Short
He Didn't Believe in Our Fated Mate Bond, so I Walked Away

He Didn't Believe in Our Fated Mate Bond, so I Walked Away

작가:  Mountain River완결
언어: English
goodnovel4goodnovel
10챕터
9.0K조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

I push through my Gamma warrior training ahead of schedule just to get back to the pack sooner. All I want is to stand beside my Alpha, Kyle Faucher, and finally complete our mate-bonding ceremony. But when I step into our house, scarred and feeling hopeful, I see 100 old boarding passes to the Darkmoon pack littering the floor. That pack is only a mile from my training grounds. Kyle's been that close for two years, and still, he never came. I sprint to the place where we were supposed to have our mate-bonding ceremony, clinging to the desperate hope that there's an explanation. But the moment I burst through the doors, I stopped cold. Kyle is down on one knee, dressed in a tailored suit, his eyes locked on someone with a softness I've never seen in him before. Standing across from him, smiling through her tears, is my stepsister, Vivian Blackwell. "Vivian, I haven't completed the mate-bonding ceremony with Serene. Say the word, and I'll reject her and mark you right now." At that moment, the world goes still, and I even forgot how to breathe. So this is what he's been doing while I was gone, chasing the woman he never let go of. Meanwhile, I spent those two years giving everything I had, trying to become someone worthy of standing by his side. I don't ask why or shed a tear. I just turn around and walk away. If she's what he wants, then so be it. The mate-bonding ceremony I dreamed of will be theirs instead. But the second I'm gone, he loses it and sends every warrior looking for me.

더 보기

1화

Chapter 1

WARISAN

"Nih jadi aku dapet tanah bapak dengan luas 4375 meter persegi, kamu yang dapet 625 meter persegi."

"Iya gak bisa lah, Mas. Masa kamu luas banget gitu, nah aku cuman dapet segni? Kurang dong! Tambahin lah!"

"Segitu juga udah cukup, Yu. Lebar 25 meter panjang 25 meter. Kalau buat bikin rumah juga gede. Pas buat kamu kalau segitu mah! Kalau aku kan, mau buat bikin toko juga, harus ada parkiran yang luas, toko juga yang gede jadi memang harus luas tanah nya."

Keningku mengernyit saat mendengar suara kakak dan adik iparku yang sedang membicarakan soal pembagian tanah milik orang tua mereka. Bukannya apa, aku heran kenapa hanya mereka berdua yang dapat warisan tanah? Bagaimana dengan Mas Rusdi dan juga Rehan?

Bukan hanya itu, seharusnya warisan dibagikan saat orangtua sudah tidak ada kan? Karena warisan adalah harta peninggalan mereka. Sementara sekarang, ibu dan bapak masih hidup meski keadaan nya memang sedang tidak baik-baik saja. Kenapa mereka sudah membahas soal tanah itu?

"Bagaimana dengan Mas Rusdi dan Reihan? Sisa bagian tanah kecil itu untuk mereka?"

Aku kembali menoleh ke arah ruang tamu saat mendengar suara Ayu yang kembali bicara.

"Mereka gak usahlah dikasih jatah! Rusdi itu, dia mana ada du-it buat mengelola tanah itu. Mau dijadikan apa? Rumah? Dia gak akan bisa bangun! Warung? Gak bakal punya modal juga. Lagian dia itu kalau usaha bangkrut terus kok! Makanya hidup nya dia itu susah, miskin terus!"

Aku memicing seketika.

"Eman-eman tanah itu, nantinya gak keurus. Mending biar aku saja yang kelola. Aku mau bikin toserba di sana nanti. Pasti ramai warga kampung yang belanja. Tanah itu, akan lebih bermanfaat jika ada di tanganku."

Heh, bagaimana bisa begitu? Warisan itu, mau diapakan kan terserah sama yang berhak. Kenapa jadi mas Haidar yang ngatur begitu? Lagipula, Mas Rusdi dan Reihan itu kan adiknya mas Haidar sendiri kenapa dia begitu tega?

Ini gak bisa dibiarkan. Mereka salah! Membagi warisan itu ada hukumnya. Tidak bisa seenak jidat seperti itu. Hanya karena mas Rusdi dianggap tidak akan mampu mengelola tanah itu, lalu itu dijadikan sebagai alasan supaya mas Rusdi gak dapat warisan? Meski mungkin Mas Rusdi memang gak bisa membangun sesuatu di sana, tapi tanah itu kan bisa di-jual. Mas Haidar ini bagaimana sih!

