Short
He Didn't Believe in Our Fated Mate Bond, so I Walked Away

He Didn't Believe in Our Fated Mate Bond, so I Walked Away

By:  Mountain RiverCompleted
Language: English
goodnovel4goodnovel
10Chapters
9.0Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

I push through my Gamma warrior training ahead of schedule just to get back to the pack sooner. All I want is to stand beside my Alpha, Kyle Faucher, and finally complete our mate-bonding ceremony. But when I step into our house, scarred and feeling hopeful, I see 100 old boarding passes to the Darkmoon pack littering the floor. That pack is only a mile from my training grounds. Kyle's been that close for two years, and still, he never came. I sprint to the place where we were supposed to have our mate-bonding ceremony, clinging to the desperate hope that there's an explanation. But the moment I burst through the doors, I stopped cold. Kyle is down on one knee, dressed in a tailored suit, his eyes locked on someone with a softness I've never seen in him before. Standing across from him, smiling through her tears, is my stepsister, Vivian Blackwell. "Vivian, I haven't completed the mate-bonding ceremony with Serene. Say the word, and I'll reject her and mark you right now." At that moment, the world goes still, and I even forgot how to breathe. So this is what he's been doing while I was gone, chasing the woman he never let go of. Meanwhile, I spent those two years giving everything I had, trying to become someone worthy of standing by his side. I don't ask why or shed a tear. I just turn around and walk away. If she's what he wants, then so be it. The mate-bonding ceremony I dreamed of will be theirs instead. But the second I'm gone, he loses it and sends every warrior looking for me.

View More

Chapter 1

Chapter 1

Baru saja Isvara membuka mata, ia mendapati dirinya terduduk di atas pembaringan berselimut sutra merah. Jemari Isvara menggenggam sesuatu yang dingin. Sebuah cawan perunggu berisi cairan kekuningan yang berkilat.

Isvara menunduk, menatap busana yang membalut tubuhnya. Sebuah gaun panjang berwarna gading dengan sulaman teratai di beberapa sisi. Potongannya jelas menyerupai busana perempuan bangsawan dari masa kerajaan.

Tunggu… simbol teratai itu tidak asing baginya.

Ingatan Isvara langsung terlempar pada novel "Candrani dan Tiga Suami Tampan" yang ia tamatkan dua malam lalu. Ia menyukai kisah itu, karena sang tokoh antagonis memiliki nama yang identik dengannya.

Pada sampul novel, Putri Isvara yang jahat digambarkan mengenakan gaun bersulam teratai, persis seperti yang ia kenakan saat ini. 

Mungkinkah jiwanya telah berpindah ke dalam raga Isvara, sosok putri mahkota yang dibenci seantero kerajaan, lalu ditakdirkan mati mengenaskan?

Belum sempat ia mencerna kenyataan gila itu, hidung Isvara menangkap aroma menyengat dari cawan di tangannya.

Sebagai dokter bedah yang pernah mempelajari toksikologi kuno, insting medisnya langsung mengambil alih. Ini bukan sekadar minuman biasa, melainkan aroma alkaloid yang mematikan.

Detik itu juga Isvara menyadari sesuatu. Ia tidak hanya berpindah dimensi, tetapi sedang berada di tengah adegan bunuh diri yang konyol.

Tok! Tok! Tok!

"Tuan Putri! Tuan Putri Isvara! Tolong buka pintunya! Jangan membuat kami takut!”

Teriakan dari balik pintu membuat Isvara tersentak. 

Isvara mencoba bangkit, tetapi tubuhnya terasa seberat batu. Sebelum ia sempat meletakkan cawan itu, pintu kamar didobrak dengan dentuman yang menggetarkan dinding.

BAM!

Engsel pintu nyaris terlepas. Isvara tersentak hebat hingga cairan di dalam cawan tumpah sebagian, membasahi karpet bulu di bawah kakinya. 

“S-siapa kau?” tanya Isvara terbata. 

Ia melihat sosok seorang pria yang melangkah masuk. Wajahnya sangat tampan, tetapi rautnya sedingin es di puncak gunung. 

Pria itu terus mendekat tanpa menjawab pertanyaan Isvara. Bayangannya yang tinggi besar seakan menelan tubuh Isvara yang masih terduduk lemas di tempat tidur.

Ia mengenakan jubah panjang berwarna biru yang disampirkan di bahunya. Sementara di pinggangnya melingkar sabuk kulit dengan ukiran kepala macan, simbol kekuatan yang mengintimidasi.

Dengan sorot mata setajam elang, pria tersebut menatap cawan di tangan Isvara.

"Anda bersandiwara lagi, Putri?" tanya pria itu dengan nada dingin. Suara baritonnya yang berat terasa membekukan seluruh ruangan. 

"Setelah gagal mendapatkan perhatian, sekarang Anda menggunakan nyawa sendiri sebagai taruhan?"

