan ketika ia dikepung oleh tiga pria dominan yang siap mencicipinya bergantian, tanpa tahu bahwa ada rahasia darah besar yang siap menjungkirbalikkan takhta Blackthorne?

Lihat lebih banyak

Bab 1

1

Bab1 

"Sial... tubuh kalian jauh lebih hangat daripada perempuan berbadan subur itu."

Suara berat Gavin terdengar dari balik pintu kamar suite. Isolde Ravelyn mematung. Kotak beludru di genggamannya perlahan bergetar, sementara dadanya mendadak sesak.

"Tunanganmu sudah menunggu di bawah, kan?" suara tawa manja seorang wanita menyusul.

"Biarkan saja," jawab Gavin, remeh. "Biarkan gadis membosankan itu menungguku."

"Lagipula, Tuan Gavin... kamu serius ingin menikahi wanita berbobot berlebih seperti dia? Apa kamu tidak malu?"

Gelak tawa pun pecah di dalam sana. Telinga Isolde mendadak berdenging hebat. Nama itu—Gavin. Pria yang telah bersamanya selama lima tahun, pria yang selalu meyakinkannya bahwa "penampilan bukan segalanya.

Dengan tubuh gemetar, Isolde mendorong pintu. Seluruh pertahanannya runtuh saat melihat pemandangan di dalam kamar. Pakaian berserakan, dan di atas ranjang, Gavin sedang bertelanjang dada bersama dua wanita.

Mata Gavin membelalak sempurna. "Isolde—"

Kotak cincin di tangan Isolde terjatuh. Kedua wanita di ranjang bergegas menarik selimut, sementara Gavin langsung bangkit dengan panik.

"Sayang, dengarkan aku dulu—"

"Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Menjijikkan," potong Isolde dengan suara bergetar karena sesak. Tatapannya tertuju pada bekas lipstik di leher Gavin.

Salah satu wanita di ranjang mendengus, melirik Isolde dengan tatapan menghina. "Astaga... dia ternyata jauh lebih besar daripada yang terlihat di foto. Benar-benar seperti gajah!"

Wajah Isolde seketika memanas. Malu yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Kalian berdua diam dulu!" bentak Gavin frustrasi.

Namun, wanita satunya justru mencibir. "Ya, salah dia sendiri. Pria mana yang betah dengan wanita yang tidak pandai merawat bentuk tubuhnya? Dia terlihat sangat kontras bersamamu, Tuan Gavin. Seperti angka satu dan nol"

Kalimat itu menghantam dada Isolde dengan telak. Kata-kata kasar tentang bentuk tubuhnya sudah sering dia dengar sejak remaja, tetapi mendengarnya langsung dari selingkuhan tunangannya sendiri memberikan rasa sakit yang jauh lebih menghancurkan.

"Isolde..." Gavin mencoba meraih tangannya. "Aku bisa jelaskan."

"Jelaskan apa?" tanya Isolde lirih, air mata mulai menggenang. "Bahwa kamu malu memiliki tunangan sepertiku? Bahwa kamu sebenarnya jijik padaku?"

"Bukan begitu!"

"Lalu apa?!" Isolde akhirnya kehilangan kendali. "Kenapa kamu harus melakukan kebusukan ini di malam pertunangan kita?!"

Gavin terdiam. Rahangnya mengeras, dan keheningan itu menjadi jawaban yang paling jujur bagi Isolde.

Isolde terkekeh pahit, menertawakan kebodohannya sendiri. "Kamu tahu? Aku sengaja melewatkan makan selama tiga minggu hingga jatuh sakit, hanya agar muat memakai gaun ini malam ini. Hanya agar aku terlihat pantas bersanding di dekatmu."

"Tapi tetap saja tidak berpengaruh, kan? Usahamu sia-sia," sahut wanita di ranjang sinis.

Sesuatu di dalam diri Isolde patah malam itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, dia berbalik dan berlari sekuat tenaga meninggalkan ruangan terkutuk tersebut.

Ballroom hotel masih riuh oleh para tamu ketika Isolde melangkah masuk dengan penampilan yang berantakan. Gaunnya kusut dan riasannya telah rusak parah oleh air mata. Kehadirannya langsung mengubah atmosfer ruangan dalam sekejap.