"Oh, ya bener juga Mas! Kalau begitu, biar kita saja yang menikmati warisan tanah itu!"

Gi-la! Kakak adik itu sama gi-lanya. Aku gak bisa diam saja. Mereka harus dikasih paham.

Aku baru saja melangkah ketika merasakan ada cekalan yang menahan langkahku.

"Mas Rusdi?"

"Mau ke mana?"

Aku lihat wajah lelah mas Rusdi menatap ku, penasaran.

"Nyamperin Ayu dan mas Haidar."

"Buat apa? Biarkan saja!"

Keningku mengerut, heran. Biarkan saja? Apa maksud perkataan mas Rusdi? Memangnya dia tahu apa yang akan aku lakukan? Atau, sedari tadi dia juga mendengar semuanya?

"Mas sudah mendengar semuanya?"

Mas Rusdi mengangguk samar.

"Terus kenapa mas bilang biarkan saja? Mereka salah, Mas! Harus diluruskan!"

"Gak usah, Nin. Nanti malah bikin ribut."

Aku menghela nafas, lelaki yang baru aku nikahi lima bulan yang lalu itu terlalu apa ya? Bo-doh?

"Mas, mereka bahas warisan. Pembagian Warisan itu jelas ada aturannya dalam agama. Cara pembagian nya sudah dijelaskan. Gak bisa dibagi seenaknya seperti itu, Mas!"

"Mas tahu—"

"Kalau tahu kenapa diam saja? Jangan membiarkan kakak dan adik Mas melakukan kesalahan, nanti kita juga dapat dosa nya!" Aku memberontak dan berniat nyamperin dua orang itu.

"Nin, kamu gak ngerti mereka!"

Aku kembali menoleh ketika lagi-lagi Mas Rusdi mencekal tanganku. Aku tidak paham apa yang dimaksud mas Rusdi. Tidak tahu mereka?

"Dan sekarang aku pengen tahu!"

Aku melepas cekalan tangan mas Haidar dengan paksa. Lalu berjalan cepat.

"Mas Haidar, Ayu!"

Mas Haidar dan Ayu menoleh, Ayu terlihat sedikit terkejut ketika melihatku tapi tidak dengan Mas Haidar.

"Ada apa?!" tanya Mas Haidar dingin, tatapan matanya nya tajam seperti biasanya dia selalu begitu saat menatap ku.

"Aku tadi mendengar percakapan kalian, soal pembagian tanah. Kenapa kalian sudah membicarakan itu padahal ibu dan bapak masih hidup?" tanyaku balik menatap mata Mas Haidar tanpa takut sedikitpun.

Aku lihat mas Haidar menggelengkan kepalanya sambil melirikku sinis. "Rusdi, Rusdi. Apa sih yang bisa dia lakukan dengan baik? Mendidik istri aja gak becus! Sampe-sampe doyan nguping begini."

Aku me-lotot.

"Mas Haidar! Gak usah mengalihkan pembicaraan apalagi dengan cara menjelekkan mas Rusdi! Aku sama sekali gak nguping karena kalian ngomong itu cukup keras, dari ruang tengah aku bisa denger dengan jelas!"

"Nina! Kamu berani banget sih! Dia itu kakak ipar kamu!" Ayu membentakku.

Aku menoleh ke arahnya lalu menye-ringai dia memperingatkan aku supaya gak berani sama kakak ipar tapi apa yang dia lakukan sekarang?

"Kamu juga gak seharusnya mem-bentak aku, Ayu! Karena aku kakak ipar kamu!"

Bisa kulihat wajah ayu langsung berubah merah padam.

"Cukup!!!" Sentak mas Haidar. Dia melangkah mendekat ke arahku.

"Denger ya, Nina! Kamu itu gak usah ikut campur! Kamu itu orang baru di sini dan kamu gak tahu apa-apa jadi gak usah ikut-ikutan urusan kami! Ingat status kamu di keluarga ini cuman menantu!!! Kamu bukan siapa-siapa, kamu cuman numpang di keluarga ini jadi lebih baik diam!!"

Baca selengkapnya di apk KBM App

Napen : KrisDian13

Judul : Melawan Ipar Sombong Dan Julid

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

댓글 없음
10 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status