Isvara mengerutkan kening, rasa pening di kepalanya semakin menjadi. "Aku... Putri Isvara?"

"Benar. Anda Putri Mahkota Isvara," potong pria itu cepat. 

Ia merebut cawan dari tangan Isvara dengan gerakan kasar yang membuat jemari Isvara memerah. 

Ketika pria itu mencium aroma cairan yang tersisa, seketika rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya menonjol.

"Racun daun ular? Apa menurut Anda dengan meminum racun, ketiga pria 'suci' itu akan segera datang kemari?"

Ucapan pria tersebut membuat Isvara teringat sesuatu. Dalam kisah novel, Sang Putri Mahkota memang memiliki tiga orang tunangan yang akan mendampinginya dalam memimpin kerajaan.

Masing-masing dari mereka mewakili tiga aspek utama dalam kerajaan, yaitu kekuatan spiritual, ilmu pengetahuan dan perdagangan, serta keadilan hukum. Oleh karenanya, mereka disebut sebagai "Tiga Tiang Dharma". 

Sayangnya, tiga pria yang seharusnya mendukung dan mencintai Sang Putri justru bersikap sebaliknya. Mereka selalu bersikap dingin dan menjaga jarak, bahkan lebih memihak pada wanita lain.

Itulah sebabnya Isvara yang asli nekat melakukan berbagai cara, demi menarik perhatian mereka. 

Bunyi keras cawan yang diletakkan pria itu memecah lamunan Isvara. 

"Berhentilah mengacaukan kedamaian istana, Putri.”

Setelah melontarkan peringatan keras, pria itu hendak berbalik dengan jubah yang berkibar gagah. Namun, saat itulah sesuatu dalam tubuh Isvara meledak.

Rasa panas yang luar biasa tiba-tiba merambat dari perut bagian bawah ke seluruh pembuluh darahnya. Jantungnya berdegup dua kali lipat lebih cepat. 

Isvara tersentak. Sebagai dokter, ia tahu ini bukan sekadar reaksi tubuh biasa. 

Tampaknya pemilik tubuh yang asli terlanjur meminum sebagian racun, hingga mengalami gejala mirip orang yang terkena afrodisiak. Jika ini benar, ia harus segera mencari pertolongan medis.

Hanya saja, tangan Isvara terlanjur bergerak sendiri tanpa bisa dicegah. Ia pun bangkit dari pembaringan dan menarik jubah biru pria itu dengan tenaga yang entah datang dari mana.

"Apa yang Anda lakukan—" 

Kalimat pria itu terputus saat Isvara tiba-tiba berjinjit dan mengalungkan kedua tangan di lehernya. Posisi ini membuat mereka harus beradu pandang dalam jarak yang begitu dekat. 

"Tolong aku… tubuhku sangat panas."

Tanpa menunggu jawaban, Isvara menempelkan bibirnya yang pucat ke bibir pria itu, lalu menekannya perlahan. Bagi Isvara, kehangatan dan aroma maskulin pria ini bak oase di tengah gurun api yang membakar tubuhnya. 

Namun, rasa lega itu hanya bertahan beberapa detik. Dengan satu sentakan kuat, pria tersebut melepaskan pertautan bibir mereka.

"Jernihkan pikiran Anda. Hamba bukan tempat pelampiasan sesaat," desisnya ketus, napasnya mulai tidak beraturan. 

Sebelum Isvara sempat membalas, tubuhnya mendadak terangkat di udara.

Pria itu menggendongnya dalam satu gerakan cepat, lalu menghempaskannya kembali ke pembaringan. Namun, alas tidur yang nyaman bahkan tidak mampu meredam rasa panas yang kian menggila.

Jiwa Isvara kini bergejolak, antara nalar seorang dokter dan insting tubuh yang teracuni. 

Di ambang batas kesadarannya, Isvara nekat menarik pria itu hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan.

“Kau ini pria sejati atau bukan?” tantang Isvara dengan napas memburu. Ia bisa melihat pupil mata pria itu melebar.

“Kalau kau tidak berani menyentuhku, lepaskan saja jubah kebesaranmu. Kau tidak pantas menjadi pemimpin pasukan Mahipura!”

Isvara tersentak setelah kalimat memalukan itu meluncur dari bibirnya.

Bagaimana jika pria ini mengabulkan permintaannya? Mungkinkah dia telah kehilangan akal sehat karena menempati tubuh seorang tokoh antagonis?

Suasana kamar tiba-tiba menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara deru napas mereka yang saling berkejaran. 

Dengan sisa kewarasan, Isvara berusaha untuk meralat ucapannya sendiri. Namun, pria itu terlanjur memandangnya dengan tatapan gelap, seperti seekor serigala yang hendak menerkam mangsa. 

"Anda menantang orang yang salah, Tuan Putri.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status