Ibu Gavin menghampiri dengan wajah cemas. "Astaga, Isolde. Ada apa denganmu?"

Isolde tidak menjawab. Matanya tertuju pada Gavin yang baru saja menyelinap masuk dari pintu samping dengan wajah pucat, menggelengkan kepala memohon agar Isolde tidak membuka suara.

Gavin tahu posisinya terancam. Selama lima tahun ini, dia terpaksa bertahan menjadi kekasih Isolde hanya demi membalas budi. Bertahun-tahun lalu, orang tua Isolde mengorbankan nyawa mereka demi menyelamatkan ibu Gavin. Utang nyawa itulah yang membuat Gavin terjebak dalam lingkaran balas jasa, beban moral yang diam-diam membuatnya frustrasi hingga melampiaskannya dengan cara yang paling kotor.

Namun, Isolde mengabaikan tatapan memohon itu. Dia berjalan mantap menuju panggung utama dan mengambil alih pengeras suara.

"Pertunangan ini batal," ucap Isolde lantang. Suasana ballroom seketika senyap.

"Isolde, jangan membuat drama murahan di sini," desis Gavin yang kini sudah berada di sampingnya, mencoba meredam situasi.

"Drama?" Isolde menatap Gavin dengan pandangan muak. "Kamu mengkhianatiku dengan dua wanita sekaligus di kamar hotel beberapa menit lalu, dan sekarang kamu menuduhku membuat drama?"

Kasak-kusuk langsung pecah di antara para tamu. Ibu Gavin tampak syok hingga hampir pingsan, sementara ayahnya memperlihatkan kemarahan besar karena nama baik mereka tercoreng.

"Kamu tahu apa yang kamu bicarakan, Isolde?!" tanya ayah Gavin bernada mengancam.

"Dia berbohong! Dia hanya salah paham!" Gavin mencoba membela diri di hadapan relasi bisnis keluarganya.

"Bohong?" Isolde mengikis jarak, menatap Gavin tajam. "Lihat lehermu, Gavin. Begitu banyak bekas tanda merah dari wanita-wanita itu. Menjijikkan sekali."

Gavin tertegun, spontan menyentuh lehernya sendiri. Wajahnya yang memucat dan kegagapannya menjadi konfirmasi mutlak bagi semua orang di ruangan itu.

Plak!

Satu tamparan keras menggema lewat mikrofon yang masih aktif. Bukan dari Isolde, melainkan dari ayah Gavin dengan wajah merah padam menahan amarah.

"Anak tidak tahu diuntung! Kamu menghancurkan nama baik keluarga kita di depan semua rekan bisnis!" bentak ayahnya, napasnya memburu kencang.

Ibu Gavin yang tadinya pura-pura lemas. Dia memukul dada Gavin berulang kali tanpa memedulikan tatapan ratusan pasang mata. "Gavin! Apa yang kamu lakukan?! Ibu tidak pernah mengajarimu menjadi pria murahan seperti ini! Mau ditaruh di mana muka Ibu?!"

Panggung megah pertunangan itu seketika berubah menjadi arena eksibisi kehancuran keluarga mereka. Gavin hanya bisa tertunduk, meremas rahangnya menahan malu dan amarah yang bergejolak karena harga dirinya dihabisi di depan publik oleh orang tuanya sendiri.

Perdebatan dan makian keluarga itu terus bersahut-sahutan, namun Isolde tidak peduli lagi. Riuh makian kemarahan di hadapannya terasa hambar. Rasa cintanya sudah mati, digantikan oleh kekosongan yang hampa.

Isolde melangkah mundur, berniat turun dari panggung dan meninggalkan drama keluarga tersebut. Namun, di tengah kekacauan di atas panggung, perhatian para tamu di bawah justru mulai teralih padanya. Bisik-bisik dari barisan depan mulai terdengar jelas di telinganya.

"Tapi kalau dipikir-pikir... wajar saja Tuan Gavin mencari pelarian. Pria setampan dan seandal dia dipaksa menikah dengan wanita bertubuh besar dan tidak jelas seperti Isolde? Sangat tidak sebanding."

"Iya, lihat saja badannya. Pantas Tuan Gavin butuh wanita lain."

Bisikan-bisikan kejam yang menghakimi fisiknya mulai berdengung, mengepung Isolde dari segala penjuru. Dada Isolde kian sesak, pandangannya mengabur oleh air mata baru. Saat bergegas turun dari tangga panggung untuk menghindari tatapan-tatapan menghakimi itu, ujung kain gaun panjangnya tersangkut pada hak sepatunya sendiri.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dan Isolde jatuh cukup keras di atas lantai marmer yang dingin, tepat di bawah tangga panggung. Beberapa tamu yang berada di dekat sana justru refleks mundur seolah takut tertimpa, dan beberapa orang lainnya—terutama para sosialita muda—mulai menutupi mulut sambil berbisik mengejek, bahkan ada yang diam-diam mengarahkan kamera ponsel mereka.

Wajah Isolde terasa terbakar hebat. Rasa sakit di lututnya sama sekali tidak sebanding dengan harga dirinya yang diinjak-injak di depan ratusan orang malam itu. Tidak ada satu pun orang yang mengulurkan tangan untuk membantunya. Gavin dan orang tuanya masih sibuk berdebat dan memaki di atas panggung, sama sekali tidak memedulikannya.

Dengan sisa kekuatan dan sisa harga diri yang dia miliki, Isolde bangkit berdiri. Tanpa memedulikan gaunnya yang robek di bagian bawah atau rambutnya yang berantakan, dia berlari keluar dari ballroom secepat yang dia bisa, mengabaikan semua mata yang memandangnya seperti tontonan sirkus.

Udara malam langsung menyergap kulitnya begitu dia tiba di area luar hotel. Isolde berhenti di dekat pilar yang gelap, bahunya terguncang hebat karena tangis yang akhirnya pecah. Dengan kasar, dia melepas kedua sepatu hak tingginya, mengabaikan rasa perih pada telapak kakinya yang mulai lecet.

Di tengah isak tangisnya, ponsel di dalam tasnya bergetar intens dari nomor yang tidak dikenal. Isolde menarik napas dalam-dalam sebelum menggeser tombol jawab.

"Halo..." suaranya terdengar serak.

"Apakah ini Nona Isolde Ravelyn?" Suara seorang pria paruh baya terdengar dari ujung telepon, bernada formal dan tenang.

"Iya, benar. Ini siapa?"

"Saya Raymond Hale, pengacara pribadi dari mendiang Nyonya Berliana Blackthorne."

Isolde mengerutkan kening. Nyonya Berliana adalah sosok wanita tua konglomerat yang sangat dermawan. Sejak kedua orang tua Isolde meninggal, wanita tua itu selalu membiayai seluruh keperluan hidup dan kuliah Isolde secara rahasia tanpa pernah meminta imbalan apa pun.

"Ada apa, Pak Raymond?"

Hening sejenak di seberang sana. "Nyonya Berliana baru saja mengembuskan napas terakhirnya satu jam yang lalu di rumah sakit."

Dunia Isolde seakan berhenti berputar untuk kedua kalinya dalam semalam. Kehilangan satu-satunya orang yang tulus memedulikannya membuat dadanya kian remuk. "Apa...? Nyonya Berliana..."

"Ada surat wasiat darurat dan sangat penting yang harus segera dibacakan kepada Anda selaku pihak terkait," lanjut pengacara itu. "Sebentar lagi, sebuah mobil khusus utusan kami akan menjemput Anda untuk langsung menuju ke kediaman utama keluarga Blackthorne."

"Wasiat? Tapi saya tidak mengerti apa hubungannya dengan saya..." Isolde berbisik bingung.

Raymond menjeda kalimatnya sejenak, memberikan penekanan pada informasi terakhirnya. "Semua hal akan dijelaskan secara terperinci setibanya Anda d

i sana, Nona Isolde. Karena mulai malam ini, Anda secara resmi diwajibkan untuk tinggal dan menetap di Blackthorne Mansion."

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
91 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status